“Semacam tidak memiliki namun takut kehilangan, semacam tak punya status namun merasakan kecemburuan.”
Sahabatku yang satu ini benar-benar gila!
Seenak jidatnya gonta-ganti pacar sedangkan aku selalu dijadikan tumbal!
Kurang ajar!!!
“Please...kali ini aja bantuin gue.” ibanya.
“Nggak!!!” tolakku.
“Aku janji, ini yang terakhir!” Ucap laki-laki yang sudah lima tahun bersahabat denganku.
Tanpa menghiraukan tubuhnya yang hampir sujud dihadapanku, kutinggalkan Arga yang terus mengiba. Biar dia tahu rasa!
Taman bunga di tengah kota menjadi saksi bisu dimana seorang Arga berubah menjadi pria lemah hanya karena masalah asmara.
“Bisa mati berdiri kalau sampai aku mengabulkan permintaannya!” gerutuku.
Tuling!!
Hp ku tiba-tiba berbunyi.
“Re...please bantu gua! Emang loe mau, punya sahabat bujang lapuk?” isi pesan dari Arga.
“Bodo amat!” balasku.
Lagi-lagi aku! Selaaaaalu aku!
“Gua capek, Ga.” ucapku kesal.
Dia pikir dengan berpura-pura menjadi kekasih barunya bisa menyelesaikan masalah? Tentu saja tidak! Kali ini aku benar-benar tidak bisa, ini menyangkut kebahagiaan kakakku. Arga tidak tahu bahwa Rosa adalah kakak pertamaku yang baru pulang dari Jepang.
Kalaupun aku menuruti permintaan sahabatku, aku bisa saja jatuh cinta beneran dengannya. Perasaan itu muncul karena ulahnya sendiri yang selalu memaksaku untuk pura-pura menjadi pacar barunya.
Play boy cap badak semacam dia tidak pernah jera untuk membuat kecewa banyak wanita, termasuk kakakku. Dari awal aku sudah melarang Rosa untuk tidak jatuh cinta dengan Arga. Tapi dia malah menuduhku jika aku cemburu!
“Kak, Arga itu play boy! Aku nggak mau Kakak disakiti.” Ucapku saat pertama kali Rosa mengatakan bahwa dia menyukai sahabatku.
“Loe ngatain dia play boy? Bukannya loe sahabatan sama dia? Seharusnya loe ngedukung dia, bukan malah ngatain! Atau jangan-jangan loe suka lagi sama dia! Loe cemburu kan?” kata Rosa.
“Nggak lah, ngapain juga cemburu! Justru karena dia sahabatku, aku tahu Arga seperti apa dan bagaimana kelakuan dia ketika bertemu wanita yang lebih cantik dari pacarnya.” jelasku.
Perdebatan beberapa hari lalu membuatku malas jika bertemu dengan Arga maupun kakakku. Aku tahu saat ini sahabatku masih berpacaran dengan Angel dan sedang mati-matian untuk memintaku kencan bersamanya malam ini. Dia mempunyai rencana untuk memutuskan pacarnya.
“Gue bisa saja bantuin loe, asal loe terima cinta Rosa.” tulis pesanku pada Arga.
“Kenapa sih harus Rosa? Gua sukanya sama Putri, bukan Rosa!” balasnya ketus.
“Yaudah kalau nggak mau.” pungkasku.
“Ok...ok... !” balasnya kemudian.
Aku dan Arga kuliah di kota Y, sedangkan Rosa sejak lulus SMA ikut papa mengurus bisnisnya di Jepang. Seminggu yang lalu kakakku pulang dan tak sengaja melihat foto Arga di Hp ku.
Sejak itulah dia langsung jatuh cinta sama play boy cap badak tersebut. Lantas Rosa mencuri pin BBM sahabatku yang kemudian diajak berkenalan, bahkan ketemuan di kampusku. Tapi kelihatannya Arga memang tidak suka dengan kakakku.
“Jangan bilang kalau gua Kakak loe!” pesan Rosa.
“Kenapa emang? Malu punya Adik kayak aku?” tanyaku.
“Bukan gitu. Kalau Arga tahu pasti dia nggak enak sama loe kalau nolak gua. Ngerti?” katanya.
“Terserah deh.” ucapku.
Pertemuan pertama mereka berlangsung di sebuah restoran tanpa kehadiranku, dan hari ini mereka akan bertemu lagi di taman kampus. Seperti biasa tugasku menjadi obat nyamuk untuk mereka, hahaha...kasihan sekali diriku! Tak apalah, bukannya aku sudah terbiasa dengan keadaan ini!
