aku biasa dipanggil Rian, usia dua puluh satu tahun. aku hidup di kota kecil di propinsi Riau. setiap hari aku bekerja namun tidak menetap, aku tinggal bersama teman-teman yang lain, tapi bukan berarti aku tidak memiliki rumah, hanya saja aku kurang akrab dengan anggota keluarga ku.
hari ini, aku berniat bermain ke rumah dan beberapa teman ku ikut bersamaku. rumah itu sendiri ditempati kakak laki-laki ku yang sudah menikah. sementara ayahku sudah menikah lagi setelah beberapa tahun ibuku meninggal, itu juga alasan kenapa aku membencinya, dia dan istrinya tinggal di luar kota kecil ini.
aku anak bungsu dan hanya memiliki kakak laki-laki sebagai saudara, itupun hubungan ku dengan dia juga kurang akrab.
aku dan teman-temanku sudah sampai di depan rumah, kami mematikan mesin motor kami lalu duduk di teras rumah yang pintunya tertutup.
"sepi amat, Yan. " ucap salah satu temanku.
"ya, gitulah. " jawabku.
disaat itu, tiba-tiba pintu rumah terbuka, disitu terlihat seorang gadis manis dengan kulit putih bersih berdiri di ambang pintu, dia mengenakan hijab putih dan pakaian tertutup. sepertinya usianya sekitar sembilan belas tahun.
pertama kali gadis itu menatap ku, kemudian menatap ke bawah, lalu menatap ku lagi.
"ada perlu apa, bang? " dia bertanya namun seperti menahan senyum.
"nggak ada, cuma main aja kemari. " jawab ku kemudian memalingkan wajah dari gadis itu.
gadis itu terdiam, sepertinya dia juga bingung harus berkata apa.
aku menatap ke dalam rumah, aku melihat kakak laki-laki ku yang sedang tidur di sofa. begitulah hari-harinya, dia sangat malas dan malah membiarkan kakak ipar ku bekerja, untung saja mereka belum memiliki anak.
tepat disaat itu, kakak ku yang biasa dipanggil Rio itu bangun, dia menyadari kedatangan ku dan langsung berjalan untuk mendekati.
"tumben ingat pulang, ada perlu apa? " tanya kak Rio dengan mata yang tidak menatapku.
aku juga tidak menatapnya, "nggak, cuma takut aja rumah ini udah dijual. " jawab ku dingin, biar bagaimanapun dia tidak memiliki hak untuk melarang ku.
gadis itu berjalan masuk ke dalam, sepertinya dia tidak ingin melihat perselisihan antara aku dan kak Rio.
semua temanku memandang kepergian gadis itu, kemudian menatap Kak Rio.
"itu siapa bang? bini baru, ya.? " tanya salah satu temanku sambil tertawa kecil. mereka sudah biasa melihat kami berselisih, jadi mereka sudah terbiasa.
"hush..! " Kak Rio memukul pelan kepala temanku tadi sambil tersenyum.
setelah itu, Kak Rio menjelaskan tentang siapa gadis itu pada teman-teman ku, sementara aku ikut mendengarkan.
gadis itu bernama Nira, seusai dengan namanya dia sangat manis. dia adalah anak dari teman ayahku yang mengalami musibah, kebakaran yang melenyapkan harta mereka. setelah itu Ayah Nira sakit dan meninggal. Nira tidak memiliki keluarga lagi dan dia tidak tahu apa-apa, biasanya dia mengurus ayahnya dan menjaga toko kecil milik ayahnya, dia tidak tahu mau bekerja apa. karena kasihan, ayahku membawanya ke rumah ini dan itu baru beberapa hari yang lalu.
disaat itu Nira keluar membawa minuman, kemudian meletakkan minuman itu di atas meja lalu kembali masuk.
aku melihat Nira dengan penuh rasa kasihan, sementara teman-temanku memperlihatkan wajah mesum, aku sudah mengenal semua temanku dan aku tahu apa yang sedang mereka pikirkan, itu bukanlah sesuatu yang baik.
aku menatap Kak Rio, aku juga tidak bisa mempercayai orang ini mengingat dia pengangguran dan selalu di rumah, terlalu banyak kesempatannya berduaan dengan Nira.
entahlah, aku tidak mengerti kenapa diriku jadi berpikir su'udzon seperti ini, tapi aku hanya tidak ingin Nira kenapa-napa.
setelah itu, kami meninggalkan tempat itu, kami menuju tempat tinggal kami yang berupa kos-kosan. untuk meringankan biaya, kami berkumpul di dalam satu kos-kosan ini, mengingat pekerjaan kami juga serabutan.
