Senyum bahagia terpancar diwajahku bila akhir pekan tiba. Untuk bertemu Ibu di rumah sesungguhnya, karena dari kecil aku di asuh oleh nenekku. Kata Ibu “Agar dekat dari sekolahmu, nak”. Namun aku berpikir, pada akhirnya untuk menemani masa tuanya nenek. Umurku saat itu 10 tahun, masa-masa bermain produktif. Lincah, ceria, tidak mengerti bersih atau kotor noda dibaju. Cantik itu namaku dan nama kesayangan Ibu, jika memanggilku dalam setiap kesempatan.
Rambut terkuncir dua berkepang, alis tebal sedikit menyatu, dengan mata sipit bulu-bulunya yang lentik, hidung mancung, bibir tipis merona dengan putih langsat tubuhku. Semakin bertambah usiaku, saat itu aku mengerti kenapa Ibu memberikan nama Cantik. Ibu ingin menyampaikan kebahagiaannya kepada orang lain apabila melihat anak kesayangannya ini.
Sacangkir teh dan seduhan suara itu terdengar indah ditelingaku, betapa ibu sangat menikmati tehnya pagi itu. “Bu, kenapa setiap pagi dihari pekan. Ibu selalu menikmati secangkir teh begitu nikmatnya?” ujar manjaku. Pertanyaan ini selalu ku tanyakan kepada Ibu. Sebelumnya Ibu tidak pernah menjawab serius pertanyaan anaknya yang masih ingusan, pikir Ibu itu hanya prasangka anak kecil yang melihat ibunya melakukan hal sama.
Dikesempatan ini, pertanyaan yang kelima jika ku hitung dari lewatnya usiaku dan berulangnya hari spesialku. “Kau mau tahu, kenapa Ibu menyeduh teh begitu nikmat?” Ibu balik bertanya kepadaku. “Ya jelas aku tidak tahu Ibu, bukankah aku bertanya kepada ibu.” nada manja tak pernah lepas dariku. “Ibu selalu punya keyakinan dalam hidup: apabila kita suka melakukan hal sama berkali-kali dan merasakan kenikmatan setiap kita melakukannya, berarti saat itu kita harus merasa bersyukur kita masih diberikan kenikmatan yang sungguh nikmat ini” penjelasan dari ibu yang membuatku semakin bingung. “Bukankah hal sepeti ini yang Ibu tidak ingin jawab dahulu, karena Ibu tahu bahwa kau tidak akan mengerti apa yang akan Ibu jelaskan kepadamu. Sekarang pun kau berpangku tangan, terdiam, menunjukkan kalau kau tidak mengerti sama sekali” lanjut Ibu dengan ketawa kecil dibibirnya.
Pada kenyataannya aku tidak pernah mengerti apa yang Ibu jawab dan Ibu jelaskan itu. Tetapi aku akan berusaha mengerti, agar Ibu tidak merasa kecewa dengan sikapku mendengar penjelasannya. Kembali ku tatap Ibu dan mengangguk-anggukkan kepala, tanda mengerti seorang anak remaja seusiaku. “Jelas aku mengerti penjelasan Ibu apa, aku mengerti Ibu” suara lantang agar Ibu percaya bahwa aku mengerti.
Senyuman ibu yang selalu membuatku tidak bisa pernah menyembunyikan kebohongan yang ku perbuat, terlihat bahwa ibu bangga dengan anaknya yang berusaha membahagiakannya. “Kau sungguh cerdik, bisanya kau berbohong dihadapan Ibu” kalimat itu membuatku merasa bersalah kali ini. Kerutan di dahi, mata yang berkaca-kaca, berteriak “Ah Ibu, maafkan aku, aku tidak mengerti, sungguh aku tidak ingin ibu merasa kecewa dengan sikapku saat aku tidak mengerti penjelasan Ibu, Ibu maaf” mengeluarkan air mata kesalahan dan menangis dalam pelukan Ibu.
Ibu memelukku menutupi ketawa gelinya melihat sikap anak manjanya, tapi Ibu tidak bisa lagi menahan ketawanya. Baru ini Ibu tertawa lepas seperti tanpa masalah sampai Ibu terhenti terdiam, melihat anaknya yang tidak lagi menangis. Mengelus dada bahwa Ibu sadar kalau Ibu sudah berlebihan.
