[Pelakor]
⚠️⚠️warning 18+ mohon bijak dalam memilih bacaan⚠️⚠️
Happy Reading ❤️
tuk
tuk
tuk
Suara high heels terdengar cukup keras di telinga orang orang disana. Terdapat seorang wanita berparas cantik dan berpakaian seksi. Di bagian tertentu di tubuhnya tampak berisi dan menggoda. Dengan ekspresi datarnya, ia memasuki gedung perusahaan terbesar di negara ini.
Tak! "Ruang Halilintar Reonald," wanita itu mengetuk meja resepsionis yang menyadarkan sekitarnya. Sang resepsionis menatap sinis wanita tersebut, menatap dari bawah keatas. Sedikit menilai penampilannya.
"Ada perlu apa dengan Tuan Direktur? Sudah membuat janji?", meskipun nada si resepsionis tidak bersahabat, tetapi ia tidak dapat mengabaikan aturan formalitas.
"Saya tidak perlu membuat janji untuk bertemu dengannya," ekspresinya tidak berubah.
Tak lama lift disebelah terbuka, wanita berjas tersebut menatap sekeliling yang lebih berkerumun dari biasanya.
"Ada apa ini?! Segera bubar! Cepat kerjakan pekerjaan masing-masing!" pekerja lain membubarkan diri, tampaknya statusnya lebih tinggi dari yang lain.
"Anuu, Nona Alya, ada tamu yang ingin menemui Tuan Direktur--", si resepsionis tampak takut-takut jika berhadapan dengan sekertaris perusahaan.
"Ada keperluan, Nona? Dan--pakaian anda terlalu terbuka disini," Alya menilai secara terang-terangan dengan nada sarkastik dan menatap nyalang. Walaupun sama-sama bodygoals, sang tamu lebih terbuka dan lebih cantik darinya. Tak dipungkiri dirinya iri hati.
"Mohon kembali bercermin," tatapan mata wanita itu lebih menusuk dan membuatnya sedikit gentar.
"Saya sekertaris Direktur disini, jagalah sikapmu!" harapnya dengan membuka jabatan, wanita seksi itu takut.
"Oh, tidak peduli. Tunjukkan ruang Halilintar sekarang!" kesabaran wanita itu berkurang, nadanya yang memerintah semakin membuat marah Alya.
"Jaga sopan santun mu, Nona."
"Ck. Lama." ia mengambil telepon genggamnya, mencari dan segera menemukan kontak telepon yang ia cari. Dan panggilannya segera diangkat.
"Aku di perusahaan mu sekarang, jemput aku." tanpa menunggu jawaban dari lawan bicara, ia segera menutup panggilan.
"Menelepon sugar daddy mu, hm?" ejek sang sekertaris.
"Salah. Kekasihku. Halilintar. Reonald." tanpa takut ia membalas dengan senyuman remeh.
"Tuan Direktur sudah memiliki istri, dan tidak mungkin selingkuh! Jangan berbohong," sedikit heran tetapi si sekertaris lebih memilih untuk tidak mempercayainya.
"Tidak ada gunanya berbicara dengan binatang, tidak akan mengerti bahasa manusia," ejekannya cukup untuk membuat emosi lawan bicaranya meledak.
"Anda membuat saya muak, Jalang! Sekuriti, seret dia keluar!", dua pria berbadan besar menghampiri dan mencekal lengan wanita tersebut.
"Lepaskan aku, kalian akan dipecat!", tidak ada yang mendengarnya. Semua menulikan telinga masing-masing.
Ting!
Pintu lift terbuka, menunjukkan seorang pria tegap dan berparas tampan dengan iris merah delima yang tajam. Itu direktur kita!
"Lepaskan dia!"
Semua terdiam, dua sekuriti tersebut segera melepas wanita seksi itu.
"Pecat mereka bertiga." ia mendekat dan mendekap lengan pria tersebut.
"Baik, kemasi barang kalian dan berhentilah bekerja disini." dirasa mereka telah membuat kesalahan yang cukup besar dengan membuat marah sang kekasih.
