Tetes hujan menderas, terasa menghunjam kulit. Seolah ada ribuan serangga mencoba menggerogoti dan menyerbu tulang. Aku menghambur ke dalam halte.
Saat itu Jumat sore di mana tak seorang pun peduli urusan orang lain. Halte penuh sesak dengan pengendara motor yang menganggap hujan terlalu deras untuk diterabas, calon penumpang bis, pedagang asongan, serta pengguna jalan seperti aku.
Aku berharap Reksa segera datang, karena ada banyak hal yang ingin aku ceritakan. Setahun lebih kami tak berjumpa. Rinduku sudah beranak pinak.
Hal yang membuatku rindu, bukan wajah dan penampilannya. Ia bukan tipe foto model, atau pun idola. Namun tawanya bisa membuat hati yang dingin dan kesepian terbang, dan terluka dalam waktu bersamaan.
Hal yang paling kurindukan dari dirinya adalah, sapaan rutin 'sudah makan?'. Tentu saja itu pertanyaan basi. Semua orang yang punya mulut bisa menanyakan hal yang sama, tetapi tak ada yang seperti Reksa.
Mungkin karena momen saat dia bertanya. Ketika senja keemasan membentang di belakang kepalanya. Atau mungkin saat semilir angin bercengkerama di antara rambutnya.
Atau mungkin, aku tak butuh alasan. Seperti mengapa bintang-bintang begitu berkilauan di matanya. Atau bulan sabit terbit di sudut bibirnya.
Ketika ia bertanya, seisi galaksi seolah menghentikan rotasi dan revolusinya hanya untuk menyimak. Aku selalu punya dua pilihan jawaban. Aku bisa berkata 'tidak', hanya untuk menikmati perhatian seolah akulah pusat tata surya. Atau bilang 'ya', hanya untuk menyenangkan hatinya.
Apa pun yang aku katakan, selalu berakhir di restoran untuk makan siang sore hari. Atau makan malam yang larut. Tak peduli betapa kenyang diriku, atau betapa ketat diet yang kujalani. Sebenarnya aku bisa saja menolak makanan itu, tetapi tentu aku tak mampu menolak dirinya. Aku tenggelam, hanyut tak terselamatkan setiap kali duduk bersama lelaki itu.
Ketika kami memutuskan menjalani takdir masing-masing, aku sempat merasa limbung. Sebelum akhirnya segunung pekerjaan menjelma monster harian yang mengalihkan rasa putus asa. Hidup terus berputar, pikirku waktu itu. Tak perlu ada tempat bagi duka dan luka. Aku harus terus bergerak agar bisa bertahan.
Orang bilang, hanya butuh satu hal kecil untuk membuat sesuatu yang besar. Satu batu, untuk membangun gedung tinggi. Satu percik, untuk menyalakan api.
Aku sedang berada di kantor malam itu, terperangkap kata-kata dan paragraf di layar. Ketika mendadak, satu kata muncul dan memantik ingatan. Membakar kenangan. Satu kata itu adalah 'tidak'.
Kalimat yang aku baca adalah:
"Apa yang Anda lakukan ketika kubu lawan menuduh Anda telah membohongi konstituen? Waktu kampanye, Anda berjanji akan meninjau transportasi publik dan memperbaharui yang tidak layak. Tapi ini sudah dua tahun berjalan dan kita masih saja menghadapi persoalan yang sama serta menghadapi macet yang sama pula."
Kemudian jawabannya:
"Tidak ... Dst"
Anganku mengembara liar ke hari-hari bersama Reksa. Salah satu hari di mana kami masih bisa bertemu tanpa tekanan status. Dia sibuk membalas cuitan teman kerja, kolega, dan mungkin pengagum rahasianya, setelah membahas keluhan tentang kondisi politik denganku. Sedangkan aku, sibuk memerhatikannya. Saat dia akhirnya kembali ke dunia nyata, meluncur pertanyaan super legendaris itu.
"Sudah makan?"
Kami pergi ke kafe yang ia berkeras menunya paling enak. Dia menyarankan makanan dengan nama yang aku sendiri sulit menyebutnya. Aku juga ingat betapa aneh baik rasa maupun namanya di lidahku. Dan betapa aneh saat menemukan bagian depan Reksa kosong.
Waktu aku bertanya, itulah jawaban dia.
"Tidak."
Kurasakan amarah mengusik diriku. Amarah yang kuakui cukup bodoh dan tak perlu. Kupikir begini, dia bertanya apakah aku sudah makan. Kalau kujawab 'belum', sudah pasti dia akan mengajakku makan. Kalau kujawab 'sudah', dia tetap membawaku ke tempat makan. Kemudian dia menyarankan menu, sementara dia sendiri tidak makan. Aku merasa seleraku lenyap seketika.
Namun aku adalah orang yang mampu mengambil hal positif dari setiap kejadian. Aku berpikir, selama aku bisa bersamanya dia bisa memesan atau tidak, tidak jadi soal.
Semua itu tidak berlangsung lama. Dia menjalin hubungan dengan salah satu pengagum rahasia dan berujung pernikahan. Begitu cepat, dan tiba-tiba saja aku kehilangan senja bersamanya. Kehilangan percakapan omong kosong politik, budaya, dan seni. Kehilangan makanan dan kopi. Satu tahun aku harus merasa sendirian.
Pernah suatu hari dia mengirim pesan mengajakku bertemu, tapi kutolak. Perempuan dan laki-laki tidak pernah bisa berteman. Selalu ada membran tipis yang memisahkan kita. Jadi, meski aku rindu setengah mati baik Reksa maupun obrolan bersamanya, aku harus menolak ajakan itu. Aku tidak mau jadi pelakor.
Namun kini, setelah aku membaca kata 'tidak', aku harus melanggar semua aturan yang kubuat sendiri. Aku harus bertemu dengannya dan menuntaskan rasa ini. Mungkin setelah itu, aku bisa kembali pada diriku sebelumnya. Dingin dan jauh.
Aku mengirim pesan pada Reksa beberapa jam yang lalu. Dia setuju bertemu. Aku setuju minum kopi di coffee shop baru yang sangat ingin ia coba. Dia mendesak menjemputku di kantor, tapi kualihkan ke halte seberang agar dia tak perlu memutar arah. Baiklah, kopi dan Reksa. Segerombolan kupu-kupu di perutku mulai menari.
Suara ponsel menyeruak lamunan. Dari Reksa. Segera kuterima. Ternyata istrinya sakit sehingga acara kami harus batal.
Sudah kubilang, perempuan dan laki-laki memang tak bisa sungguh-sungguh berteman. Ketika kami menganggap 'minum kopi bersama teman', para istri seolah berpikir beberapa langkah ke depan. Aku kira mereka punya alarm natural yang terinstal otomatis. Sehingga ketika kita menghubungi suami mereka, alarm itu langsung meraung.
Jemariku menelusuri daftar kontak, lalu memilih salah satu.
"Hai, Bima!" sapaku manis saat tersambung. "Kau sudah makan malam?"
Untunglah, aku bukan tipe yang terjebak hanya di rencana A. Hidup selalu punya 25 pilihan lain, bukan? ***