“Sudah berhenti menangis anak Ibu? Sekarang kita bersiap pergi kepasar, hari ini kita akan masak apa ya? Menurutmu kita akan makan apa?” Ibu berusaha membujukku. “Aku tidak mau makan lauk hari ini bu, kita akan membuat tekwan, pempek panggang, kerupuk kemplang” rencana yang ku pikirkan beberapa hari sebelum bertemu Ibu.
Tanpa berpikir panjang kami pergi kepasar berbelanja menyiapkan semua bahan yang diperlukan. Berjalan naik-turun salah satu tangga pasar tradisional yang tidak jauh dari rumah, kering-basah mengelilingi jalan tetap dilewati dampak dari pasar tradisional, kuperhatikan Ibu memegang kepalanya yang sakit karena panas matahari yang kurang bersahabat.
Ikan Tenggiri, Tepung Sagu, Bengkuang, Timun, Udang Ebi, Kemplang mentah, dan bahan yang lainnya semua dibeli tanpa ada yang tertanggal. Satu persatu bahan disiapkan memulai masak dengan cara chef profesional, Ibu mengajarkanku memasak dan mengingat satu makanan keluarga disuka. Berbagai macam cara persiapan, cara pembuatan, ibu jelaskan kepadaku, katanya sih “Biar kau itu tahu cara memasak, itu kerjanya perempuan sekali pun itu wanita karir”.
Masakkan telah siap, lantas tidak segera untuk dimakan. Dihidangkan dahulu berniat menunggu Ayah pulang makan siang, karena letih berjalan mengelilingi pasar berpanas-panasan, masak yang lumayan melelahkan itu akhirnya Ibu tertidur pulas di kursi tamu. Beberapa menit kemudian Ayah pulang, kutanya Ibu “Apa Ibu baik-baik saja?”. Ibu tidak kenapa anakku kalimat tegas kudengar dari Ibu.
Ibu tidak bisa menghalang tubuhnya saat ia merasa sakit yang luar biasa, tertidur cara bijak yang diputuskannya untuk menutupi masalah yang ada dalam tubuhnya. Kalimat yang selalu menjadi bayang-bayangku “Aku tidak mengapa” sesungguhnya Ibu yang cerdik membohongiku. Ia bicara terdiam ditengah cerita, saat itu semua rasa yang mengerikan itu merayap ditubuh Ibu.
Tanggapanku atas pernyataan nenek “Sudahlah ikhlaskan nak, bukankah tempat itu tempat terbaik umat manusia yang di janjikan yang maha agung”. Aku bukan tidak ikhlas, aku juga bukan maksud mengingat-ingat, aku pun tidak mengerti telah lama pergi, telah lama tidak kujumpai, tetapi kenapa sangat jelasku berbayang tentang kuatnya Ibu menahan sakit. Kecintaannya kepadaku kulihat dari lariknya, kado ketiga hari specialku:
Hari specialmu ketiga –
Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday Cantikku, happy birthday Cantik. Cantik mama, Cantik. Mama Cantik, Cantik. Cantik itu Cantik luar biasa ;-song mama. Lagu yang mama selalu nyanyikan untuk Cantik mama, biar tidak merasa sendir. Coba tanya nenek, nenek tahu betul lagu itu. Karena hari pertama kamu lahir, mama selalu nyanyi lagu itu ada seminggu saat kamu lahir, 15 juli hitung seminggu dari tanggal itu. Kamu tahu, kanapa mama berikan nama kamu Cantik? Karena mama bahagia miliki kamu, anak mama dari kecil yang paras cantik, anggun, menawan, semoga menjadi yanng menarik diantara orang-orang. Historisnya mama sempat bertengkar kecil dengan papamu dan nenekmu, mengapa memberikan nama anak itu dengan nama sifat. Seperti kata mama yang pernah mama bilang, mama punya keyakinan: bahwa sebuah nama itu bukan hanya sekedar nama, nama itu indah bila disebut setiap saat, di setiap hari. Bukankah perkataan adalah doa manusia yang tanpa disadari pengucapnya. Begitu dengan namamu, semakin orang banyak menyebut atau memanggilmu, itulah doa tambahan bagi mama menjelaskan kamu pada yang maha agung. Surat yang mama buat baru tiga, mama tidak tahu, akankah suraat keempat, kelima, atau seterusnya. Mungkin ini surat yang terakhir, mama buat untuk anak mama yang manja. Maafkan mama, ingin membuat banyak surat untuk kamu hingga suatu saat anak mama ditanggung lawan jenismu sebagai suamimu kelak. Maafkan mama, ini yang terakhir. Mama tidak lagi dapat berpikir baik, mengingat baik, menulis lancar, bahkan berkata dengan benar. Sedikit mama kasih penjelasan tentang mama, sakit semua sakit nak, bukan bermaksud kamu bersedih, kenyataannya begitu, sakit. Suatu saat jika kamu merasa sakit, buang perasaan itu, hilangkan dari pikiranmu, agar bisa bertahan lama melewati diagnosa dokter. Semangat membesarkanmu, melihat kamu tumbuh jadi wanita yang lebih dari namamu.