"Lamban."
"Maaf, kapan kamu pulang?", ia mengusak pelan surai ungu sang wanita yang dibalas tatapan tajam.
"Kemarin," singkatnya dingin. Pria itu menghela napas, melepas jas luarnya dan menyingkap ke tubuh wanita yang dicintanya itu.
Dengan sengaja, ia malah menjatuhkan jas sang pria dengan tatapan angkuh. "Kamu akan kedinginan, Luna.." untuk pertama kali mereka mendengar tutur lembut sang direktur yang terkenal garang dan dingin itu.
"Tidak perlu."
Kini mereka telah berada di ruang kerja Halilintar. "Aku merindukanmu,," ia memeluk mesra wanita tersebut. Mencoba menyalurkan rasa cintanya.
"Aku tidak." Luna membiarkan perlakuan Halilintar terhadap tubuhnya.
"Aku tau-- Bagaimana liburanmu?" hati sang direktur sudah terbutakan akan cinta, tidak peduli apa respon yang ia terima dari sosok yang ia cintai. Luna telah menjadi miliknya.
"Tidak buruk, tapi aku rindu untuk menghancurkan mu!" kepalanya sedikit ia miringkan, ketika merasakan kepala Halilintar tenggelam di ceruk lehernya.
"Hancurkan sesukamu, tidak apa." sang pria sudah berserah diri, sedangkan Luna makin mengepalkan tangan.
"Hm"
set
Ia menggendongnya ala bridal style, menuju sofa. Luna hanya diam dan mengalungkan kedua tangannya ke lehernya.
"Aku benar-benar mencintaimu--" setelah mereka duduk di sofa_dengan Luna dipangkuannya_ ia mencium lembut bibir menggoda nan seksi itu. Balasan ia terima, bahkan sangat ganas.
"Hali,, dia tidak benar-benar--" seorang wanita berpakaian feminim nyelonong masuk ke ruangan tersebut. Dan mendapati adegan hangat yang membuat hatinya mencelos.
"Hmm-- hah..." Luna melepas tautan bibirnya. Lalu tersenyum menyeringai ketika melihat orang lain masuk.
"Haii Leona, saudarimu pulang~" jelas bahwa kalimatnya sangat sarkas.
"Ka-kak.. s-selamat datang--" ia marah tetapi tidak dapat meluapkan emosinya.
"Kau tidak lupa dengan perjanjian kita kan?
Aku kembali dan kembalikan Halilintar milikku!" Luna berdiri dan mengulang kalimatnya dulu.
"B-bisakah kakak m-mengha-pus perjanjian-- itu? Halilintar suamiku kak.." kakinya sudah tidak tahan lagi untuk berdiri. Tenaganya selalu terkuras jika bertemu dengan kembarannya yang sedikit lebih tua itu.
"Tanyakan sendiri," Luna melirik Halilintar yang tampak cuek dengan keadaan istrinya itu.
"Tidak, pernikahan kita hanya diatas kertas. Ingat itu Leona." Halilintar ikut berdiri dan memeluk pinggang ramping Luna.
"Dengar? Meskipun namanya milikmu, tetapi raga dan hatinya milikku." Kecupan mesra ia layangkan ke pipi Halilintar.
Leona menunduk sakit, ia hanya bisa menangis. Suaminya berubah setelah bertemu kembarannya tersebut.
"Lepaskan nafsumu pada istrimu itu. Biar aku yang menghabiskan uangmu." semua yang dimiliki Halilintar akan ia gerogoti perlahan hingga tandas.
"Lebih baik aku menunggumu sambil bekerja. Beberapa blackcard sudah ada di tas mu. Silahkan bersenang-senang, honey.." memang dirinya sudah sejak tadi menahan nafsu birahinya.
"Password?"
"Tanggal lahir mu," yang hanya dijawab dengan gumaman dan pergi dari tempat ini.
Menjadi wanita murahan untuk menghasilkan setiap pria didunia adalah salah satu impianku! -Luna