[Selamat Tahun Baru, Aku Menyukaimu]
"Vega, ayo! Katanya mau nonton kembang api!" Roy mengetuk pintu kamar kos.
Malas, Vega duduk di atas kasur dengan cemberut. Rambut pendeknya berantakan. Mencoba membuka mata, tapi rasanya terlalu berat. "Nggak jadi, ngantuk parah nih."
Tidak ada jawaban, Vega berpikir orang di balik pintu sudah pergi. Tidak akan pernah mengganggu tidurnya lagi.
Tepat ketika Vega kembali berbaring, pintu kamar di buka. Laura, teman baik Vega sejak kecil menarik selimutnya. Tidak peduli dengan rengekannya, Laura tetap menarik paksa agar Vega meninggalkan kamarnya.
"Untuk acara ini, kita patungan nggak sedikit loh. Rugi kalau dilewatkan." Laura menarik Vega menuruni tangga.
Di pinggir jalan, Pak Mansur pemilik kos-kosan sedang berbicara dengan Roy. Melihat kedua gadis itu turun, Roy tertawa melihat wajah kusut Vega.
Menghampiri mereka, Roy melepas jaket dan meletakkannya di bahu Vega yang memakai baju tipis. Mencegah Vega kedinginan. "Melek, Vega. Bentar lagi tengah malem."
Mendengar suara itu, Vega terbelalak. Kantuknya menghilang dengan sempurna ketika menyadari Roy ada di dekatnya. Akal sehatnya yang selalu loading ketika bangun tidur sudah kembali sepenuhnya.
Tergesa, Vega menuju kran air di pojokan dan mencuci muka, membenahi rambut sebisanya. Membayangkan bahwa Roy melihat bekas air liur di wajahnya, ia malu.
Membayangkan pujaan hatinya melihat penampilan terburuknya, ia malu.
Laura terbahak, "Aku baru tahu Vega bisa malu pas di depan cowok."
Roy menegur Laura, "Meskipun Vega tomboy, bukan hal aneh kalo dia ingin terlihat pantas di depan para cowok."
"Benar!" Vega mendekat, mengeringkan wajah yang basah dengan kerah kaosnya, "Kamu nggak akan pernah tahu perasaanku," dan tidak akan pernah tahu.
Vega melanjutan perkataannya dalam hati, dengan perih.
Laura masih tertawa, ia menatap Roy. "Kalau kamu yang membela Vega, aku menyerah buat menggoda dia. Soalnya kamu kan pelindung Vega."
Roy tersenyum, lebih lebar dari pada biasanya, "Kamu tahu betul bukan cuma Vega yang aku lindungi."
Pak Mansur batuk kecil, jelas dibuat-buat. "Kalian ini, bikin saya kangen istri saja! Saya jadi menyesal mengiyakan dia menjenguk mertua saya di desa."
Semua orang tertawa, "Ya sudah, ayo kita berangkat. Warga sudah menunggu."
Mereka berempat berjalan bersama sambil mengobrol. Pak Mansur bercerita, yang lain mendengar. Hanya sesekali mereka akan menimpali.
Sepanjang perjalanan, Vega sesekali melirik Roy. Jika bukan karena Laura yang menggandeng tangannya, mungkin ia lebih memilih untuk berjalan beberapa langkah di belakang.
"Harapan saya di tahun baru ini, semoga korona cepat hilang. Saya kangen sama anak yang sekolah di Korea, dia nggak bisa pulang karena covid-19. Selain itu, biar kontrakan saya ramai lagi, hahaha."
Guyonan Pak Mansur garing, ketiga anak muda itu hanya tertawa ringan.
Mereka sampai di lahan kosong milik salah satu warga. Beberapa orang sudah berkumpul, mereka mempersiapkan puluhan kembang api besar. Menata bahan-bahan mudah terbakar itu dan memastikan jauh dari kabel listrik.
Pak Mansur memilih tinggal untuk membantu di sini. Mengikuti petunjuk warga, mereka bertiga diarahkan ke tempat lain yang sedikit lebih jauh dan tinggi agar mereka bisa menikmati pemandangan kembang api.
Beberapa warga berkumpul di halaman rumah besar, pemilik yang sama dengan lahan kosong tadi. Karena halamannya yang luas memungkinkan orang-orang untuk berkumpul dengan keluarga mereka sendiri-sendiri. Namun sebagian besar warga yang memungkinkan melihat kembang api dari rumah memilih untuk merayakan sendiri secara tertutup.
Dengan uang patungan yang dikumpulkan warga, ada banyak makanan yang bisa mereka nikmati sekarang. Ada ayam bakar, sosis bakar, berbagai seafood bakar sampai jagung bakar dan lain-lain.
Seluruh acara diatur dan dilaksanakan dengan memperhatikan keamanan dan protokol kesehatan. Covid-19 tidak bisa menghentikan kegiatan warga yang selalu kompak.
