Bunga terkadang lebih romantis daripada puisi ataupun kata-kata.
Kalimat tersebut selalu terputar dengan baik dalam benak seorang laki-laki bersurai pirang stroberi setiap kali ia memasuki sebuah toko bunga kecil bernama Spring Bloom di tepi jalan pinggiran kota Hereford, Inggris.
Kata-kata yang diucapkan mendiang neneknya sebelum kematiannya tersebut menjadi semacam mantra yang mengantarkannya jadi seorang anthophile—seorang pencinta bunga. Kini, sudah genap enam bulan sejak pertama kalinya ia membeli bunga di toko tersebut.
“Selamat sore, Miss.”
Seorang pelayan perempuan muda berbalik dari kegiatannya merapikan bunga-bunga pajangan di depan tokonya. Rambut pirang pucatnya yang sedikit bergelombang terlempar lembut, hampir saja mengenai wajah si pelanggan laki-laki yang berdiri kelewat dekat.
“Oh! Ternyata kau, Sir!” ucapnya antara kaget dan lega karena mendapati orang yang menyapa rupanya seseorang yang dikenalnya. “Maafkan aku karena tidak menyadari kehadiranmu.”
“Bukan masalah,” jawab si lelaki ringan.
“Membeli bunga seperti biasanya kan, Sir?”
“Pertama-tama, bisakah kita hentikan panggilan terlalu sopan ini? Aku bukan orang berpangkat yang pantas dipanggil Sir,” tolaknya halus.
Perempuan yang berada di pertengahan usia dua puluhannya tersebut menggeleng halus. “Toko ini mengutamakan pelayanan dan aku tetap ingin berlaku sopan, kumohon izinkan aku tetap memanggilmu begitu.”
“Tuntutan pekerjaan?”
“Ya. Akan tetapi sebagian besar dari diriku masihlah kolot. Aku dibesarkan dengan ajaran untuk sangat menghormati orang lain, Sir. Pelanggan tentu saja adalah prioritas utama dalam perkara ini jika aku adalah pelayannya,” ucap sang gadis merendah, namun malah tampak bersahaja.
“Baiklah. Aku mengerti. Sepertinya usahaku demi lebih dekat denganmu lagi-lagi kau gagalkan.”
“Maafkan sikap tidak sopanku, Sir, tapi sungguh... aku tidaklah memiliki niat seperti itu. Dimohon mengerti.”
“Kau benar. Kau sangat kolot,” katanya disertai dengusan lelah. Si lelaki lalu mengubah wajahnya sedikit lebih jenaka. “Tenang, Miss, aku hanya bercanda. Tolong jangan tunjukkan wajah mengerutmu itu lebih lama. Ingat kalau kau harus melayani pelangganmu dengan hormat, benar?”
Mengetahui kalau kalimat terakhir juga mengandung candaan maka gadis itu tersenyum geli. Ia pun mengajukan pertanyaan yang seharusnya ditawarkan sejak awal tadi. “Bunga yang ingin kau cari hari ini, Sir?”
“Amarilis.”
“Warnanya, Sir? Kami memiliki hampir semua warna hari ini.”
“Merah muda kalau begitu. Satu tangkai saja.”
Si gadis tersenyum dengan bibir polosnya yang tak terbalut pewarna bibir. Wajahnya yang tidak begitu cantik namun meneduhkan itu menghangat tatkala mengingat makna dari bunga tersebut. Cinta dan persahabatan antara lawan jenis—itulah artinya.
Perempuan yang diberikan bunga olehnya pasti sangat beruntung, benak gadis dengan warna mata biru tersebut. Pasalnya dua kali dalam sepekan lelaki itu selalu membeli bunga di tokonya, terlebih lagi bunga-bunga yang dibelinya memiliki makna perasaan cinta atau tidak pujian-pujian yang pantas untuk seorang perempuan.
