***
Samuel menghentikan mesin mobilnya tepat di area parkir yang kini tampak kosong dan hanya diterangi oleh cahaya remang-remang. Ia menoleh ke arah Yuna yang terduduk dengan raut wajah resah di sampingnya.
"Apakah kau yakin tidak ingin aku antar sampai di dalam?" Tanyanya dengan nada sedikit khawatir. Yuna menoleh ke arahnya.
"Aku yakin, lagipula kalau aku masuk denganmu… Vin akan mengira kita memiliki hubungan apa-apa."
"Vin tahu kalau kita hanya sebatas teman, untuk apa kau cemas? Lagipula hubungan kita memang sudah jelas hanya teman, tidak seperti dirinya yang secara diam-diam menjalin hubungan dengan wanita lain."
"Tapi tetap saja, aku akan menangani semuanya sendiri."
"Baiklah kalau kau bersikeras, tapi aku akan tetap disini dan memantau untuk memastikan kalau tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Oke?"
"Baiklah, terima kasih sebelumnya karena kau selalu ada untuk membantuku. Kau adalah sahabat terbaik yang pernah aku miliki."
"Tidak masalah." Samuel tersenyum tipis. Entah kenapa ia merasa sakit saat Yuna berkata kalau ia menganggapnya sebagai sahabat.
"Kalau begitu aku masuk dulu."
"Iya."
Yuna melangkah keluar dari dalam mobil Samuel, ia berdiri sejenak seraya memandang ke arah acara pesta yang di gelar di taman samping gedung yang kini tampak ramai. Ia mengepalkan tangannya erat.
Hari ini ia akan membongkar semuanya, melabrak secara langsung wanita yang telah menjalin hubungan secara diam-diam dengan suaminya.
"Perasaanku tidak enak, tapi aku harap semuanya baik-baik saja," gumam Samuel yang terus memandangi Yuna hingga sosok wanita itu hilang saat langkahnya semakin jauh.
*
Yuna menghentikan langkah kakinya begitu ia tiba di dalam pestanya, kedua manik matanya mengedar mencari keberadaan wanita itu dengan suaminya. Yuna semakin erat mengepalkan tangannya saat ia mendapati suaminya yang kini tengah berdiri bersama dengan selingkuhannya, mereka mengobrol bersama sembari menikmati secangkir sirup yang ada disana.
Dilihatnya Vinson beranjak pergi dari tempatnya, meninggalkan Nara seorang diri. Yuna melangkah menghampiri Nara, meraih secangkir sirup yang ada di meja kemudian menyiramnya tepat di wajah Nara.
"Argh… apa yang kau laku—" Nara memekik kesal, ia mendongak. Terkejut saat mendapati Yuna yang kini menatapnya penuh emosi. "K-kau…" Nara membulatkan kedua matanya.
"Beraninya ka—"
PLAKKK!!
Belum sempat Nara melanjutkan kalimatnya, sebuah tamparan sudah lebih dulu mendarat mulus dipipi kirinya. Rasa sakit bercampur panas seketika menjalar dipipinya.
"Dasar wanita murahan! Apakah tidak ada pria lain di dunia ini, sampai-sampai kau mendekati suami orang?!" Teriak Yuna penuh emosi. Atensi semua orang refleks beralih pada kegaduhan yang tiba-tiba terjadi di tengah-tengah pesta, Yuna tak menghiraukan tatapan orang-orang padanya. Ia terlampau emosi dengan wanita yang selama ini bermain api dengan suaminya.
Nara mendelik ke arahnya, sebelah tangannya memegangi pipi. Sementara tangan lainnya bertumpu pada meja yang ada dibelakangnya. Gelas yang semula dipegangnya itu terjatuh di tanah.
"Aku sudah memperingatkanmu sejak awal! Jauhi suamiku dan cari pria lain. Apakah kau tidak mengerti?!" Teriak Yuna sekali lagi. Orang-orang yang melihat mereka seketika berbisik membicarakan apa yang baru saja mereka dengar, sebagian besar terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya.
Emosi Nara membuncah seketika, tangannya meraih gelas disana dan balas menguyur Yuna dengan minuman tersebut.
"Biar aku perjelas situasinya! Aku sama sekali tidak pernah merebut suamimu! Kau saja yang tidak menarik, lihat. Pria bodoh mana yang mau menikahi wanita berpenampilan kuno sepertimu?!" Emosi Nara.
