~•Siapa itu Brian?•~
Di sebuah Hutan di sisi Barat Kerajaan Goldensun.Ada seorang anak kecil berambut perak, bertelinga lancip, bergigi taring, berkulit abu-abu gelap sedang berjalan dan berlarian mengejar seekor kupu-kupu.
"Wah!! Ada bunga merah!!!"
"Pangeran Brian! Jangan terlalu jauh!!" Ucap seorang laki-laki berbadan tinggi, kekar, dan berwajah sangar. Namun, Brian sudah pergi jauh dari jangkauannya.
"Haaah!! Kemana anak itu pergi? Tuan akan sangat marah padaku nanti!"
"Pangeran Briaaan!!!"
Sementara sang penjaga tengah mencarinya kesana kemari. Brian justru malah bermain semakin jauh, dia melihat sebuah pohon yang berbeda dengan pohon di tempatnya begitu juga dengan rumputnya.
"Waah.. Warnanya hijau.." Ucap Brian sambil perlahan-lahan menyentuh rumput didepannya.
"Pangeran!!!!" Sang Penjaga berlari dan segera menjauhkan Brian dari sana.
Sang Penjaga menghela napas dalam, "Haah.. Pangeran tidak boleh terlalu dekat dengan daerah hutan itu.." Sang Penjaga menggendongnya pergi kembali ke istana.
Namun Brian masih kecil, dia ingin tau mengapa dia tidak boleh kesana.
Karena Sang Ratu tiba-tiba datang untuk menemani Brian bermain, Brian pun bertanya "Ibunda, kenapa Brian tidak boleh ke arah hutan yang berumput hijau?"
"Apa!? Kau kesana?"
"Tidak Yang mulia Ratu, hamba sempat mencegahnya."
"Waah, syukurlah. Terima kasih"
"Kenapa? Brian hanya ingin melihat rumput hijau. Yang luas di seberang hutan sana." Ucapnya dengan polos
"Tidak, kau tidak boleh kesana ya. Nanti mungkin saat kau sudah besar"
Brian tersenyum melihat ibunya, dan memeluknya.
Namun sang Ratu harus menelan pahitnya ucapan yang ia katakan. Ia ingin Brian bahagia, namun jika Brian kesana hal buruk akan terjadi menimpa kerajaannya.
~•Bertemu Mayla•~
Beberapa tahun sudah berlalu, kini Brian sudah berumur 9 tahunan,
Namun rasa penasarannya tentang hutan seberang sana tidak akan pernah hilang.
Suatu hari, kerajaan mengadakan pesta.
Di tengah-tengah pesta itu, Brian menyelinap keluar dari kastil dan sampai di tempat perbatasan.
Brian menyentuh rumput hijau itu.
Tidak terjadi apa-apa pada awalnya, namun tanpa Brian sadari ada seorang gadis kecil, berambut hitam lebat sebahu yang memperhatikannya.
Gadis itu mendekati Brian, "Hai, namaku Mayla. Siapakah dirimu?"
"Br-Brian"
Mereka saling bersalaman, "Hai Brian, mahluk apa kau? Kenapa kulitmu berwarna abu-abu?"
"Aku? Entah, tapi mengapa kulitmu berwarna coklat terang? Dan telingamu sama sekali tidak lancip. Mahluk apa kau?"
"Maylaaaa!!"
Mendengar ada yang memanggilnya, Mayla pun pergi,"Kita akan bertemu lagi Brian"
Brian mengangguk.
Dan mereka berdua mulai pergi dari tempat itu.
Sesampainya di Kerajaan, Brian tertangkap basah sedang di luar istana oleh para penjaga.
Ratu sangat gelisah dan bertanya padanya dimanakah dia selama pesta berlangsung?
Brian berbohong, dia mengatakan bahwa dia hanya di sekitar hutan saja.
Ratu memperingatkan nya tentang daerah perbatasan, betapa berbahayanya manusia itu.
Berwujud seperti mereka dengan kulit seperti warna kulit kayu yang sudah terkelupas.
"Mereka kejam, mereka akan mengejar dan membunuh dengan senjata berupa pedang dan tombak." Ujar sang Ratu untuk menakut-nakuti pangeran.
Namun, keesokannya Brian tetap pergi kesana.
Dengan menyelinap lagi,tentunya.
"Mayla, ibuku bilang manusia itu sangat jahat dan kejam. Apa itu benar?"
"Beberapa, ada yang baik ada juga yang jahat.Aku adalah manusia tapi aku baik tuh."
"Hah? Kamu manusia?"
"Iya, dan saat aku tanyakan ke bibi mahluk apa kau itu ternyata. Kau adalah mahluk bernama banpiroa. Lihat" Mayla memberinya buku.
"Eww, jelek. Kurasa semua orang di rumahku tidak ada yang seperti itu."
"..Apa ini? Meminum darah? Sungguh? Mungkin nanti akan aku tanyakan pada ibu"
~•Hampir Saja Tertangkap•~
Kabut yang sangat tebal seperti biasanya tetap menyelimuti hutan bagian kerajaan Moonlight.
