Mencintai seseorang adalah sebuah hal yang sangat menakjubkan, apalagi jika orang yang kita cintai juga mencintai kita. Namun berbeda dengan seseorang yang hanya bisa memendam rasa cintanya. Karena satu dan beberapa hal yang membuatnya lebih baik untuk menjadikan cintanya itu rahasia. Dan dimulailah cerita cinta dalam diam, yang hanya bisa mencintai tanpa berbalas...
Nea, seorang siswi SMA sedang membaca buku sambil sesekali melihat ke arah seorang cowok yang sedang berbicara dengan orang lain. Dia adalah Neo. Teman Nea sejak di Semester awal. Disaat Nea sedang fokus baca buku, tiba-tiba dia dikagetkan dengan sapaan seseorang yang sangat familiar.
“Hai, Nea.” Sapa Neo yang sudah ada dihadapannya.
“Ah? Neo. Buat kaget aja.” Seru Nea.
“Kamu sih. Fokus amat baca bukunya. Baca buku apaan sih?” Neo melihat cover buku yang dipegang Nea.
“Cuma novel aja. Ada apa Neo?” Jawabnya sambil tersenyum menatap wajah temannya itu.
“Ah! Itu. Kita disuruh Pak Dani untuk mengumpulkan tugas yang sudah diberikan tadi.” Neo berkata.
“Nih. Aku sudah selesai.” Ucap Nea sambil menyodorkan buku berisi tugas.
“Okay. Thanks, Ne.” Neo nyengir sambil mulai mengumpulkan tugas anak sekelas.
Itulah Neo, orang yang dicintai Nea selama setahun ini, sejak awal bertemu. Neo yang baik dan juga ramah. Ringan tangan dalam membantu semua orang. Termasuk Nea. Ada kalanya Nea ingin mengutarakan isi hatinya. Namun, semua itu terhalang oleh....
“Neo, Beb. Ntar antar aku pulang ya.” Ucap seorang cewek pada Neo.
“Iya Sina.” Neo mengiyakan pinta cewek tersebut.
Nea hanya bisa mendengus menyaksikan itu semua. Hanya bisa merasakan kesal. Ya Nea hanya teman Neo. Sedangkan Sina, dia adalah pacar Neo. Cewek yang Neo sukai dan dia sayangi. Walau menurut Nea, Sina tidak seperti Neo. Yang mana Neo menganggapnya berharga, dsb. Tapi apalah daya, Nea hanya bisa melihat tanpa berani bilang. Dia takut hal itu akan membuat dirinya jelek dan Neo jadi benci padanya.
“Biarlah aku hanya jadi temannya, selama aku bisa selalu berada di dekatnya.” Batin Nea.
Hari demi hari berlalu. Nea tetap memandang Neo dari jauh. Setahun telah berlalu. Tiba saatnya ujian akhir sekolah. Kelulusan di depan mata. Saat Nea beranjak keluar kelas dan melihat Neo yang sedang merenung dengan raut wajah yang sedih. Nea pun mendekatinya dan bertanya....
“Kau kenapa Neo?”
“Ah? Aku nggak papa kok Ne.” Ucap Neo dengan tersenyum menyembunyikan kesedihannya.
“Baiklah. Jika ada masalah, aku siap mendengarkan kok. Kan aku sahabatmu.” Nea berkata sambil tersenyum ceria.
“Jadi gini, Ne...” Neo mulai bercerita. Bahwa dia ingin kuliah di luar kota, namun Sina pacarnya itu nggak ngebolehin. Sampai ngancam lebih baik putus daripada LDR. Neo pun jadi bingung karena itu.
“Hm...” Nea berpikir.
“Sabar ya Neo. Jika dia emang bener-bener sayang kamu, maka dia nggak akan egois. Apalagi sampai ngancam begitu. Apalagi itu sudah keinginanmu dari dulu.” Nea pun menepuk-nepuk pundak Neo.
“Hu’um.” Neo mengiyakan dengan lemas.
“Yang semangat dong sayang.” Kata Nea keceplosan, seketika refleks menepuk pundak Neo terlalu keras.
“Sakit Ne ...” Neo protes.
“Ups ... Sorry ...” Nea nyengir sambil berlalu. Kabur sih.
Selesai acara kelulusan sekolah. Mereka pun berkumpul untuk saling berfoto, dsb.
Terlihat Neo sedang berdebat dengan Sina.
