***
Bel pertanda pulang sekolah baru saja berbunyi, satu persatu siswa melangkah keluar dari dalam kelas mereka masing-masing begitu sang guru mengakhiri kelas yang di ajarnya.
Lea membuka kedua manik matanya secara perlahan begitu ia sadar bahwa keadaan ruang kelasnya yang sudah sangat sepi. Tidak ada seorang pun di dalam sana, hanya dirinya seorang yang baru saja terbangun dari tidurnya sejak sepanjang pelajaran terakhir yang di ikutinya.
"Argh… mereka benar-benar tidak berniat untuk membangunkan aku," gerutunya kesal saat tidak ada satu pun teman sekelasnya yang memiliki niat untuk membangunkan dirinya begitu bel yang di dengarnya itu berbunyi.
"Jam berapa ini?" Lea bergumam pelan, mengucek kedua matanya berusaha memperjelas penglihatannya. Ia mendongak menatap jam yang tergantung di depan dinding ruang kelasnya, jam itu telah menunjukkan pukul empat lebih dua puluh lima menit, hampir setengah lima. Langit biru yang terakhir di lihatnya, kini telah berubah warna menjadi oranye, menandakan kalau hari sudah hampir senja.
Lea melangkah keluar dari dalam kelasnya, memang kelasnya tidak pernah di kunci karena akan ada penjaga yang berpatroli setiap malam untuk memastikan setiap kelas terkunci, dan jika ada satu kelas yang tidak terkunci, maka mereka akan menguncinya.
Untuk tipikal seorang siswi SMA berusia enam belas tahun, Lea adalah orang yang tomboy, tidak terlalu pintar, dan suka membuat onar. Ya… walaupun dia notabene nya adalah seorang gadis yang seharusnya bersikap baik, tapi Lea adalah orang yang anti mainstream. Baginya menjadi gadis seperti pada umumnya terlalu mainstream, jadi ia memutuskan untuk menjadi gadis yang berbeda dari yang lain.
Lea melangkah menyusuri koridor yang tampak mulai gelap, tidak ada suara lain yang di dengarnya selain langkah kakinya sendiri.
TAP!
Lea menghentikan langkah kakinya saat secara tiba-tiba ia menangkap sekelebat siluet yang melintas di koridor lain yang di lewatinya. Langit senja yang menandakan matahari sebentar lagi turun dari singgasananya, di tambah koridor yang gelap menambahkan suasana yang cukup mencekam. Tapi itu tak membuatnya takut, Lea adalah orang yang tidak pernah percaya dengan adanya makhluk bernama hantu. Ya… walaupun teman-teman satu sekolahnya menyakini adanya hantu yang selalu berkeliaran setiap senja tiba di koridor sekolah mereka.
Bukannya takut dengan apa yang di lihatnya, Lea justru merasa penasaran.
"Yang tadi itu apa?" Gumamnya pelan, memonolog dengan dirinya sendiri. Kedua manik matanya menatap lekat ke arah dimana siluet itu di lihatnya. Ia melangkah secara perlahan mendekati koridor itu, terus melangkah sembari mengedarkan pandangannya mencari sosok yang di carinya. Tapi tiba di sana, ia justru sama sekali tidak menemukan apa-apa. Koridornya kosong.
"Aneh, padahal aku yakin kalau tadi ada yang melintas di sini," gumamnya pelan. "Tidak mungkin aku salah lihat," gumamnya.
Lea menatap sekeliling, ia baru sadar kalau dirinya berada di koridor yang memang sangat jarang di kunjungi oleh orang-orang yang bersekolah di sekolahnya.
"Ini gudang atau apa?" Lea bergumam pelan saat melihat ada banyak sekali barang-barang tua yang tampak berdebu yang berjejer menghalangi pintu di sudut koridor.
"Aku baru sadar kalau ada ruangan seperti ini di sekolah, ruangan apa ini?" Lea berjinjit, berusaha melihat ke dalam lewat jendela ruangan tersebut. Tapi ia sama sekali tidak dapat melihat isinya dengan jelas, ruangannya terlalu gelap di tambah lagi debu di jendela yang begitu tebal benar-benar membuatnya tidak bisa melihat isinya dengan jelas.
