Sudah berapa tahun aku mengenakan seragam SMA? Jangan di tanya, sudah 2 tahun lebih. Dan setengah bulan lagi adalah sisa waktu untuk persiapan menyambut beasiswa kuliah yang akan menyambut ku. Aku berharap lolos di jurusan seni musik kampus idamanku, kampus The Juilliard School.
Sejauh ini semua orang dan seisi sekolah menilaiku layak bersekolah di sana. Semoga begitu. Orang pertama yang berhasil menyaksikan bagaimana aku bermain musik dengan handal adalah ibu kandung ku sebelum kak Helena. Kak Helena adalah seorang pengacara profesional.
Aku sangat mensyukuri keberadaan ibuku sendiri dengan segala kekurangannya yang di milikinya. Ya, ibu ku cacat dan harus menggunakan kursi roda untuk menjalani aktivitasnya. Meski begitu dia tetap menyiapkan sarapan, bekerja seperti biasanya dan menemukan inspirasi untuk mengarang cerita novelnya, ya, ibu adalah seorang novelis terfavorit di kota. Novel karangan ibu adalah novel edisi 'best seller' yang di cari orang-orang. Kebanyakan novel karangan ibu merupakan novel yang penuh dengan pelajaran dan kesan hidup.
Kali ini sepiring pasta dan muffin panggang favorit ku tersedia di meja makan. Kak Helena juga turut serta membantu ibu memasak agar ibu tidak lelah menjalankan kursi rodanya kesana kemari di dapur. Sedangkan aku? Bersih-bersih seisi rumah dan merapikan kamar dan perabotan.
"Ibu, kali ini masakan ibu lebih enak dari yang biasanya." aku memuji ibu sambil tersenyum ramah. Ibu yang sedang menabur bawang ke dalam panci untuk tambahan topping sup ayam membalas dengan senyuman.
"Masakan ibu memang selalu enak kan?!"
"Iya sih... ahahaha!"
Kak Helena langsung ikut mencibir. Aku tahu dia bercanda.
"Udah mau kuliah kok basa-basinya kayak bocil sih? Ahahaha!" tawanya.
"Biarin lah!" balasku sambil menjulurkan lidah.
Kak Helena mengacungkan pisau yang sedang dipakainya memotong bawang.
"Aku menunggumu di pengadilan!" candanya.
"Selow kak. Nanti mama kirain kamu mau bunuh anak kesayangannya."
Memang gaya kak Helena mengacungkan pisau tampak seperti penjahat. Aku tahu kak Helena pasti menahan perasaan sebalnya pada ku.
Setelah acara sarapan bersama selesai, kak Helena mendorong kursi roda ibu ke ruang tamu untuk menunjukkan sebuah pertunjukan musik tiap pagi sebelum aku berangkat ke sekolah. Itu semua atas permintaan ku. Tiap pagi aku bangun lebih awal, tepatnya jam empat pagi. Dua jam beres-beres rumah dan jam tujuh setelah selesai sarapan, ibu akan menikmati pertunjukan piano ku di ruang tamu selama setengah jam. Aku biasanya akan memainkan beberapa lagu untuk menghibur ibu. Tujuan lainnya agar ibu mendapat inspirasi tambahan. Dan benar saja, ibu mengisahkan adegan seperti ini pada salah satu novel best seller-nya. Aku sendiri tertawa ketika tahu ibu menjadikannya inspirasi. Dan nama gadis dalam novel best seller itu di ambil dari nama belakangku, Amelia.
Aku sendiri bernama Tyvani Amelia dan panggilan ku sendiri Vani.
Hari ini lagu berjudul Let Her Go dan The power of love. Ibu bertepuk tangan bangga ketika aku selesai memainkan piano ku, dengan memainkan kedua lagu itu.
...
"Vani, setiap kali tuts-tuts piano melantunkan lagu yang indah olehmu, Ibu yakin suatu saat nanti kamu menjadi musisi sesuai harapan dan impianmu. Tekunilah apa yang menjadi jiwamu!" kalimat ibu yang setiap saat terngiang di benakku dengan jelas dan menjadi motivasiku.
Dimana pun selalu kalimat itu yang pertama ku ingat.
Namun suatu hari ketika pihak yayasan sekolah mengunjungi sekolah, kami semua kagum melihat mereka. Mereka adalah pihak paling berkuasa di yayasan sekolah internasional ini, Adelaide Elite High School, hampir seisi sekolah mengatakan wajahku sangat mirip dengan seorang wanita yang paling menonjol dan terlihat di segani oleh rombongan sekolah lainnya. Memang selama ini teman-teman ku beropini bahwa wajahku dan ibuku berbeda dan aku hanya melengos dengan bilang, "Bisa saja wajahku bukan mirip ibuku namun mirip dengan kakek atau nenekku!"