“Udah lama kenal Rere?” tanya Rosa basa-basi.
Padahal dia tahu kalau kita sudah bersahabatan lama.
“Udah.” Jawab Arga sambil meneguk minumannya.
“Ga, gua mau ngomong. Tapi...berdua aja,” ucap Rosa.
Aku sadar maksud kakakku, lantas aku segera meninggalkan mereka.
“Eh...gua cabut bentar ya, tadi ada janji sama Dion.” kataku dan pergi dari taman.
Berbohong demi kebaikan sepertinya sudah banyak yang melakukan termasuk aku, seperti tadi contohnya. Janjian sama Dion? Hahaha, aku saja tidak tahu siapa Dion!
“Ingat janji loe!” aku mengirim pesan ke Arga.
“Bawel banget sih!” balasnya.
Kubiarkan dua insan itu menikmati pemandangan taman yang penuh bunga dan tumbuhan hijau lainnya. Bangku-bangku putih yang sebentar lagi akan kosong mungkin sebagai saksi jika mereka tengah mengungkapkan perasaannya masing-masing. Aku yang tidak berkepentingan lebih baik pulang saja.
Malam pun datang!
Tak kutemukan batang hidung Rosa semenjak berpisah di taman kampus tadi. Kemana dia? Masa sih dari tadi sampai sekarang masih berdua dengan Arga? Ngapain aja? Lama banget!
“Kakak kemana, Ma?” tanyaku kepada Mama.
“Tadi katanya mau makan malam sama Arga, sahabatmu itu.” jawab Mama.
“Apa?” kataku.
Bukannya hari ini dia mau kencan denganku? Wah...pasti ada yang tidak beres. Jangan-jangan kakakku dijadikan tumbal untuk memutuskan Angel.
Dasar play boy cap badak!
“Hallo... Dimana loe?” tanyaku kepada Arga.
“Di restoran favorit kita. Sorry Re...gua nggak jadi minta tolong loe. Sebentar lagi Angel datang dan ngelihat gua dan Rosa dinner.” jelasnya.
“Kurang ajar banget sih loe! Jadiin Rosa tumbal!” kataku emosi.
“Udah...dia nggak bakal tau. Loe tenang aja,” jawabnya.
Tiiiitttt!!!!
Kuakhiri telepon itu karena aku takut keceplosan ngomong kalau Rosa adalah kakakku.
Aku langsung menuju restoran tempat kita nongkrong bareng. Aku yakin Arga akan menjalankan aksinya. Sudah berkali-kali aku menasehati jangan suka gonta-ganti pacar! Tapi apa? Dia selalu menganggap omonganku hanyalah angin lalu.
Aku takut dia kena karma!
Tiba di lokasi, aku sudah melihat tiga insan yang sepertinya sedang bertengkar. Tak lama muncul beberapa perempuan cantik yang tak lain adalah Angel, Vani, Rista, Desty, Gina, dan Kiani.
Aduuuuhhh...gawat!
Sepertinya akan terjadi perang dunia antara play boy cap badak dan para wanita seksi. Iya, cewek pilihan Arga itu selalu seksi dan cantik-cantik. Namun sayang, mereka hanya dijadikan barbie!
Sebagai seorang sahabat yang baik aku harus membantu dan wajib ada di dekatnya. Aku memilih tempat duduk di samping mereka yang sedang melempar kata-kata kekesalan, saling menonjok, menampar, mengguyur air, dan masih banyak lagi yang menarik untuk kutonton!
Membantu Arga dengan cara duduk manis sambil menertawakannya cukup berarti daripada aku harus melerai mereka. Orang seperti Arga memang harus dikasih pelajaran!
Srrrrruupppttt!!!
Kuseruput jus apel pesananku sambil tersenyum puas melihat Arga diamuk para mantan-mantannya.
Hahahaha...biar dia tahu rasa!
Perempuan-perempuan itu rupanya sudah mengetahui sifat Arga. Entah dari mana bau play boy cap badak itu bisa sampai pada penciuman mereka yang jelas malam itu sahabatku benar-benar berlutut dan minta maaf ke mereka.
“Dasar buaya kampung! Loe kira kita nggak tahu sifat buaya loe?” ucap Rista.
Plakkk!!!!
Tamparan dari Vani dan Angel mendarat di pipi kanan Arga.
Plaaakkk!!!
Tamparan berikutnya dari Desty membuat sahabatku semakin malu di tonton orang banyak.
Dia tertunduk, tangannya meraba kedua pipi yang memerah. Sedangkan Gina dan Kiani mengguyur minuman ke rambut dan wajahnya.
