Di suatu desa tinggalah seorang gadis dari keluarga sederhana yang bernama Alura Dwi Anjani, yang biasa dipanggil juga dengan nama Rara. Rara adalah sosok gadis yang cantik, baik, sopan, ramah dan pintar.
Di usia ke 18 tahun ini. Rara baru lulus sekolah SMA dengan nilai terbaik. Ia berkeinginan untuk melanjutkan kuliah diluar negeri yaitu di negara "L" yang mana ini adalah keinginan Rara dari kecil sampai saat ini.
Rara juga adalah sosok gadis yang belum pernah merasakan begitu dekat dengan seorang laki - laki. Sampai suatu ketika Rara dekat dengan salah satu teman laki - laki yang menurut Rara terlalu ikut campur urusan Rara dan seperti mengatur Rara juga. Namun, dibalik sikapnya itu Rara merasa punya teman yang asik juga di ajak bicara dan nyambung juga diantara yang lainnya dalam berbicara.
Dan ngga kerasa juga selama 3 bulan ini. Ia berhubungan dengan laki - laki tersebut. Yang bernama Rizal Alexsandro yang biasa dipanggil dengan nama Sandro. Sandro sosok orang yang sudah Rara anggap seperti kakak laki - laki yang selalu ada buat adiknya yaitu Rara sendiri. Walaupun sebenarnya Rara bukan adik kandungnya dan berhubung usia Sandro saat ini 21 tahun maka Rara pun menganggap Sandro sebagi kakaknya. Selain itu, dia juga sosok laki - laki yang baik, ganteng, pintar, dingin, arogant dan egois juga sih.
Sampai suatu ketika Sandro meminta alamat tempat tinggal Rara untuk berkunjung ke rumah Rara saat itu. Tapi, Rara tak mengindahkan permintaannya sampai berbagai macam penolakan dan menghindari memberikan alamat rumah Rara ke Sandro.
Dan itu pun, membuat Sandro menghilang bagaikan di telan bumi. Dan kini tak lagi ada sapaan darinya. Kemudian apakah Rara merasa kehilangan. Yah sebenarnya Rara merasa kehilangan sih, tapi ngga terlalu kehilangan banget. Dan lagi pula Rara ngga terlalu ambil pusing mungkin ini yang terbaik buat ia dan Sandro.
Setelah menghilangnya Sandro tanpa kabar selama 1 bulan ini. Ia dibuat kaget oleh Sandro dengan kedatangan dia berkunjung kerumahnya saat itu. Tak pernah terpikir sedikit pun oleh Rara bahwa Sandro berkunjung kerumahnya.
Sandro pun saat itu berkunjung bersama ke dua orangtuanya dan keluarganya. Tak disangka ternyata mereka datang buat meminang Rara menjadi istri untuk Sandro. Seketika itu pun Rara kaget dibuatnya. Dan tanpa sadar Rara mengeluarkan air matanya. Namun, Rara tak tahu itu air mata bahagia karena pinangan Sandro atau air mata kecewa karena Sandro meminangnya saat itu.
Dan kini Sandro pun beralih melihat Rara yang menangis saat Sandro mengutarakan niat baiknya ini. Ia pun meminta kepada bapaknya Rara buat berbicara berdua saja dengan Rara. Dan tentu saja bapaknya Rara mengizinkannya. Tapi sebelum Rara pergi kedua orang tua Rara pun mengingatkan Rara bahwa mereka akan setuju apapun jawaban yang Rara berikan nantinya kepada Sandro.
Kini saatnya Rara dan Sandro berbicara berdua tanpa adanya pihak lain yang ikut dengan mereka. Disini Sandro yang memulai pembicaraan. " Ra gimana apakah kamu menerima pinangan saya?" Rara tak langsung menjawab pertanyaan dari Sandro melainkan hanya air mata yang terus keluar dari kelopak matanya yang indah ini.
Sampai Sandro pun menunggu jawaban dari Rara. Namun, sepertinya Rara memang belum bisa menjawab pertanyaan itu. Dan itu pun membuat Sandro mengerti dengan keterkejutan Rara saat ini.