"A-apa kau bilang?" Yuna mengepalkan kedua tangannya, matanya melongo. Terkejut dengan apa yang baru saja di ucapkan olehnya.
"Apakah ada kapas di telingamu? Aku bilang kau itu wanita kuno!" Nara menekan kalimatnya.
"Berani sekali kau…!" Yuna menjambak keras rambut Nara membuat wanita itu meringis kesakitan.
"Akh— lepaskan aku! Dasar wanita kuno!" Pekik Nara yang balas menjambak rambut Yuna.
"Walaupun aku kuno setidaknya aku tidak murahan sepertimu!"
"Diam kau! Kau tidak jauh lebih baik dariku akh—"
"Kau yang diam!" Yuna semakin keras menjambak rambutnya.
Dalam seketika mereka menjadi tontonan banyak orang, Yuna dan Nara membuat pesta itu kacau. Keduanya berputar, terbanting dari meja yang satu ke meja yang lain membuat beberapa barang di atasnya itu berjatuhan dan pecah.
PLAKKK!
Nara menampar Yuna keras berharap dengan begitu ia bisa melepaskan tangan yang menjambak nya. Nara mendorong tubuh Yuna hingga tersungkur jatuh di tanah. Tak sampai di sana, Nara melempari tubuh Yuna dengan beberapa makanan dan sirup yang ada di sekitarnya, membuat pakaian Yuna kotor.
"Dengar! Aku tegaskan padamu sekali lagi. Aku tidak pernah mendekati suamimu! Tapi suamimu sendiri yang mendekatiku, jadi terima saja!" Nara menekankan. Yuna tertunduk dengan kedua tangan yang terkepal erat.
Vinson yang baru saja pulang dari toilet begitu terkejut saat mendapati Yuna dan Nara yang tengah bertengkar hebat. Bergegas ia menghampiri mereka. "Nara, Yuna? Apa-apaan kalian ini?"
"Istrimu ini yang tiba-tiba datang dan membuat kekacauan." Tuduhnya.
Vinson menatap penuh kesal ke arah Yuna. Orang-orang memandang ke arahnya, Yuna semakin menundukkan kepalanya. Matanya berkaca-kaca, dan hatinya benar-benar terasa sesak mendapati semua orang termasuk suaminya menatap tajam ke arahnya.
"Kau, beraninya ka—"
"Yuna!" Samuel bergegas berlari menghampirinya. Ia berjongkok di dekat Yuna. "Astaga, kau baik-baik saja?"
Yuna tak menjawab. Samuel bergegas melepaskan jas yang di kenakan olehnya, lalu memakaikannya pada Yuna. "Lebih baik sekarang kita pulang," bisiknya. Samuel membantunya bangun kemudian membawanya pergi dari sana sebelum situasinya semakin kacau apalagi setelah Vinson muncul, pria itu pasti akan lebih memilih membela Nara dan melimpahkan semua kesalahannya pada Yuna.
Tiba di dalam mobil, Samuel membantu membersihkan pakaiannya dengan menggunakan tisu.
"Setelah ini, lebih baik kita pulang agar kau bisa istirahat," ujar Samuel sembari mengelap wajahnya Yuna.
Yuna hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Selesai membersihkan beberapa noda dipakaiannya, Yuna dan Samuel lalu beranjak pergi meninggalkan tempatnya berada saat ini. Melaju menuju rumahnya.
Tiba di depan rumah Yuna, Samuel menghentikan mobilnya. Untuk sesaat hening, Yuna masih duduk ditempatnya. Wanita itu lalu mendongak menatap Samuel yang kini memandang keluar kaca mobilnya.
"Sam…" panggilnya membuat Samuel beralih pandang. "Terima kasih karena kau selalu ada untuk membantuku, kau selalu menemaniku dan mendengarkan setiap curhatanku. Kau adalah sahabat terbaik yang pernah aku miliki."
Samuel tersenyum simpul. "Sama-sama. Lain kali kalau kau memiliki masalah atau kau ingin cerita, jangan sungkan untuk menelponku. Karena aku akan selalu ada untuk mendengarkan setiap ceritamu."
"Ya… sekali lagi, terima kasih."
***