***
BLAM!
Agni menutup pintu kamarnya pelan, ia lantas melangkah menghampiri meja belajar yang berada di dalam kamarnya itu, duduk di depan layar komputer tua yang tampak sudah sangat amat usang. Beberapa huruf di keyboad komputernya sudah hilang. Di samping komputer itu, tablet lengkap dengan pen yang terakhir di pakainya untuk membuat gambar masih tersimpan rapi. Tablet itu di dapatnya dari kakak kelasnya yang memberikan ia pinjaman guna membantunya agar bisa mengikuti lomba gambar yang sangat ingin ia ikuti.
Lombanya telah selesai dan ia hanya tinggal menunggu pengumuman yang rencananya akan di bagikan ewat email yang telah di kirimkan para peserta saat mengisi data pendaftaran.
Agni menyalakan lampu belajarnya kemudian meraih buku miliknya, hendak mengerjakan PR yang akan di kumpulkan besok. Sementara menunggu pengumuman, ia ingin memfokuskan diri pada sekolah dan pelajarannya.
"Kalo pengumumannya udah keluar, jangan lupa kasih tahu aku. Ada sesuatu yang mau aku sampaiin sama kamu," kata Tomy seraya tersenyum simpul.
Agni seketika menghentikan aktivitasnya saat ia tiba-tiba saja teringat akan kata-kata Tomy saat ia bertekad untuk mengikuti kontes yang memang sangat ingin ia ikuti itu. Ia terdiam memikirkan kata-kata cowok yang menjadi teman kerja part time nya itu.
"Kira-kira apa yang pengin di sampaiin sama Tomy ya?" Agni bergumam pelan, ia mengerutkan keningnya. Berbagai pertanyaan muncul di benaknya saat kata-katanya muncul di benaknya. Agni mengedikkan bahunya berusaha untuk tidak memperdulikan kata-kata itu, ia menutup buku PR miliknya dan menaruhnya kembali ke tempat yang seharusnya. Detik berikutnya Agni sibuk menyiapkan buku pelajarannya untuk besok.
Atensinya tersita pada buku harian miliknya, buku kecil yang selalu ia isi dengan setiap cerita kesehariannya itu kemudian ia raih. Agni mencari lembar kosong kemudian menulis di sana.
"Pesan buat aku di masa depan. Aku tahu mungkin sekarang ini adalah saat-saat terberat dalam hidupku, tapi… aku harap kamu yang di sana bisa punya kehidupan yang lebih baik di bandingkan sekarang, lebih kuat di bandingkan sekarang dan lebih rajin di bandingkan sekarang. Kalo kamu jatuh dan putus asa, kamu harus inget kalo kamu udah pernah ngalamin masa-masa sulit kayak sekarang… jadi jangan pernah nyerah dan terus berjuang buat hidup bahagia. Terus berjuang walaupun mungkin nanti hasilnya nggak sesuai ekspektasi, tapi seenggaknya kamu udah berjuang buat bisa dapetin semua itu. Nggak mudah kamu ada di posisi kamu, jadi jangan pernah berhenti melangkah buat wujudin semuanya. Aku tahu, kamu pasti kuat." Titik, Agni lalu menauh pensil di tangannya ke atas meja.
Komputernya yang tiba-tiba memberikan isyrat email masuk membuat fokus Agni tersita, ia menoleh ke arah layar komputernya dan bergegas membuka pesan yang masuk lewat emailnya. Ia terkejut bukan main saat mendapatkan email yang menyatakan kalau ia menang dalam lomba gambar digital yang di ikutinya. Senyuman merekah di wajahnya, dan dalam seketika energi menyeruak masuk ke dalam dirinya membuat ia ingin berteriak dan berjingkrak kegirangan.
"Kyaaa!!!" Agni melompat-lompat saking senangnya, ia benar-benar tidak bisa percaya dengan apa yang baru saja didapatnya. "Aku bener-bener menang, kan?" Agni mengecek sekali lagi dan memang benar yang dilihatnya.
*
"Eh, kok kamu ceria banget? Kenapa? Abis di tembak sama cowok ya?" Tanya Diandra begitu mendapati sahabatnya itu senyum-senyum sendiri begitu ia tiba di dalam ruang kelasnya.
