Perhatian! Cerita tersebut mengandung unsur SARA dan Kekerasan diharap bijak dalam membaca dan berkata. Sekian terimakasih.
~~
Suatu hari hiduplah seorang wanita cantik yang bernama Velisha Putri, dia adalah pemeran utama dalam cerita ini. Velisha Putri adalah anak yang sangat malas, tapi meskipun dia malas dia anak yang tetap menjaga kebersihan dirinya. Kini dia duduk di bangku SMA kelas 11 IPA. Di sekolah dia ditandai sebagai murid yang sangat malas dan juga keras kepala, hampir setiap hari dia selalu di panggil ke ruang guru karena membuat masalah. Meskipun demikian dia adalah anak yang sangat pintar.
Hari Senin, adalah hari dimana murid-murid harus melaksanakan upacara bendera. Hari itu, Velisha dipilih sebagai penggerek bendera. Entah apa yang gurunya pikirkan membuat Velisha menjadi penggerek, padahal guru-guru di sekolah sudah sangat mengenal bahwa Velisha selalu membuat masalah.
Di lapangan.
Dhini: "Ini udah jam segini kok veli belum datang sih."
Yuri: "Iyanih, ibu sih malah milih dia, huft udah tahu kalau Veli ga beres."
"Siapa yang kalian bilang ga beres?" Ucapan seseorang yang tiba-tiba datang dengan nada angkuh.
Dhini dan Yuri sampai terbelalak melihat orang itu. Kalian tahu siapa? Ya itu adalah Velisha Putri, orang yang mereka bicarakan tadi.
Velisha: "Duhh kalian ini, padahal masih pagi udah sarapan ghibah, emang kalian ga makan apa di rumah!?" Ucapnya santai.
Dhini: "A-anu Veli maaf."
Yuri: "Cih ngapain lu minta maaf Din, dia juga yang salah datangnya telat."
Velisha: "Iya gua tau gua salah, bacot bgt ck."
Setelah itu Dhini dan Yuri terdiam dan bersiap untuk melakukan upacara.
1 jam kemudian. Akhirnya upacara bendera berlangsung dengan lancar. Untungnya Velisha tidak berbuat masalah di saat upacara tadi. Bahkan saat di kelas pun Dia hanya diam dan mengikuti pelajaran dengan baik, tidak seperti biasanya Dia selalu tertidur jika guru sedang menjelaskan.
1 bulan telah berlalu, sikap Velisha berubah drastis yang dulunya Dia pemalas kini Ia sangat rajin. Teman-teman sekolah dan guru-guru pun sangat bingung dengan sikap Velisha yang tiba-tiba berubah. Semua orang bertanya-tanya apa yang sudah terjadi dengan Velisha sampai membuat Dia menjadi berubah. Tapi tak satupun yang tahu asal-usul sikap yang berubahnya itu.
Hari Minggu pun telah tiba. Di rumah Velisha pun dikenal sebagai anak yang malas, keras kepala, cuek dan dingin, tapi tidak ada satupun yang tahu kalau ternyata Velisha sangat pintar di sekolah, meskipun memiliki temperamen yang buruk. Hari itu, ibu Velisha sedang merapikan kamar anak perempuan nya itu. Pasti kalian bertanya-tanya bukankah seharusnya Velisha yang membersihkan kamarnya sendiri? Iya seharusnya memang seperti itu, tapi ternyata Dia diminta dengan tantenya untuk menemani tantenya berbelanja.
Disaat ibu Velisha membersihkan kamar anaknya itu, tiba-tiba ibu Velisha di kagetkan dengan surat-surat yang bertumpukan di dalam box di kamar Velisha. Ibu Velisha pun membuka satu persatu surat-surat tersebut. Ibu Velisha sangat terkejut melihat isi dari surat-surat itu, karena semua surat-surat itu adalah surat panggilan dari sekolah untuk orang tua/wali Velisha. Yah pasti kalian sudah tahu apa saja isi dari surat-surat itu. Bahkan Velisha ternyata sudah pernah mogok sekolah. Entah apa yang dia pikirkan sampai ingin mogok sekolah selama 1 Minggu. Kini wajah Ibu Velisha memerah saking marahnya pada anak perempuannya itu. Ibu Velisha pun melaporkan semua itu kepada suaminya agar Velisha diberi peringatan jika pulang nanti.
2 Jam kemudian Velisha pun pulang ke rumah. Seperti biasa Velisha hanya memasang wajah datar. Padahal dia sudah melihat kedua orang tuanya menatap Dia dengan tatapan marah, Velisha pun langsung ingin masuk ke kamarnya tapi, dihentikan oleh ayahnya yang sedang menahan emosi.