“Yodah pergi sana, kita sudah nggak ada hubungan lagi. Dan aku udah punya pacar baru yang lebih baik darimu.” Perkataan Sina menghancurkan hatinya. Neo pun berjalan linglung meninggalkan area sekolah. Nea mengikutinya dari belakang. Hingga...
“NEO. AWAS!!” Sebuah teriakan membuyarkan lamunan Neo. Saat membuka mata, yang dilihatnya adalah Nea yang sudah tertabrak mobil dan dirinya terduduk di tepi jalan. Bergegas Neo mendekati Nea.
“Ne ...?!” Dirangkulnya tubuh Nea yang tak sadarkan diri. Dilihatnya beberapa kertas yang berserakan di sekeliling Nea.
"Hai Neo ... Neo jangan putus asa. Walau dia meninggalkanmu, Neo pasti akan menemukan yang lebih baik darinya. Jangan khawatir, aku akan selalu menemanimu kok. Neo jangan sedih ya. Kalau sedih dan murung terus, gantengnya ilang lho. Hehe... Becanda kok. Semangat terus Neo. Aku kan selalu berdoa untuk kesuksesanmu. Dan aku kan selalu mengawasimu dari jauh."
Sahabatmu
Nea
Neo pun tersadar, selama ini ada yang menyayanginya dan selalu ada untuknya. Neo pun menangis, bersamaan dengan hujan yang mengguyur mereka.
Beberapa hari kemudian...
Terlihat Neo sedang berjongkok sambil memandang sebuah makam. Kelopak bunga menghiasi permukaannya. Neo pun berdiri sambil berkata.
“Awasi aku dari sana...” ucapnya lirih sembari berjalan pergi.
Neo berjalan dengan langkah yang ringan. Sampai tiba ditempat yang ia tuju. Masuklah dia ke sebuah ruangan tempat dimana seorang gadis sedang asyik makan roti, tanpa sadar ada yang memasuki kamarnya.
“Kalau gini sih nggak lama lagi dah bisa pulang.” Ejek Neo pada gadis tersebut. Gadis itu pun menoleh dan menatap Neo.
“Ah?! Neo.” Ucapnya dengan riang sambil melambaikan tangan tanda untuk Neo mendekat.
“Gimana tempat kuliahnya?” Tanyanya dengan penasaran.
“Bagus. Aku suka. Disana juga banyak cewek.” Jawab Neo.
“Asyik dong. Neo ntar terkenal lagi disana.” Gadis itu mulai cemberut.
“Hehe. Nggak nggak, Ne.” Neo tertawa melihat reaksi Nea.
“Nea. Maukah kau jadi milikku?” Tanya Neo tiba-tiba.
“A...” Nea tertegun dan kaget mendengar ucapannya.
Neo menunggu sambil H2C.
“Aku mau. Dan asal kau tahu. Hatiku sudah jadi milikmu sejak lama.” Jawab Nea sambil berurai air mata.
“Terima kasih Ne ... Sudah ada untukku selama ini.” Neo pun memeluk Nea.
“Aku lakuin itu semua untuk selalu melihatmu bahagia, Neo. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga.” Nea berkata dengan senang sambil balas memeluk Neo.
3 tahun berlalu....
Neo sudah lulus dan sudah diterima di perusahaan yang ada di Amerika. Suatu hari, dia pun pergi makan malam bersama Nea di sebuah Resto terkemuka. Selesai makan. Neo mulai berlutut dengan satu kaki dan mengatakan...
“Nea... Will you marry me?” Sambil membuka kotak berisi cincin.
Nea terharu. Hingga meneteskan air mata dan bilang....
“Off course, Dear.” Nea pun langsung memeluk Neo dengan bahagia. Tanpa ingat sekitar. Saat tersadar Nea pun malu.
Seminggu kemudian....
Mereka berada di pemakaman dan menatap makam yang waktu itu Neo kunjungi. Setelah mereka berdua berdoa. Neo mulai bicara.
“Ma... Ini Nea. Calon Istriku. Neo sekarang nggak sendirian lagi. Mama tenang aja ya disana.”
“Tante, restui kami ya. Saya janji akan membahagiakan Neo dan selalu menemaninya.” Ucap Nea yang dijawab oleh angin semilir
Sebulan kemudian mereka resmi menjadi pasangan Suami Istri dan saling menemani dalam suka maupun duka.