Disini saat ini, aku. Di Danau Toba, Sumatera Utara bersama teman-teman ku. Namaku Adra. Hobby ku traveling ke setiap Indonesia, dan saat ini aku dan teman-teman memilih untuk berwisata ke Danau Toba.
Oh, iya. kenali teman-teman Ku. Ini, Zaka, Adrin, Amsal. Zaka, orang nya suka dengan keindahan Pengunungan, makanya tidak jarang dia sering naik gunung. Adri orang nya suka laut dan hampir semua laut dia jalanin di Kalimantan. Amsal sendiri adalah orang yang mencintai alam, makanya dia sering pergi-pergi ke hutan atau tempat yang nuansa alam gitu.
"Amsal, ini kita kemana dulu? tanya ku pada Amsal. "kan, kamu anak sumatera Utara," lanjut ku.
"Yah udah kita ke dermaga kapal feri," ajaknya. yang langsung kami bersiap-siap pergi.
sesampainya di Tigaras, kami melihat sebuah patung yang diatas nya berbentuk kapal, membuat kami semua penasaran dan langsung berlari kearah patung tersebut yang tidak jauh dari dermaga.
"Amsal, ini kok ada nama-nama orang di tembok nya?" tanya Zaka yang melihat nama-nama orang yang terukir di tembok patung.
"Oh, itu. Itu nama orang yang terkena tragedi kapal sinar bangun," ucap Amsal lirih.
"Tragedi sinar bangun? parah emang?" tanya nya kembali yang masih penasaran dengan nama-nama ukiran tersebut. Aku yang juga tertarik dengan cerita nya mengangguk antusias.
"Pada kasus itu. Tanggal, 18 Juni 2018. Dimana, 3 orang meninggal, 21 orang cedera, dan 164 orang dipastikan menghilang tenggelam di Danau Toba. Dan sekarang nama orang yang kalian lihat adalah nama orang yang hilang," ucap Amsal sedih mengingat kasus yang mengerikan tersebut. Kami yang mendengar nya sedikit tersentak kaget mendengar kisah yang begitu tragis Di Danau Toba.
"Pada, saat melakukan penyelamatan sangat susah dikarenakan airnya sangat keruh, dingin, dan ombak sangat kencang, maka penyelamatan dihentikan," lanjut Amsal menjelaskan Tragedi Danau Toba.
"Bukanya ada alat yang bisa digunakan untuk melihat kedalam," ucap Adri. dan dibalas ku dengan anggukan.
"Kapal karam di kedalaman 450 meter. Jarak pandang sangat terbatas gara-gara keruhnya air, sekitar 5 meter saja. Dua alat remotely operated underwater vehicle (ROV) portable dikerahkan untuk menyelami dasar danau. Dan, sampai ROV ajah sampai tidak bisa menemukan nya, dan akhirnya dihentikan," ucapnya.
"Gila, segitu susahnya, yah," ucap Zaka merinding mendengar semua penjelasan Amsal.
Adri yang melihat Kapal Feri sudah datang. "Teman-teman, Kapalnya udah datang, tuh," ucapnya kepada teman-teman kami yang sedang asik melihat nama-nama yang terukir, membuat kami semua menoleh kearah yang ditunjukkan Adri.
"Bukan itu yang kita naikin. Kapal yang satu lagi," ucap Amsal melihat kearah kapal Feri yang mengangkut kendaraan bermobil.
"Terus, yang mana?" tanya Adri kepada Amsal.
"Em..nah, itu dia udah datang," tunjuk Amsal ke arah kapal mini yang kapasitasnya bisa menampung sekitar 100 orang baru saja sampai ke darat. Kapal feri mini.
"itu," tanya Adri memastikan nya.
"Iya. yah, udah ayuk berangkat," ajak Amsal dan kami pun menaiki kapal tersebut.
Kami, menunggu kira-kira 15 menit dikarenakan mereka masih menunggu penumpang pada naik semua. Saat aku asik melihat pemandangan, aku tidak sengaja melihat sebuah batu berbentuk manusia yang tergantung di bukit. "Amsal, itu patung ukiran manusia?" tanyaku menunjuk kearah batu tersebut.
Tiba-tiba saja bapak setempat Danau Toba langsung memukul tangan ku pelan yang menunjuk kearah batu tersebut, dan itu membuat aku sedikit kesal. "Kamu belum pernah ke Danau Toba, yah?" tanya bapak itu kepada ku.
"Iya, emang kenapa?" jawab ku kesal kepada bapak itu. Bapak itu hanya tersenyum menggelengkan kepalanya kepadaku. Temanku yang melihatnya hanya diam, kecuali Amsal. Dia tersenyum saat aku ditegur bapak itu.
