"Apa ini....!"
aku seketika berlari ke arah teriakan itu, ternyata itu berasal dari kelasku, aku pun melihat sesuatu di sana, ternyata itu adalah sebuah mayat.
[Beberapa menit sebelumnya] aku melihat langit yang sangat cerah, hari ini aku harus keluar karena akan ada pelajaran olahraga, mungkin itu bagus untukku karena aku bisa melihat langit biru itu dengan leluasa, dan merasa bebas. orang-orang di kelas kami mulai keluar satu persatu untuk mengganti pakaian mereka, aku pun keluar dengan membawa baju olahraga ku, akan tetapi entah mengapa firasat ku tidak enak, aku mulai berpikir yang aneh-aneh saat menuruni tangga koridor. sesudah mengganti bajuku aku berniat untuk membeli minuman terlebih dahulu sebelum ke atas, akan tetapi aku mendengar sebuah teriakan keras
"Apa ini....!"
seketika badanku tergerak untuk menuju ke tempat itu, ternyata berasal dari kelasku, aku langsung membuka pintu kelas dan melihat sebuah mayat terbaring dengan penuh darah dan luka sekujur tubuhnya di bangku ku, lalu aku melihat sekeliling ku, aku mencari orang yang paling mencurigakan, lalu para guru datang dan langsung menelepon polisi, tapi percuma saja, telepon sekolah telah di putus jaringannya, dan ponsel para guru hilang seketika, lalu salah satu temanku bilang akan menghubungi detektif yang ada di sekitar sekolah ini, temanku akan pergi ke tempatnya. beberapa menit kemudian detektif itu datang ke sekolah dengan membawa 2 orang polisi, dia mulai dengan pertanyaan ringan,
"siapa yang duduk dibangku ini?" tanyanya
"aku" aku menjawab dengan tegas
"siapa yang melihat mayat ini?"
lalu orang yang pertama kali melihat mayat mengangkat tangannya
"baiklah, ceritakan kronologinya" ucap si detektif
akan tetapi dia hanya menceritakan semuanya, dia adalah orang yang mengganti baju, lalu saat di ke kelas di melihat mayat itu sudah ada di bangku ku,
"siapa yang terakhir di kelas?" tanya si detektif,
lalu ada orang yang mengangkat tangannya, dan bilang bahwa orang itu lah yang terakhir dikelas (orang itu bermaksud pada mayatnya),
"berarti dia sembunyi sebelumnya" ucap si detektif
tapi aku berpikir lain,
"pak, mungkin saja dia dari kelas lain" ucapku pada si detektif itu
"soalnya dia sudah memutuskan kabel telepon sekolah dan juga mengambil semua ponsel guru, berarti dia sudah menyiapkan semua ini kan?" terusku,
"tapi dia bisa melakukan itu dari beberapa jam atau hari yang lalu kan?" tanya Mika padaku (Mika seorang teman sekelas perempuan ku)
"tapi setengah jam yang lalu aku aku masih memegang ponselku, dan juga kalau tidak salah satu jam yang lalu juga, pak kepala sekolah menelepon memakai telepon sekolah juga kan?" ucap guru matematika ku
"hm.... coba kalian akses lokasi ponsel kalian" suruh detektif itu
"baiklah, kalau begitu pinjami aku ponsel kalian" ucap guru matematika ku,
lalu setelah di telusuri tempat ponsel itu masih ada di sekitar gedung sekolah ini, berarti ponsel itu di sembunyikan di gedung ini,
"berarti sepertinya pelaku melakukan pembunuhan dahulu, setelah guru-guru ke tempat ini sepertinya dia langsung mengambil semua ponsel guru dan menyabotase teleponnya" ucapku
"hmm mungkin saja begitu" ucap Fazi (teman sekelas ku)
"pak detektif, kenapa anda tidak cek tubuhnya?" tanya Mika
"semuanya tunggu sebentar, lihatlah lukanya, sepertinya di di tusuk di beberapa bagian, berarti mungkin darah dari bekas tusukannya pasti menempel pada baju seseorang" ucap Kao (murid kelas lain)
"hmm mungkin saja" jawab detektif itu
"tapi kalau begitu pelaku pasti menyadari itukan?, dia pasti sadar akan hal itu, penjahat seperti ini sepertinya aku pernah membaca dalam sebuah komik, mungkin saja pelaku nya mempunyai referensi yang sama, akan tetapi caranya agak berbeda" ucapku,
"kau benar, sepertinya kau dan anak perempuan itu cukup pintar bila kulihat-lihat" ucap si detektif (anak perempuan itu maksudnya Mika),
"kalau begini berarti darah telah di tempelkan pada seseorang oleh pelaku, sebaiknya kita cari orang yang akan terkena fitnah ini" ucap Miku,
lalu para polisi dan guru mencari anak yang di bajunya ada bekas darah, lalu mereka menemukan seseorang, yaitu Aki berasal dari kelas lain,
"ternyata di bajumu ada darah ya" ucap si detektif
