Pada tahun ini Eira ingin menikmati liburannya bersama dengan kedua orang tuanya dan saudaranya, karena tahun lalu Eira tidak dapat menikmati liburan bersama kedua orang tuanya karena pandemi yang sedang dialami oleh negari.
Tahun lalu Eira hanya berlibur kekota S untuk mengunjungi saudara kandungnya yang juga berada dikota S pada saat itu. Ia terpaksa menahan rasa rindunya kepada kedua orang tuanya demi kebaikan bersama.
Ia menyambut hari natal dan tahun baru bersama saudaranyanya dikota S. Semuanya terasa sangat berat karena itu merupakan tahun pertama Eira merayakan natal dan tahun baru tidak bersama kedua orang tuanya.
So, please take care Readers! (づ ̄ ³ ̄)づ
......
Kota Y pukul 4 sore
Eira sedang packing untuk perjalanan panjang yang akan ditempuhnya hari ini. Banyak hal yang ia persiapkan, mulai dari packing pakaian untuknya hingga untuk keluarganya. Hmmm mungkin biasa kita sebut oleh oleh untuk keluarga.
Oleh oleh yang dia belipun tidak begitu mahal, mungkin uang satu juta saja sudah cukup memenuhi satu kopernya yang berukuran 5kg. Tapi tentu saja uang satu juga itu tidak Eira habiskan, karena ia juga harus membeli tiket keretanya malam ini.
Ia berencana akan ke kota S malam ini dan berlibur bersama suadaranya beberapa minggu disana. Yaah... Walaupun dia tidak begitu terbiasa dengan gaya hidup saudaranya yang berada disana, tapi dia tetap sangat suka menghabiskan waktunya dengan kebersamaan saat bersama saudaranya.
Dan yang paling ia sukai adalah..
Ia paling suka saat bergosip bersama saudaranya, karena mereka akan membicarakan keburukan orang hingga keburukan mereka sendiri. Hingga berujung adu mulut antar saudara yang biasa terjadi hahaha, tapi syukurnya mereka semua pandai menyikapi adu mulut yang mereka utarakan.
Dan disetiap perjalanan seperti ini, pasti selalu ada drama yang terjadi, begitupun dengan Eira. Drama yang dialami kali ini adalah ia harus ketinggalan keretanya karena terlalu lama menunggu ojek online pesanannya. Dimasa libur seperti ini jalanan dikota Y memang lebih macet daripada biasanya, karena disaat hari libur seperti ini kota ini selalu dipenuhi oleh turis.
Yang membuatnya semakin lama karena harus dia sambil mencari oleh oleh makanan khas dari kota itu untuk orang tuanya dan makanan yang dibeli harus tahan lama karena Eira akan kekota S terlebih dahulu.
Akhirnya setelah hampir satu jam terlewat, akhirnya Eira sudah berangkat menuju stasiun. Eira sudah memesan tiket untuknya lagi melalui aplikasi yang ada diponselnya.
Eirapun memasan ojek online lagi, karena tidak mungkin ia berjalan kaki menuju stasiun dan membawa badang bawaannya.
"sesuai aplikasi mbak?" tanya supir ojek online tersebut dengan sopan
"iya pak, tolong agak cepat ya pak.." pinta Eira dengan senyum ramahnya walaupun tetap tersirat kecemasan diwajahnya.
Sepenjang perjalanan Eira merasa resah karena takut akan tertinggal keretanya lagi, sudah 250k melayang sia sia karena kelalaiannya. Kali ini dia hanya berusaha untuk tiba lebih cepat agar hatinya pun merasa lebih tenang saat menunggu kereta tiba.
Tepat pukul 7 malam Eira tiba distasiun terbesar dikota itu.
"terima kasih pak" ucap Eira sopan
Ia memberikan beberapa lembar uang kepada supir tersebut.
Jangan tanya berapa harga yang harus dibayar oleh Eira, yang jelas harganya cukup mahal karena jarak dari rumah Eira menuju stasiun cukup jauh, ditambah sekarang adalah masa libur. Tapi untungnya juga ada promo yang didapat karena hari libur.
Setelah membayar Eira langsung bergegas keluar dari mobil. Supir tersebut membantu Eira mengeluarkan koper dan oleh olehnya dari bagasi mobilnya.
Eira berjalan melalui kerumunan orang orang yang juga siap untuk menikmati liburan bersama keluarga mereka. Eirapun harus kembali mengantri dan berdesakan bersama penumpang lain yang ingin mencetak tiket yang sudah dipesan.