Byuurr!!!
“Mampus, loe!” ucap mereka bersamaan.
Melihat sang buaya sudah basah kuyup dan menahan malu, mereka pun pergi dengan raut kepuasan.
“Hahahaha...syukurin loe, Ga.” kekehku.
“Ngapain loe, Re?” tanya Gina yang ternyata mengetahui keberadaanku.
“Makan lah, masa di restoran shoping.” Jawabku sambil melahap mie pangsit kesukaanku.
Setelah mantan-mantan Arga pergi, Rosa terlihat begitu perhatian dengan sikapnya yang membantu membersihkan baju sahabatku menggunakan tisu.
“Banyak banget mantan, loe!” ucap Rosa tiba-tiba.
“Iya lah, gua kan ganteng. Masa cowo ganteng mantannya satu, kan nggak seru!” jawabnya PD.
“Play boy loe!“ pungkas Rosa dan berlalu meninggalkan Arga.
“Emang dari dulu gua play boy!” gerutu Arga.
“Hahahaha...kasihan banget tuh cowok.” kekehku lirih.
Tuling!
Ada pesan masuk dari hpku.
“Loe dimana, Re? Kesini donk temenin gua!” isi pesan dari sahabatku.
“Habis kecebur got ya, Ga? Hahahaha... .” ledekku.
“Lhoh...kok loe udah ada disini?” tanyanya heran.
“Ya iyalah. Ini kan restoran favorit gue.” ucapku beralasan.
“Bukan itu maksud gua!” katanya.
“Alah...nggak usah dipermasalahin kenapa gue ada disini.” jawabku.
“Loe tahu kejadian tadi?” tanyanya.
“Kejadian apa? Nggak tahu gue.” kataku pura-pura tidak tahu.
“Masa sih?” tanyanya lagi.
“Emang kejadian apa?” tanyaku.
“Mantan-mantan gua kesini dan mempermaluin gua di depan Rosa. Lihat nih baju gua,” ucapnya sambil memperlihatkan bajunya yang basah.
“Bukannya loe udah malu-maluin gue sebagai sahabat loe karena kelakuan loe itu?” ucapku.
“Ah...omongan loe nggak asik!” jawabnya.
“Emang kenyataannya gitu kan. Terus...loe udah puas nyakitin Rosa?” tanyaku.
“Siapa juga yang nyakitin. Orang kita nggak jadian kok. Gua sengaja ngajak dia kesini biar Rosa nggak kecewa kalau aku nggak bisa nerima cintanya. Eh...nggak tahunya para lampir datang malu-maluin gua!” kata Arga.
“Kena karma loe! Terus...si Angel gimana?” tanyaku.
“Tau ah! Males gua ngomongin dia.” jawabnya.
“Re...temenin gua beli baju, setelah itu loe bantu gua nembak Putri. Please.... !” pintanya.
“Ah...males gue!” tolakku.
“Ayooooolaaahhhh... !” Ajaknya paksa dengan menarik tanganku menuju mall depan restoran.
Sebenarnya aku sudah malas meladeni keinginannya untuk berpetualang mencari cinta sejati. Cinta yang dilihat hanya dari bentuk tubuh seksi bukan dari hati.
Arga memang tampan seperti aktor Filipina, Teejay Marquest. Semua wanita pasti langsung terbius melihat ketampanannya termasuk aku. Beruntung, aku bisa menjadi sahabatnya.
Bisa selalu bersama-sama menghabiskan waktu di restoran, mengerjakan tugas, seru-seruan di taman, bertukar pendapat, bercerita, dan sebagainya. Menurutku semua wanita yang pernah berpacaran dengannya hanya karena ketampanan Arga saja, begitu pula sebaliknya.
Tak sampai satu bulan mereka putus dikarenakan orang ketiga yang tak lain adalah aku. Arga bosan dan tergiur dengan perempuan lain hingga nekat menjadikanku sebagai tumbal.
Dan serunya lagi setiap cewek yang ditaksir maupun yang pernah menjadi pacarnya adalah mereka yang kuliah di kampus yang berbeda. Jadi wanita-wanita itu tidak tahu kalau aku sahabatnya, bukan pacar barunya.
Seperti kejadian beberapa minggu lalu dimana Arga tengah menggandeng tanganku di sebuah pesta ulang tahun Vani. Otomatis dia kaget melihat pacarnya datang bersama perempuan lain apalagi Arga mengenalkanku dengan Vani pula.
