Sejak dulu, tidak ada satu pun yang dapat mengerti kepribadian dari seorang Delina Maharani. Gadis yang selalu tampil dengan balutan jeans pudar dan kemeja hitam. Termasuk diriku.
Gadis-gadis di kantor bahkan memberi nama julukan 'Penyihir Negeri Seberang'. Itu karena wajahnya yang selalu menunduk tertutupi poni, dan punggung kecilnya yang selalu tampak merosot ketika di ajak berbincang.
Tapi, akhir-akhir ini aku memiliki ketertarikan pada sosok Delina. Gadis itu ternyata memiliki sisi yang mungkin belum banyak orang ketahui.
Tidak ada yang tahu, dibalik poni tebalnya juga kaca mata bulat yang bertengger manis di hidung bangirnya itu, memiliki rahasia yang menyimpan keindahan.
Tiga hari sebelum meeting di mulai, aku yang baru mendapat kabar bahagia bahwa diriku harus lembur hingga larut malam. Mendumel pelan di sepanjang lorong kantor.
Walau ada beberapa rekan kerja yang juga ikut lembur bersamaku, tetap saja. Aku tidak suka ketika harus terjebak dengan satu teman divisi kerjaku yang pendiam seperti Delina.
Meja kami yang hanya berjarak dua kursi, denting jam yang bergema, juga bunyi keyboard kami yang seperti memburu. Semuanya canggung. Aku tidak tahu harus membuka obrolan seperti apa kepada Delina, di saat aku tahu bahwa dia mungkin menganggapku tidak ada. Buktinya, sedari tadi kami hinggap dalam hening.
Pukul delapan malam, aku memilih merenggangkan otot. Terlalu fokus berkutat dengan arus keuangan kas, membuatku tidak sadar kalau Delina tidak ada di sampingku.
Karena mendengar suara gaduh dari pantry di dalam ruang Divisi, aku mencondongkan kepala. Menyembul dari sekat yang menjadi pembatas dan mendapati sosok Delina yang sepertinya baru saja tanpa sengaja menjatuhkan gelas kopi.
Karena merasa sedikit kasian, aku bangkit dan berjalan mendekatinya.
"Hei? Kau tidak apa-apa?" tanyaku dengan nada khawatir. Terdapat noda kopi di kemejanya. Ia meringis dan menggeleng.
Ku dapati dua cangkir kopi yang tergeletak dengan nampan di lantai, ah, sepertinya dia juga turut membuatkan untukku. Seketika aku merasa bersalah sebab sempat berpikir untuk bodo amat dengan kejadian ini.
"Aku tidak mendengarmu membuat ini semua. Sini biar ku bantu,"
Delina seperti biasa, ia tidak menolak bantuan orang lain atau tidak menghindar saat diajak bicara. Namun, bibirnya selalu terkatup rapat. Seolah jika ia bicara dan mengeluarkan suara, maka dunia bisa kacau.
Bisa dibilang, selama Delina masuk ke divisi keuangan. Ia hanya bicara beberapa kali dan itu pun dengan suara kecil nyaris berbisik. Untukku sendiri yang tidak punya keperluan dalam urusan tugas kami satu sama lain, aku belum pernah berbincang dengannya.
Dua cangkir yang tadinya berisi kopi berakhir di westafel, Delina membersihkannya dalam hening. Sedangkan aku kembali membuat kopi untuk kami nikmati bersama.
"Lain kali, jika butuh bantuan jangan sungkan meminta padaku." ucapku, di jawab hanya dengan anggukan.
Kami hanyut dalam keheningan, aku kembali melanjutkan pekerjaanku saat Delina kembali bangkit dari kursinya dan berjalan ke lemari arsip.
Aku sama sekali tidak mempedulikan, sampai terdengar suara benda jatuh sekali lagi. Aku berbalik, mendapati Delina meringis diantara tumpukan arsip dan kursi plastik yang patah dibagian kakinya.
"Hey! Kau tidak apa-apa? Apa ada yang terluka?"
Aku mendekat, menyingkirkan arsipnya dan menyadari bahwa penyebab utamanya adalah si kursi.
"Ah, pasti Kak Nilam menukar kursi di meja resepsionis yang sudah rapuh dengan kursi biasanya. Delina, apa kau tidak terluka? Biar ku bantu."
Delina meringis perih, ia menekan betisnya yang berbalut jeans. Tapi, karena aku tidak ingin dia menjadi tidak nyaman, aku memilih untuk menjaga jarak dan berkata bahwa aku bisa membantunya untuk berdiri.
Delina sendiri tidak menolak, ia meraih tanganku. Aku menariknya perlahan dan saat itu aku menyadari hal yang tak pernah aku bayangkan. Ketika kedua poni tebal itu tersibak, mata bulat bersinar jernih dibalik lensa langsung menyapaku.
Menjeratku dalam indahnya dua binar sekelam jelaga yang berkedip pelan itu, bibir tipis yang selalu dikulum gugup meringis. Membuatku tersentak dan lantas menggandeng Delina menuju mejanya.
Sejak malam itu, aku selalu menanti hari dimana bisa melihat dua binar jelaga yang indah itu sekali lagi. Seperti saat aku melihatnya dengan jelas di sudut ruangan dekat lemari arsip.
Itu menjadi seperti pertemuan pertamaku dengan Delina. Mengingat bahwa aku nyaris tidak peduli dengan kehadirannya dan sekarang aku benar-benar tertarik.
Setelah meeting usai, kami selaku divisi keuangan mendapat kabar baik. Berkat hasil meeting yang sempurna, pimpinan mengajak kami semua makan-makan di Restoran Jepang di sisi barat kantor.
Kami semua bersorak senang, ku lirik Delina yang hanya mengulas senyum sembari menghela napas lega. Tanpa sadar aku mengulas senyum melihat hal itu.
Di dalam lift, posisiku sedikit berada di sudut dengan Delina yang berdiri kaku tepat di sebelahku. Gadis itu tampak gelisah sebelum menatapku, aku tersentak. Kembali mendapati dua binar jelaga dibalik lensa tebal miliknya.
Dengan nada yang ringan, berisik pelan di telingaku. Mengucap kalimat "Terima kasih sudah membantuku malam itu, Kak Ray." aku jadi sedikit salah tingkah.
Senyumku tanpa mampu ku tahan, membiarkan mataku menangkap sosoknya yang kemudian menunduk dengan dua pipi bersemu malu. Di sudut lift yang penuh desak oleh anak Divisi Keuangan, jantung kami bertaluh.
Saling mengerti bagaimana perasaan asing kini mulai tumbuh hanya karena hal yang sederhana. Dan kini aku sudah paham. Delina Maharani adalah sosok gadis pemalu dengan keindahan yang tersembunyi, aku suka padanya yang seperti itu.