"lumayan juga cewek tadi. " ucap salah satu temanku.
"bisalah untuk mainan, ya, 'kan.. " sahut yang lain sambil tertawa genit.
aku mendengar ucapan teman-temanku dan kesal, wanita seperti Nira tidak pantas dijadikan mainan.
malam itu, aku menelpon ayahku agar membawa Nira bersamanya, insting ku mengatakan tidak baik bila gadis itu berlama-lama tinggal dengan Kak Rio mengingat dia terpaksa menikah karena dipergoki warga sedang berhubungan intim dengan wanita yang saat ini menjadi istrinya.
sayangnya ayahku menolak, alasannya istrinya tidak menerima dan lagi mereka sudah memiliki banyak anak dari istrinya itu. aku benar-benar kecewa.
malam itu aku kembali ke rumah Kak Rio, tapi kali ini aku tidak mengajak teman-temanku.
setelah sampai, aku langsung disambut ramah oleh kakak ipar ku, namanya adalah Kak Yunda, dia sangat baik padaku.
beberapa hari sudah berlalu, aku semakin sering bermain ke rumah Kak Rio, bukan mencari kesempatan untuk menemui Nira, aku hanya ingin memastikan gadis itu baik-baik saja.
seiring berjalannya waktu, tetangga sekeliling mulai berisik, mereka mengetahui tentang seorang gadis yang tinggal di rumah kakakku, fitnah pun mulai menyebar.
Kak Yunda panik menghadapi situasi ini, sementara Kak Rio tidak memperdulikan.
disaat itu aku menemui Nira, kami berbicara empat mata. walaupun sudah sering bertemu, kami tidak pernah saling bertanya.
"Nira.. kalo kamu nggak keberatan.. abang siap nafkahi Nira. " ucapku lembut, sebenarnya aku juga berat mengatakan ini.
"kalo itu memang yang terbaik, aku nggak keberatan.. " ucap Nira lembut, wajahnya tertunduk, aku tidak bisa melihat matanya. entah hanya perasaan ku saja, tapi sepertinya gadis ini tidak berani menatap ku saat aku menatapnya.
setelah itu aku memberi tahu seluruh anggota keluarga dan mereka hanya setuju, pernikahan pun diadakan, aku menghabiskan semua tabungan hasil kerja ku beberapa tahun belakangan.
setelah semuanya selesai, aku dan Nira tinggal di sebuah rumah kontrakan, namun letaknya berbeda dengan tempat aku dan teman-temanku tinggal sebelumnya.
walaupun sudah sah agama dan negara,kami tidak tidur satu kamar. didalam rumah tersebut hanya ada satu kamar, aku tidur di sofa sementara Nira dikamar tersebut.
aku bekerja seperti biasa, sementara Nira melakukan semua pekerjaan rumah dengan baik, dia sangat pembersih dan pintar memasak.
aku selalu menjaga jarak dengan Nira, setiap berpapasan aku menjauh, tapi dia seperti mencoba mendekati ku, terkadang dia juga tidak mengenakan hijab sehingga terlihat kulitnya yang sangat putih. aku tidak pernah membayangkan menjadi seorang ayah di usiaku yang masih muda, aku sempat berpikir untuk menikah di usia dua puluh lima tahun.
selain itu, aku juga sering melihat Nira beribadah, dia shalat dengan sangat khusyuk. itu sangat membuat hatiku tenang.
pagi itu, saat aku hendak berangkat kerja, Nira berjalan memanggil ku.
"bang Rian..! " panggil Nira dan itu terdengar manja, baru ini dia menyebut namaku.
aku menoleh, "kenapa.? " tanyaku. aku menatap wajah Nira yang selalu rumit, sangat sulit untuk dibaca.
Nira menghela nafas lalu menatapku dengan lembut, "gini, bang.. aku mau kerja di restoran, tapi aku nggak bisa tinggal sama abang lagi.. abang ngijinin nggak? kalo nggak juga nggak papa..aku cuma nggak mau nyusahin abang terus.. " ucapnya dengan wajah cemas.
aku tersenyum, "ya terserah kamu, kita nikah juga bukan karena cinta 'kan.. abang senang kalo memang itu keputusan kamu. " jawab ku, namun sejujurnya aku sedikit tidak rela, biar bagaimanapun dia adalah istri ku.
