Pagi menjelang siang, Nyana sudah rapi dengan gamis dan jilbab yang bertengger di kepalanya. Gadis perantau dari kalimantan Selatan itu, kini sedang berjuang mengemban pendidikan S1 di Ibu Kota.
Hidup seorang diri tentu saja tidaklah mudah apalagi jauh dari kedua orang tua dan sanak saudara.
Sebelum berangkat kuliah, Nyana bersiap dengan jualan alakadarnya. Ia menyiapkan meja dengan lemari kaca kecil, untuk menaruh jualan perlengkapan sekolah serta jajanan ringan dan minuman. Kebetulan kontrakan yang ia tempati bersampingan dengan sekolah dasar ( SD ) hanya terhalang satu bangunan saja.
Dengan semangat 45, Nyana bersiap menyambut rejeki, ia duduk di teras rumah yang sudah tersedia kursi dan meja, untuk para pembeli yang ingin stay santai sambil makan-makan.
Merasa bosan hanya berdiam sendiri, Nyana pun menyibukkan dengan bermain Hp, sembari menunggu Ayu— remaja berumur 15 tahun yang bekerja padanya. Ayu, adalah anak Mpok Tika, gadis itu putus sekolah karena tak memiliki biaya, jadi ia hanya menganggur dan karena Nyana juga sibuk kuliah jadi tidak memungkinkan untuk ia selalu menjaga kedainya di pagi hari kecuali sore-- sepulang kuliah dan juga weekend.
Mpok Siti yang punya kontrakan datang tanpa dipanggil sudah seperti Jailangkung saja. Wanita paruh baya itu datang pasti ada niat terselubung? Entah menagih uang sewa atau minta tolong mengantar pesanan nasi kuning untuk dibagikan ke penghuni kontrakan.
( Jadi pembayaran kontrakan ada 2 tipe yah ada yang langsung dapat makan dan ada yang nggak. Dan tentu yang pakai makan 3× sehari bayar kontrakan nya lebih mahal. )
"Assalamualaikum neng Ana," panggilan beserta perintah pastinya sudah hampir satu tahun lebih mengalun ditelinga Nyana, semenjak ia mulai mengontrak rumah.
"Wa'alaikumsalam, iya mpok taruh aja keranjang nasinya di sana nanti Ana, bagikan!" jawab Nyana cepat yang sedang berbalas pesan dengan Rasti.
"Eneng tau aja, padahal Mpok belum ngasih tau juga, makasih yang neng Ana, Mpok pulang dulu," pamit wanita itu.
Nyana sebenarnya jengkel setiap hari disuruh membagikan nasi kuning ini ke penghuni lainnya dan karena imbalan uang sewa dipotong jadinya Nyana hanya bisa mengiyakan saja, hitung-hitung menghemat biaya hidup pikirnya.
Segera gadis itu memakai sendal Swallow sejuta umat yang pernah ngetrend karena dipakai personal EXO. Dengan menjinjing keranjang ia sudah siap untuk mengetuk pintu ke pintu hanya untuk menuntaskan tugas khusus si juragan kontrakan.
•••
Di kampus universitas xxx jurusan xxx Nyana tekun belajar mendengarkan penjelasan dari dosen yang mengajar. Sekitar 90 menit makul pertama selesai juga.
Gadis itu ditemani Rasti dan Sinta mereka langsung menuju kantin untuk mengisi perut yang keroncongan minta di isi.
"Hoam..., gue ngantuk tapi laper nih, lagian pak Halim kelamaan ngajarnya, bosan gue," celetukan Sinta yang dibalas toyoran dari Nyana dan Rasti.
"Gak usah kuliah lo sekali an, kalau bosan! " sahut Nyana. Dari mereka bertiga hanya Sinta yang selalu rempong saat ada makul pak Halim, alasannya pasti karena bosan dengan cara belajarnya yang lama padahal itu sudah standarnya.
"Btw pulang kuliah mau kemana nih?" tanya Rasti di sela kunyahan-nya.
"Gue seperti biasa-- pulang mau jaga kedai gantiin si Ayu," ucap Nyana.
"Ikut.." ucap Rasti dan Sinta kompak. Kedua gadis itu ikut hanya mau numpang makan gratisan saja sambil memantau cogan penghuni kontrakan sebelah tentunya.
•••
Tepat pukul 15.00 makul kuliah sudah selesai ketiga gadis itu langsung bertolak ke rumah Nyana. Sebelum pulang mereka sempatkan membeli martabak telor dan batagor untuk teman makan di rumah Nyana nanti.