"hmm iya, tapi bukan aku pelakunya" ucap Aku dengan nada rendah dan ketakutan
"tenang saja kami tidak akan menuduh mu, jelas kau terkena korban fitnah ini" ucap si detektif
"kalau begitu kita cek saja lukanya" ucap Mika
"lalu detektif itu pun mengecek luka-luka yang ada pada mayatnya"
"kak, tolong lepas bajumu aku ingin melihat darahnya!" ucapku,
lalu dia memberikan baju itu padaku,
"apa yang akan kau lakukan" tanya Nero (orang yang pertama kali melihat mayatnya)
"aku ingin cek apakah ini darah asli atau bukan" ucapku,
kemudian aku mengeceknya dan mencium aromanya,
"pak, ini bukanlah darah, ini hanya sejenis cat" ucapku pada si detektif itu,
"ya baiklah terima kasih" jawab detektif itu,
lalu Mika mendekati detektif itu, dan saling berbicara tentang argumennya masing-masing, lalu seketika
"pak, kami telah menemukan ponsel para guru" ucap polisi yang mencari ponsel dengan para guru,
"baiklah kalau begitu, tapi jangan telepon polisi terlebih dahulu" ucap detektif itu
"Fazi apa kau berteman dengan anak ini?" tanya detektif itu pada Fazi
"ya" jawabnya dengan singkat
"apakah ada orang yang lebih dekat dengannya di banding Fazi?" tanya detektif itu,
lalu Shaki dan Muu mengangkat tangan
"hei Yosu kah juga dekat dengannya kan, angkat tangan mu!" ucap Shaki
"aku sudah angkat tau, kau tidak melihatnya?, hari ini aku sedang kurang sehat" ucap yosu,
"hmm, pelakunya ada diantara kalian berempat!" ucap detektif itu dengan keras,
seketika ruangan ini hening dan aku mengetahui apa yang di pikirkan detektif itu
"jelas sekali, karena ini bukan lah pembunuhan di tempat, akan tetapi, pembunuhan secara tidak langsung, pelaku meracuni sesuatu padanya" ucap detektif itu,
lalu Shaki mengangkat tangannya,
"apakah mungkin racunnya di beri padanya tadi pagi?" tanya Saki
"ya mungkin saja, tapi karena dia seorang atlet jadi daya tahan tubuhnya sangat kuat, jadi dia bisa menahannya untuk sementara waktu" ucap Mika,
"sepertinya pelaku memasukan racunnya pada suatu minuman, karena racun yang bisa berkontraksi secepat ini untuk hitungan altet, hanyalah racun cair yang cukup keras" ucapku
"dia meminum minuman yang ku beli dari Shaki, aku membelikan minuman untuknya, dan aku meminta sedikit minumannya, apakah sakitku juga karena itu" ucap Yosu
"tapi sebenarnya aku ingin menanyakan sesuatu padamu Yosu, kau kan......"
"tunggu sebentar" ucap detektif itu dengan menyela pembicaraan ku,
"kau dan kau ikut aku, aku butuh berdiskusi dengan kalian" ucap detektif itu,
aku merasa bangga karena di panggil untuk berdiskusi oleh seorang detektif, walau Mika ikut tapi aku tidak terlalu peduli tentang itu,
"Raku, kenapa kau sangat pintar dalam hal ini, tapi tidak dalam pelajaran?" tanya Mika, tapi sepertinya sambil sedikit mengejekku,
"pertama jangan mejekku seperti itu, kedua aku berpikir dengan logika ku, dan ketiga jangan pernah remehkan kecerdasan ku" aku menjawabnya dengan terengah-engah karena kami sedang berjalan mencari tempat yang bagus,
"hmm, kalian cocok sekali, sebaiknya saat besar nanti kalian menikah" si detektif sepertinya mulai menyindir kami,
""apanya yang cocok!"" tanpa ku sadar aku berbicara bersamaan dengan Mika,
"sudah terbukti, kan?" ucap si detektif sembari tersenyum.
Setelah sekian lama mencari tempat akhirnya kita memutuskan untuk berdiskusi di atap, lalu kami mulai berdiskusi
"baiklah, Mika menurutmu siapa yang mencurigakan?" tanya si detektif
"menurut ku Nero, atau Fazi" jawab Mika,
"apa alasannya?" tanya detektif itu,
"pertama Nero alasannya karena ceritanya kurang kuat untuk membuktikan dia bukanlah pelakunya, dan Fazi adalah orang yang pertama menyatakan argumen tentang darah di baju seseorang" jawab Mika
"hmm, jawaban yang payah" ucapku pada Mika
"apa maksudmu?” Mika bertanya padaku dengan agak kesal,
"argumen payahmu itu gampang di pecahkan. pertama Nero dia menceritakan yang sebenarnya, mukanya penuh dengan ketakutan, dan dia tadi bersama teman-temannya kan?, dia hanya berpisah di tangga, tidak mungkin dia melakukan semuanya secepat itu, dan Fazi dia memang cukup mencurigakan, akan tetapi di kelas sebelumnya kau dan aku sekelas dengannya kan?, dia itu tidak bisa berpikir panjang, dan dia agak sedikit e... kurang pintar" jawabku
"lalu siapa menurutmu?" tanya si detektif.
