***
Supir itu menghentikan mesin mobilnya tepat di depan pintu masuk, Paul yang semula duduk disampingnya lantas turun lebih dulu. Seperti hari-hari sebelumnya pria itu masih tampak sama tampannya walau mengenakan pakaian apapun.
Paul berjalan mengitari bagian belakang mobil kemudian membukakan pintu untuk Celline.
"Terima kasih," tuturnya seraya tersenyum. Paul hanya balas tersenyum sebagai jawaban. Detik berikutnya ia melangkah bersama dengan Paul memasuki gedung yang kini dihadiri oleh orang-orang yang memang diundang untuk menghadiri acara tersebut.
Tiba di dalam, Celline dapat melihat seberapa meriahnya pesta yang diadakan oleh salah satu koleganya itu.
"Aku sedikit gugup," gumam Celline pelan, tapi dapat didengar dengan jelas oleh Paul disampingnya.
"Saya tahu anda pasti gugup karena ini bukan pesta biasa, kan? apalagi pasti ini adalah pesta yang dihadiri oleh pebisnis kelas atas ternama dan sebagian besar berasal dari luar negeri, kan?"
"Benar, maka dari itu aku jadi sangat gugup Paul. Aku takut berbuat kekacauan atau sesuatu yang mampu menjatuhkan nama perusahaan kita."
"Anda tenang saja, saya yakin anda bisa menghadapi semuanya. Lagipula ini bukanlah kali pertamanya anda menghadiri pesta besar seperti ini, bukan?"
"Iya, tapi itu tetap saja berbeda. Kali ini terasa berbeda karena lebih banyak kolegaku yang hadir, dan itu juga membuatku gugup."
"Saya yakin anda akan bisa melewati semuanya, anda ini adalah pimpinan yang luar biasa. Jadi santailah karena semuanya akan baik-baik saja."
"Kau yakin begitu?"
"Ya."
"Terima kasih karena kau selalu membuatku merasa lebih tenang Paul." Celline tersenyum simpul kearahnya.
"Bukan masalah, itu memang sudah menjadi salah satu tugas saya sebagai sekretaris anda." Paul balas tersenyum.
"Kau begitu baik, pintar, teliti, perhatian, dan pengertian. Selain itu kau juga tampan dan ramah, siapapun yang nantinya akan menjadi pendamping hidupmu pasti sangat beruntung mendapatkan pria sepertimu." Puji Celline pada Paul. Paul tertegun, wajahnya tanpa sadar bersemu mendapati pujian dari Celline.
"Haha… anda bisa saja." Paul terkekeh berusaha menyembunyikan gemuruh didadanya.
"Memang benar apa yang aku katakan? siapapun wanita yang nantinya menikah denganmu pasti sangat beruntung."
"Kalau begitu apakah anda tidak akan menolak kalau saya melamar anda untuk menjadi istri saya?" Tanya Paul yang dalam seketika membuat Celline tersentak kaget.
"Eh?" Ia melongo menatap Paul yang kini balik menatapnya dengan wajah serius. Dalam seketika keheningan menyelimuti kebersamaan mereka ditengah keramaian pesta yang tengah mereka hadiri. Celline diam tak berkata-kata, ia kaget bercampur bingung sementara itu Paul merasakan hal yang berbeda. Ia merasa lega karena pada akhirnya bisa mengungkapkan apa yang selama ini ia sembunyikan selama bekerja dengan Celline sebagai atasan dan bawahan.
"Ahaha… kau bisa saja bercandanya." Celline terkekeh menangapi ucapan Paul. "Dia bercanda kan?" Pikirnya berusaha menenangkan dirinya.
"Hahaha…" Paul tertawa hambar, seharusnya ia sudah bisa menebak kalau Celline hanya akan menanggapi perkataannya itu hanya sekedar bualan saja.
"Aku baru sadar kalau ternyata kau juga orang yang humoris."
"Haha, begitu. Ah, bagaimana kalau sekarang kita pergi temui kolega anda?" Paul mengalihkan pembicaraan.
"Baiklah, ayo pergi." Celline menghentikan tawanya.
*
"Maaf, tampaknya saya harus pergi dulu," tutur pria itu pada Celline.
"Ya, silahkan. Saya juga harus pergi menemui yang lain."