Sandro pun tak memaksa Rara buat menjawab sekarang. Ia pun langsung bicara lagi kepada Rara "Ra aku tau ini berat dan pasti kaget buat kamu. Tapi kamu juga ngga perlu khawatir aku ngga akan memaksa kamu buat jawab hari ini. Tapi satu hal yang harus kamu tau dan renungkan serta mantapkan juga hatimu untuk mengambil keputusan ini. Aku akan datang kembali bulan depan untuk menikah denganmu. Dan ku harap juga kamu mau datang ke tempat pernikahan kita dan bersanding di sampingku dalam pengucapan ijab kabul yang ku ucapkan nanti di hari pernikahan kita. Semua aku serahkan lagi kepadamu apakah kamu mau mengindahkan permintaan saya atau nanti saya yang akan merasa kecewa atas keputusan penolakanmu."kata Sandro pada Rara yang terdiam sesaat, lalu melanjutkan kembali ucapannya.
"Mungkin hanya itu yang bisa ku katakan kepadamu dan ingatlah aku menunggumu di pelaminan untuk bersanding denganku saat waktu itu tiba. Dan saat ijab kabul akan dilaksanakan aku pun akan menunggumu datang menghampiriku dengan hati yang ikhlas menerimaku menjadi imam mu hingga mautlah yang memisahkan kita nanti."
"Dan satu hal lagi Ra aku akan menunggumu sampai 1 jam lamanya saat ijab kabul itu akan dilaksanakan. Jika memang kamu tidak datang aku putuskan bahwa kamu menolak untuk menikah dengan ku. Aku pun akan membawa kembali keluargaku dan mendapatkan kecewa atas penolakan mu ini."kata Sandro memberikan pilihan pada Rara.
"Sudah Ra kamu hapuslah air matamu itu. Rasanya sakit disaat orang yang ku sayangi dan ku cintai menangis seperti ini. Aku akan pamit kembali ke rumahku dan bulan depan aku akan kembali kesini untuk menjadikanmu sebagai istriku."kata Sandro mengakhiri ucapannya.
Singkat cerita Rara dan Sandro pun kembali menemui kedua orang tua dan keluarganya. Kemudian sandro pun pamit untuk pulang.
Pada malam harinya Rara pun mengingat handphonenya yang belum ia nyalakan dan lihat dari tadi. Namun, entah kenapa yang biasanya Rara tak pernah lihat email hari ini ia ingin melihat email nya.
Dan ketika ia melihat email-nya ia pun mendapatkan notifikasi pesan di emailnya. Yang mana isi dari email tersebut ialah sebuah informasi bahwasannya Rara mendapatkan beasiswa keluar negeri yaitu negara yang mana Rara inginkan selama ini untuk melanjutkan studinya.
Dan itu pun membuat Rara tersenyum dan sejenak melupakan keterkejutan dan sedihnya itu. Tapi tak lama ia pun mengingat kembali tentang pinangan itu. Disinilah awal mula Rara bimbang dengan pilihannya dan disini juga lah Rara menjadi orang yang pendiam serta Rara pun tak memberikan keputusan kepada dua pilihan tersebut saat ini.
Sampai Rara pun tak bisa tidur karena merenungkan pilihannya itu. Hingga tengah malam rasa kantuk itu tak kunjung menghampiri Rara untuk segera tidur. Sehingga Rara pun memutuskan untuk mengambil air wudu dan melaksanakan shalat istikharah.
Setelah usai melaksanakan shalat istikharah tersebut. Rara pun berdoa kepada Allah SWT. Didalam doanya Rara pun berdoa "Ya Allah berikanlah hamba mu ini pertolongan dan keputusan yang terbaik yang engkau kehendaki kepadaku. Hari ini aku mendapatkan dua pilihan ya Allah. Yaitu satu pinangan dari seorang laki - laki yang ingin menjadikan ku istrinya. Dan satu lagi aku mendapatkan beasiswa ke luar negeri yang selama ini aku selalu panjatkan kepadamu agar bisa mencapai nya dan bisa mewujudkan impianku selama ini. Dan inilah yang menjadi kebimbangan ku untuk memilihnya ya Allah. Bantulah aku untuk memilihnya. Manakah yang harus aku pilih ya Allah ku serahkan kepadamu dan berikanlah aku petujukmu agar memantapkan hatiku untuk memilih salah satunya Ya Allah." Aamiin aamiin ya rabbal alamiin.
Setelah Rara selesai berdoa Rara pun merasa sedikit lega telah mengungkapkan isi hatinya kepada Allah SWT. Kemudian ia pun mulai tertidur.
Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti Minggu. Tak terasa sudah 3 Minggu Rara termenung dalam kesendirian dan nampaknya belum ada jawaban yang bisa Rara putuskan sampai saat ini.
Selama 3 Minggu ini Rara selalu melaksanakan shalat istikharah dan berdoa kepada Allah. Namun sampai sekarang ia belum mendapatkan jawaban dari Allah untuk menjawab pilihan mana yang harus ia pilih.