"Disini, saat kau melihat batu itu. Sangat pantang saat menunjuk kearah batu, itu," ujar bapak itu kepada kami. Aku dan dua teman lain nya sedikit kaget dan jiwa penasaran kami pun terpanggil. Amsal beda lagi, Dia mah malah santai ajah. Kurasa karena dia tahu sejarah nya kali.
"Kenapa bisa gitu, pak?" Tanya ku pada bapak itu.
"Boru apa kau?" jawab bapak itu dengan pertanyaan, membuat kami tambah bingung.
"Disini, Nanya Boru atau Marga adalah hal biasa. Karena, Boru atau Marga itu biasanya mempunyai ikatan lainya. contohnya, aku. Aku Marga Penjahitan. Nah, Penjahitan ini tidak boleh nikahi Boru silitonga, Siagian, Sianipar, dikarenakan Kami mar- ITO. atau marnamboru atau bisa dibilang saudara. walau tidak satu darah. Dan banyak lagi. Kalau bahas tentang Batak, kita bisa sampai seminggu disini," ucap Amsal menjelaskan maksud dari pertanyaan bapak itu. Kami yang mendengar nya bingung pusing 7 keliling karena mengingat semua itu. Emang, salah satu suku yang masih memegang adat Batak sampai sekarang, yah ini salah satunya. Hebat, salut aku. "Karena, kamu tidak punya Boru, kami bisa manggil tulang," Lanjut Amsal.
"lah, jadi bukan orang Batak dia?" tanya bapak itu.
"Iya, Lang," Jawab Amsal.
"Yah, udah panggil ajah tulang. Jadi, gini nak. Pantangan menunjuk kearah sana udah dari temurun. Katanya, sudah banyak kejadian kapal tenggelam atau yang menunjuk kearah Batu itu tenggelam," ucap Bapak itu. Aku yang mendengar nya langsung takut dan langsung melipat tangan meminta maaf kepada bapak itu. Dan langsung dapat tawa dari teman-temanku.
"Yah udah, aku mau lihat-lihat sekeliling dulu, yah. Pamit lah aku," ucap bapak itu dan langsung pergi ke menurun kapal ke bawah. Oh, iya kapal ini dua tingkat yah.
"Sal, kau tahu legenda batu itu?" tanya Adri kepada Amsal yang lagi menikmati indahnya Danau Toba.
"Oh, itu. Legenda nya dulu ada wanita yang cantik banget, dia mencintai laki-laki yang dia sukai, tapi orang tua nya tidak setuju, dan malah menjodohkan anak nya pada salah satu laki-laki yang kaya raya kepada si anak. Karena, tidak mau dijodohkan si anak pun melompat dan mengatakan, "Dia lebih baik lompat dari pada di jodoh kan sama dia,"
"Saat, dia ingin melompat tiba saja anjing yang begitu setia sama tuanya menarik gaun dia untuk tidak melompat dan sebuah guncangan terjadi dan puncak itu retak, dan si wanita dan anjing nya jatuh. Dan mereka berubah jadi batu bersama anjing nya," ucap Amsal kepada kami yang saat ini fokus mendengar nya. "Yah, katanya gitu" lanjutnya.
"OOO, begitu," ucap mereka serentak.
tidak terasa 30 menit berlalu, dan kapal baru saja menyandarkan kapalnya di dermaga Mereka pun turun dari kapal, dan mereka bisa melihat langsung sebuah tulisan. "Desa wisata Tomok" di depan gerbang yang besar dengan ukiran khas Batak.
"Ini tempat apa?" tanya Adrin.
"Yah, bisa kamu lihat. Disini tempat dimana semua para turis dan orang yang lagi wisatawan belanja dan bisa melihat salah satu patung Sigale-gale," ucap Amsal. "Ayok," ajak Amsal dan kami pun mengikuti nya.
Kami pun memasuki tempat tersebut dan langsung dibuat terkesan dimana banyak para penjual didalamnya dengan jenis beragam barang yang mereka jual dengan nuansa Batak. Yang buat aku terkesan adalah setiap jualan mereka ada saja bertulisan "Lake Toba".
"Ini kita kemana?" tanya ku pada Amsal karena melihat jalan nya yang terus menanjak.
"Tenang, ajah," ucapnya membuat kami hanya mengangguk.
Saat kami asik melihat sekitar kami mulai tersadar kalau perlahan makin sedikit orang disekitar kami, membuat aku sedikit takut. "Sal, bukan nya kita terlalu jauh," ucap ku takut melihat sekeliling kami yang mulai sepi.
