Siapa yang Menunggu di Gerbang Surga?
Hari ini, adalah hari yang sudah kami nantikan untuk berziarah ke sembilan makam Wali Songo. Sebanyak 40 orang mengikut sertakan diri dalam ziarah ini, tentu saja, karena tidak dipungut biaya. Dan sebuah bus yang besar telah disewa oleh panitia.
Di pagi hari ini, tepatnya pada pukul enam pagi, kami berdoa terlebih dahulu, membaca tahlilan, dan doa-doa lainnya. Setengah jam sudah lewat, bus mulai berangkat dari masjid di desa kami, ke tujuan pertama di Sunan Ampel.
Setelah berziarah di sana, kami langsung melanjutkan ke tempat tujuan lainnya. Dari para wali di Jawa Timur sampai ke Jawa Barat.
Sudah tiga hari, sejak keberangkatan kami. Dan sekarang kami berada di Sunan Gunung Jati yang terletak di Cirebon. Rombongan kami masih berada di dalam area makam setelah selesai berdoa, pastinya untuk berswafoto atau berbelanja untuk oleh-oleh kepada keluarga yang berada di rumah.
Namun, aku justru ingin segera kembali ke dalam bus, karena hari sudah malam, dan kelopak mata sudah mulai berat untuk diangkat.
Setelah sampai di tempat parkir, aku melihat pak sopir berada di sebuah warung. Secangkir kopi hangat dan sebuah televisi yang menontonkan sepakbola, kepada para pembeli di warung itu, membuatku berubah pikiran.
Aku langsung pergi ke warung itu dan memesan secangkir kopi hangat sembari mengajak ngobrol pak sopir. Kami mengobrol tentang sepakbola yang kami tonton dan kebetulan ada yang menarik untuk dibahas.
Setengah jam kami berada di warung ini, namun rombongan kami tak kunjung kembali. Mungkin ada sesuatu yang menarik perhatian mereka, jadi memakan waktu yang lebih lama. Tidak apa-apa, lagipula ziarahnya sudah selesai, dan tinggal perjalanan pulang.
Sebuah papan catur tak sengaja kulihat di bawah televisi. Mengingat hal itu, sudah lama aku tidak bermain catur dengan seseorang.
"Pak, boleh pinjam caturnya?" Tanya pak sopir.
Aku terkejut mendengarnya, aku belum mengatakan apa-apa, tapi pak sopir tiba-tiba mengatakan kalau dia mau meminjam catur itu. Apakah pak sopir dapat membaca pikiran? Tidak mungkin. Itu adalah sesuatu yang "muhal" di akhir zaman ini.
"Boleh."
Ternyata catur itu boleh dimainkan oleh pembeli. Pak sopir yang meminjam catur itu, langsung mengajakku untuk bermain bersama, seakan-akan dia tahu kalau aku dapat bermain catur.
Aku menerima tawaran pak sopir, kemudian kami memainkan catur dengan rileks tanpa perlu berpikir terlalu keras. Lagipula, ini hanya kayu, untuk apa susah-susah memikirkannya, kalau kalah tinggal main lagi.
Di pertengahan kami bermain catur, ternyata pak sopir cukup lihai dalam memainkannya, aku sampai kesulitan saat ingin melakukan "sekak".
"Hmm... Bapak, dapat membaca pikiran ya?"
"Apa? Membaca pikiran? Apa dunia sudah terbalik? Tidak mungkin di zaman sekarang ada hal yang seperti itu," jawab pak sopir.
"Aku bukanlah manusia spesial yang dipilih oleh-Nya. Namun, aku selalu berharap agar ibadahku diterima, masalah pahala ataupun dosa itu bukan urusanku. Aku hanya ingin mempertahankan imanku sampai waktunya tiba," lanjutnya.
Sungguh besar kekuatan iman pak sopir, aku terkejut mendengarnya, ternyata di akhir zaman ini masih ada orang yang mempertahankan imannya.
Permainan berakhir, pak sopir memenangkan permainannya, aku kalah dengan "sekakmat" pion, astaga benar-benar memalukan.
Selesai bermain catur, akhirnya rombongan telah berkumpul, dan sudah siap untuk pulang. Namun, pak sopir sedang menerima telepon dari seseorang dan itu membuat seakan-akan emosi pak sopir mulai naik.
Di tengah-tengah pak sopir menelpon, ada seseorang duduk di sebelahnya, dan memesan sesuatu kepada pemilik warung. Aku tidak tahu apa yang dia pesan, namun sepertinya itu sangat rahasia sehingga mereka melakukannya dengan berbisik.