Ayah Velisha: "Velisha Putri!" Panggilnya dengan nada tinggi.
Velisha pun terhenti dan berbalik menatap ayahnya itu dengan tatapan malas.
Ayah Velisha: "Kau tahu apa salahmu?"
Velisha hanya diam, karena Dia benar-benar tidak tahu apa salahnya dan juga Dia tidak teringat akan masalah yang sering dibuat di sekolahnya karena selama ini Ia tak pernah memberi tahu orang tuanya.
Ayah Velisha: "Kenapa diam saja!? Jawab!" tekannya.
Velisha: "Tidak" dengan nada yang santai dan tidak merasa bersalah.
Ayahnya pun menarik nafas dalam-dalam dan menghembusnya dengan kasar.
Plakkk.
Setumpuk surat pun dilemparkan ke wajah Velisha. Velisha pun hanya diam disaat dia dilemparkan surat oleh ayahnya itu.
Ibu Velisha: "Dasar anak kurang ajar!" bentak ibu Velisha.
Velisha hanya diam dan menundukkan kepalanya dan membaca surat yang berjatuhan itu. Velisha pun terkejut setelah membaca surat itu. Meskipun dia terkejut tapi ekspresi wajahnya tetap datar dan tidak merasa bersalah.
Ayah Velisha: "Kau memang anak yang kurang ajar, kau masih saja menampakkan wajah tak merasa bersalah itu???" tanya ayahnya dengan marah.
Velisha: "Oh kalian sudah tahu" ucapnya santai.
Plakk
Plakk
Sreettt
Dua tamparan melayang ke wajah cantik Velisha dan satu tarikan untuk rambut panjangnya.
Ayah Velisha: "Dasar anak sialan!" ucapnya sambil melempar Velisha ke tanah.
Velisha hanya diam bahkan tidak menangis. Ayah Velisha pun menendang-nendang anaknya itu sampai lemas. Ibu Velisha hanya menatap karena sudah tidak berani berkutik.
Ayah Velisha: "Jadi selama dua minggu kau kemana!? Kenapa mogok sekolah!?? Apa yang kau lakukan diluar sana!? Apa kau menjual dirimu!??" tanyanya dengan sangat marah.
Velisha: "Kenapa kau bertanya? Bukankah kau bilang kau tidak akan peduli dengan ku!??" Velisha berbicara sambil menahan sakit di sekujur tubuhnya.
Ayah Velisha: "Aku ayahmu! Aku berhak tahu, dan kau jangan memanggilku dengan sebutan itu kau pikir aku temanmu!!??" masih dengan nada marah.
Velisha: "Wah wah wah, luar biasa sekali ucapanmu itu, bukankah kau bilang aku anak pungut dan juga anak haram?" ucapnya sambil seringai.
Yah memang dari dulu hingga kini hubungan ayah dan anak itu tidak pernah akur. Yah bagaimana mau akur ayah Velisha sangat keras kepala, ingat buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.
Plak
Plak
Dua tamparan lagi menyapa pipi Velisha. Ibunya benar-benar kesal dengan ucapan Velisha, meskipun itu semua memang pernah suaminya ucapkan untuk anaknya itu.
Ibu Velisha: "Bisakah kau diam saja dan meminta maaf!!? Kau benar-benar sudah membuat ibu dan ayahmu malu!
Velisha berseringai mendengar perkataan ibunya itu.
Velisha: "Bu, kau lucu sekali" ucapnya dengan tertawa kecil.
Ayah Velisha: "Anak kurang ajar! Seharusnya kau tidak lahir di dunia ini!" kini ayah Velisha benar-benar sangat emosi melihat anaknya yang tak merasa bersalah itu.
Velisha: "Pak Abraham, enak sekali kau berkata begitu, kau pikir aku mau dilahirkan di dunia ini!? Kau sendiri yang memintaku lahir, kau juga dulu yang ingin aku ada di dunia ini. Tapi sekarang kau berkata begitu!?" ucapnya dengan nada stabil tidak tinggi.
Ayah Velisha: "Memang aku ingin punya anak perempuan tapi aku tidak ingin anak yang kurang ajar seperti mu!"
Velisha: "Astaga, pak dengar yah, jika bapak menginginkan anak, bapak harus tahu konsekuensinya. Jika bapak tidak ingin menghadapi konsekuensinya, sebaiknya bapak tidak perlu repot-repot berdoa ingin punya anak!" nada Velisha yang mulai meninggi.
Ayah Velisha pun menghantam anaknya itu dengan sapu sampai sapu tersebut patah dibuatnya. Velisha hanya diam dalam tangisannya.