"Aku jadi penasaran, apalagi ruangan ini benar-benar belum pernah aku lihat sebelumnya."
"Sebaiknya aku mengecek ke dalam, siapa tahu ruangan ini tidak di pakai. Dengan begitu aku bisa menggunakan ruangan ini sebagai ruang rahasia ku dan aku bisa membolos di sini, lagipula terus membolos di dalam gudang atau di UKS tidak menyenangkan. Dan semua orang sudah tahu mengenai kedua ruangan itu. Tapi ruangan ini… tidak akan ada yang tahu kalau aku membolos di sini."
Lea tersenyum simpul memikirkan idenya. "Ini adalah benar-benar ide yang bagus. Sekarang aku harus mengecek isinya."
Lea melangkah menghampiri pintu, menyingkirkan beberapa barang yang menghalangi pintu masuk kemudian berdiri di depan pintu yang kini di gembok tersebut. Setelah menghantam gemboknya dengan menggunakan batu, akhirnya Lea bisa membuka pintunya.
Sebelum melangkah masuk, ia menatap kertas yang terpasang di pintu lebih dulu. Ia mengusap kertas tersebut dan membaca tulisan di atasnya.
"Club penelitian supranatural," gumamnya membaca tulisan yang ada di kertas yang tertempel di sana. Lea mengerutkan keningnya.
"Aku baru tahu kalau ada club seperti ini di sekolah. Tapi kalau pun memang benar, kenapa tidak pernah di gunakan lagi? Apakah mereka membubarkannya?"
Lea mendorong kenop pintu tersebut dan melangkah masuk. Ruangannya cukup besar dengan di hiasi oleh beberapa rak buku dan sofa tua yang di penuhi debu. Lea melangkah mengelilingi seisi ruangan, melihat-lihat setiap sudut di ruangan tersebut. Sampai kemudian secara tidak sengaja ia menemukan tombol rahasia yang menunjukkan jalan rahasia yang tersembunyi di balik lantai ruangan tersebut. Lea melangkah masuk menyusuri jalan yang di temukannya, rasa penasaran benar-benar telah membuat rasa takutnya itu raib entah kemana.
"Oh astaga…" Lea diam terpaku di tempatnya begitu ia tiba di akhir jalan rahasia yang di temukannya. Ia melongo dengan kedua mata yang membulat sempurna dan mulut menganga.
"Indah sekali…" sambungnya setelah terdiam beberapa saat untuk mengagumi keindahan yang di lihatnya.
Ia saat ini berdiri, di hadapannya sebuah tempat yang luar biasa indah terhampar luas bak sebuah lukisan. Padang rumput yang hijau, langit senja yang tampak indah, pepohonan dan bunga-bunga yang berwarna warni, benar-benar sulit untuk di percayanya.
"Dimana aku berada?"
Lea melangkah untuk memastikan, dan semuanya benar-benar nyata. Ia dapat merasakan suara ketenangan, ia dapat merasakan semilir angin yang berhembus, dan ia bisa mencium harumnya setiap bunga yang ada di sana.
Lea terus melangkah semakin dalam ke tempat yang tampak seperti hutan tersebut. Ia kembali menghentikan langkah kakinya begitu menemukan sebuah pedesaaan yang letaknya tidak jauh dari tempatnya berada. Di ujung pedesaan yang di lihatnya itu, ia bisa melihat sebuah kastil besar yang begitu indah bak di negeri-negeri dongeng.
Lea tersenyum, ia benar-benar di buat takjub dengan apa yang di lihatnya. "Aku benar-benar tidak pernah menyangka kalau ada tempat seperti ini di bawah sekolahku," gumamnya.
Lea melangkah meghampiri jalan yang di lihatnya, ia memutuskan untuk mendekat ke arah desa yang di lihatnya. Tapi ia baru menyadari kalau di sebagian desa itu di tutupi oleh salju putih.
***