“Silakan, Sir,” ucap si gadis seraya menyerahkan sepotong bunga amarilis cantik berwarna merah muda lembut.
“Berapakah aku harus membayarnya, Miss?
”
“Tidak perlu, Sir!” Gadis itu menggeleng cepat-cepat. “Pekan lalu kau membayar dengan uang besar dan aku belum memberikanmu kembalian, sisa uang itu masih cukup untuk membayar satu potong bunga ini.”
“Benarkah? Kau tidak sedang berbaik hati padaku hanya karena aku pelanggan tetap di sini, kan?”
Si gadis menggeleng geli. “Pamanku—pemilik toko ini—adalah orang yang pelit. Ia tidak mengizinkanku memberikan gratisan untuk pelanggan, bahkan yang tetap sekalipun. Sebagai keponakannya yang baik tentu aku tidak melakukan hal yang dipantangnya.”
Lelaki itu terpingkal lirih melihat bagaimana gadis tersebut membicarakan pamannya sendiri. Ia lalu berterima kasih dan meninggalkan toko bunga yang tak pernah tutup tersebut, kecuali pada hari-hari yang diselimuti cuaca buruk.
***
Lagi, si lelaki pirang stroberi kembali terlihat di Spring Bloom pada Sabtu sore. Ia melihat-lihat tanaman pot sambil menunggu buket bunga pesannya selesai dirakit. Tangannya dengan hati-hati menyentuh tanaman-tanaman hias yang ditata apik dalam pot-pot kecil.
“Apakah kau tertarik merawat tanaman hias pot, Sir?”
“Nah, aku baru memikirkannya,” jawabnya tanpa mengalihkan perhatiannya.
“Aku menyarankan tanaman dengan perawatan mudah jika kau pemula dalam hal itu, Sir. Seperti kaktus hias atau echeveria.”
“Hm...” Lelaki itu berpikir sambil menggarukkan tangannya di kepala. Ketika tak sengaja melihat jam tangannya ia langsung terperanjat. “Gawat!” serunya keras tanpa sadar. “Sudah jam segini, aku harus segera pergi. Tagihan buketnya, Miss?”
“Sisa uangmu yang tertinggal masih cukup untuk membayarnya, Sir.”
Si lelaki seketika tertegun. “Apakah aku memang meninggalkan banyak kembalian di sini?”
“Waktu itu kau hanya membeli setangkai mawar merah menggunakan nominal uang besar saat kami baru buka dan kau menolak untuk membayar di lain waktu. Sesungguhnya, Sir, kau mungkin bisa membawa pulang bunga tanpa uang sebanyak dua atau tiga kali lagi,” ungkap si gadis pelayan.
Laki-laki itu tersenyum lebar. Tak jauh darinya terdapat pot-pot besar berisi aneka ragam bunga potong. Ia mengambil sepotong bunga lili putih yang langsung diberikan untuk si gadis pelayan.
“Balasan atas kejujuranmu,” katanya, “masihkah uangku bersisa?”
“Cukup untuk dua tangkai lili lagi atau setangkai anyelir.”
“Baiklah.” Ia mengambil setangkai putih anyelir. “Untukmu juga, Miss. Semoga sisa harimu menyenangkan.”
Si lelaki kemudian pergi dengan tergesa. Meninggalkan sang gadis pelayan yang pipinya perlahan merona malu. Gadis itu menggenggam erat tangkai bunga-bunga di tangannya. Lalu, dengan tersentak ia menampar dirinya sendiri.
“Sadarkan dirimu, Gadis Pemimpi! Mana mungkin dia memberikannya secara khusus!” peringatnya pada dirinya sendiri. “Dia sudah memiliki seseorang yang selalu dibelikannya bunga-bunga itu, jadi bunga yang diberikannya padaku ini hanya hal sederhana. Lili putih yang berarti kemuliaan atas kejujuranku. Serta anyelir putih sebagai ungkapan semoga beruntung. Tidak lebih.”