Vega duduk di kursi yang sudah disiapkan. Setiap meja memiliki empat sampai lima kursi dan letak tiap meja berjauhan. Mereka membagi tugas, Roy pergi ke tempat pembakaran mengambil makanan. Laura mengambil minum. Vega mencari tempat yang nyaman untuk menikmati kembang api dan bagus untuk berfoto ria.
Vega selalu bersyukur, orang-orang di sini tidak pernah memperlakukan pendatang dengan berbeda. Semua keramaian ini mengobati kesedihan orang-orang yang tidak bisa pulang ke kampung halaman. Termasuk Vega, Laura dan Roy. Mereka datang dari desa yang sama untuk mengenyam pendidikan.
Mereka bersama untuk waktu yang lama. Ada perasaan yang tumbuh selain pertemanan, dan itu tidak bisa dihindari.
Vega memperhatikan Roy yang sedang bercanda dan tertawa dengan warga asli. Pemuda yang diam-diam disukainya ini adalah orang yang paling pintar berbaur.
Kop Ice dingin menyentuh pipi Vega, "Ngelamun aja! Ngeliat cowok ganteng ya?" Laura menggoda.
Laura meletakkan minuman di atas meja. Tiga gelas Kop Ice dengan rasa berbeda, tiga botol minuman jeruk dan tiga kaleng minuman soda. Semuanya dingin, "Nanti kalau kurang kita ambil lagi."
Vega melirik dan menggambil Kop Ice rasa taro, ia tersenyum, "Aku ngeliat Roy," Laura jadi ikut melihat ke arah pembakaran. "Dia gampang banget akrab dan berbaur dengan orang lain. Seandainya kita nggak kenal dia, mungkin kita akan berpikir kalau dia warga asli sini."
Laura tersenyum, begitu bermakna. "Dia memang orang yang sangat baik, kesemua orang. Saking baiknya, banyak orang yang salah paham."
Vega melirik jaket Roy yang menghangatkan tubuhnya, "Iya, aku paham maksudmu," Vega selalu menyimpan kesedihan dalam diam.
Vega tidak berani mengatakan bahwa mungkin saja ia juga salah satu orang yang terjerat kebaikan Roy dan hampir salah paham. Salah paham bahwa mungkin saja Roy menyukainya.
Roy datang, membawa nampan besar penuh makanan. Di dalamnya ada nasi dan semua jenis makanan bakar, tentu saja tidak lupa sayuran segar untuk lalapan.
Belum sempat mereka mencicipi makanan, pemilik rumah datang di tengah-tengah mereka dengan ponsel di tangan. Mengajak semua orang untuk menghitung mundur bersama. Laura membagikan terompet yang tadi diambilnya di dekat tempat minuman.
Serempak, semua orang berteriak, "TIGA! DUA! SATU!!! HAPPY NEW YEAR!!!"
Suara terompet di mana-mana, bahkan di rumah-rumah warga yang merayakan secara tertutup. Selang beberapa detik kemudian, kembang api besar meluncur ke langit dan meledak. Menyiratkan warna-warni yang indah.
Suasana begitu ramai.
Vega melirik ke samping dan memakai maskernya. Mengambil napas dalam-dalam ketika menyaksikan Roy mencium Laura.
Di tengah keramaian yang luar biasa, Vega mengcengkeram jaket Roy yang dipakainya dan berkata, "Roy, selamat tahun baru, dan aku masih menyukaimu."
Tidak seorang pun yang bisa mendengar ucapan Vega.
Roy dan Laura telah bersama selama lima tahun, bahkan mereka sudah bertunangan. Vega adalah orang yang terjerat kebaikan Roy, dan tidak bisa menyalakan siapapun.
"Selamat tahun baru!" Laura memeluk sahabat terbaiknya, "Tahun ini, apa harapanmu?"
Vega balas memeluknya, Roy tersenyum melihat mereka. "Harapan? Mungkin memanjangkan rambut?"
"Oh," Laura membuat wajah terkejut yang lucu, menggoda Vega, "Kenapa tiba-tiba ingin memanjangkan rambut? Apa kau sedang jatuh cinta?"
Vega memilih diam. Biarkan Laura berisik karena penasaran. Karena tidak mungkin bagi Vega untuk bercerita, bahwa lima tahun belakangan ini ia sengaja memotong rambut layaknya laki-laki untuk menghukum dirinya sendiri. Hukuman karena telah mencintai kekasih sahabat terdekatnya sendiri.
Menatap warna-warni kembang api di langit yang seperti tidak ada habisnya, Vega berdoa dalam hati.
Jika menemukan seseorang yang tepat terlalu berlebihan, setidaknya ia ingin membuang semua rasa cinta yang tidak akan pernah terbalas ini. Mengakhiri rasa sakit yang dimulainya sendiri ini.
"New year, new me!"