"Aku menyukaimu Rei..."
Ucapanku tidak bisa dia dengar, dia tidak menjawab sama sekali ataupun melirik ke arahku. Aku pikir karena suara petasan yang begitu riuh dan langit di penuhi warna-warni yang membuatmu terkesima hingga aku di abaikan?
Danamamu dis lugu yang payah, setiap hari aku selalu membantunya dalam melakukan kegiatan apapun dia kikuk sekali masak tidak bisa, menyerika baju tidak bisa bahkan melipat baju pun tidak bisa. Aku heran apa yang dia bisa...
Namun walau begitu dia berusaha tidak pernah menyuruh orang lain agar di bantu atau apapun, segala macam dia lakukan hanya untuk dirinya sendiri ataupun untuk orang lain sungguh perempuan yang keras.
Seringkali dia berjemur di pagi hari, wajahnya begitu berseri-seri dia memandangku dengan bahagia di kursi tak jarang dia mengeluarkan air mata. Aku bingung untuk apa air mata itu mengalir, aku tidak pernah mengecewakannya atau berlaku buruk.
Dia selalu ingin berpergian tetapi tidak bisa sendirian harus aku yang menemani kemana pun dia berada. Aku selalu mendorongnya ke tempat yang indah, tebakanku pasti benar dia hanya ingin membuat kenangan. Kita berdua di foto pada setiap tempat yang kita kunjungi.
Hingga di hari tahun baru. Dia berusaha mengucapkan sesuatu dari mulutnya namun aku tidak bisa mendengarkan, pagi yang cerah aku pikir dia hanya ingin berjemur sebelum nanti malam menonton petasan.
"Aku di sini Rei, kamu seperti biasa tidak ingin selalu sendirian dasar wanita kikuk, lugu, dan tidak bisa di andalkan,"
Dia hanya terbaring menghadap ke langit namun baginya terlalu jauh untuk di lihat, jadi aku bawakan kembang api baginya dan aku tancapkan di tanah yang masih penuh dengan bunga-bunga harum aku nyalakan kembang api berbentuk hati agar kamu bisa mengetahui perasaanku.
"Selamat tahun baru!! Aku mencintaimu Rei!!!" Aku hanya bisa berteriak di atas batu nisan yang terukir namamu, apa petasan itu masih kalah besar dengan suaraku? Apa sekarang kau bisa mendengarku?
***