***
Hari Rabu biasanya menjadi hari kunjungan laki-laki bermata abu-abu tersebut ke Spring Bloom, tapi hingga menjelang petang ini lelaki tersebut belum juga menampakkan batang hidungnya. Si gadis pelayan tanpa sadar mendesah kecewa ketika tak mendapati lelaki yang selalu mengobrol ringan dengannya itu berada di antara bunga-bunga di tokonya.
Apakah hari ini dia tidak akan mampir? Gadis itu bertanya-tanya dalam hati, entah sudah keberapa kalinya.
“Selamat petang, Miss!” ucapan salam yang agaknya terlalu keras itu berhasil menjawab pertanyaan hati si gadis pelayan.
“Sir!”
Si gadis serta merta menutup bibirnya ketika menyadari reaksinya terlalu berlebihan dalam menyapa pelanggan tetapnya tersebut. Namun, lelaki itu malah tersenyum lebar melihatnya. Ia menghampiri gadis yang duduk di belakang meja konter tersebut.
“Kau tampak senang melihatku, Miss. Atau setidaknya itulah yang ditangkap mataku yang lelah ini.”
Gadis itu berusaha menyembunyikan rona wajahnya dengan setangkai bunga yang setengah jalan dirangkainya. “Tidak salah, Sir. Hari ini toko kami sedikit sepi, jadi sangat melegakanku karena kau datang kemari, yang pastinya kau akan menambah pundi-pundi di loker uang Pamanku.”
Lelaki tersebut mendengus kecewa. “Aku akan lebih senang mendengar jawaban bahwa kau tengah menungguku alih-alih pengakuan materialistismu.”
“Maafkan aku, tetapi jawabanku berdasarkan pekerjaanku sebagai penjual bunga, Sir.”
Laki-laki itu tertawa ringan. “Aku mengerti,” ujarnya. “Jadi, Miss Penjual Bunga, aku sudah memutuskan untuk membeli sebuah bunga pot. Aku menginginkan anggrek pot yang cocok diletakkan dalam ruangan.”
Gadis itu mengerutkan keningnya dalam. Ia tak habis pikir. Anggrek pot adalah bunga yang cukup sulit perawatannya, apalagi untuk seorang pemula. Gadis tersebut menilai laki-laki itu, antara hanya ingin coba-coba atau memang tertarik dengan tantangan tersebut, karena dilihat dari intensitas kehadirannya di Spring Bloom menunjukkan kalau dia memang adalah penyuka bunga.
“Tidak mencoba dengan tanaman yang lebih mudah perawatannya dulu, Sir? Ah, bukan berarti aku meremehkan kemampuanmu. Perkataanku semata-mata hanya saran dari penjaga toko kecil ini saja.”
“Aku sengaja ingin merawat tanaman yang sulit, karena aku ingin seseorang yang ahli membantuku,” ungkap si laki-laki. “Akan menyenangkan jika aku dan dia bersama-sama merawat tanaman itu. Kedengaran romantis, bukan?”
Gadis itu mengangguk. “Memang,” gumamnya. Ia lalu menyadari sesuatu yang mengejutkan. “Oh! Jangan katakan kalau itu adalah lamaran terselubung? Seperti, ‘maukah kau merawat bunga ini bersamaku untuk sekarang dan seterusnya?’—aah, maafkan perkataanku yang lancang.”
“Tidak sama sekali, Miss. Tebakanmu benar-benar tepat sasaran.”
“Selalu memberikan bunga... dan sekarang kau mau melamarnya menggunakan cara seperti ini, tak kusangka kau orang yang sungguh romantis, Sir.”
“Biar aku ralat satu hal, Miss. Aku tidak memberikan bunga-bunga yang kubeli untuk siapa pun kecuali yang kuberikan untukmu.”
Mendadak sang gadis merasa salah tingkah. “La-lalu?”