“Selamat ulang tahun, Van. Kenalin...tunangan gua, Rere!” kata Arga kepada Vani.
Benar-benar gila!
Sontak kuinjak kakinya hingga dia kesakitan namun langsung ditahan.
“Maksud loe apa, Ga?” tanya Vani bingung.
Matanya binar dan meraih tangan sahabatku yang sejak tadi menggenggam erat tanganku.
“Gua udah tunangan. Dan...gua nggak bisa bersama loe. Gua mau kita putus, sorry ya.” Dengan enteng si play boy cap badak berbicara seperti itu tepat di hari ulang tahun Vani.
Perempuan berusia 20 tahun itu pasti kecewa banget. Usai memutuskan hubungan dengan tuan rumah, Arga mengajakku pergi ke taman favorit kita.
“Yessss!!!” ucap Arga girang.
“Gila loe ya!” kataku kesal.
Aku memang selalu aman dan tidak terkena dampak akibat ulah Arga yang selalu memperkenalkanku dengan pacar-pacarnya hingga berakhir menyakiti salah satu pihak. Namun aku kenal dengan Gina, mantan pertamanya.
Dia satu kampus dengan kami dan hampir setiap hari bertemu. Mereka putus lantaran ada kecemburuan yang terjadi dalam hubungan mereka. Gina cemburu denganku yang lebih akrab dan sering menghabiskan waktu bersama pacarnya saat itu.
Ya jelas lah!
Arga kan nembak dia karena dia seksi, sedangkan aku hanya sahabat yang belum berhasil memaku kaki Arga yang terus mengejar perempuan bertubuh ideal. Sahabatku tidak pernah macam-macam apalagi berbuat tak wajar.
Baginya, mempunyai pacar seksi adalah kemenangan tersendiri untuk laki-laki tampan itu. Dia selalu melindungi wanitanya, hanya saja penyakit aneh yang diderita play boy cap badak itu suka kambuh saat matanya lupa menunduk ketika melihat wanita seksi dan cantik. Akhirnya mereka putus karena Gina terlalu cemburu.
Kuakui, Arga memang sangat dekat denganku dibandingkan dengan kekasihnya. Hingga sejak kapan perasaan itu mulai tumbuh, aku sedikit lupa. Aku suka dengan sahabatku dan mungkin aku telah jatuh cinta dengannya. Perhatian yang biasanya kami lemparkan berujung maut buatku.
Apalagi saat ini, saat dimana tanganku digenggam erat dan mesra di taman. Kejadian ini sudah sering kami lakukan menjelang pergantian sabtu menuju ke minggu. Aku tidak boleh terbawa perasaan tentang perlakuan sahabatku ini.
“Ga, bukannya loe udah ganti baju di mall tadi? Ngapain ngajak gue kesini? Loe kan mau ketemu Putri!” kataku memecahkan keheningan.
“Gua ngajak loe kesini karena Putri juga mau kesini!” jawabnya. Astaga, aku sampai lupa jika mereka janjian di taman ini.
“Emang loe mau nembak dia?” tanyaku.
“Iya lah.” ucap Arga.
“Terus ngapain ngajak gua! Huuuu...dasar dodol!” kataku sambil menjitak kepalanya.
“Temenin gua, Re. Ntar loe duduk di bangku ujung sana tuh. Sedangkan gua sama Putri disini. Udah...buruan loe kesana, keburu dia datang!” perintahnya.
“Awas loe kalau cuma buat dia kecewa!” Ucapku dan pergi menuju bangku di ujung taman.
Sepuluh menit kemudian datanglah perempuan yang ditunggu sahabatku.
Aku melihat mereka dari kejauhan sambil sesekali bermain gadged.
“Aduh, lupa! Hari ini Mama mau belanja buat persiapan Rosa ke Jepang besok!” Ucapku sambil menepuk jidat.
Mama menyuruhku mengantarkan ke mall sebentar, eh...akunya malah disini jadi obat nyamuk.
Dasar bodoh!
Aku pun pulang tanpa memberi kode ke Arga. Sejak kejadian di restoran itu Rosa kecewa dan berniat kembali ke Jepang membantu papa.
“Sorry, Ma. Tadi aku lupa mau nganterin Mama ke mall.” kataku kepada Mama.
“Udah sering, nggak cuma tadi aja.” sindir Mama.
“Hehehe...maaf Ma. Berangkat yukk!” ajakku.
Malam minggu kali ini kuhabiskan waktuku bersama mama di mall. Sedangkan Rosa memilih untuk menyiapkan diri dan keperluannya buat besok.
