Sudah dua jam lebih aku masih duduk diayunan ini. Aku tidak ingin pulang. aku benci mereka, kedua orang tuaku dan adik-adikku. Mereka bahkan tak mencariku sampai saat ini, tetap berada dalam rumah dengan keharmonisan yang mereka miliki tanpa aku.
Dunia tidak adil. Kenapa cuma aku yang harus dituntut seperti ini.
Kedua orang tuaku sering menuntutku untuk selalu menjadi yang tertinggi dari yang tertinggi. Aku diharuskan mendapat peringkat teratas disekolah. Karena itu hari-hariku hanya berisikan belajar dan belajar. Sekarang aku sudah benar-benar muak, dan ingin sedikit kebebasan.
Aku masih mengayunkan ayunan sedari tadi. Menatap langit senja. Pemandangan langit berwarna jingga kemerahan disandingkan dengan pemandangan bukit bebunga, sangat indah. Aku semakin tidak ingin pulang.
Jari-jariku bergerak, aku sedang menulis sesuatu kearah langit senja. Kutulis semua curahan hatiku, seakan sedang menulis dibuku diary. Senyumku mengembang tapi sedetik kemudian menghilang menjadi murung kembali.
“Ck. Yang kuinginkan itu dituntun bukannya dituntut seperti ini” Aku berdecak kesal. Ayunan yang kunaiki semakin mengayun tinggi. Tubuhku serasa melayang diatas bukit berbunga.
“Aku benci kaliaaaaaan! Bisakah waktu dunia berhenti sekarang? Aku masih ingin melihat senjaaaaa!” Teriakku seperti terbang terbawa angin. Tidak mungkin ada yang mendengarnya.
“Kamu membenci siapa? Ekspresimu seolah-olah bilang kalo kamu membenci semua manusia dibumi ini tuh”
Aku menoleh kebelakang. Seseorang laki-laki berdiri dibelakang tak jauh dariku. Sontak aku langsung berteriak “Awas!” Ayunanku akan menabraknya.
Tapi ternyata dugaanku salah. Laki-laki itu malah langsung memegang tali ayunanku, menghentikan ayunannya. Kuat sekali tenaganya, tidak jatuh setelah menahan serangan tabrakan dariku.
“Ah.. maaf” ucapku padanya sembari turun dari ayunan.
“kenapa minta maaf, kan bukan sepenuhnya salahmu. Lagipula aku tidak terjatuh ataupun terluka” balas laki-laki itu, menolak permintaan maafku. Setelah selesai dengan ucapannya dia tanpa basa-basi langsung duduk dan bersender pada pohon didekat kami.
“hmm.. pemandangan disini indah ya. Apalagi langit senja itu”
Keningku mengerut, heran dengan perilaku laki-laki yang baru kutemui ini. Ada apa dengannya, tiba-tiba datang mengejutkanku dan sekarang malah duduk dengan santai begitu.
“kamu siapa? Kenapa tiba-tiba ada disini” Aku bertanya. Dengan Raut wajahku yang masih terlihat heran denganya.
“aku? Sebut saja senja” Jawabnya enteng.
Senja? kenapa bisa ada kebetulan seperti ini. Bertemu dengan orang bernama senja disaat aku sedang melihat senja. Haha yang benar saja.
“Kamu belum bilang kenapa tiba-tiba kamu disini” Aku menyusul, duduk disebelahnya.
“Sebenarnya aku dari tadi melihatmu dibukit seberang sana. kamu terlihat frustasi, ada masalah apa? kalo mau, aku bisa menemani dan mendengarkan ceritamu kok” senja terkekeh, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Ah..” Aku masih ragu. Tapi setelah melihat sorotan matanya, entah kenapa aku jadi ingin menceritakan masalahku. Seperti terhipnotis terhipnotis olehnya.
“Aku pergi dari rumah sejak siang tadi. Aku sudah muak dengan perlakuan orang tuaku, dari dulu sampai sekarang, mereka selalu menuntutku agar mendapat nilai tertinggi dari sekolah. setiap hari aku hanya terus belajar, dan tidak boleh bermain-main. Padahal adikku boleh saja tuh. Sesekali kan aku juga ingin istirahat dengan bermain-main. Lihat saja, sampai sekarang tidak ada yang mencariku. Huh! aku tidak ingin pulang kerumah” Aku mendengus kesal.
“Dasar bodoh!” Senja malah menjitak kepalaku. Aku mengaduh. Apa-apaan dia tiba-tiba menjitak kepalaku begitu. Apa salahku padanya.
“Aku tahu orang tuamu salah karena mendidikmu dengan cara seperti itu, tapi aku yakin itu bukan sepenuhnya salah mereka. Mungkin mereka hanya tidak ingin kamu hidup menjadi manusia yang gagal dalam segala hal, tapi cara merekalah yang salah”
“apa iya..” Aku mendadadk ragu, pikiranku jadi kemana-mana.
“Pulanglah. Ungkapkan semua isi hatimu pada mereka”
“Tapi aku takut jika mereka akan menolak isi hatiku sebenernya. Dan keseharianku yang paling kubenci akan kembali lagi. Ah.. dunia memang rumit. Aku jadi ingin menghilang saja, jadi aku tidak perlu pulang”
“hush! Mulutmu itu sering mengeluh saja. Dapat masalah segini saja sudah ingin menghilang dari dunia. Bagaimana dengan orang lain yang hidupnya lebih malang darimu”
“Pulanglah Lily. Aku yakin mereka akan mengerti”
Eh, bagaimana dia bisa tahu namaku. Aku kan belum pernah menyebutkannya. Sebenarnya dia ini siapa sih. Aku kembali terheran-heran.