"ah, oo ini, kenapa sepi emang biasanya orang naik keatas cuman mau lihat si patung Sigale-gale. Nah baru ajah dibilang kita udah sampai," Ucap amsal yang langsung menunjukkan ke kami ke sebuah patung yang seukuran manusia normal.
"Lo, bawa kami jauh kesini cuman lihat tuh patung. lu tahu kan jalan nya ini banyak," ucap Adri kesal. Amsal yang mendengar nya malah tertawa.
Saat Adri asik berkeluh kesah, aku melihat seorang bapak-bapak duduk dibelakang sebuah patung membuat aku jadi penasaran. "Sal, bapak itu ngapain?" tanya ku padanya.
"OOO, udah mulai. ayok duduk," ucap Amsal antusias yang langsung menarik kami duduk di bangku yang terbuat dari batu yang sudah disediakan disitu.
sebuah musik dengan bahasa Batak mulai berbunyi dari speaker dan patung itu bergerak layaknya sedang menari tarian khas Batak. Aku yang melihat nya menjadi antusias menikmati patung tersebut. begitu juga dengan Zaka yang sudah merekam dengan kamera nya, kalau Adri jangan ditanya, bahkan wajahnya terlihat senang dan bahkan merekam dengan Ponselnya.
15 menit berlalu dan acaranya pun selesai membuat kami pun bertepuk tangan atas pentas yang kami lihat.
Amsal pun menarik kami mendekati patung dan menyuruh seseorang wisatawan mefoto kami.
"Sal, ini ada sejarah nya ngga?" tanya ku pada Amsal karena aku sangat menyukai sejarah setiap pergi tempat wisata.
"oo, ada. Daerah asal mula munculnya Sigale gale ialah daerah Toba-Holbung (Tapanuli Utara), kemudian menyebar ke Pulau Samosir (di tengah-tengah Danau Toba). Di pulau Samosir penduduk menyebutnya dengan sebutan Raja Manggale. Sigale gale dipergunakan pada upacara-upacara kematian.
" Upacara untuk orang-orang yang meninggal tanpa mempunyai anak maupun yang meninggal tanpa meninggalkan keturunan karena semua anaknya telah tiada,"
Upacara ini diadakan terutama apabila orang yang meninggal itu mempunyai kedudukan tinggi dalam masyarakat, seperti raja-raja, dan para tokoh masyarakat. Hal itu dilakukan dengan maksud menyambung keturunan mereka kelak di alam baka."
Pada masyarakat Batak Toba, apabila seseorang yang mempunyai kedudukan meninggal dunia dan ia tidak mempunyai keturunan maka dipandang rendah dan tidak membawa kebaikan. Oleh karena itu, kekayaan yang ditinggalkannya akan dihabiskan untuk mengadakan upacara Sigale gale untuk orang yang meninggal tersebut."
"Orang lain tidak akan berani mengambil harta benda milik orang tersebut, karena takut tertular atau meninggal seperti pemiliknya,"
"Pada masa sekarang, yakni setelah agama Kristen semakin mendalam dan meresap dalam kehidupan masyarakat Batak di Tapanuli utara, upacara-upacara Sigale gale mulai ditinggalkan. Menurut pandangan mereka, upacara ini dianggap sebagai upacara keagamaan parbegu, suatu upacara yang didasarkan pada kepercayaan terhadap begu atau bisa dibilang roh dari orang yang sudah meninggal," Jelas Amsal panjang kali lebar.
Kami yang mendengar sejarah sigale-gale merinding. Bagaimana bisa patung yang dipahat dengan kayu berkualitas seperti ini mempunyai sejarah yang suram.
Tak terasa waktu sudah mulai sore, kami pun memilih untuk pulang saat kami sudah sampai kembali dermaga, malam sudah menyambut kami. Suara ombak yang menabrak dinding terdengar, Angin nya berhembus dengan kencang tapi tidak membuat kami terbang.
"Dingin," ucap Zaka mengelus badannya padahal sudah menggunakan jaket tebal.
Amsal yang sedari tadi tidak bersama kami muncul membawa kan kami susu Bandrek, kalian pasti tahu kan. Dimana yang dibuat dari gula aren dan jahe. Kami pun meneguk nya dengan perlahan menikmati setiap pemandangan danau Toba dimalam hari.
"Saat malam saja kamu terlihat indah," ucap ku pelan mengagumi Danau Toba.
.
.
.
.
Okok, sekian terima kasih semua. Gila, panjang amat cerita cerpen gue. Hehe, wajib kalian bosan, kan. karena ini cerita mengandung sejarah bukan percintaan.
Jangan lupa apa? Jangan pula like, komen, dan follow pastinya.