Hai aku Stella, aku adalah anak seorang bangsawan bermaga Grizena. Banyak orang yang iri kepada kehidupanku. Aku anak seorang Baron yang saat kaya, banyak sekali yang ingin menjadi sepertiku yang selalu memiliki harta berlimpah. Tapi, ada satu kekurangan dalam kehidupanku. Pasti kalian bisa menebaknya, benar perhatian orang tua. Ayahku sibuk dengan bisnisnya dan ibuku sibuk dengan kehidupan pribadinya, aku sendiri mulai sejak kecil sudah dibesarkan oleh Imera pengasuhku. Hanya dia yang mau memberikan perhatian kepadaku secara suka rela. Aku hidup seperti itu sampai berumur dewasa, tapi ada suatu kejadian dimana kejadian itu sudah mengubah hidupku.
Jam 11 malam, waktu semua orang terlelap tidur adalah waktu yang tepat untuk bersenang senang bagiku. Di waktu pagi sampai sore aku selalu disibukan dengan berbagai kegiatan mulai dari belajar dan undangan berbagai acara, sedangkan kalau sudah malam aku bisa mulai bebas bermain. Tetapi saat aku bermain malam itu aku tertangkap oleh Imera yang ternyata masih belum tidur.
"Lady kenapa anda belum tidur?" tanya Imera kebingungan.
"Aku masih bermain sekarang, bisa nanti saja tidurnya" ucapku sambil memelas ke arah Imera.
Segera Imera meminta aku agar cepat tidur. Akupun mengikuti permintaannya.
"Lady besuk masih ada banyak kegiatan, mari segera tidur kalau tidak besuk anda akan kelelahan" ucap Imera sambil tersenyum lembut.
"Baiklah, aku tidur dulu" jawabku sambil cemberut berjalan ke arah kamar mandi.
Seperti anak anak pada umumnya sebelum tidur aku sikat gigi lalu bersiap tidur. Kalau kalian bertanya tanya apa yang aku mainkan ketika malam jawabannya adalah pedang. Kenapa pedang? Karena bagi seorang lady sepertiku sulit sekali mendapatkan persetujuan orang tua untuk boleh bermain pedang, jadi aku hanya bermain pedang ketika malam hari agar tidak ketahuan oleh siapapun. Biasanya sebelum tidur aku memandangi bulan sebentar untuk memenangkan pikiran.
"Indahnya bulan malam ini" ucapku sambil menikmati udara malam yang dingin.
Setelah selesai memandangi bulan aku meletakkan pedangku di bawah bantal agar tidak terlihat siapapun dan sekalian untuk berjaga jaga. Dan benar saja tepat di jam 1 malam aku kedatangan tamu yang tidak diundang di kamarku, dia seorang pria bertopeng dengan pedang di tangannya seperti bersiap untuk menusukku ketika aku tidur. Aku segera mengambil pedang untuk melindungi diriku dan sepertinya dia tampak terkejut, pasalnya banyak lady yang membenci pedang karena banyak yang beranggapan jika pedang itu membosankan ataupun melelahkan. Saat aku berdiri di kasur dengan membawa pedang di tangan kananku tampak sang tamu tak diundang itu tertawa
"Untuk apa kau membawa pedang sedangkan kau tidak bisa memakainya" ucap sang pria tersebut sambil tertawa kecil.
Aku kesal dengan ucapannya, pasalnya aku paling tidak suka diremehkan oleh orang lain. Apa lagi dia orang yang tidak mengenalku.
"Aku tidak peduli, kenapa kau datang kesini?" ucapku sambil menuding pedang ke arah sang pria itu.
"Aku kesini untuk membunuhmu, apa kau percaya?" ucap pria tersebut sambil tersenyum aneh.
"Aku percaya karena banyak orang yang membenci keluargaku, dan memiliki reputasi yang cukup jelek di pergaulan kelas atas. Mungkin meraka menyewamu untuk membunuhku" jawabku sambil menaikkan bahu dengan santai di hadapan sang pria misterius itu.