"Nggak." Agni menggelengkan kepalanya pelan.
"Lho, terus kenapa? Abis menang lotre?" Jovita menebak.
"Bukan."
"Terus?" Jovita dan Diandra berucap barengan.
"Aku menang."
"Huh?" Diandra dan Jovita mengerutkan keningnya sejenak sebelum kemudian keduanya merekahkan senyumannya saat otaknya berhasil memproses maksud dari Agni.
"Serius?" Pekik keduanya. Agni mengangguk sebagai jawaban.
"Kyaaa!!! Selamat." Jovita dan Diandra memeluk Agni erat.
"Aku bangga banget sama kamu," kata Diandra.
"Aku udah yakin sejak awal kamu pasti menang," gumam Jovita.
"Semuanya berkat dukungan kalian juga," sahut Agni seraya balas memeluk kedua sahabatnya itu. "Eh, btw jam istirahat nanti aku harus ketemu sama kak Aurel buat balikin tab punya dia." Agni melerai pelukannya.
"Kalo gitu kita anterin buat ketemu sama kak Aurelia Belvina yang cantik nan baik hati itu, nggak heran dia populer dia kan orangnya selain cantik juga baik hati, nggk sombong lagi."
"Iya, setuju banget!" Sahut Jovita membenarkan ucapan Diandra.
*
TRING!
Perhatian Agni yang tengah berjaga di meja kasir itu beralih saat pintu kafe tempatnya bekerja itu berbunyi. Di ambang pintu ia mendapati Tomy yang baru saja tiba, cowok tinggi yang punya visual ganteng dengan senyuman manis itu berdiri disana masih dengan baju seragam sekolahnya.
"Tomy!" Panggil Agni seraya tersenyum, bergegas ia berjalan menghampiri Tomy.
"Kamu udah datang ternyata."
"Dari tadi, eh btw aku mau ngasih tahu kalo aku menang lomba itu." Agni tersenyum dengan wajah gembira.
"Huh? Beneran?"
"Iya. Dan mereka minta aku buat dateng ke kantornya terus ngambil hadiahnya sore ini, kamu mau gak, anterin aku nanti?"
"Boleh, kebetulan aku juga nggak punya rencana apa-apa habis pulang kerja."
"Bagus kalo gitu."
"Oh ya, mumpung lagi nggak terlalu rame gimana kalo kita keluar bentar buat istirahat? Sekalian aku beliin kamu es krim, harinya kan panas jadi cocok buat beli es krim."
"Boleh, ayo. Lagian di sini juga ada mbak Anna yang jaga."
Tomy dan Agni melangkah keluar dari dalam kafe dan menikmati waktu bersama di taman dengan di temani dua es krim yang di beli oleh Tomy. Keduanya duduk di bawah pohon rindang sembari menikmati es krimnya.
"Ngomong-ngomong soal yang pengin aku bicarin sama kamu…" Tomy menggantungkan ucapannya. Agni menoleh kearahnya dengan raut wajah penasaran.
"Apa?"
"Sebenernya… aku suka sama kamu," kata Tomy to the point, ucapannya seketika membuat Agni tersentak kaget, ia menatap Tomy nyaris tak berkedip, mulutnya menganga terbuka sempurna tanpa bisa berkata-kata.
"A-apa?" Ucapnya terbata.
"Aku suka sama kamu, mau gak jadi pacarku?"
"Eh?" Wajah Agni berubah merah, ia benar-benar terkejut dengan setiap kalimat yang terlontar dari mulut Tomy.
"Hey?" Tomy menepuk pundak Agni begitu gadis itu malah diam tanpa menjawab.
"Ya mau… Ups—" Agni menutupi mulutnya seraya memalingkan wajahnya ke arah lain saat ia tanpa sadar keceplosan.
Tomy mengulum senyum menanggapi sikap Agni yang terkesan malu-malu. Ia terkekeh pelan, tangannya terulur mengusap pelan rambut Agni.
"Kamu itu bener-bener lucu, itu yang bikin aku suka sama kamu," ujarnya.
***