“Kak, makanya kalau dikasih tahu jangan ngeyel!” Ucapku kepada Rosa saat kami berkumpul di ruang keluarga.
“Ngomong apa sih, loe?” tanyanya.
“Ngomongin kamu lah, Kak.” jawabku.
“Maksud loe Arga kali!” ketusnya.
“Arga dan kamu lah!” balasku tak kalah ketus.
“Iya deh, gua percaya. Lagian gua tahu Arga ngelakuin itu semua buat loe!” kata Rosa.
“Maksudmu apa, Kak?” tanyaku.
“Ntar loe juga tahu sendiri. Udah...jangan berisik! Gua mau tidur!!!” pungkasnya dan berlalu ke kamar.
Sepanjang malam aku tidak bisa tidur karena ucapan kakakku.
“Masa sih dia play boy gara-gara aku? Atau jangan-jangan dia seperti itu biar aku cemburu?” ucapku di depan cermin.
Tuling!
Hp ku kembali berbunyi mengisyaratkan sebuah pesan masuk.
“Re...jam segini ngapain belum tidur?” isi pesan tersebut.
“Kok loe tau kalau gue belum tidur?” tanyaku balik.
“Hahaha...ya taulah, tuh lampu kamar loe masih nyala!” balasnya.
“Astaga! Loe dimana, Ga?” tanyaku heran.
“Depan rumah!” jawabnya.
Aku langsung menyibak korden kamar melihat keberadaannya.
Benar!
Dia sedang memegang ponselnya sambil memandang ke arah kamarku. Kuputuskan untuk menemuinya sebentar.
“Ngapain loe kesini?” tanyaku.
“Ketemu loe lah!” jawabnya.
“Ada perlu apa?” tanyaku.
“Besok gua akan ngajak loe ke suatu tempat. Gua mau ngomong penting banget tentang hubungan kita. Jadi loe harus dandan cantik, dan jangan malu-maluin gua!” jelasnya.
“Haaaa? Ngomong penting? Tentang hubungan kita? Loe kenapa sih?” tanyaku penasaran.
“Gua lagi jatuh cinta. Dan ini amat penting buat hubungan kita. Udah nggak usah banyak nanya, besok loe tahu sendiri!” Pungkasnya dan pergi meninggalkanku yang masih bengong memikirkan apa yang akan terjadi esok.
Perasaanku menjadi pasang surut semenjak play boy cap badak itu akan mengajakku ke suatu tempat. Hatiku berdebar tak ada alasan seperti suara petir menggelegar namun tak jadi hujan. Kenapa juga dia memintaku untuk dandan cantik kalau tidak ada sesuatu? Bukankah tanpa make up wajahku sudah terlihat cantik!
Pagi buta Rosa sudah membangunkanku untuk mengantarkan ke bandara. Dengan mata masih lengket dan rambut amburadul tak karuan, ditariknya lenganku sampai dalam mobil.
“Woooiii...berangkat!!!” seru Rosa di telingaku.
“Berisik banget sih, Kak!” ketusku.
Kulajukan mobil dengan pelan tapi kupastikan sampai bandara tidak akan telat. Cuaca begitu dingin pagi itu, sedangkan aku masih dalam balutan baju tidur yang kurasa tak pantas jika nanti harus mengantarkan Rosa sampai dalam.
“Kak, ntar kamu ke dalam sendiri ya,” kataku.
“Loe nggak nganter gua sampai dalam? Hari ini kita berpisah, Re! Masa loe nggak mau nungguin gua terbang sih!” gerutunya.
“Emang kamu nggak lihat aku masih pakai baju tidur?” tanyaku.
“Alaah...gitu aja dipermasalahin. Nggak bakal ada orang yang ngejudge loe!” jawabnya meyakinkanku.
“Oke!” kataku.
Tak berapa lama kami sampai di bandara dan kubantu Rosa menyeret koper sampai dalam. Hampir setengah jam aku menemaninya, kini dia pamit dan mengecup keningku.
“Gua berangkat ya, Re. Gua minta maaf kalau kepulangan gua kemarin sempat ngebuat loe kecewa. Hati-hati ya di rumah sama Mama.” pesannya kepadaku.
“Kamu juga hati-hati, Kak. Jangan mudah tergoda dengan pria yang belum Kakak kenal. Salam buat Papa.” ucapku.
Aku segera pulang dan bersiap diri untuk bertemu dengan Arga. Sampai rumah terlihat mama yang tengah berdiri di mulut pintu menyambut kedatanganku.
“Ma, ngapain disini? Tumben!” kataku.
