Pada akhir Perang Dunia Kedua seorang prajurit tentara German hendak pulang ke rumahnya dan menelepon keluarganya.
"Halo Ayah, Ibu?" Ucapnya prajurit tersebut di telepon. "Mereka akan mengirimku pulang besok hari, maukah kalian mengurusku untuk beberapa waktu saja?"
Kedua orang tuanya tentu sangat bahagia dan senang mereka menjawab. "Tentu saja!"
"Apa boleh aku membawa teman seperjuanganku untuk tinggal bersamaku di sana?" Tanya prajurit tersebut.
"Yah tentu saja, bawa mereka kemari kita selalu menyambut teman-temanmu," Jawab sang Ayah.
"Tetapi kalian perlu tahu temanku itu dia terluka parah, mukanya hancur karena bom lalu kedua tangannya hilang serta kakinya hancur sebelah," Papar prajurit itu pada kedua orang tuanya.
Dalam telepon itu hening sejenak tak bersuara, lalu si ibu menjawab. "Baik Nak, jika hanya beberapa hari saja tidak apa kita akan kesulitan mengurusnya. Tidak bisakah dia tinggal di rumah sakit khusus prajurit perang?"
"Begitu ya, maaf jika itu merepotkan kalian sebenarnya itu adalah ak-" Telepon umum itu kehabisan waktu dan perlu uang koin untuk di masukan.
Prajurit tersebut tidak pernah terdengar lagi di mana pun, orang tuanya tidak pernah melihat kepulangan anaknya sangat prajurit tersebut.
Namun ketika orang tuanya mengunjungi rumah sakit khusus prajurit Perang, mereka melihat nama anaknya terbaring lemah tanpa tangan, wajahnya rusak, dan kakinya buntung sebelah.
***