Beberapa menit kemudian, Velisha pun membuka mulut untuk bicara.
Velisha: "Puas?"
Ayahnya Velisha pun menghentikan pukulannya itu. Setelah itu Velisha berusaha berdiri dan langsung segera pergi dari rumah tanpa membawa uang ataupun ponsel. Ayah dan ibu Velisha hanya melihat Velisha pergi bahkan tidak menghentikan anaknya itu.
1 Minggu kemudian, hingga saat ini Velisha pun belum pernah pulang ke rumahnya bahkan dia tidak pernah masuk sekolah. Orang tua Velisha bahkan tidak mencari anak perempuannya itu. Kini Velisha berada di salah satu gang di kota Seoul. Yah sekarang Ia sudah menjadi gelandangan. Velisha benar-benar kesal dengan kedua orang tuanya itu sampai tidak ingin pulang ke rumah lagi.
3 Hari telah berlalu. Velisha pun belum pulang ke rumahnya. Sampai-sampai orang tua nya pun sudah mulai khawatir. Dari kemarin Ibunya sudah ke sekolah Velisha untuk bertanya keberadaan anaknya itu, tapi tidak ada satupun yang tahu dimana keberadaan Velisha. Ayahnya pun memutuskan untuk melaporkannya ke Polisi. Tapi di saat mereka berlangkah keluar rumah, tiba-tiba ada dua Pak Polisi datang.
Pak Polisi: "Permisi selamat siang maaf mengganggu, apa benar bapak adalah orang tua Velisha Putri?"
Ayah Velisha: "Iya, ada apa yah Pak?" tanyanya bingung.
Pak Polisi: "Pak kami dari kepolisian pusat Seoul melaporkan kecelakaan beruntun yang salah satu korbannya adalah anak bapak yang bernama Velisha Putri. Kini anak bapak sedang di rawat di rumah sakit."
Ayah Velisha terbelalak mendengar perkataan polisi tersebut, dan ibu Velisha kini terduduk lemas di lantai. Setelah Pak Polisi menceritakan semua yang terjadi kepada Velisha, orang tua Velisha pun pergi ke rumah sakit tempat Velisha dirawat.
Kini orang tua Velisha sudah berada di rumah sakit dan sedang berdiri di samping Velisha yang terbaring lemas. Ibu Velisha menangis melihat keadaan anak perempuannya itu. Berbeda dengan Ayahnya yang membatu melihat Velisha.
Tubuh Velisha penuh dengan alat-alat bantu agar Velisha dapat bertahan hidup, keadaan Velisha sangat kritis karena salah satu organnya bocor. Memang selama ini Velisha sudah seringkali merasa sakit di bagian dada kirinya, Ia sudah sangat sering memberitahu Ibunya tapi, Ibunya tidak pernah peduli dan mengatakan itu sudah biasa. Ditambahnya dengan kecelakaan itu, membuat Velisha gegar otak. Sungguh Ibunya benar-benar menyesal akan kelakuannya kepada anaknya itu.
Ibu Velisha terus menggenggam tangan anaknya itu.
Ibu Velisha: "Veli, bangun yah nak, ibu minta maaf, tolong bangun nak" ucap ibu sambil terus mengeluarkan air mata.
Tok..tok..tok..
Terdengar suara ketukan pintu.
Pak Polisi: "Permisi Pak, bisa saya minta waktunya sebentar?"
Ayah Velisha: "Iya Pak ada apa?"
Pak Polisi: "Ini Pak" sambil memberikan sebuah kertas.
Ayah Velisha: "Maaf Pak, ini apa yah?"
Pak Polisi: "Ini adalah surat yang sepertinya ditulis oleh anak Bapak, sepertinya surat ini untuk Bapak dan Ibu."
Ayah Velisha: "Ohh."
Pak Polisi: "Kalau begitu saya pamit Pak, terimakasih."
Ayah Velisha: "Iya Pak sama-sama."
Setelah itu, Ayah Velisha membaca surat tersebut.
Isi surat: "Halo Ayah, Ibu, apa kabar? Semoga Ayah dan Ibu baik-baik yah! Oh iya Ayah/Ibu kalau udah liat surat ini, aku mau bilang terima kasih banyak sama Ayah dan Ibu, sudah merawatku dari kecil hingga besar seperti ini. Yah meskipun aku jadi anak yang keras kepala hehe.
Umm, Ayah aku minta maaf, sudah membuat ayah kecewa, maaf tidak bisa menjadi anak yang baik seperti yang ayah inginkan, maaf ayah. Tapi asal ayah tahu, Velisha itu ga pernah jual diri, waktu ayah tanya kek gitu sama Velisha, Velisha sakit hati banget, cuman yah emang sih aku yang salah. Maaf yah ayah.
