Ada seorang pendita terkenal bernama Begawan Wida. Rumahnya di lereng sebelah barat Gunung Wilis. Letak rumahnya sangat terpencil, jauh dari keramaian.
lstri Begawan Wida telah lama meninggal dunia. Dia kini tinggal bersama anak perempuannya yang menjelang dewasa. Anak perempuan Begawan itu sangat cantik.
Siapapun yang pernah bertemu putri sang Begawan pasti akan tertarik. Begitu pula Begawan Wida. Dia pun tertarik akan
kecantikan anaknya. Begawan Wida tidak bisa membedakan apa yang tidak boleh dilakukan seorang ayah terhadap anak
gadisnya.
"Anakku, ibumu sudah tiada. Aku sangat kesepian. Jadi, kamu jangan pergi ke mana-mana. Jangan jauh-jauh dari ayahmu, ya."
Atas kehendak Yang Mahakuasa, putri Begawan Wida pun hamil. Setelah usia kehamilan mencapai sembilan bulan, putri Begawan Wida melahirkan. Anak yang dilahirkan bukanlah manusia, melainkan seekor ular.
Karena sangat malu, putri Begawan Wida pun bunuh diri. Tidak lama kemudian
Begawan Wida meninggal pula. Daerah bekas tempat tinggal Begawan Wida, sampai sekarang, dinamakan Desa Gandayuda.
Sepeninggal ibunya, bayi ular itu sangat bingung. Dia tidak mengetahui siapa orang tuanya. Dia mencari ke sana kemari, tapi kedua orang tuanya tidak ditemukan.
Akhirnya, dia tinggal di tempat itu. Dia bertapa sampai bertahun-tahun lamanya.
Pada suatu hari di sebelah barat Desa Gandayuda, ada seorang penduduk yang menyunatkan anaknya. Mereka mencari binatang buruan ke hutan untuk keperluan perhelatan.
Mereka mengumpulkan bahan-bahan makanan yang sangat banyak. Di desa itu, jika kita datang ke suatu undangan
perhelatan, pulangnya biasanya membawa makanan. Bisa berupa nasi dan lauk-pauknya atau kue-kue.
Di hutan itu, mereka telah lelah berkeliling. Akan tetapi, binatang buruan itu tak didapatkan juga. Akhirnya, mereka menemukan ular yang sangat besar. Mereka membunuh ular itu dan dagingnya dipotong-potong, kemudian dibawa ke tempat perhelatan.
Orang desa itu tidak mengetahui kalau ular besar itu adalah anak putri Begawan Wida. Karena peristiwa putri Begawan Wida melahirkan ular sudah sangat lama.
Atas kekuasan Tuhan roh ular itu menjelma menjadi anak kecil. Anak kecil itu datang ke kampung Gandayuda. Dia minta makan, tapi tidak ada orang yang memberinya makan.
Anak kecil itu jelek, dan sakit kudisan. Orang-orang kampung itu merasa jijik melihatnya.
"Pergi kamu, jelek!" kata seorang anak kampung Gandayuda.
"Sudah jelek, kulitnya kotor dan kudisan lagi," kata temannya.
"Ayo, kita lempar," ajak anak lain lagi.
Anak kecil itu diejek oleh anak-anak sebayanya di kampung itu, kemudian dipukuli dan dilempari batu sampai badannya berdarah-darah.
Anak kecil itu berjalan terseok-seok sambil menahan sakit dan lapar. Ada seorang nenek, Nyai Latung berjalan pelahan.
Nyai Latung melihat anak itu penuh belas kasihan.
"Aduh, kasihan sekali," kata Nyai Latung sambil mengusap kepala anak kecil itu, "cepat kita pergi. Anak-anak di sini nakal," sambung Nyai Latung sambil menuntun tangan anak itu, menuju ke gubuknya.
Setelah sampai di gubuk Nyai Latung, nenek itu pun menyuruh anak kecil membersihkan tubuhnya. Nyai Latung segera mengeluarkan nasi yang diberikan orang di perhelatan
tadi.
"Makanlah, cucuku. lni ada nasi sedikit."