Dan biasanya setelah berkata begitu mereka hanya manggut-manggut dan berpikir bahwa perkataanku ada benarnya juga.
"Sumpah Van, wajah lu mirip bet sama Bu Lidya Amelia!"
"Jadi namanya Ibu Lidya A... tunggu! Amelia?" aku setengah berteriak.
"Gak usah pura-pura bloon lu!? Lu, kan, bintang sekolah, juara olimpiade Biologi lagi? Lu gak berpikir tes DNA? Kali aja waktu kecil lu di titip sama nyokap lu yang sekarang?!" sindir Nadia.
Nadia gadis centil yang selalu menyindirku. Aku tak paham bagaimana dia menilaiku.
"Itu mulut di jaga kenapa? Jangan kayak comberan! Hahay!" sahabatku, Rara, Mela dan Chacha balik menyindir Nadia. Nadia melengos tak suka.
Aku menjauh dari mereka. Dalam hati aku membenarkan ucapan Nadia meskipun menyakitkan. Aku melap airmataku yang terus menetes.
"Apakah dia ibuku yang sebenarnya? Apakah aku memang dibuang waktu kecil? Dan yang membesarkan aku lebih menyayangiku daripada ibuku sendiri?" batinku dalam hati. Aku tak bisa berhenti menangis. Airmataku terus meleleh.
Dan sekarang wanita bernama Lidya Amelia itu berada di sampingku dengan kedua laki-laki di belakangnya yang sepertinya merupakan pengawalnya. Dia membelai kepalaku dengan lembut.
"Kenapa menangis nak?" tanyanya padaku dan ketika aku mengangkat wajahku yang sempat tertunduk, dia terkejut melihat wajahku yang sangat mirip dengannya.
"Nak, kamu.. "
Aku menepis tangannya dengan perasaan kecewa dan berlari sambil terisak. Dia berbicara begitu lembut namun ternyata dia membuang aku.
Sepulang sekolah, ketiga sahabatku bingung melihat aku yang langsung pulang sambil menangis, memang hari itu beberapa kali aku ketahuan sedang menangis.
Dan aku melihat mobil yang di gunakan wanita bernama Lidya Amelia itu terparkir di halaman rumah. Aku melihat keduanya berselisih paham. Ibuku yang terduduk di kursi roda berusaha menjelaskan namun wanita bernama Lidya itu terus memarahinya.
"Hentikan!"
Mereka berdua melihat ke arahku.
"Vani!" panggil keduanya.
Aku melindungi ibuku yang terduduk di kursi roda dengan merentang kan kedua tanganku.
"Vani sayang, dia itu adalah mamamu yang sebenarnya dan ibumu ini... "
Kan? Benar?
Aku merasa semakin terpuruk.
"Vani sayang ayo ikut mama..." dia menggandeng tanganku lembut tanpa menghiraukan ibuku yang tertunduk. Aku tahu saat itu ibu sedih.
Aku menggeleng tegas sambil terus diam di tempatku. Aku menekankan kakiku kuat-kuat ke tanah.
"Vani, ibu mohon ikutlah dengan mamamu," setelah berkata begitu ibu tidak sadar kan diri di kursi rodanya.
"Ibu!"
Aku menjerit saat itu!
...
Nisannya masih tampak baru. Terukir dengan jelas nama Rara Keyla di sana. Aku membacanya dalam hati. Wanita yang membesarkanku begitu tulus telah pergi untuk selamanya dan sudah waktunya dia istrahat dengan tenang. Aku, mama kandungku dan kak Helena mengantarkan ibu ke tempat peristirahatan terakhirnya. Kak Helena berkali-kali menangis sambil memeluk nisan ibu dan aku lah yang menenangkannya.
Mama merasa bersalah pada ku dan Kak Helena. Aku tidak menyangka Kak Helena tidak menaruh dendam padaku dan aku terharu ketika Mama dan Kak Helena berpelukan. Seperti seorang ibu dan anak juga. Mama berkali-kali minta maaf pada kami berdua.
Sebelum benar-benar pergi membiarkan ibu beristirahat dengan tenang, mama mengelus nisan ibu yang merupakan sahabatnya dan berkata, "Terimakasih Rara telah membesarkan putri ku dengan baik dan Helena putrimu kau harus bangga padanya, dia tidak pendendam sedikit pun padaku. Selamat jalan. Kamu akan tenang disana." Mama tersenyum pilu.
Selang beberapa bulan, aku lulus dari sekolah dan kalian tahu? Aku di terima di kampus idamanku yang akan menjadi almamater ku selama beberapa tahun ke depan, dengan beasiswa full pula. Kak Helena di angkat menjadi anak oleh keluargaku, keluarga Amelia Wijanarko.
Semuanya berakhir dengan baik.
-The End-
Jangan lupa juga mampir ke karya author yang berjudul "Karena kita adalah berbeda"
Terimakasih