Dan Ibu, aku benar-benar minta maaf aku udah banyak salah sama Ibu. Maaf sudah menjadi anak yang tidak berguna untuk Ayah dan Ibu, maaf Bu aku belum bisa menepati janji Velisha untuk beliin ibu kalung itu, tapi aku udah nabung loh Bu, jangan lupa yah Bu ambil aja uangnya di celengan yang di kamar Velisha, mungkin uangnya ga banyak tapi itu cukup kok buat ibu beli kalung yang ibu mau. Aku gak tahu kapan ibu dan ayah membaca surat ini, tapi Velisha harap ibu dan ayah memaafkan kesalahan Velisha yah, dan juga akhirnya Velisha udah gak nyusahin ayah dan ibu hehe, padahal Velisha mau berubah tapi sepertinya udah ga sempat. Tapi, Velisha seneng banget akhirnya aku gak nyusahin ayah dan ibu. Oh iya jangan lupa salam untuk kakak yah Ibu, hfft ga sempat ketemu kakak padahal Velisha rindu sama kakak, tapi ga papa, bilang sama kakak, Velisha sayang banget sama kakak. Ayah, Ibu aku juga sangat banget sama kalian, oke udah sampai sini dulu Velisha udah capek nulisnya dan juga yang punya pulpen udah mau pergi hehe. Oke Babay Ayah, Ibu, Kakak, aku sayang kalian semua."
Dari Velisha Putri anak yang keras kepala hehe.
Setelah Ayah Velisha membaca surat itu, tangisnya pun pecah dan membuat Ibu Velisha terkejut dan segera mendekati ayah Velisha.
Ibu Velisha: "Ayah kenapa? Apa yang Ayah baca?" tanyanya sedih campur bingung.
Ayah Velisha tidak sanggup berbicara dan langsung memberikan surat itu kepada Istrinya itu. Setelah beberapa menit tangis Ibu Velisha pun kembali pecah. Suami istri tersebut langsung saling berpelukan.
Tiiiittt….
Pelukan Ayah dan Ibu Velisha langsung terlepas karena mendengar suara tersebut. Suara tersebut berasal dari Elektrokardiogram yang sedang terhubung dengan jantung Velisha. Beberapa Suster pun langsung berdatangan dan juga dokter.
Suster: "Maaf Pak, Bu, silahkan menunggu di luar."
Ayah dan Ibu Velisha langsung diminta keluar bahkan sepatah katapun tidak sempat mereka ucapkan. Kini orang tua Velisha sangat panik dan khawatir akan keadaan anaknya itu. Mereka terus berdoa agar anak perempuannya itu bisa terselamatkan.
Beberapa saat kemudian, Dokter pun keluar dari ruangan Velisha. Ibu dan Ayah Velisha langsung menghampiri dokter itu.
Ibu Velisha: "Dok gimana keadaan anak saya" tanyanya sambil bercucuran air mata.
Ayah Velisha: "Iya dok anak kami baik-baik saja kan?" sambungnya sambil bercucuran air mata.
Dokter: "Maaf Pak, Bu, Tuhan sudah segara ingin bertemu dengan anak Bapak dan Ibu" ucap dokter itu dan langsung pamit pergi.
Ibu Velisha langsung terduduk lemas. Ayah Velisha pun membantu Istrinya untuk bangkit dan masuk ke ruangan Velisha. Di dalam, Velisha terlihat sedang ditutupi oleh kain putih.
Perlahan Ayah dan Ibu Velisha mendekati anaknya itu. Ibu Velisha langsung memeluk anaknya itu.
Ibu Velisha: "Velisha! Kamu ga boleh pergi nak, kamu punya janji sama ibu! Hey bangun nak gaboleh main-main, ini ga lucu ibu gak suka kamu kayak gini" ucapnya sambil memeluk erat anaknya.
Ayah Velisha; "Bu, sudah kasian Velisha nya" ucapnya sambil bercucuran air mata.
Ibu Velisha: "Tidak ayah! Ibu tahu Velisha lagi main-main. Iya kan nak? Velisha kok diam saja? Velisha bangun nak, nanti ibu beliin apapun yang kamu mau oke, kamu harus bangun oke!"
Satu jam telah berlalu, kini mayat Velisha sudah berada di rumah dan sudah saatnya pemakaman. Ibu Velisha benar-benar tak percaya apa yang terjadi dengan anaknya itu hingga membuat Ia pingsan terus menerus. Bahkan setelah pemakaman ibu Velisha masih saja terus pingsan.
Selesai.