Anak itu segera menerima bungkusan nasi, dia langsung menyantapnya dengan lahap. Setelah makan kenyang dia bersendawa dengan nikmatnya. Setelah itu, baru dia teringat Nenek Latung.
"Terima kasih, Nek."
Anak kecil itu sangat senang atas kebaikan Nyai Latung.
"Nek, di kampung ini akan terjadi sesuatu," kata anak itu tiba-tiba.
"Ada apa, Cucu?" tanya Nyai Latung bingung.
"Begini saja, Nenek cepat-cepat sediakan lesung dan centong untuk menyelamatkan diri."
"Maksudnya?" tanya Nenek Latung penasaran.
Jika banjir muncul, Nyai Latung disuruh naik lesung dan centong digunakan sebagai alat pengayuhnya.
Setelah memberi penjelasan kepada Nenek Latung anak itu pun menghilang. Nenek
itu terkejut, kemudian ia memanggil-manggil anak kecil tersebut.
"Cu ... Cucu ... ke mana kamu? Jangan tinggalkan Nenek."
Nenek Latung menjadi gelisah. Dia selalu teringat dengan pesan anak itu sebelum meninggalkannya.
Sementara itu, si anak kecil muncul di tempat orang perhelatan. Tubuhnya sudah bersih, tidak lagi menjijikan. Dia lalu menancapkan sebatang lidi.
"Ayo, siapa bisa mencabut lidi ini?" kata anak kecil itu sambil menunjukkan jarinya.
"Aku! Aku," kata anak-anak desa itu berebut
memegang lidi.
Anak-anak itu mencoba mencabut lidi, tetapi tak seorang pun yang berhasil mencabutnya. Para orang tua juga tidak mau kalah, mereka mencoba mencabut lidi itu. Lidi itu tetap tegak, tak seorang pun berhasil mencabutnya.
Setelah semua orang kepayahan, anak kecil itu dengan mudah mencabut lidi itu, sambil berkata, "lnilah pembalasanku, hai penduduk desa yang jahat! Rasakanlah!"
Ajaib. Begitu lidi dicabut, air memancar dengan derasnya dari dalam tanah. Air makin lama makin banyak. Orang orang desa berlari ketakutan ingin menyelamatkan diri.
Mereka sangat menyesal. Mereka ingat perlakuan kasar terhadap anak kecil itu. Anak kecil yang seharusnya ditolong dan
dikasihani, mereka usir dengan kejamnya.
Namun, penyesalan mereka telah terlambat sebab air itu makin lama makin meninggi.
Melihat air makin meninggi di halaman gubuknya, Nyai Latung segera naik lesung dan mengayuhnya dengan centong,
seperti dinasihatkan oleh anak kecil itu.
Dia mengayuh lesungnya ke arah barat. Selagi asik mengayuh ingin menyelamatkan diri, anak kecil itu muncul tiba-tiba di hadapan Nyai Latung.
"Cuuu ... , kenapa jadi begini?" tanya Nyai Latung dengan wajah yang memelas.
"Nek, itulah balasan bagi orang jahat. Asal nenek tahu, saya ini telah diperlakukan dengan semena-mena. Waktu saya bertapa di lereng gunung, tubuh saya dipotong-potong dan dagingnya dimasak untuk kenduri. Lalu, saya datang ke desa ini karena kelaparan saya meminta makan, tetapi tidak ada yang memberi sesuap nasi pun. Di desa ini pula saya dihina dan disiksa."
"Kasihan kamu, Cu."
"Apa boleh buat, Nek. Kini Nenek saksikan, tanah yang tenggelam ini saya namakan Telaga Ngebel. Saya sangat sebal dan benci dengan keadaan ini. Mulai saat itu daerah tersebut dinamakan Telaga Ngebel."
Ngebel tampaknya berasal dari rasa benci dan sebal anak kecil itu terhadap keadaan yang menimpanya.
Salah satu legenda di kota kelahiran saya Ponorogo, dan sekarang menhadi destinasi wisata utama di Kabupaten Ponorogo Jawa Timur.