“Pahamkah kau dengan maksudku yang selalu membeli bunga di sini berarti bahwa aku ingin mengungkapkan perasaanku kepadamu?”
“Ma-maksudmu, Sir?”
“Maksudku, aku membeli bunga baby's breath karena aku memiliki cinta yang tiada akhir untukmu. Aku membeli bermacam-macam bunga mawar karena aku memiliki perasaan kasih untukmu, juga untuk mengungkapkan puji-pujianku padamu. Atau juga ketika aku membeli berbagai bunga yang berarti kesetiaan. Itu semua karena aku ingin kau bersamaku dalam hidupku, Miss.”
Wajah si gadis merah padam. “Aku kira kau memiliki seseorang yang bukan aku dalam hatimu, Sir.”
“Tidak ada. Perasaanku tertuju padamu seorang.”
“Lalu... bunga lili dan anyelir putih yang saat itu juga?”
“Ya! Lili putih untuk mengungkapkan betapa senangnya aku bila bisa bersama denganmu. Anyelir putih untuk menunjukkan padamu bahwa kau itu gadis yang manis dan cantik, serta lugu untukku. Anyelir itu juga kumaksudkan bahwa cintaku ini suci, bukan semata-mata nafsu,” ungkap si lelaki mantap.
Ia menatap ke dalam mata sang gadis pelayan seraya mengulurkan tangan kanannya. “Jadi, Miss, maukah kau bersamaku merawat bunga anggrek itu untuk sekarang dan seterusnya?” lamarnya dengan suara rendah yang lembut serta menggoda.
Sang gadis tersentak kaget.
“Aku tidak terlalu mengenalmu kecuali bahwa kau seorang yang teramat romantis dan menyukai bunga, Sir. Jawaban pastinya akan kuberikan setelah aku lebih memahamimu nanti. Akan tetapi, sebaiknya kuberitahukan padamu kalau aku tak keberatan membantumu merawat anggrek yang kau maksudkan,” ucap si gadis dengan suara manis malu-malu, ia lalu meraih uluran tangan sang laki-laki bersurai pirang stroberi.
Wajah lelaki itu berubah semringah. Senyum lebar merekah di bibirnya. “Kuartikan kau setuju menjadi kekasihku!” katanya menggebu senang.
Gadis itu menunduk malu mendengar deklarasi status barunya yang tak hanya sekadar pelayan di toko bunga pinggir jalan, melainkan kekasih dari seseorang yang tampan.
“Di hari liburmu selanjutnya kutunggu kau di tugu jam, pukul lima sore.”
“Ke-kencan, Sir?”
“Hanya agenda jalan-jalan sore dan mungkin makan malam di restoran yang kau inginkan. Tapi, ya... begitulah orang-orang menyebutnya—sebuah kencan.”
Gadis pelayan itu mengangguk singkat sebagai jawaban.
Si lelaki pindah tempat sejenak untuk mengambil bunga primrose. Lalu diberikannya bunga itu pada sang gadis pelayan dengan senyum lembut. “Untukmu. Sampai jumpa di pertemuan besok.”
Gadis tersebut tak menjawab apa pun karena laki-laki itu sudah terlanjur meninggalkan Spring Bloom. Ia memperhatikan bunga cantik yang diberikan kepadanya. Primrose memiliki arti aku tak bisa hidup tanpamu.
Ia tersenyum manis. “Sungguh laki-laki yang romantis. Dia bisa membuatku benar-benar mencintainya dalam sekejap.”
***
Author Notes :
Hai! Salam kenal, aku adalah author baru di Noveltoon. Dan ini adalah cerpen pertamaku, jadi maaf ya jika kurang memuaskan. Tapi, semoga pembaca sekalian suka.
Ah, sekalian numpang promo ya, hehe...
Semisal ada yang suka baca cerita fantasi/aksi/petualangan, coba yuk baca di ceritaku yang judulnya Terminator Warrior. Silakan mampir dan berikan tanggapannya ya ^_^