Tidak perduli dengan ekspresi heranku, senja kembali melanjutkan ucapannya. “Lihat, senja indah sudah pergi. Sekarang malam lah yang giliran datang. Mereka pasti sedang mencari anak sulungnya sekarang”
“kamu.. Baru pertama kali ini pergi dari rumah kan?” Aku mengangguk. Memang benar sih ini pertama kalinya aku pergi dari rumah seperti ini.
“Kan! ayo cepatlah pulang Lily” Senja berdiri kemudian menarik paksa tanganku agar aku ikut berdiri. Setelah aku sudah benar-benar berpijak pada bumi, dia giliran mendorongku dari belakang untuk pergi pulang.
“Ah, eh.. iya iya aku pulang” Kupaksa hentikan langkahku akibat dorongan senja. Kemudian aku menghadap kebelakang, kearahnya.
“kamu, sebenarnya kamu ini siapa? Gimana bisa tau namaku. Kan aku tidak pernah menyebutkan namaku padamu sebelumnya”
“Ups, oh iya.. aku seharusnya tidak tahu namamu kan ya. Ah aku keceplosan” senja malah terkekeh, tidak serius menjawab pertanyaanku. Kutatap dia penuh selidik. Dia malah menaik turunkan bahunya, seolah memang tidak mengerti.
“Lily!”
Suara yang familiar. Sepertinya itu suara ibu. Aku menoleh keasal suara. Benar, itu ibu. Dia benar benar mencariku?
“Ah.. I-ibu maaf aku salah” kututup mataku. aku sudah siap menerima pukulan ibu kali ini.
“Bodoh. Kenapa kamu tiba-tiba pergi seperti ini”
Aku terkejut. Bukannya dipukul tapi aku malah dipeluk. Perlakuan ibu membuatku bingung.
“Ibu..ada ap-“ pertanyaanku belum selesai, ibu malah menyela ditengah-tengah. Dan mulai mengomeliku.
“Kamu tiba-tiba pergi dan tidak kunjung pulang selama berjam-jam. Ibu mengkhawatirkanmu Lily. Semua mencarimu, termasuk ibu. Setelah mencari di beberapa tempat ibu tiba-tiba ingat ada tempat yang paling sering kamu kunjungi yaitu disini. Dan ternyata benar kamu ada disini” Ibu melepas pelukannya dan malah giliran menatapku.
“Ibu minta maaf..” Suara ibu mendadak menjadi sangat lembut.
“Ini salah ibu, karena mendidikmu dengan cara yang salah. Ibu tidak ingin kamu menjadi seperti ibu dahulu, yang selalu dibully karena menjadi orang yang bodoh dan gagal. Ibu juga minta maaf karena sering melampiaskan kemarahan ibu padamu”
Air mataku mulai membanjiri pipiku. Aku jadi menangis setelah tahu maksud ibu yang sering menekanku selama ini. Ternyata begitu. Semua yang dikatakan senja sepenuhnya benar mengenai ibu.
“Ah.. ibu aku juga minta maaf. Aku tadi telah bilang benci kalian dan lebih baik menghilang dari dunia ini. Sebenarnya aku sudah muak karena ibu menuntut agar nilaiku jadi yang terbaik terus. Aku.. lelah belajar setiap hari. Aku juga ingin bermain-main seperti temanku yang lain, dan sesekali ingin mendengar ibu bilang tidak apa-apa saat aku mendapat nilai yang jelek. Aku benar-benar menginginkan kasih sayang kalian yang sedikitpun tidak memandang nilaiku”
Tangisanku semakin keras, semakin menjadi-jadi.
“Sshh.. berhentilah menangis. Memang wajar jika kamu punya pikiran membenci kami. Karena itu memang salah ibu, ibu minta maaf karena sering menekanmu. Dan terimakasih sudah berani mengungkapkan isi hatimu pada ibu, ibu sangat menghargainya”
Ibu berusaha menenangkanku yang sedang menangis, mengelap air mataku yang dari tadi tak kunjung berhenti mengalir.
Setelah beberapa menit tangisanku sudah reda walaupun masih sesenggukan. Ibu pun dari tadi masih setia menemaniku.
“Sudah tenang? Ayo kita pulang, ini sudah malam. Tidak baik terlalu lama ada disini” Ibu menggandeng tanganku, menariku pergi dari bukit berbunga.
“Ah tunggu ibu. Temank-“ ucapanku terhenti saat kulihat kebelakang, senja sudah tidak ada. Pergi kemana dia.
Aku memperhatikan sekitar masih berusaha mencari keberadaan senja. Tapi hasilnya nihil. Tidak ada seseorang pun disekitar, kecuali aku dan ibu.
Pandangan mataku terhenti ketika melihat ada sebuah coretan kecil dibatang pohon yang tadi kusenderi.
Tertulis suatu kalimat yang sebelumnya tidak ada disana.
“Terima kasih? Sama-sama. Senang bisa membantumu kok. sebenarnya namaku bukan senja. Tapi namaku adalah Aster. Dan juga aku bukan manusia, lebih tepatnya bukan lagi manusia, atau bisa dibilang aku sudah mati. Dan menjadi hantu.
Semua hal aneh yang kulakukan hari ini. Aku punya sebuah trik mengenai itu.
Tidak usah berharap bisa menemukanku, aku yakin kamu tidak pernah bisa menemukanku. Senang bisa kenal denganmu walau hanya diwaktu senja hari ini”
“Hari ini senja sangat indah kan"
.
.
.
Hai. Aku disini masih baru dan masih pemula jadi ga heran kalo alur cerita atau penulisan masih salah.
Ini cerpen? sepertinya si bukan. Karena ga ngikutin aturan penulisan cerpen. jadi cerita ini bukan sepenuhnya cerpen.
Tq u for Reading.