"Baiklah, permisi." Pria itu beranjak pergi meninggalkan Celline seorang diri ditempatnya.
Celline beranjak dari tempatnya, melangkah menuju sudut lain ruangan tersebut. Ia melangkah menuju beranda dilantai tempatnya berada untuk mencari udara segar. Tapi saat tengah melangkah, secara tidak sengaja ia bertabrakan dengan seorang pria hingga nyaris jatuh. Beruntung pria itu sigap menangkap tubuhnya sebelum sempat tersungkur.
"Maaf, saya benar-benar tidak melihat…" Celline diam seketika saat mendapati pria yang baru saja menolongnya itu ternyata adalah Jacob.
"Celline?" Jacob tak kalah terkejut.
"H-hai…?"
"Aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi." Jacob tersenyum simpul.
"A-ah… ya, kau benar. Aku juga tidak menyangka kalau kita akan bertemu disini. Tapi bagaimana bisa… kau disini?" Celline mengerutkan keningnya.
"Huh? Oh, itu karena aku diundang oleh tuan Freddy."
"Kau mengenalnya?"
"Kebetulan beliau adalah salah satu kenalan dari manajerku, kami juga sempat beberapa kali bertemu dan bisa dibilang kami cukup… dekat?"
"Ooh begitu rupanya."
"Kau sendiri?"
"Aku adalah koleganya," jawab Celline. Jacob menganggukkan kepalanya menanggapi.
"Omong-omong kau mau kemana?"
"Aku ingin kesana, aku hanya ingin mencari udara segar karena didalam terlalu ramai dan sesak." Celline menunjuk kearah beranda.
"Kebetulan aku juga sedang ingin mencari udara segar, bagaimana kalau kita kesana bersama?"
"Boleh." Celline dan Jacob menghabiskan sisa pesta yang mereka miliki dengan berduaan disudut beranda, pertemuan tak disengaja mereka disudut lain pesta membuat mereka dekat kembali. Entah apa yang takdir rencanakan dengan mempertemukan mereka kembali, tapi yang pasti tidak pernah ada yang namanya kebetulan. Karena akan selalu ada alasan untuk segala hal.
"Omong-omong bagaimana karirmu? Apakah kau masih sering bermain dalam film?" Tanya Celline mengalihkan pembicaraan.
"Ya, aku masih sering main di film. Memangnya kau tidak pernah melihat ku? Padahal wajahku ada terpampang dimana-mana."
"Aku terlalu sibuk dengan pekerjaan kantorku, jadi maaf." Celline terkekeh pelan.
"Ah, jawabanmu membuatku kecewa." Jacob ikut terkekeh menanggapinya.
Sejurus kemudian hening menyelimuti kebersamaan mereka saat keduanya mulai kehabisan topik untuk dibahas. Suasana seketika berubah canggung membuat mereka merasa tidak nyaman satu sama lain.
"Ehem." Jacob berdeham panik. "Omong-omong kau tahu? Ada beberapa hal yang baru aku sadari setelah perceraian kita," ujarnya memecah keheningan. Celline mendongak menatapnya.
"Aku baru sadar kalau ternyata aku tidak bisa melupakanmu, aku tidak bisa melupakan kenangan kita, dan terkadang aku selalu berpikir akankah kita dipertemukan lagi? Bagaimana kabarmu tanpa aku, apakah kau sudah menikah lagi atau belum, dan masih banyak lagi. Semua itu selalu bermunculan dibenakku begitu aku teringat akan dirimu."
Celline terpaku tak bisa berkata-kata, entah kenapa jantungnya berdebar hebat ketika Jacob berbicara seperti itu.
"Dan… aku baru sadar." Jacob beradu pandang dengan Celline. "Kalau ternyata, aku telah jatuh cinta padamu."
DEG!
Celline membulatkan kedua matanya, ia benar-benar terkejut dengan apa yang baru saja diucapkan Jacob padanya.
"Celline, maukah kau memulai semuanya dari awal lagi bersamaku? Menjadi suami-istri yang sesungguhnya, tanpa kontrak, tanpa kepalsuan, dan tanpa hitam di atas putih? Itupun… kalau kau ma—"
"Aku mau," sahutnya yang dalam seketika membuat senyuman terbit di wajah tampannya Jacob.
***