“Tadi Mama nemuin surat ini di meja.” Ucapnya sambil meberikan surat berwarna merah hati kepadaku.
“Arga!” tumben ngasih surat!
“Re...selama ini gua suka sama loe. Gua bingung mau ngomong! Gua sadar cuma loe yang bisa ngertiin gua. Loe emang sahabat baik buat gua. Gua nggak mau kehilangan loe, Re. Dan gua ingin memperjelas hubungan kita!” isi surat tersebut.
“Tadi Arga kesini ya, Ma?” tanyaku kepada Mama.
“Nggak tau, Re. Tadi ada yang ngetuk pintu, tapi setelah Mama lihat nggak ada siapa-siapa kecuali surat ini. Udah lah, Re... Mama tahu perasaan kamu ke Arga. Lebih baik kamu ngomong ke dia jika memang kamu menyukainya. Jangan takut terjadi sesuatu dengan persahabatan kalian dan jangan takut untuk kehilangan. Percayalah, sahabat yang baik tidak akan meninggalkan sahabatnya dalam keadaan apa pun.” ucap Mama.
Apa mungkin aku menuruti nasehat mama? Benarkah jika Arga menyukaiku? Apakah pantas seorang wanita menyatakan cintanya terlebih dulu? Lima tahun bersahabat dengannya dan selama itu pula aku tidak sadar jika aku mencintainya?
Ya Tuhan...
Apa yang harus kukatakan nanti? Masa hanya karena isi surat tersebut aku jadi baper begini!
“Re...jangan bengong! Buruan mandi dan sarapan.” kata Mama membuyarkan lamunanku.
“Oh...iya, Ma.” jawabku dan meluncur ke kamar mandi.
Setelah membersihkan diri dan sarapan aku sibuk mengobrak-abrik almari pakaian mencari baju yang cocok untuk kupakai menemui sahabat priaku nanti. Tak ketinggalan, mama pun turut membantuku mencarikan baju masa mudanya yang dulu pernah dipakai berkencan dengan papa.
“Pakai ini aja, Re. Kamu pasti terlihat lebih cantik. Dulu sewaktu Papa pertama kali ngajak Mama makan malam, gaun ini menyempurnakan penampilan Mama pada malam itu. Memang modelnya sudah jadul, tapi masih terlihat bagus kok.” kata Mama menyarankan.
Karena aku tak pandai berdandan, kuputuskan untuk mengikuti saran Mama.
“Iya deh, Ma.” jawabku.
Menjelang malam aku sudah menunggu sahabatku di ruang tamu. Balutan gaun berwarna hitam disertai kalung hadiah ulang tahunku darinya melengkapi penampilanku malam itu.
Tiitt...tiittt!!! Terdengar klakson mobil milik Arga.
“Ma...aku berangkat.” pamitku kepada Mama.
“Cantik banget loe malam ini,” ucap Arga ketika aku masuk ke mobilnya.
“Cantikan juga mantan-mantan loe!” jawabku sekenanya.
“Haduuuuh...terserah deh!” pungkasnya.
Mobil pun membawa kami ke suatu tempat yang kurasa asing buatku.
“Kita mau ngapain sih?” tanyaku.
“Ntar loe juga tau,” jawabnya.
“Oiya, bener nggak sih tadi pagi loe datang ke rumah sambil naruh surat di meja buat gue?” Tanyaku kepada pria yang terlihat fokus dengan setir mobilnya.
“Iya. Tadi pagi gua ke rumah loe dan naruh surat itu di meja. Kenapa?” tanyanya balik.
“Aneh aja!” kataku.
“Bagi gua nggak aneh. Gua beneran suka sama loe dan hari ini gua mau hubungan kita jelas.” katanya.
“Emang selama ini nggak jelas? Bukannya hubungan kita udah jelas dengan status sahabat selama lima tahun itu!” ucapku.
Dia diam! Memandangku beberapa menit hingga kemudian memanglingkan muka ke spion dan kembali melajukan mobilnya.
Sepuluh menit kita sampai dan aku dituntun menuju tempat yang begitu romantis. Subuah meja dan kursi berhadapan dengan kolam yang dilengkapi air mancur, serta lilin-lilin yang berjajar.
“Loe mau apa sih? Bukannya loe udah sering ngelakuin ini ke mantan-mantan loe!” kataku heran.
Lagi-lagi dia tak bersuara, matanya yang tajam menusuk indera penglihatanku yang tidak pernah dilakukan sebelumnya. Itu yang membuatku berasumsi jika dia ingin mengutarakan perasaannya terhadapku. Kalau benar, aku akan mencurahkan isi hatiku pula.