Kerajaan yang merupakan Kerajaan para Banpiroa.
Kerajaan yang berbatasan langsung dengan Kerajaan Goldensun, Kerajaan para manusia.
Hampir setiap akhir pekan Brian menyelinap kesana dan bermain dengan Mayla, sampai dia tau bahwa kedekatan mereka tidak akan bertahan lama.
Dan benar saja, pada suatu hari Brian berkata pada Mayla, mengenai para Banpiroa yang meminum darah.
Brian bercerita, bahwa klannya itu masih satu keluarga dengan legenda kelelawar vampir yang sangat terkenal itu. Hanya saja, keluarga Banpiroa bisa mengganti darah dengan seduhan bunga rosella.
Namun juga ada yang meminum darah sebagai obat, darah yang mereka minum adalah darah manusia yang tersesat ke hutan.
Mendengar itu Mayla teringat pada pamannya yang tak kunjung kembali, Mayla berdiri lalu pergi tanpa berkata apa-apa.
Brian menarik tangannya, "Hey, kau mau kemana?"
"Pergi kau! Pemakan darah manusia!"
Lalu beberapa saat kemudian para manusia berdatangan sambil membawa benda tajam.
Brian pun berlari ke dalam hutannya lagi.
Para manusia tetap mengejarnya sampai sang penjaga menemukan Brian dan menyelamatkannya.
Setelah itu, Brian mengatakan yang sebenarnya terjadi pada sang Penjaga.
Sang penjaga memilih untuk diam demi menjaga perasaan sang Pangeran.
Lalu sebuah pertempuran pun terjadi, antara manusia dengan para Banpiroa.
Paman Mayla dan salah satu kakak Brian gugur dalam pertempuran itu.
Bekas pertarungan mereka menyisakan sebuah lahan kosong tanpa pohon yang menjadi perbatasan resmi antara Kerajaan Moonlight dan Goldensun.
Brian pun sudah tidak berani kesana lagi, dia juga memutuskan untuk belajar menjadi pangeran yang akan memimpin Kerajaannya nanti karena anak kandung sang Raja, kini hanyalah dirinya.
Juga, rasa sukanya pada Mayla pun berangsur menghilang waktu ke waktu.
~•Pangeran pemimpin perang•~
Beberapa tahun pun telah berlalu.
Brian telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang siap dinobatkan sebagai Pangeran Mahkota di umurnya yang ke 19.
Dia harus siap menanggung beban di pundaknya.
Kadang waktu ia masih kecil, ia pernah bertanya pada sang penjaga. Kenapa dia nanti juga harus menjadi putra Mahkota? Bukannya dia punya 7 kakak yang sudah lebih dewasa darinya?
Lalu sang penjaga menjawab bahwa Pangeran Mahkota hanya layak untuk Pangeran yang lahir dari sang Permaisuri, Ratu.
Dan hanya ada dua Pangeran yang lahir, yaitu Kakanya, Yang bernama Adelio dan dirinya.
"Nah, nanti sang Raja akan membagi menjadi 2 bagian untuk kalian berdua dan Pangeran yang lain akan mengatur daerah cabang"
Brian masih ingat dengan ucapan itu. Namun semua itu pudar ketika ia ternyata harus memerintah satu bagian Kerajaan penuh.
Ia terus menyalahkan dirinya atas kematian Adelio.
Semua keluarga masih bisa memaafkan perbuatannya, kecuali sang Raja.
Sang Raja terus melatihnya dengan sangat keras sampai-sampai Brian tak mampu berdiri untuk beberapa hari.
Kondisi itu membuat semua anggota keluarga Kerajaan hanya bisa melihat saja.
Karena Brian di latih di luar istana dan yang selalu merawatnya adalah sang penjaga, Horation.
Horation selalu memperlakukan Pangeran Brian seperti anaknya sendiri.
----------------------
Upacara penobatan telah berakhir, Raja pun sudah memaafkan Brian dan berterimakasih padanya karena telah berjuang keras.
Lalu sang Raja menyerahkan sebuah gulungan kertas padanya. Setelah ia baca, gulungan itu berisi sebuah surat perang dari Kerajaan Goldensun yang akan di mulai saat kabut sudah menghilang dari perbatasan.
Pangeran Brian terkejut bagaimana bisa pemimpin Kerajaan Goldensun tahu akan kabut di daerah perbatasan? Saat pertempuran itu terjadi hanya rakyat saja yang menyerbunya dan ia masih ingat perkataan Mayla bahwa Raja disana tidak mempunyai anak sama sekali.
Hanya semua banpiroa, dirinya dan Mayla lah yang tau akan kabut yang ada di daerah perbatasan.
Kabur itu selalu menghilang saat malam bulan purnama dan selalu berlangsung selama 1 hari setelah kemunculan bulan purnama.
"Aku menyerahkan ini padamu,Nak"
"Kau akan memimpin perang ini"
~•Perang pembawa Kenangan•~
Beberapa hari sudah berlalu, kini para Banpiroa sedang menunggu keberadaan bulan purnama yang diramalkan akan terjadi pada pertengahan musim ini.
