Kan kupastikan kalian selalu bahagia. Kan kulindungi kalian dari setiap bahaya dan kesedihan yang mengintai. Apapun yang terjadi, jangan lupakan Kakakmu ini. Tetaplah bahagia, walau dunia ini kejam. Jangan terpuruk, bangkitlah. Dan mulailah melangkah kembali. Kakak kan selalu mendukung kalian. Apapun pilihan yang kalian pilih. Apapun jalan yang kalian tuju. Kakak akan mengawasi kalian dan menolong kalian saat kalian butuh. Kakak bersama kalian selalu.
Itu adalah pesan yang ditinggalkan Kak Ilya, sebelum menghilang. Tahun berganti, tiada kabar tentang Kakak. Jika dia masih hidup, semoga dia baik-baik saja disana. Jikalau memang sudah beda dunia, semoga Kakak bahagia juga disana. Namaku Hana. Aku adalah Putri sulung di keluargaku. Aku punya 3 saudara. 2 cowok salah satunya adalah Putra sulung dan 1 cewek. Saudaraku terdiri dari Putra sulung yaitu Kak Ilya, Putri sulung aku, Adek pertama bernama Hidral dan Adek paling kecil bernama Icha. Mereka keluarga yang aku cintai. Setelah ditinggal pergi Kakak, selama setahun pertama kami mengalami kesulitan. Dari masalah finansial, hampir dikeluarkan dari sekolah, dsb. Namun setelah itu, aku belajar makin giat. Supaya aku dapat beasiswa, dan meringankan beban biaya, sambil membuat kue-kue untuk kutitipkan di toko atau warung-warung. Saat aku hendak lulus SMA, aku mendapatkan beasiswa di Univertas ternama. Akupun sangat bahagia. Karena beasiswa tersebut membiayaiku hingga aku lulus.
Ketika aku lulus, ada sebuah perusahaan yang menerimaku untuk bekerja disana. Sebuah perusahaan bernama Fleur corp. Disana aku mendapatkan pekerjaan sebagai sekretaris. Aku belum tahu detail pekerjaannya seperti apa. Yang kutahu, aku bertugas untuk menangani dokumen-dokumen sebelum diberikan kembali ke Manajer. Yaa... Setahuku begitu. Okay. Kita lihat saja besok.
Esok hari pun tiba....
Jam 4, setelah selesai menunaikan shalat. Dia mulai memasak makanan untuk keluarganya. Jam 6, makanan sudah tersedia di meja makan. Siap untuk disantap. Hana mulai membantu kedua adiknya untuk bersiap sekolah. Saat kedua adiknya sudah duduk di kursi ruang makan. Hana pergi untuk membangunkan kedua orang tuanya, yang semalam begadang untuk menyelesaikan pekerjaan mereka. Saat mereka mulai sarapan.
“Hm... Masakan Kak Hana emang tiada duanya.” Celetuk Icha yang kemudian disetujui dengan anggukan dari kedua orang tuanya dan juga Hidral.
“Makasih Icha sayang, Mama, Papa, Hidral.” Jawab Hana tersipu malu.
Selesai sarapan, Hana berangkat dan tiba di sebuah Halte Bus. Terlihat sebuah mobil Mercy yang melintas. Didalamnya ada seorang laki-laki yang memakai setelan jas rapi. Dan sedang menatap ke Halte Bus yang dilewatinya. Terlihat sebuah senyuman tersungging di bibirnya.
Hana sudah berada di meja kerjanya. Setelah diberitahu tentang detail pekerjaannya. Hana pun mulai mengerjakan file-file yang diberikan padanya.
Seminggu telah berlalu, semua pekerjaan yang dikerjakan Hana beres dengan baik dan lancar.
Hingga....
“Oh... Jadi ini anak baru yang langsung jadi Sekretaris...” Ucap seorang cewek yang berdandan menor dengan baju yang ketat sambil menatap sinis ke Hana.
“Anak biasa gini?” Dipandanginya Hana dari atas ke bawah. Dan berhenti didepannya.
“Masih cantikan aku juga.” Imbuhnya dengan nada angkuh.
“Maaf saat ini sedang jam kerja, Anda siapa dan ada keperluan apa disini?” Tanya Hana datar.
“Aku itu Senior mu di Perusahaan ini. Dan urusanku untuk mengajarimu sopan santun ke Senior.” Ucapnya sambil menyentuh Hana.
“Pak Manajer, ini dokumen yang Anda minta.” Ucap Hana ke lelaki yang akan menghampiri mereka. Cewek tadi langsung pergi tanpa kata.
“Bagus. Lanjutkan kerja bagusmu.” Jawabnya.
“Baik Pak.” Hana pun tersenyum.
Beberapa bulan kemudian...
