Senja memberikan warna jingga. Warna keteduhan, kedamaian, ketentraman serta keagungan darinya. Aku masih selalu menunggu walaupun letih sudah hinggap di ragaku. Sesak merayap di dada, seolah sulit bernafas. Memendam kerinduan yang tiada pernah diungkapkan.
Aku terdiam menunggu dalam titik jenuh mulai menyelinap di benak.
Berikanlah satu kalimat agar aku kuat dan bertahan dalam penantian yang tak kunjung tiba.
Berikanlah ketenangan supaya aku kembali kuat meraih tanganmu yang menggapai- gapai jauh di sana.
Seperti sekarang ini, aku menjumpai mu di senja yang mulai redup karena kabut. Aku datang dari jauh berusaha mengejar mimpi indah bersamamu. Di tempat mu aku berdiri menantikan pelukan hangat dari kokohnya tubuhmu.
Namun, saat ini aku harus menelan kecewa. Aku harus menyaksikan dari suatu yang tidak aku sangka. Kau ingin mengatakan kebenarannya, bahwa kamu sudah memilih nya. Kini hanya kecewa yang aku dapat. Penantian itu menjadi sia- sia tanpa harapan yang nyata.
" Maaf! Aku belum bisa berkata jujur sebelumnya. Dan hal itu membuatmu menumbuhkan harapan besar untuk selalu bersama aku di kelak masa." katamu dengan penyesalan yang belum bisa aku Terima.
Ku pukul dada kamu sebagai bentuk kemarahan dan kekecewaan ku. Kamu diam, pasrah karena semua karena tidak berani mengungkapkan segala kebenarannya.
Katamu kamu belum tega jika membuat aku tersakiti akan putusnya hubungan itu. Namun apakah kau tidak tahu? Semakin kamu menyembunyikan kebenarannya itu akan semakin membuat aku besar memiliki harapan besar untuk bersama mu.
" Sekali lagi maaf! Aku sudah bersamanya dan aku tidak berani berkata bahwa aku sudah memilih nya." katamu lagi dengan mata yang mengandung sedih.
Aku hanya berdiri menatap wajahmu penuh lekat. Ingin rasanya aku memelukmu erat. Namun kamu yang didepan ku ini saat ini milik orang. Aku hanya menatap nanar tanpa tujuan. Kakiku lemah tanpa tenaga. Aku harus secepatnya kembali pulang agar tidak kembali berharap. Berharap denganmu itu sudah tidak akan mungkin lagi.
" Maaf!" kembali kamu ucap dalam pelan.
Lalu kau tiba-tiba meraihku dan mendekap ku erat. Tidak terasa aku merasakan tetesan air mata itu menetes mengenai jidatku tatkala baku berusaha mendongak ke atas melihat kamu.
" Kamu menangis, Hito?" tanyaku pelan tidak sanggup jika melihat dia sedih. Bukankah dalam hal ini aku yang disakiti? Kenapa dia ikut sedih dan menangis.
" Aku tidak menginginkannya pernikahannya ini dengannya. Namun kedua orang tua kami sudah terikat perjodohan. Dan aku tidak berani menolaknya. Dan aku pun tidak berani menyampaikan semuanya kepadamu. Maaf!" ceritamu akhirnya.
Aku sedikit mendorong mu agar kamu tidak kembali merasakan bersalah terhadapku. Mungkin saja kita tidak lagi berjodoh. Dan aku tidak ingin menjadi wanita yang merebut suami orang.
.
" Aku sudah mengerti sekarang! Kamu tidak bersalah. Kita yang tidak lagi berjodoh. Maaf, jika kedatangan ku membuat kamu menjadi bersalah. Bukan maksud aku ingin kembali menuntut akan janjimu terhadap ku." kataku berusaha tegar dan bijak.
" Hito! Semoga kamu bahagia dengan wanita itu. Dan do'akan aku juga ikhlas melepaskan mu." kataku lagi.
" Erika! Namun aku sebenarnya masih ingin menjalin hubungan dengan kamu." ucap mu tanpa ada bergetar bibirmu.
" Jangan! Kita sudah tidak bisa lagi bersatu. Kamu harus ikhlas dengan garis dan takdir jodoh mu. Aku akan secepatnya menjauh dari kamu." sahut aku pelan dan berusaha melawan keinginan yang sebenarnya antara hati dan pikiran sangat berbeda adanya.
" Erika! Tapi aku belum bisa melupakan kamu." katamu dengan mata yang penuh kejujuran.
" Aku akan membantu kamu melupakan ku. Seperti senja yang akan berangkat pergi menuju gelap nya malam. Aku akan berlaku seperti senja itu yang tanpa meninggalkan warna jingganya." kataku akhirnya.
Kamu hanya berdiri dan diam namun menatap ku dalam langkah pelan menjauhi sosok mu yang masih belum ikhlas melepaskan kepergian ku. Namun ini harus segera di singkirkan karena aku dan kamu sudah tidak lagi berjodoh.
( Coretan tanpa mikir)
(Jakarta, 1 Januari 2022)