Sesampainya di jalan gang hendak masuk kontrakan, Rasti dan Sinta berebut siapa yang lebih dulu sampai di rumah Nyana, dengan bar-barnya mereka berlarian, meninggalkan si empu rumah yang masih tertahan di jalan.
Nyana hanya menggeleng pelan kepalanya, segitunya Rasti dan Sinta jika berkunjung-- lebih tepatnya sih melihat pemandangan? Iya pemandangan penghuni kontrakan depan rumah Nyana yang gantengnya ngalahin artis Korea katanya?
Masih berjalan santai menuju rumahnya. Kaki Nyana terhenti saat mendapat panggilan dari Pak Ijo, sesama penghuni kontrakan yang berada tepat di sebelah kontrakan Nyana.
"Neng Ana, bantuin paman bentar," panggil dan pinta Pak Ijo melirik tangga. Nyana paham arti dari lirikan itu, segera ia turun tangan membantu tetangganya yang butuh bantuan.
"Iya Mang," sahut Nyana memegang tangga. Pak Ijo lekas naik lalu memperbaiki parabola. Nyana pun berlalu pulang ke rumah berganti pakaian dan bergabung dengan kedua temannya yang mesem-mesem memantau penghuni depan rumah kontrakan Nyana siapa lagi kalau bukan Albiru.
Tampan sih iya, tapi tetap aja orangnya dingin dan jutek. Ngeri lah pokoknya!
Jadilah akhirnya mereka beramai-ramai duduk di teras sambil makan martabak telor dan batagor. Sedang Ayu hendak pamit pulang karena jam kerja sudah habis diganti dengan Nyana dan temannya.
"Besok gak usah dagang Yu, aku gak ada kampus," ucap Nyana menyodorkan kresek makana dan upah jaga Ayu.
"Iya, makasih kak, Ayu pamit pulang, Assalamualaikum," ucap Ayu lalu berjalan meninggalkan rumah kontrakan Nyana.
"Wa'alaikumsalam."
Mereka makan sambil berbincang-bincang. Pak Ijo yang ada di atas genteng pun hendak turun setelah urusan dengan parabolanya selesai. Beliau celingukan mencari orang yang berlalu dijalan gang itu, namun tak di dapati-nya satu orang pun. Pak Ijo pun berteriak pelan memanggil tetangganya—Nyana untuk membantu beliau lagi.
Nyana tak mendengar panggilan Pak Ijo saking asiknya ngobrol dengan Rasti. Sedangkan Sinta, gadis itu kebetulan sedang memetik cabe di samping rumah, untuk sambal pencok.
Mendengar suara yang terus menyebut, memanggil nama temannya. Sinta pun menolehkan pandangan dan ternyata Pak Ijo si tetangga Nyana, itu hendak minta tolong, untuk menahan tangga lagi. Segera Sinta berjalan menghampiri kedua temannya, dan menyenggol bahu Nyana lalu menyuruhnya, untuk membantu Pak Ijo.
Dan pada saat itu pula Biru baru saja tiba dikontrakkan sepulang kerja dengan menenteng satu bonggol kembang kol yang entah mau diapakan nya.
Biru melihat tetangganya yang hendak turun namun tertahan karena tidak ada yang menahan tangga agar tak bergerak, akhirnya ia pun mendekat dan langsung sigap memegang tangga agar Pak Ijo bisa turun.
"Makasih Biru, paman masuk dulu ya," pamit Pak Ijo masuk ke rumahnya.
Nyana yang melihat Pak Ijo sudah dibantu biru pun melenggang berbalik ke kontrakan namun dicegah oleh Biru.
"Ana aku mau ngomong!" ucap Biru. Nyana mengehentikan langkahnya tanpa membalas ucapan Biru.
Albiru kini berdehem dan menegakkan diri. "Maaf kalau aku terlalu lancang. Sepertinya kamu memang canggung sama aku. Jadi aku perkenalkan ulang diriku. Rafendra Albiru Ananta, umur 28 tahun, karyawan swasta, gaji UMR, mengontrak rumah di depan rumah calon istri. Asal dari Jakarta. Mencari istri yang bisa diajak hidup sederhana.”
What? Nyana mengernyitkan kening mendengar ucapan Biru. Dalam hati dia bertanya kenapa tetangganya itu, berbicara panjang sekali, saat mengenalkan identitasnya. Dan apakah ini yang dinamakan jodoh 5 langkah. Ana dilamar seorang lelaki yang ternyata tetangganya sendiri.