Dia hanya menampilkan senyuman aneh dibibirnya, apa lagi dia tampak tidak terkejut dengan ucapanku. Tetapi yang membuat aku terkejut adalah tiba tiba dia berlari ke arahku sambil mengayunkan pedangnya seakan akan bersiap untuk memotong kepalaku. Dengan sigap aku menangkis semua serangan yang dia layangkan kepadaku, di saat pertarungan yang sengit itu berlangsung aku sempat bingung apa yang sebenarnya pria ini pikirkan?
"Kenapa kalau ingin membunuhku dia harus bertele tele dulu?" batinku bingung.
"Jangan lengah" ucapnya tiba tiba menangkap tanganku dan mendorongku ke kasur.
Aku kaget dengan gerakannya tersebut, ditambah aku semakin bingung apa tujuan pria ini?
"Apa yang kau lakukan!" ucapku kaget.
"Aku hanya ingin mengetesmu saja, jadi tenanglah" jawabnya santai sambil berjalan ke arahku.
"Mengetesku? Untuk apa? Sebenarnya apa tujuanmu kesini?" ucapku bertanya tanya sambil mundur secara perlahan.
"Tujuanku?" jawab sang pria misterius tersebut.
"Aku hanya ingin melihat calon adikku, itu saja" lanjutnya
"Adik?" batinku bingung.
Sekarang pria misterius itu sudah berada sampingku, dia hanya duduk sambil memandangiku. Aku diam saja saat dia membelai rambutku.
"Andai saja pedangku bisa aku ambil" batinku ketakutan.
Aku hanya bisa pasrah saat pria misterius itu duduk di sampingku. Waktu sudah menunjukkan jam 3 pagi.
"Sebentar lagi waktu kita akan habis" ucap sang pria misterius memecah keheningan di kamarku.
"A-apa kau akan membunuhku sekarang?" ucapku gugup, aku masih takut akan kematian.
"Tidak, aku hanya ingin ini" tunjuknya ke arah bibirku.
"Maksud?" aku bingung karena sampai saat ini aku masih belum pernah berciuman dengan lawan jenis.
"Aku akan mengajarimu cara berciuman adikku yang manis" ucap sang pria misterius secara tiba tiba.
Tanpa pikir panjang sang pria misterius itu mencium bibirku. Dia tampak sudah mahir melakukan ini, sedangkan aku hanya meronta ronta mencoba melepaskan ciuman itu. Jujur sejenak pikiranku berubah kerena ciuman itu.
"Bibirnya lembut dan manis ternyata" batinku kagum.
Kami berciuman hampir 1 menit. Aku mulai kelelahan berbeda dengan sang pria misterius tersebut yang hanya menikmatinya.
"Tidak bisa aku biarkan terus seperti ini" batinku yang sudah lelah.
Aku meronta ronta, dan akhirnya sang pria misterius itu mengerti maksudku. Dia melepaskan ciuman kami, sambil menungging senyuman.
"Da-dasar pria bre-brengsek" ucapku sambil terengah engah.
"Namaku Rize, mulai hari ini jangan panggil aku dengan sebutan pria brengsek ya" jawab dia sambil berdiri melangkah ke arah balkon.
"Aku pergi dulu adikku yang manis" lanjutnya
Dalam sekejap mata pria misterius yang mengaku sebagai Rize itu menghilang. Aku entah mengapa merasa jika jantungku berdegup kencang saat mengingat wajah pria itu.
"Sudahlah jangan aku ingat ingat lagi!"
Aku segera mengambil pedang milikku di lantai dan meletakkannya di bawah bantalku seperti biasanya. Lalu aku melanjutkan tidur kembali, walaupun terkadang saat mengingat pria itu aku merasa malu entah mengapa. Dan hidupku kembali seperti biasanya, walaupun aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya.
Apa kisah cinta kami akan berlanjut? Apa maksudnya adik? Apa yang sebenarnya terjadi?
Jawabannya ada di episode ke 2
Nantikan Oke 😉