“Arga, gue emang sayang sama loe. Tapi gue takut loe ninggalin gue jika tahu perasaan ini.” batinku dalam hati.
“Re...seperti yang pernah gua omongin sebelumnya pada surat itu, gua mau ngomong serius. Gua harap loe nggak membenci gua dan nggak kecewa. Kalau loe mau marah, silahkan.” kata Arga.
Tanganku diraih dan digenggam erat-erat seperti tidak mau melepaskan. Hatiku seperti tersengat listrik cinta hingga bibirku kaku sulit untuk bersuara. Jika benar sahabatku mempunyai perasaan yang sama, aku pasti bahagia sekali.
Biarpun dia play boy, tak masalah buatku karena kejelekan dia sudah sering kutelan. Arga juga tak malu memperlihatkan kebusukan hatinya yang sering gonta-ganti pacar.
“Ngomong aja, gue nggak akan kecewa dan nggak akan membenci loe.” jawabku.
“Gua mau pergi.” ucapnya.
Laki-laki itu semakin erat menggenggam tanganku.
“Loe mau pergi? Ah...pasti bercanda.” ucapku.
“Gua serius, Re. Meskipun gua pergi loe tetep di hati gua. Nggak ada yang bisa ngegantiin loe di kehidupan gua. Percayalah Re, gua sayang sama loe, gua nggak mau kehilangan loe. Tapi gua nggak bisa ngebohongin perasaan gua kalau... .” ucapannya terhenti.
Dia memelukku, semakin erat pelukan itu membuatku semakin bingung. Dia beda, Arga yang kukenal selama ini tidak pernah memperlakukanku seperti itu, apalagi memelukku!
“Sorry Re...gua mencintai Sandra, kembaran loe!” lanjutnya kemudian.
Jlep!
Darahku seakan terhenti mendengar ucapan sahabatku itu. Tubuhku melemah hingga jatuh di kursi kayu dengan pandangan kosong.
“Re...loe adalah sahabat yang paling baik dimata gua. Gua sayang sama loe sebagai seorang sahabat dan gua udah nganggap loe kayak saudara gua sendiri. Gua tahu loe pasti nggak pernah nyangka jika gua mencintai Sandra. Loe pasti nggak percaya, gua tahu itu!” cerocosnya.
Mataku nanar, mutiara bening itu sepertinya akan melunturkan sebagian make up pada wajahku. Mungkin benar apa yang dikatakan Arga bahwa aku adalah sahabat terbaiknya dan bahkan seperti saudara. Aku memang tak pernah berpikir jika sahabatku menyukai Sandra. Kembaranku yang kuliah di Jakarta dan paling pandai diantara ketiga anak mama.
Ternyata pertemuan pertama mereka di hari ulang tahunku enam bulan silam telah membuat sahabatku terpana akan kecantikan dan kepandaiannya. Pantas saja dia selalu mencuri foto Sandra di hp ku.
“Re...lusa gua mau pindah ke Jakarta. Bokap sama Nyokap ada bisnis disana dan gua disuruh ikut mereka. Kemungkinan gua akan sekampus dengan kembaran loe. Do‘a in gua ya supaya bisa dekat dengan dia. Tapi gua janji loe tetap di hati gua, gua suka cara loe yang selalu membuat gua gemas dan ingin terus bersama-sama loe. Maafin pelukan gua tadi ya... .” katanya lagi.
“Jadi loe ngajak gue kesini cuma mau bilang kalau loe suka sama Sandra?” ucapku.
“Enggak lah! Kan gua juga bilang kalau lusa mau pindah, makanya tadi gua meluk loe! Lagian kalau loe terus-terusan deket sama gua, kapan loe dapet cowok!” jawab Arga.
“Justru karena gue deket sama loe, karena gue suka sama loe!” batinku dalam hati.
“Ya udah, sekarang loe mau makan apa? Gua traktir deh!” katanya.
“Terserah loe aja.” jawabku.
Aku masih tidak percaya dengan apa yang barusan kudengar. Arga tidak pernah sadar dan tidak akan pernah tahu jika aku menyimpan cinta untuknya.
****
Malam berikutnya tetap berlanjut hingga dipenghujung tahun. Arga telah pergi hampir setengah tahun, bersama cinta barunya yang mungkin tidak bertahan lama. Aku tidak pernah menanyakan kabar baik setiap kali menerima telpon dari pria yang suka berpetualang mengejar cinta sejati itu.
“Gimana kabar loe, Re? Pasti udah punya gebetan, hahaha... .” candanya.
