***
"Fara… ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Aku mohon berhenti, kita bicara sebentar." Daffin mencengkeram pergelangan tangan Fara membuatnya berhenti begitu mereka di luar.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, semuanya sudah selesai begitu kau pergi dan menghilang tanpa alasan!" Kedua manik mata Fara berkaca-kaca, ia berusaha untuk menahan tangisnya. Fara masih belum bisa memaafkan Daffin yang tiba-tiba saja pergi tanpa alasan menghancurkan seluruh perasaannya kemudian tiba-tiba saja muncul setelah bertahun-tahun menghilang tanpa kabar.
"Aku bisa jelaskan semuanya padamu."
"Aku tidak butuh penjelasan darimu! Lepaskan tanganku!" Fara menghempaskan tangannya kasar, ia lantas berlari cepat menyusuri trotoar yang dilalui oleh beberapa orang.
"Fara!" Daffin segera berlari mengejarnya.
*
Fara menghentikan langkah kakinya begitu ia mulai merasa lelah. Ia menoleh kebelakang untuk memastikan kalau Daffin tidak lagi mengejarnya, dan benar pria itu sudah tidak ada dibelakangnya.
"Huft~" Fara berusaha mengatur napasnya. Ia melangkah menghampiri pagar besi yang membatasi jalan yang dilewatinya. Berdiri seraya memandangi indahnya kota Zürich, Swiss yang tampak indah dari tempatnya berada.
Gemerlap cahaya lampu dari gedung-gedung pencakar langit tampak saling melengkapi di malam pergantian tahun ini. Otaknya menarik Fara, memaksanya untuk mengingat setiap kenangan indah tapi menyakitkannya bersama Daffin. Ketika salju pertama turun di setiap tahunnya, ia memiliki setiap memori indah bahkan hingga natal dan tahun baru berakhir.
Tapi semua kenangan itu sudah terjadi bertahun-tahun lamanya ketika ia masih duduk di bangku SMA, semenjak kedua orangtuanya memutuskan untuk bercerai dan Fara yang memutuskan untuk tinggal bersama dengan mamanya di Swiss dibandingkan tinggal dengan papanya di Indonesia.
Fara dan Daffin dulu sempat akrab dan bersahabat dekat, semuanya berubah berantakan ketika cinta hadir di antara mereka. Perasaan Fara berantakan bukan main saat secara tiba-tiba Daffin meninggalkannya setelah ia mengalami kecelakaan besar yang membuatnya harus di rawat hingga hampir sebulan di rumah sakit. Dan semenjak kejadian itu, Daffin menghilang bak di telan bumi.
Tapi tiba-tiba… pria itu muncul saat salju pertama turun tahun ini. Hidup Fara yang tenang, seketika terusik akan kehadirannya.
"Oh, astaga. Kenapa aku harus mengingat-ingat apa yang telah berlalu," gumam Fara seraya menyeka air mata yang membasahi kedua pipinya.
"Ternyata kau masih ingat tempat ini ya?" Bisik Daffin yang secara tiba-tiba memeluknya dari arah belakang. Fara tersentak kaget, ia berusaha melepaskan diri dari Daffin, tapi wanita itu gagal. Tenaga Daffin terlalu kuat jika dibandingkan dengannya.
"Lepaskan aku!" Fara memekik keras.
"Aku tidak mau," tutur Daffin yang malah mengeratkan pelukannya.
"Lepaskan! Lepaskan aku!!!" Fara memberontak kuat, membuat Daffin kewalahan dan spontan melepaskan pelukannya dari Fara. "Dasar bajingan! Aku benci padamu!!" Fara memukul-mukul keras tubuh Daffin yang kini menghadap kearahnya.
"Fara, dengarkan penjelasan dariku dulu…"
"Aku tidak butuh!"
"Aww… tenanglah, aku ingin menjelaskan semuanya padamu." Daffin meringis.
"Aku tidak mau dengar apapun yang keluar dari mulutmu!"
Fara yang semakin gencar memukulnya membuat Daffin spontan mendekap wanita itu berusaha menenangkannya, dan kali ini berhasil. Fara terkejut dan refleks berhenti saat Daffin memeluknya erat.