Tiba-tiba ruangan di lantai atas meledak dan menyebabkan kebakaran yang merambat ke lantai bawah. Alarm tanda kebakaran berbunyi. Hana yang waktu itu sedang di toilet tak mendengar alarm itu. Dia hanya mendengar suara panik orang-orang dan derap langkah kaki yang terburu-buru. Hana pun keluar dari toilet dan melihat lantai tempatnya berada mulai terbakar.
Dia langsung menuju ke pintu keluar, namun pintu tersebut terhalang oleh api. Hana yang kebingungan mulai panik dan sesak nafas. Tapi dia mendengar suara orang yang ia sayangi.
“Hana? Hana! Sadar.” Namun kelopak matanya terlalu berat untuk melihat asal suara itu. Hana merasa badannya melayang.
Seminggu kemudian....
Bip...Bip....
Suara monitor Holter itu mengisi ruangan putih yang hanya diisi lemari kecil berhias bunga dalam vas serta beberapa kursi dan tempat tidur yang terlihat seseorang sedang berbaring disana. Orang itu terlihat membuka matanya perlahan. Terlihat sesosok laki-laki yang berdiri menatap keluar jendela. Dia pun langsung menoleh saat melihat pergerakan orang yang terbaring itu.
“Hana sudah sadar?” Ucapnya sambil mendekat.
‘Suara ini, terasa familier.’
“Hana jangan banyak bergerak dulu.” Ucap lelaki tersebut sambil membantu Hana untuk duduk bersandar.
“Nih. Minum dulu Na.” Imbuhnya seraya memberikan segelas air putih ke Hana.
Hana yang pandangan matanya masih kabur meminum air tersebut secara perlahan. Saat selesai minum. Pandangan Hana sudah jernih dan jelas. Dia pun langsung melihat wajah lelaki yang sedari tadi menatapnya dengan kasih sayang. Tak terasa, air mata mulai menetes dari mata Hana.
“Ka...k.. Ilya...?” Ucap Hana dengan terbata karena tak percaya dengan apa yang dia lihat.
“Iya Na. Ini Kakak.” Ucap cowok tersebut dengan lembut.
Senyuman itu. Suara itu. Raut wajah yang hangat. Hana merindukan itu semua. Semua yang dimiliki oleh sesosok orang yang selama ini dicarinya, Kakak laki-lakinya. Walau wajahnya terlihat lebih dewasa sekarang, tapi Hana ingat suara Kakaknya.
“Kakak... Kakak ke mana saja? Kakak baik-baik saja kan? Ka...” Suara Hana terhenti oleh Isak tangisnya. Air matanya tak bisa terbendung lagi.
“Kakak selama ini mengawasi kalian kok.” Jawabnya.
Kak Ilya bercerita, jika selama ini dia diadopsi oleh Kakek dari keluarga jauh kami. Dia dididik dan dibesarkan untuk menjadi penerus. Penerus perusahaan-perusahaan besar yang dikuasai Kakek tersebut. Salah satunya Fleur corp. Dan kami digunakan sebagai ancaman, jika dia tak menurut. Namun, semua itu sudah selesai. Saat sang Kakek meninggal. Kak Ilya mengambil alih semuanya. Dan tiada yang berani menentangnya.
“Jadi yang selama ini membuat keluarga kita terpuruk itu, Kakek itu Kak?” tanya Hana.
“Begitulah, Na. Tapi Kakak tak akan membiarkan kalian menderita.” Ilya berkata sambil menyeka air mata Hana dengan sebuah saputangan.
Hana jadi ingat, nama yang tertera di surat Beasiswa yang ia dapat dulu serta job proyek yang ditangani oleh kedua orang tuanya selama ini. Itu semua dari Fleur corp. Hana merasa lega, karena ternyata selama ini Kakaknya tidak meninggalkan mereka. Karena hampir semua kerabat dan orang sekitar mengatakan itu. Tapi dia dan keluarganya tidak percaya akan hal itu.
“Berkat pesan yang Kakak tinggalkan. Hana nggak menyerah, lho.” Ucap Hana dengan bangganya.
“Adek Kakak memang hebat.” Puji Ilya.
“Syukurlah Kakak masih hidup.” Ucap Hana dengan mata yang sembab, sembari memeluk Kakaknya.
“Kakak pulang Hana.” Ilya pun tersenyum dan mengusap rambut Hana.
Setelah diselidiki, ternyata ledakan itu berasal dari mesin fotocopy yang konslet. Beruntungnya tiada korban jiwa.
Setelah sebulan dirawat, Hana akhirnya bisa pulang kembali ke keluarganya. Bersama Kakak yang selama ini mereka cari.
Seorang Kakak tak akan membiarkan Adiknya sedih, sejahil maupun senakal apa Kakaknya itu pada Adiknya. Dia akan selalu melindungi Adiknya. Dan takkan membiarkan kesedihan menghiasi dunia yang dimiliki Adiknya.