“Baik. Gebetan kepala loe peyang!” ketusku.
“Udah dapat mantan berapa loe di Jakarta?” tanyaku.
“Hahahaha... .” tawanya langsung meledak.
Mungkin hanya seputar itu saja yang kami obrolkan.
Suatu hari ketika aku baru pulang dari kampus, kutemukan beberapa pasang sepatu yang memenuhi rak sandal.
“Siapa yang pulang? Sandra? Ah...nggak mungkin, dia kan sibuk ngerjain skripsi. Kalau Rosa juga nggak mungkin.” Segera kucari tahu siapa pemilik sepatu-sepatu tersebut.
“Surprise!!!” seru seseorang.
“Arga? Kok loe ada disini?” tanyaku heran.
“Gimana Re...gua cocokkan sama dia?” tiba-tiba Sandra muncul sambil mendekati Arga.
“Kok kalian ada disini sih? Bukannya loe lagi ngerjain skripsi!” ucapku kepada Sandra.
“Hahaha... .” Tawanya tanpa menjawab pertanyaanku.
Melihat mereka bahagia kok aku kurang suka ya?
“Kalian pacaran?” tanyaku.
“Iya donk... .” jawab Sandra senang.
“Udah berapa lama?” tanyaku lagi.
“Udah lama. Lamaaaaaa banget.” jawabnya dengan senyum melebar.
“Selamat deh.” pungkasku dan berlalu.
Aku masuk kamar dan menjatuhkan tubuhku pada kasur dan menatap awang-awang.
“Kenapa dia memilih Sandra? Kenapa bukan aku?” ucapku pelan.
Apa aku bodoh tidak mengungkapkan perasaanku sebelumnya hingga membuatku menyesal dan kecewa melihat Arga bersama kembaranku sendiri?
“Reee...! Bukain pintunya.” ucap seseorang dibalik pintu.
Cekrek!!!
Pintu pun terbuka dan sebuah kalimat langsung mendarat jelas pada pendengaranku.
“Re...setelah lulus kuliah, gua akan nikah sama Arga.” kata Sandra.
“Apa???” tanyaku kaget.
“Iya, kita mau nikah. Hari ini kita pulang buat tunangan.” jelasnya lagi.
“Tunangan?” tanyaku.
“Iya. Makasih ya Re, gara-gara pertemuan di ulang tahun loe itu kita jadi deket dan dia punya niat baik buat nikahin gua.” katanya.
“Loe seneng kan, Re?” tanyanya kemudian.
“Iya,” jawabku. Aku tersenyum menutupi lara.
Aku ingat pesan mama jika sahabat yang baik tidak akan meninggalkan sahabatnya dalam keadaan apa pun dan jangan pernah takut untuk kehilangan. Baiklah, aku akan menerima kenyataan. Merelakan sahabat sekaligus pria yang kucintai demi kebahagiaannya.
“Loe beneran mau nikah sama kembaran gue?” tanyaku kepada Arga.
“Iya lah. Masa gua bohong sih.” jawabnya.
“Biasanya kan loe cuma main-main,” kataku.
“Kalau gua sampai punya keinginan nikahin dia pasti gua nggak main-main, Re!” jawabnya kesal.
“Ok, gue percaya. Asal loe harus janji sama gue jangan pernah nyakitin Sandra. Dan asal loe tahu bahwa Rosa adalah Kakak pertama kita!” tuturku.
“Udah basi! Gua udah tau kali!!!” ucapnya.
“Apa? Tahu darimana loe?” tanyaku heran.
“Dia sendiri yang bilang. Gua emang nggak ngomong masalah itu ke loe, buat gua itu masalah biasa dan nggak perlu terus dibahas.” tungkasnya.
Aku berjanji tidak akan membeberkan perasaanku ke Arga pada siapa pun. Dan aku berjanji cepat atau lambat harus menemukan sosok pria lain yang memang ditakdirkan untukku.
Mungkin jalan yang ia pilih adalah pilihan terbaik demi keutuhan persahabatan kita yang dipererat dengan menjadi adik iparnya. Aku menghormati Sandra sebagai kakakku tepatnya kembaranku dan memperlakukan Arga secara hati-hati.
Bersahabat lama hingga mempunyai kemistri kuat bisa saja membuat kami terlihat mesra. Namun kini harus waspada mengingat ada Sandra di tengah-tengah persahabatan kita.
Menjaga jarak sudah pasti kita lakukan karena kami sadar, orang yang akan menemani kita hingga akhir hayat adalah pasangan bukan sahabat.