Namaku adalah Syafa Alisya. Aku seorang piatu. Ibuku meninggal 3 tahun yang lalu, ketika awal tahun ajaran baru saat aku kelas 8 SMP. Usia ibu terpaut 5 tahun dari ayah, tentu ayahku yang lebih tua dan ibuku lebih muda. Ibu meninggal di usia 33 tahun.
Sekarang aku tinggal dengan ayahku. Dia adalah malaikat tak bersayap ku. Dia mampu menjadi ayah sekaligus ibu bagiku. Beruntungnya aku anak tunggal, jadi ayah tak perlu terlalu bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan.
Aku juga sudah mulai mencari pekerjaan yang cocok selama menjadi pelajar.
Tapi, aku pasti telah menyelesaikan seluruh tugas sekolah dan tugas rumah sebelum bekerja.
Aku memang tidak terlalu pintar dalam akademik, namun tenaga ku besar seperti ayah. Dan aku juga langsung mengerti ketika diajari untuk bekerja. Ayah juga tak keberatan dengan nilaiku.
Ayah hanya ingin aku hidup dengan bahagia. Ayah juga tak melarang ku bekerja, bahkan dia mendukung ku ketika aku mengutarakan ingin kuliah dengan biaya sendiri.
Aku tidak mengeluh lahir di keluarga yang bisa dibilang sederhana. Di tinggal oleh ibu kala aku sedang butuh banyak dukungan untuk belajar. Ayah juga seringkali bekerja dan pulang ketika malam sudah larut.
Aku sangat bersyukur karena selama aku sekolah, tak ada orang yang membully ku. Bahkan teman-teman sangat bersimpati kepadaku.
Anggaplah aku sebagai 1 dari jutaan orang yang beruntung dikelilingi oleh orang-orang baik seperti mereka.
Hari ini, tepat hari dimana aku akan mengambil raport di sekolah. Satu tahun lagi, aku akan lulus sekolah dan melanjutkan kuliah dengan uang tabunganku selama 2 tahun terakhir.
Namun, ada yang aneh hari ini.
Ayahku tak pergi bekerja. Bahkan dia terlihat bersantai di teras rumah saat aku izin berangkat ke sekolah. Aku mengernyitkan dahi heran. Tak seperti biasanya ayah begini.
Saat itu ayah tersenyum, dia memberiku beberapa nasihat kemudian menyuruhku segera berangkat ke sekolah.
Masih tercetak jelas dalam ingatanku kata-katanya saat itu.
"Fa, jaga diri baik-baik, ya. Ayah mungkin akan pergi jauh. Kalo bisa kamu harus bisa persiapan dari sekarang, ya, Fa," ucap Ayah. "Jangan pernah sungkan untuk meminta pertolongan orang dan memberi kepada sesama kita, ya," lanjutnya.
Aku hanya menjawab 'Ya', karena sedari Ibu pergi, Ayah sudah mewanti-wanti diriku agar menjadi pribadi yang tangguh. Ayah juga berpesan agar tak selalu meninggalkan ibadah. Aku pun menyanggupi permintaannya.
Tapa rasa curiga dengan sedikit keanehan yang ayah tunjukkan pagi ini, aku berangkat sekolah.
Tak seperti tahun-tahun sebelumnya, kini peringkat ku naik dari 20 besar menjadi 10 besar. Aku sangat senang dengan perubahan drastis itu.
Aku akan menunjukkan pada ayah kalau aku juga bisa dibanggakan olehnya.
Tiga jam berada di sekolah terasa sebentar kali ini. Padahal biasanya, aku akan kabur ketika raport sudah dibagikan.
Bahkan tanpa menunggu yang lainnya selesai mendapatkan raport dan Bu Guru membacakan siapa peringkat 1-10.
Terkesan tidak sopan memang. Tapi, ada alasan juga aku secepatnya pergi dari sekolah. Ya, aku pergi bekerja.
Aku cukup tau kemampuan ku dalam akademik dan aku juga lebih suka bekerja untuk mendapatkan uang.
Sekarang adalah sesi pembagian hadiah dari walikelas.