Nira menggenggam kedua tangan ku, "makasih bang..! " kemudian dia mencium tangan ku.
Nira kembali masuk kedalam, sesaat kemudian dia keluar dengan tasnya, sepertinya didalam tas itu terdapat pakaiannya.
aku menyalakan motor ku, lalu menyuruh Nira naik, dia menolak tapi aku memaksa, ini adalah saat aku harus berpisah dengannya.
saat diperjalanan, Nira tidak segan memelukku, kami terlihat seperti sepasang kekasih, siapa yang tahu kalau kami sudah menikah.
cukup lama diperjalanan, akhirnya kami sampai disebuah restoran besar, aku juga bingung kenapa Nira bisa mendapatkan lowongan disini.
aku bergegas pergi meninggalkan Nira, tapi dia menatapku dengan penuh arti, dia seperti ingin mengatakan sesuatu.
"kamu kenapa? " tanyaku.
"aku.. aku makasih banyak sama abang.. " ucapnya, matanya mulai berkaca-kaca.
"kamu takut? " tanyaku lagi melihat wajah Nira yang bersedih.
"bukan..aku cuma.. nggak jadilah. " seketika Nira tersenyum dan langsung pergi.
aku tersenyum kemudian pergi, sepertinya aku sudah sedikit terlambat menuju lokasi kerja ku.
malam harinya, aku berada di rumah sendiri, aku masuk ke kamar Nira, aroma tubuhnya masih tertinggal dan itu sangat menggoda. aku mulai mengingat awal kami berjumpa sampai akhirnya kami berpisah, ternyata cukup manis untuk dikenang.
keesokan harinya masih sama seperti tadi malam, aku terus mengingat Nira masih ada di rumah ini. biasanya setiap bangun pagi Nira sudah menyiapkan sarapan, sekarang meja makan selalu kosong.
tidak terasa sudah hampir dua minggu berjalan seperti itu, aku tidak pernah masak dan selalu makan diluar, kehidupan ku kembali seperti semula, menjadi seorang anak lajang yang suka berkeliaran.
malam ini hujan sangat deras dan kebetulan aku berada di rumah. aku merebahkan tubuhku dan memandang langit-langit kamar, sesekali aku juga menoleh kearah jam dinding yang menunjukkan pukul sepuluh kurang, derasnya hujan malam ini tidak sebanding dengan derasnya rindu ku pada seseorang.
disaat itu, tiba-tiba aku mendengar suara ketukan pintu, walau bingung aku tetap berjalan menjangkau pintu tersebut.
aku membuka pintu dan seketika langsung terkejut melihat sosok yang kulihat.
"Nira.?! " ucap ku.
aku melihat Nira, tubuhnya basah kuyup diterpa hujan dan sepertinya dia sangat kedinginan, matanya terlihat merah. dia berdandan seperti biasa, hijab putih dan pakaian tertutup.
Nira tidak menjawab selain hanya menatap ku, kemudian berjalan dan memeluk tubuhku sangat erat sehingga tubuhku ikut basah.
"kamu kenapa? " tanyaku.
aku baru tersadar ternyata Nira menangis, air hujan membuatku sulit melihat air mata Nira, hanya isak tangisnya yang menyadarkan ku.
Nira mempererat pelukannya, "aku nggak kenapa-napa.. aku cuma rindu sama abang. " dia tidak menatap ku, tapi keningnya menempel di pipi ku.
tubuh Nira memang basah, tapi aku merasa begitu hangat, tidak! hatiku yang hangat ketika mendengar ucapannya.
aku memegang kedua pipi Nira, "kalo ada masalah.. bilang aja! jangan diam-diam. " kemudian aku mencium keningnya.
Nira menatap ku lembut, "aku nggak ada masalah..tapi kalo aku diam terus bisa jadi masalah.. dari pertama aku jumpa abang.. aku suka sama abang.. " dia terlihat malu-malu dan menundukkan kepalanya.
aku terdiam, aku tidak tahu kalau ternyata gadis ini menyukai ku dari awal bertemu.
"aku nggak mau kita pisah, bang.. aku mau kita lanjutkan pernikahan kita ini.. aku janji akan jadi istri yang baik untuk abang! " ucap Nira dengan suara serak, sepertinya dia takut ditolak.
aku memeluk Nira dengan erat, "abang nggak punya alasan untuk nolak wanita shalihah kayak Nira.. abang nggak janji bisa bahagiain Nira secara materi.. tapi abang bisa jamin cinta abang cuma untuk Nira. "