"Aku tahu kesalahanku di masa lalu memang benar-benar tidak bisa dimaafkan, aku juga mengerti kalau selama ini kau tersiksa dengan kehidupan yang kau jalani. Aku sudah mendengar semuanya dari Daisy. Tapi aku punya alasan kenapa dulu aku pergi tanpa pamit dan menghilang selama bertahun-tahun. Ayahku di Monaco mengalami kecelakaan saat hendak terbang kembali ke Swiss. Ia koma dan hampir tidak bisa selamat. Sejujurnya, dulu aku tidak ingin meninggalkanmu yang sama-sama terbaring di rumah sakit. Tapi, ibuku benar-benar tidak memberikan aku pilihan dan memaksaku untuk ikut dengannya. Bahkan ketika kami terbang ke Monaco, aku benar-benar pergi tanpa bersiap lebih dulu karena ibuku yang tiba-tiba datang dan menyeretku pergi ke bandara…" Daffin mengambil jeda sejenak dari ceritanya, sementara itu Fara tampaknya mulai tenang dan mendengarkan semua penjelasannya. Dirasanya tangan Fara mencengkeram sweater yang dikenakannya.
"…Saat di Monaco, keadaan ayahku benar-benar parah. Selama bertahun-tahun ia terbaring, berada di antara hidup dan mati. Dia koma cukup lama, bahkan sampai membuatku dan ibuku hampir kehilangan harapan. Setiap hari yang kami lakukan hanyalah berdoa dan berharap ayahku sadar dari komanya. Sampai kemudian… tuhan akhirnya membalas doaku dan ibuku, pertengahan tahun ini.… Pada akhirnya ayahku sadar dari komanya, dan pada beberapa bulan terakhir, kondisinya lebih baik. Maka dari itu aku memutuskan untuk kembali karena aku ingat padamu, ingat akan salahku yang pergi tanpa pamit, dan ingat bahwa ada sesuatu yang harus aku katakan padamu… sesuatu yang selama ini aku pendam dan selama ini aku tahan…"
"Fara… aku menyukaimu, dan aku mencintaimu sejak dulu. Sejak pertemuan awal kita, sejak kau datang padamu dan memakiku karena aku mempermainkan perasaan Daisy. Dan sebenarnya… aku tidak pernah berbohong saat aku mengajakmu berpacaran dulu, tapi kau selalu menganggap kalau perkataanku main-main dan kau terus menolakku. Sampai akhirnya kita akrab dan malah sepakat menjadi sahabat."
Fara terdiam tak berkata-kata, ia masih berusaha mencerna setiap kata yang baru saja terlontar dari mulut Daffin. Masih sulit untuk di percaya olehnya, Daffin bisa mengatakan semua itu padanya.
Daffin melerai pelukannya dan memandang Fara yang masih terdiam, kedua matanya yang masih tergenang air mata, kini menatap kearahnya.
"Kau mau menjadi kekasihku, kan? Dan memulai semuanya dari awal bersamaku?" Daffin menatap penuh harap. Tapi bukannya jawaban, yang di dapatnya justru sebuah pukulan keras dikepalanya, membuat Daffin meringis kesakitan. Fara masih sama seperti dulu, wanita kasar yang selalu semaunya sendiri.
"Akh—" Daffin meringis seraya mengusap kepalanya.
"Kau pikir setelah mendengar semua penjelasan darimu…" Fara mengatur napasnya sejenak. Ia mengalihkan pandangannya kearah lain seraya mengusap air matanya. Sementara itu Daffin tampak menunggu-nunggu jawaban darinya.
"…Aku akan menolak?" Sambungnya membuat Daffin seketika mengerjapkan matanya beberapa kali, tidak percaya dengan yang di dengarnya. Sebuah senyuman seketik terukir di wajah tampannya.
"Jadi…"
"Ya… aku mau," potong Fara seraya tersenyum. Daffin senang bukan kepalang, pria itu memeluk Fara erat.
"Terima kasih," gumamnya sangat bahagia.
Suara kembang api yang bermunculan di udara membuat fokus mereka berdua beralih menatap kearah datangnya suara, dan di atas sana mereka melihat tulisan happy new year yang tergambar dengan kembang api yang mereka lihat. Keduanya tersenyum simpul seraya memandangi berbagai kembang api yang ikut menyusul di udara.
"Selamat tahun baru, aku menyukaimu," gumam Daffin.
"Ya… selamat tahun baru, aku juga menyukaimu," sahut Fara.
***