“Gimana? Terima atau---,” ucap Biru lagi menyadarkan Nyana dari lamunan sesaat nya.
Rasti dan Sinta hanya memandang jauh di teras rumah Nyana. Mereka hanya memantau dua manusia yang lagi berbicara perihal apa? Mereka tidak tahu karena tak mendengar, hanya melihat gerak-geriknya saja.
Huft..., menarik pelan napasnya Nyana berpikir dan merangkai kata apa yang akan ia ucapkan. “Gak etis banget sih Om! Masa ngelamar di bawah tiang parabola. ” Biru seketika mendongak melihat sekeliling! Benar saja ternyata mereka berdua sedang berdiri tepat di bawah tiang parabola.
Niat sepulang bekerja hendak melamar dengan gaya keren plus pakai kembang kol pengganti mawar jadi kepending ngebantuin megang tangga Pak Paijo yang lagi benerin Parabola sejuta umat.
Biru berdehem sebelum berucap panjang lebar. “Dengerin ya dek, kata orang niat yang baik itu harus disegerakan, jadi sekalipun ngelamar di tiang parabola, jemuran, jembatan sekalipun yang dilihat Itu niatnya bukan lingkungannya.”
Bullshit...
“Gak bisa gitu juga dong Om, masa ngelamar nggak lihat sikon? Andai nih Om jadi cewek terus dilamar di TPA kan gak etis? Masa penontonnya penghuni kuburan semua! Lagi ini mau nya-yur atau gimana sih, kembang kol dibawa-bawa.” Gadis yang baru menginjak umur 19 tahun itu terus menggerutu panjang lebar.
“Itu kamu yang berandai? Sedang ini aku yang ngelamar, jadi kamu terima gak, cuman jawab Iya atau Tidak!” dengan tangan yang masih memegang tangga bekas Pak Paijo tadi, sekaligus tangga juga akan menjadi saksi lamaran terkonyol Albiru makhluk berjenis laki-laki keturunan Adam dan Hawa yang lagi bersitegang perihal lamaran. Membangongkan 🤣
Nyana menimbang jawaban apa yang akan ia ucapkan. Dari segi rupa jelas ia tidak cantik, kayak pun gak pas-pasan baru iya, eh? 😂 Lalu apa yang membuat lelaki yang baru dikenalnya beberapa bulan dan tengah mengontrak tepat berhadapan di depan rumahnya itu tertarik hingga melamarnya?
“Om suka aku, karena apa?” Nyana masih mencari opsi jebakan kalau ada yang gak sinkron dan mencurigakan kan langsung bisa menolak, pikirnya.
“Aku suka kamu apa adanya terutama nasi kuning buatan kamu. Enak!”
Gadis itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dalam hal ini berarti rasa masakan yang menjadi daya pikat tapi masalahnya nasi kuning itu bukan buatan Nyana tapi Mpok Siti. Sedang Nyana hanya bantu membagikan ke penghuni kontrakan saja.
“Nah.. harusnya om itu lamar Mpok Siti dong, karena nasi kuning yang sering Ana kasih itu bikinan Mpok. ”
Duerrr...
Note : Sekedar informasi
{ Peta Konsep }
[ SD 🏫 ] "🏘️" ( 🏠 Nyana )🏠 --- JR 🛣️
🏠 🏠 ( 🏠 Albiru ) --- 🏠 🏠 🛣️
[ Info Rumah Nyana itu dekat jalan Raya tapi masuk ke gang dalam? Disana banyak kontrakan yang saling berhadapan dan juga ada sekolah SD sama TK Al-Qur'an jadi rekomendasi banget itu kontrakannya. ]
Cerpen Halu cuman karangan karena iseng.
Terlepas dari akhir cerita apapun yang aku buat itu hanya karangan. Meskipun mencantumkan nama ku sebagai pemainnya tapi dalam keadaan sebenarnya diri ku tidak seperti itu bahkan jauh, masih banyak lagi perjuangan ku. Andai kalaupun ada aku hanya bisa mengucapkan terimakasih.
Aku bukan penulis handal hanya sekedar mengasah kemampuan dan untuk sarana hiburan. Yeah semua orang berbeda-beda dalam mencari kesenangan. Mungkin di dunia fiktif, online aku orangnya hamble, homur dan bar-bar. Tapi jika berhadapan langsung tak ada ciri khas itu.