Tapi tiba tiba saja seorang ibu menerobos antrian dan langsung melewati beberapa penumpang, jelas itu membuat orang menjadi geram.
"bu, kita yang duluan mengantri kenapa ibu yang baru datang langsung masuk?" tanya seorang perempuan dengan nada sarkas kepada ibu itu
"saya buru buru mbak! Misi!" bentaknya sambil terus menerobos antrian orang lain
"yang lain juga buru buru ibu!" geram orang lain ikut merasa gemas dengan ibu itu
"pak!" panggil seorang pria dibelakang Eira memanggil satpam
"pak tolong ibu itu di disiplinkan ya" ucapnya lagi saat satpam yang bertugas sudah datang
Akhirnya satpam tersebut membawa ibu tadi dengan paksa karena ibu itu masih terus memberontak. Eira hanya menyimak perdebatan orang lain, karena ia sudah cukup lelah dengan drama yang dialaminya hari ini. Mungkin saat dikereta nanti Eira hanya akan tidur karena bergadang menyiapkan segala keperluannya tadi malam.
Setelah mengantri cukup lama, akhirnya Eira sudah selesai dan kini Eira tengah duduk diruang tunggu sembari menanti kedatangan kereta tumpangannya.
Eira duduk sambil memainkan ponselnya, sesekali ia tertawa cekikikan dan kadang ia juga hampir menangis karena terharu.
"mbak tujuan kemana?"
Tiba tiba saja seorang bapak bapak memecahkah keasikan Eira bersama gedgetnya
"kota S pak.. Bapak tujuannya kemana?"
Eira juga ikut bertanya kembali dengan ramah, ia tak ingin mendapat kesan 'anak tidak tahu sopan santun' atau 'sombong'.
"oo sama mbak, tiketnya jam 8?"
Bapak itu bertanya dengan excited, seolah tengah mendapatkan teman baru disekolahnya.
"iya pak" jawab Eira singkat
Eira ingin bertanya lagi tapi ia merasa segan, karena tak ingin terlalu menggali sesuatu seperti itu.
"mbak sendirian aja? Ngapain kekota S?
Tanya bapak itu bertubi tubi
"saya sendiran aja pak. Saya kekota S buat liburan setelah dari kota S saya balik kekampung halaman saya"
jawab Eira lagi
bapak itu hanya mengangguk paham mendengar jawaban Eira. Akhirnya percapakan mereka berhenti karena tak ada timbal balik dari Eira lagi.
akhirnya ada panggilan, karena kereta yang akan mereka mereka tumpangi telah tiba. Eira pun langsung bergegas masuk menuju keretanya.
Eira berjalan sambil membawa kopernya yang lumayan berat menuju tempat duduknya. Setelah mendapati tempat duduknya ia menyimpan kopernya dikabin atas dan membawa tas tentengnya bersamanya dibawah.
Eira menggunakan kereta ekonomi, sehingga Eira harus berdesakan bersama penumpang lain disatu tempat duduk. Eira sempat protes karena tak ada jarak yang dibuat oleh perusahaan kereta ini, pasalnya pandemi ini masih ada dinegeri ini.
akhirnya mau tak mau Eira tetap berdesakan bersama orang lain. Disatu tempat duduk ada tiga orang, dan mereka juga duduk berhadapan dengan orang didepan mereka yang juga berjumlah tiga orang penumpang.
Eira hanya tersenyum ramah menyapa penumpang lain dihadapannya, lalu ia berfokus pada ponselnya.
"ini sudah dikereta"
Eira mengirim pesan kepada saudaranya, untuk mengabaru kedatangannya.
saat kereta mulai berjalan, Eira langsung memejamkan matanya dan tertidur.
Selang beberapa jam, kereta mereka berhenti. Beberapa penumpang turun dan sibuk mengambil barang bawaan mereka dikabin.
kini tempat duduk Eira hanya ada dirinya sendiri, karena lima orang yang berada disekitarnya ternyata turun ditempat yang sama. Eira merasa tenang karena ia merasa lebih nyaman saat seperti ini.
Tapi baru beberapa menit, penumpang yang baru saja naik dari stasiun pemberhentian mereka berdatangan. Eira merasa resah karena melihat ramainya penumpang yang masuk, ia sudah malas berdesakan dengan orang lain lagi.
Hingga akhirnya datang seorang ibu yang terlihat sudah cukup berumur berusaha menyimpan tasnya diatas kabin.