Sebuah gelas yang berisikan air langsung disediakan oleh pak penjual, dan pak sopir menutup telponnya dan segera menghabiskan kopi yang dia beli tadi, namun yang diminum bukanlah kopinya, melainkan pesanan yang orang di sebelahnya.
Pak sopir langsung kembali ke tempat sopirnya dan mulai mengendarai busnya. Kami pun berdoa dan pulang ke desa.
Pukul 02:20, tiba-tiba sebuah guncangan membangunkan kami di tengah-tengah perjalanan. Ternyata, setelah dilihat-lihat, bus berada di pinggir jalan raya, yang berarti melewati batas jalan.
Kami mulai tegang, saat bus semakin melaju kencang, berbelak-belok seperti tidak ada halangan, padahal sekarang masih berada di daerah pegunungan.
"Pak! Pak sopir, tolong kendarai busnya dengan benar!" Teriakku dengan keras.
Namun, sekeras apapun aku berteriak, pak sopir tidak menjawabnya. Aku langsung mendekati pak sopir agar dapat menyuruhnya, sesampainya di sana, ternyata pak sopir terdiam kaku dan tidak memegang tangan setir busnya.
"Huek!"
Bau ini, bau amer, sejak kapan? Sejak kapan pak sopir yang imannya sekuat itu, meminum minuman haram?
Aku memegangi pundaknya, namun tidak ada jawaban, memanggilnya dengan keras, juga sama. Tiba-tiba saja rasa merindingku semakin tinggi, firasatku tidak enak. Aku memberanikan diri untuk mengeceknya, agar tidak sesuai dengan firasat burukku ini.
"Innalilahi wainnailaihi rojiuun."
Pak sopir telah meninggal, namun ada masalah yang juga akan mendatangi mereka. Bus yang mereka naiki sekarang ini, masih melaju dengan kecepatan yang tinggi, aku menoleh ke arah depan dan melihat sebuah jurang di sana.
Aku sangat panik, tubuhku tidak bisa bergerak, kakiku bergemetar, tanganku kesemutan, pikiranku tak terbayang.
Wush, bus yang kami tumpangi, jatuh kedalam jurang. Aku sangat yakin, saat ini suara teriakan, tangisan, bahkan suara benda yang saling bertabrakan, memenuhi bus ini. Namun, tidak ada yang kudengar satupun dari mereka, seakan-akan sunyi dan hanya suara denging saja yang terdengar.
Bus yang terjun begitu sepatnya, membat tubuhku melayang, seakan-akan berada diluar angkasa. Suaraku tidak bisa keluar. Namun, hatiku tetap berdoa.
"Ya Rabb, segala puji bagi Engkau, semoga Engkau dapat menjauhkan kami dari siksaan api yang abadi, dan membawa kami ketempat yang suci dan yang Engkau muliakan."
"La ilaha illAllah."
Duar!!
Tiba-tiba sebuah cahaya menyilaukan datang entah dari mana, membuat penglihatan menjadi kabur. Namun, secara perlahan mulai terlihat jelas, aku melihat sekeliling, ternyata seluruh penumpang selamat.
"Loh?"
Kami terkejut dengan apa yang terjadi, tidak berbusana pastilah sangat memalukan. Setelah melihat-lihat lagi, ternyata ada sebuah jembatan yang tipisnya bagaikan benang rambut.
"Sirotol mustaqim!"
Teriak salah satu dari kami. Itu artinya, ini adalah akhirat, dan jalan menuju surga ada di depan mata. Kami menyentuhkan kaki ke jembatan itu dan langsung berada di ujung jembatan.
Kami melihat, sebuah gerbang yang besar dan bercahaya, kami langsung berlari menuju ke sana, dan ternyata ada 2 sosok yang membelakangi cahaya di depan gerbang.
Sosok yang kanan memiliki sayap, sudah pasti itu adalah Malaikat Ridwan. Namun yang satunya seperti manusia dan kami tidak mengetahui siapa dia.
"Loh, pak sopir!?"
Kami terkejut melihat pak sopir yang mabuk tadi masuk surga, bahkan bermain catur bersama Malaikat Ridwan untuk menunggu kami.
"Bagaimana pak sopir bisa ada di sini? Bukankah pak sopir harus mempertanggungjawabkan apa yang terjadi, dan kesalahan bapak yang minum amer?"
"Itu semua, memang tanggung jawabku. Namun, berkat doa kalian, aku ikut terselamatkan."
.......