Tak jauh berbeda dengan mereka, para manusia juga sudah mulai melakukan pengamatan.
Saat bulan purnama sudah muncul, mereka segera bersiap ditempat masing-masing.
Terlihat Pangeran Brian yang berdiri di barisan depan mulai bergerak, begitu juga dengan para manusia.
Mereka bertempur sesaat setelah kabut menghilang.
Banyak korban berjatuhan disana.
Bau amis darah sudah memenuhi keseluruh hutan.
Belum lagi ditambah dengan hujan yang tiba-tiba muncul saat menjelang pagi, membuat para Banpiroa semakin kuat.
Namun para manusia tidak mau mundur sebelum bisa menuntaskan mereka.
Dengan semua ilmu yang telah di pelajari nya, Brian mengalahkan mereka dengan sangat mudah.
Brian juga sudah tau taktik para manusia, hal itu membuatnya bisa memukul mundur para manusia untuk beberapa saat.
Kemudian tiba-tiba ada panah yang melesat dan mengenai tangannya.
Brian mengerang kesakitan, karena itu bukanlah panah biasa.
Itu adalah anak panah dengan lumuran selai mawar.
Kemudian sang pemanah menampakkan dirinya dan berkata, "Menyerahlah, kau sudah kalah!"
Seketika itu Brian mengenali sosok tersebut, "Mayla?" Ucapnya lirih namun masih bisa terdengar.
Pemanah itu langsung panik dan Brian pun dengan cepat memegang tangannya yang ingin meraih anak panah lagi.
"B-bagaimana kau bisa tau?"
"Baumu.. Mayla, ini aku"
Mata mereka saling beradu pandang, namun semua itu terhenti karena Brian.
Brian melindungi Mayla dari hunusan pedang Horation.
Yang tepat mengenai jantungnya, ia berbisik pada Mayla, "A..Aku.. Men.. Mencitai.. Mu.." Setelah itu dia jatuh di pelukan Mayla dan tanpa di duga duga darah yang keluar dari tubuhnya berwarna merah, bukan hijau tua seperti Banpiroa pada umumnya.
Horation yang melihat itu kemudian berkata, "Dia... Kalian berdua.. Adalah yang terpilih..."
Setelah itu sebuah sinar terang menyinari seluruh hutan dan tubuh para Banpiroa pun memunculkan asap, lalu mereka berubah menjadi manusia normal.
Mayla yang semenjak tadi terdiam lalu mengguncang-guncangkan tubuh Brian yang sudah tak bernyawa.
Hanya Brian satu-satunya Banpiroa yang tidak berubah, Horation mengatakan"Maaf, kurasa dia sudah tiada. Putri"
Setetes air mata pun turun dari mata Mayla dan membasahi pipinya.
Dia memeluk mayat Brian dan berkata, "Kumohon! Biarkan aku hidup bersamamu! Apa kau tau Brian? Apa kau tau? Aku juga adalah seorang bangsawan seperti dirimu!"
"Dan kau tau apa Brian? Aku telah menjadi putri Mahkota! Kau... Kau pasti Pangeran Mahkotanya kan? Iyakan?"
Sambil menangis penuh dengan isakan.
Mayla sudah putus asa, lalu dia mengecup bibir Brian.
Dan ajaib! Sebuah sinar yang sangat terang terpancar dari tubuh Brian.
Membuat seluruh hutan menjadi hijau dan sangat rimbun.
Lalu saat sinar itu meredup, terlihatlah wujud seorang pemuda tampan.
"Uh.. Apa aku sudah di alam lain? Mengapa aku melihat bidadari disini?"
Mayla pun memeluknya dengan sangat erat. Semua orang disana bertepuk tangan, lalu Brian dan Mayla pun saling memandang dan kemudian Horation berkata, "Ya, kalian lah yang terpilih!"
"Kami, para manusia yang dikutuk oleh sang Permata karena kesombongan telah terbebas dari kutukan ini setelah sekian lama. Oh atau tepatnya hanya aku yang tersisa dari mereka.. Hahaha"
Kemudian pesta di adakan di daerah perbatasan, semua Banpiroa telah kembali menjadi manusia.
Brian dan Mayla telah menjadi Ratu dan Raja dari kedua Kerajaan yang telah menjadi satu kembali dengan nama Eclipse.
Kemudian kebenaran yang setelah sekian lama hilang terungkap juga.
Dimana, diceritakan bahwa dahulu kala Kerajaan Moonlight dan Goldensun adalah satu, dan bernama Lunar.
Namun karena daerah barat yang terus saja menggunakan kekuatan terlarang dengan meminum darah para rakyat yang telah dihukum mati dan karena itu mereka semakin sombong dan semakin tidak peduli,Sang permata pun mengutuk dan mengasingkan mereka ke hutan dan mengunci mereka.
Namun sebelum itu, Sang Permata berkata bahwa kutukan itu hanya dapat hilang ketika mereka berani melindungi apa yang seharusnya dilindungi.
-Tamat-