[beberapa menit kemudian] aku datang kekelas bersama Mika, lalu kami mengumumkan siapa dalang di balik semua ini,
"aku, Mika, dan tuan detektif sudah mencari tau siapa pelakunya" ucapku dengan nada tinggi,
"tapi sebelum itu, aku akan beritahukan beberapa fakta, pertama adalah tentang darah itu, sebenarnya dia telah terbunuh sebelum dia di gores oleh suatu pisau, oleh karena itu darah yang keluar sedikit" ucapku
"kalau begitu, kenapa darahnya sebanyak itu?" tanya Nero
"itu karena, darah itu bukanlah seratus persen darah, itu di campurkan dengan cat merah, makanya bau darahnya tidak terlalu menyengat, selain itu darahnya juga agak mengkilap" ucapku
"lalu kenapa aroma cat tidak terasa sama sekali?" tanya Fazi,
"hmm, coba kau dekati mayatnya, dan kau cium perlahan baunya" ucapku
lalu Fazie mendekati mayat itu dan mencium aromanya dengan perlahan,
"ya aku merasakan sedikit aroma cat" ucap Fazi
"baiklah fakta kedua, seperti yang di ucapkan pak detektif sebelumnya, pembunuhnya mungkin diantara kalian berempat, karena dia di racuni dan di gores oleh pisau saat sudah dia mati, berarti pelakunya masih mempunyai rasa tidak tega, lalu kami sudah tahu siapa pembunuhnya" ucapku,
seketika semua orang-orang di dalam kelas itu hening,
"Mika beritahu mereka!" ucapku
"baiklah, pelakunya adalah....... kau Yosu" Ucap mika dengan nada tinggi,
"ap..ap...apa, kau sudah gila ya?, aku terkena racun itu juga kan?, bagaimana bisa?, lagi pula mana detektif itu?, apa dia kabur karena tidak bisa memecahkan hal ini lalu dia memanfaatkan kalian?" ucap Yosu
"kau sepertinya panik ya, sepertinya itu wajar, tapi kami sudah memiliki beberapa bukti, pertama kau izin ke toilet saat jam olahraga kami, mungkin itu kesempatan mu, aku menanyakan ini pada guru mu tadi, kedua kau cukup dekat dengannya tapi sepertinya mukamu sangat kesal padanya, ketiga, kau sakit karena kau hanya meminum sedikit airnya kan?, karena racun cairan yang efek nya sangat bahaya biasanya lebih kental, jadi perlu di biarkan sebentar untuk menyebar, saat sebelum racun itu menyebar kau meminum sedikit air itu dan mengkocok botolnya sedikit agar racun itu tidak terasa baunya oleh dia kan?, begitulah kejadiannya" ucapku,
"kalau tentang air kau bisa menyalahkan..” ucap Yosu yang terputus oleh Mika
"tidak, karena air itu kan tersegel, jadi itu tidak mungkin" ucap Mika,
lalu ada suara orang berlari di koridor, lalu ada yang membuka pintu, ternyata itu adalah pak detektif yang membawa cat kecil,
"aku menemukan ini di kotak pensil Yosu!" ucap Detektif itu,
seketika Yosu menangis dan dia berkata pada kami,
"ya aku yang melakukannya, ini karena dendamku, aku dulu selalu kalah olehnya, orang-orang juga mulai salah paham dan mengatakan aku adalah bawahannya, aku sangat kesal akan itu, lalu saat aku mengajaknya bertanding nilai ulangan aku kalah telak, dan di tertawai teman-teman sekelas ku, makanya dari itu....." ucap nya yang terhenti karena dia menangis
"sudahlah jangan menangis, aku sudah tahu semuanya, tapi bukan seperti itu caranya, maafkan aku tapi kau tetap akan di tangkap" ucap detektif itu.
lalu setelah kasus di tutup detektif itu berpamitan dengan kami, dan kembali bercanda,
"kalian sudah membantu ku terimakasih" ucapnya
""ya sama-sama"" ucap kami berdua
"hmm kalian benar-benar serasi, kurasa kalian cocok,
"bisa tidak kau langsung pergi?" dengan kesal Mika menyatakan itu
"hahahaha baiklah, dah semuanya" ucapan perginya
""dah"" ucap kami berdua.
sepertinya hari ini penuh dengan misteri, semoga saja hari ini tidak terulang lagi,
"hari ini melelahkan ya?" ucapku
"ya, sangat melelahkan" ucap Mika
The End