Kini berambut panjang keriting, alis tebal tidak menyatu lagi, mata yang tetap sipit dengan bulu-bulu mata yang bertambah lentik, hidung yang semakin mancung panjang dari mamanya, putih bersih, wangi penampilannya, tinggi layak model majalah internasional, mama bangga dengan kacamatamu bahwa kamu mampu belajar dengan baik, dengan tekun apa yang papamu berikan, mamamu ingatkan. Mama mencoba mengingat betapa bangga dan bahagianya mama memiliki Cantik.
Jangan pernah bersedih, jangan menangis anakku, mama akan selalu ada didekat anak mama, mama akan tetap selalu memantau, dan mengingatkan anak mama. Karena mama akan selalu meminta kepada Tuhan, anak mama tidak akan pernah ada seorang pun berbuat jahat dengan anak mama.
Sekali selamat ulang tahun Cantik, semoga panjang umur, sehat selalu, disayang dan sayangilah orang disekitar Cantik. Karena mama tidak pernah mengajarkan anak mama yang buruk.
Amin ya rabbal alamin
Salam bangga dan bahagia
Untuk anakku Cantik
HBD
Mama Yeyen
“Ibuku selalu kuat, tegar, bijaksana bersikap didepanku nek. Tetapi kenapa aku merasa tidak mampu dengan penyakit yang sekarang rasakan, aku ingin cepat bersama dengan Ibu, nek.” Kataku.
“Apa kau tidak kasihan dengan orang tua yang telah renta ini, hidup sendirian apabila tidak ada kau lagi” kata nenek.
“Maafkan aku nek, aku egois tidak pernah berpikir apa yang terjadi selama ini dengan perasaanmu” rintihanku.
“Tak apa untuk itu nak, nenek tahu semua perasaanmu selama ini” jawab nenek.
“Aku berjanji, setelah aku selesai di operasi ini. Kita akan mulai kembali kehidupan kita dengan baik” kataku kepada nenek.
“Aku tidak akan mengecewakan nenek dan ayah” lanjutku.
“Kamu sayangku, terimakasih telah setia menemaniku, saat kita belum bersiap menjalin hubungan serius, dan maafkan aku. Karena aku, batal semua impian kita untuk hari itu” kalimatku untuk laki-laki yang setia menemani dan menerima aku apa adanya.
Aku selalu berharap, apabila sekuntum mawar hitam pengahalangnya seorang sejati akan menjadi duniaku teruntuk kasihku. Bahagia itu parti selalu kuberikan kepadamu nenekku, karena itu adalah salah satu cara menjadi bijaksana. Aku ingat salah satu kata terbaik dari Khalil Gibran untuk ayahku, ketika tiba saat perpisahan janganlah kalian berduka, sebab apa yang paling kalian kasihi darinya mungkin akan nampak lebih agung terlihat dari padang dan dataran.
Tulisan ini, untuk semua yang kusayangi:
Maafkan aku yang manja
Maafkan aku yang egois
Maafkan aku yang hancur
Doa, doa, doa yang kupinta
Bukan air mata, bukan wajah tegang, bukan pula keputusasaan
Keyakinan, kepercayaan, berharap kepada yang kuasa
Kita bisa, kita mampu, kita percaya
Kita bahagia, sangat bahagia
Kemarin, saat ini, untuk selamanya.
Kata yang paling indah di bibir umat manusia adalah kata “IBU” dan panggilan paling indah adalah itu “IBUKU”. Ini adalah kata penuh harapan dan cinta, kata manis dan baik yang keluar dari kedalaman hati – Khalil Gibran