Kulihat peringkat 1, 2 dan 3 mendapatkan amplop dengan bingkisan. Sedangkan peringkat 4-10 disuruh memilih ingin amplop atau bingkisan.
Sebenarnya, aku ingin amplop. Sudah dipastikan isinya adalah uang. Namun, aku memilih mengambil bingkisan sebagai hadiah ku kali ini.
Setelah acara selesai, seluruh siswa-siswi dihimbau untuk pulang ke rumah masing-masing.
Saat aku berada di depan gerbang sekolah. Tiba-tiba walikelas ku datang dengan sedikit berlari dan raut wajah yang sulit diartikan.
"Syafa... Saya harap kamu yang tabah dan terus melanjutkan cita-cita mu, ya. Jangan sampai kamu terpuruk dan cepatlah pulang ke rumah mu. Ayahmu sudah tiada, Fa. Ibu turut berduka cita, ya."
Aku berusaha mencerna ucapan dari walikelas ku. Mendadak otakku seperti tidak berfungsi sebagaimana mestinya selama beberapa detik.
Tanpa menjawab ucapan walikelas ku, aku berlari pulang.
Saat berlari inilah, memori otakku tiba-tiba berputar dimana ayah sedang bercanda ingin dimakamkan di samping makam ibu. Ya, aku kira ayah bercanda. Sebab, dia mengutarakan keinginannya itu sebulan yang lalu. Saat itu juga, ayah mengucapkannya diiringi tawa.
Pernah juga ayah berbicara kalau beliau sudah menyiapkan sejumlah uang untuk pemakamannya dan biaya hidupku selama 5 tahun.
Aku tak terlalu banyak berpikir kala itu. Karena kukira itu hanyalah tabungan ayah yang sewaktu-waktu akan digunakan juga untuk keperluan rumah.
Banyak gelagat aneh dari ayah, namun aku tak menganggap hal itu adalah sesuatu yang tidak wajar.
Dalam benak Syafa dia bertanya-tanya, benarkah ayahnya sudah tiada? Bukankah tadi pagi masih tersenyum dan menyuruh nya bergegas ke sekolah??
Saat sampai dirumah, terlihat Pak RT dan warga lainnya sedang membopong tubuh ayah yang kaku.
Aku teringat ketika kehilangan ibu dulu. Saat itu, aku merasa ibu hanya membohongiku dan pasti nanti dia akan terbangun. Namun, kenyataan memang lebih pahit, ibuku pergi meninggalkan aku dan ayah.
Aku sedih berlarut-larut, bahkan ayah juga lebih sibuk dengan mencari pekerjaan.
Aku sampai terheran-heran melihat sikap ayah. Apakah ayah tak sedih ibu pergi? Pikirku waktu itu.
Namun akhirnya, aku pernah memergoki ayah menangis sembari memeluk foto ibu. Ayah bahkan lebih sedih dariku! Ayah pandai sekali menyembunyikan nya.
Mulai hari itu, aku berusaha untuk tidak sedih berkepanjangan.
***
Kini jenazah ayah sudah di kafani. Namun, aku hanya diam membisu. Aku tidak bisa menangis meraung-raung sama seperti kepergian ibu. Karena sebelum ayah dikafani, Pak RT menghampiri ku dan memberiku sebuah surat.
Surat dari ayah.
``Nak, jaga dirimu baik-baik. Ayah tau kamu adalah Putri kami yang solehah. Jangan lupa beribadah dan lupa pada pertolongan orang yang baik terhadap kita, ya. Oh, iya. Ayah belum sempat bilang sama kamu, Fa. Tiga tahun yang lalu, tepat setelah 1 bulan kepergian ibumu, kamu kecelakaan. Dokter bilang ginjalmu bermasalah, makadari itu ayah mendonorkan ginjal ayah padamu. Tolong jaga baik-baik, ya. Sekarang ayah pamit pergi.``
Ayah? Jadi inikah alasan ayah menjadi semakin kurus setiap harinya. Bahkan suka mengeluh sakit saat aku diam-diam menguping di depan pintu kamar ayah.
Ayah, maaf dan terimakasih untukmu.