"saya bantu bu"
dengan sigap Eira membantu ibu itu menyimpan tasnya dikabin, karena tubuh Eira yang cukup tinggi memudahkannya melakukan hal itu.
"terima kasih nak, ibu duduk disini yaa"
Eira mengangguk membiatkan ibu itu duduk dihadapan Eira setelah menyimpan tasnya.
akhirny Eira kembali berfokus pada ponselnya setelah kereta mereka kembali berjalan. Bosan bermain dengan ponselnya, Eira melihat keluar jendela dengan tatapan kosong.
pikirannya melayang kepada kedua orang tuanya yang sangat ia rindukan, rasa rindu itu selalu mengikutinya sepanjang perjalanannya menuju stasiun. Rasa rindu kepada bapaknya dan ibunya dan juga pada kampung nya membuatnya merasa terharu, karena akhirnya ia akan menemui itu semua.
Tapi Eira menyadi sesuatu.
ibu yang berada dihadapan Eira terus menatap dengan tatapan yang tak bisa Eira jelaskan, tatapan itu seolah mengatakan bahwa ia itu sangat ingin memeluknya. Matanya jelas terlihat berkaca kaca seolah tengah menahan tangisnya.
Eira tersenyum melihat ibu itu terus menatapnya, Eira juga bingung akan bertanya apa kepada ibu itu.
"tujuan mbak kekota S?" tanya ibu itu setelah ia lama menatap Eira
"iya bu.. Ibu juga ya?"
"kamu umur berapa ndok?" tanya ibu itu
"saya umur 19 tahun bu" jawab Eira
ibu itu mengangguk paham sambil tersenyum. Tapi matanya masih saja berkaca kaca
"mmm ibu kenapa nangis?"
Eira bertanya dengan tak enak hati, ia takut ibu itu merasa Eira terlalu ikut campur.
lalu ibu itu bercerita dengan panjang lebar
"ibu dulu punya anak perempuan, umurnya juga 19 tahun. Dia cantik sekali.. Ibu sayang sekali sama anak ibu, tapi ternyata Tuhan lebih sayang sama dia. Diumurnya yang baru 19 tahun dia sudah harus berperang melawan kanker ganas dikepalanya. Ibu tidak tega lihat anak ibu kesakitan karena terapi pengobatannya, tapi akhirnya dia tetap harus kalah melawan penyakitnya karena tangan Tuhan ternyata lebih dahyat lagi. Tuhan memanggil anak ibu dan membiarkan ibu hidup sendiran seperti sekarang.."
ia bercerita dengan mata yang berkaca kaca, ia beberapa kali menghapus air matanya yang hampir tumpah selama bercerita. Ingin rasanya Eira memeluk ibu itu untuk menangkannya, tapi Eira tetap diam karena menunggu ibu itu menyelesaikan ceritanya.
"dan wajah anak ibu mirip sekali sama kamu ndok" lirih ibu itu
kini air matanya sudah tumpah, kalimat terakhirnya meruntuhkan tembok pertahanannya.
Eirapun langsung tertegun mendengar kalimat terakhir ibu itu. Rasa bersalah menyelimuti hatinya, karena membuat ibu itu kembali merasa terpuruk melihat wajahnya yang mirip dengan anaknya.
akhirnya Eira memeluk tubuh ibu itu yang sudah menangis terseduh seduh. Eira mengelus punggungnya dan kepalanya bersamaan.
Setalah tangisan ibu itu redah Eira melepaskan pelukannya, ia menatap ibu itu.
"maaf ya bu, karena buat itu jadi sedih" ucap Eira
"ibu malah berterima kasih ndok, karena kamu ibu bisa mengurangi rasa rindu ibu keanak ibu dengan lihat wajah kamu terus dipeluk sama kamu" ucap ibu itu tersenyum
Eira tersenyum. Ia sungguh tak tahu apa lagi yang harus dikatakan untuk menenangkan hati ibu itu.
tanpa disadari keretapun berhenti ditempat tujuan mereka, hingga akhirnya mereka berpisah setelah pertemuan singkat itu.
"terima kasih ndok"
itulah kalimat terakhir yang ibu itu ucapkan kepada Eira sebelum mereka berpisah.
Eirapun melanjutkan perjalanan pulangnya hingga menuju kampung halamannya dengan selamat.
Perjalanannya kali ini benar benar berbeda karena pertemuannya dengan ibu diKereta malam itu. Benar benar membuat dirinya harus lebih bersyukur karena masih memiliki keluarga yang lengkap dan menikmati liburan bersama keluarganya.
MAAF TYPONYA🙏