Rintikan hujan yang menyertai awan mendung yang melanda, membuat ku merasa bingung dan gundah, karena perasaan ini tak senyaman seperti biasa, berbagai kasus yang sekarang sedang melanda negeriku dan juga virus – virus yang menyerang kaum – kaum rakyat kasta sudra, meskipun virus –virus itu menyerang rakyat konglomerat tetapi mereka bisa menyembuhkan virus –virus tersebut, karena mereka memiliki uang. Aku Raissa Putri, sebagai anak bangasa merasa bingung harus bagaimana untuk menghadapi berbagai macam masalah yang sedang menghapiri negeriku, aku berfikir akan jadi apa anak bangsa kelak jika kasus – kasus ini tak terselaikan, memang sebagian anak – anka bangsa bisa menjalankan kehidupan yang mereka inginkan tetapi apadaya anak – anak yang tak bercukupan, pikirku dalam lamunan ku sambil duduk dipinggir jendela dan melihat turunnya hujan. Seusai ku melamun aku tersadar bahwa aku sedang memasak, ikan yang ku gorengpun jadi gosong aku langsung mematikan kompor dan mengangkat ikan yang aku gosongkan itu, aku pun melanjutkan memasak ku meskipun ikan yang ku goreng telah hangus, untung saja aku masih memiliki persediaan tempe dan tahu di kulkas kalau tidak ada, makan apa keluarga ku malam ini fikir ku.
“hai kak sedang masak apa malam ini ? tanaya adik ku”
“oh kamu dek, ini kakak lagi masak tempe sama tahu” jawab ku
“yahhh makan itu lagi deh” eluh adik ku
“sabar ya dik, tadi kakak sudah goreng ikan tapi ikannya gosong”
“ihhh kakak gimana sih tadi kok bisa sampai gosong” kata adik
“maafkan kakak, kakak lupa kalau sedang goreng ikan tadi” maaf ku
“ehmmmm” encep adikku sambil muka yang kesal
“kakak janji kalau kakak udah gajian kakak bakal belikan makanan yang enak” bujukku
“okee kalau begitu, sini aku bantuin” kata adikku
“naaahhhh gitu dong baru adikku” puji ku.
Tak sadar aku telah selesai masak untuk makan malam, kerena aku dibantuin adikku semua pekerjaan cepat terselesaikan. Tak lama aku selesai masak ayah dan ibu ku telah pulang dari kerjanya. Ayah ku bekerja sebagai supir taxi dan ibu ku seorang guru honorer di Sekolah Dasar Cipta Mulya, adikku adalah murid di Sekolah Dasar Negri 1 ploso, dan aku sendiri seorang karyawan swasta di salah satu toko jam tangan yang ada di mall tengah kota. Aku bekerja disana masih 5 bulan, karena aku baru masuk setelah aku lulus SMA, aslinya aku ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi tapi apadaya ekonomi yang sulit ini, jadi aku haru bekerja sambil menabung untuk bisa kuliah dan membiayai adikku sekolah. Tak lama seusai makan malam, kami sekeluarga mengerjakan aktivitas sendiri – sendiri, adik sedang belajar, ibuku sedang mengerjakan pekerjaannya yang ia bawa pulang, ayahku sedang bersantai sambil menonton tv, dan aku sendiri sedang membaca novel dikamar. Keesokan harinya aku kembali melakukan aktivitas ku sehari – hari, aku setiap pagi membantu ibuku memasak untuk sarapan, jika makan malam aku yang memasak untuk makan malam.
“pagi ibuuuuu......” sapa ku
“pagi sayang” jawab ibu ku
“ibu hari ini masak apa ?” tanya ku
“ibu hari ini masak nasi goreng lauk tempe sama tahu” jawab ibu ku
“ohhh sini aku bantuin” kata ku
Seusai kami masak, kami sekeluarga akhirnya sarapan bersama setelah itu kami berangkat melakukan aktivitas masing – masing. Aku berangkat kerja pukul 07.30 karena kerjaku masuk pukul 08.00, aku berangkat dengan mengendarai kendaraan umum dan terkadang aku naik ojek online, jika aku memiliki uang yang lumayan. Setiap hari kami sekeluarga melakukan kegiatan kami masing – masing, meskipun keluarga kami terbilang ekonomi yang sulit, kami semua menerima keadaan tersebut. Suatu hari entah apa yang tuhan beri cobaan buat kami, pada hari itu depcolektor yang tak beradab datang kerumah ku dengan tidak sopan, kami semua pun terkejut dan ketakutan, tujuan depcolektor itu datang kerumah ku untuk menagih hutang – hutang ayahku yang uangnya dibuat membeli mobil taxi, beberapa bulan ini memang ayahku tak bisa membayar cicilan itu karena sepinya penumpang dan kalah saing dengan ojek online dan sebagainya, ibu ku sendiri juga tak bisa membantu untuk melunasi hutang ayah ku karena ibu juga memiliki tanggugan hutang kepada rentenir yang tak jauh dari rumah ku.
Aku sendiripun bingung aku ingin membantu melunasi hutang tetapi nantinya aku tak bisa membiayai sekolah adikku. Pada hari itu ayahku terkejut dan terjatuh sakit akibat perbuatan depcolektor yang tak punya adab, ayahku jatuh pingsan dan kami pun langsung membawanya kerumah sakit terdekat, disana ayahku hanya ditepatkan diruang IGD meskipun telah selsai diperiksa, aku bertanya kepada suster yang merawat ayah ku
“sus permisi ini kenapa ya ayah saya tidak ditematkan dikamar inap?”
“ohh gini ya dik, kalau mau rawat inap adik bisa selesaikan biaya adminitrasi terlebih dahulu”
“sus saya minta tolong, tempatkan ayah saya di kamar inap saya janji awal bulan saya akan melunasi semua adminitrasinya”
“ooohhh maaf ya dik kalau begitu tidak boleh, karena ini sudah jadi peraturan rumah sakit ini”
“toooloooonnngggg sus usahakan buat ayah saya, saya janji bakal lunasi semua adminitrasinya”
“maaf ya sekali lagi tidak boleh, jika tidak ada keperluan lainnya saya permisi dulu ya”
Saat itu aku merasa sedih dan bingung apa yang harus aku lakukan saat – saat ini yang sedang melimpahku. Akhirnya kami terpaksa membiarkan ayahhku dirawat diruang IGD, tetapi lama kelamaan tak ada dokter atau pun suster yang merawat ayah saya, tak disangka ayahku telah pergi meninggalkan kami semua untuk selamanya. Saat itu aku marah besar, aku pergi keruangan menejer rumah sakit dan aku meminta pertanggung jawaban atas ketidak adilan penindakan dirumah sakit ini.
“permisi pak kenapa para dokter dan suster disini tak merawat ayah saya, padahal saya sanggup membayar biaya rawat inap dirumah sakit ini tetapi saya bisa melunasi jika awal bulan”
“maaf, memang didisi ketentuannya begitu”
Akupun menggebrak meja menejer itu dan berkata
“kaliyan semua tidak adil, kami disini berobat dan pasti kami akan membayarnya”
Seusai aku meluapkan emosiku, kami semua membawa jenazah aya pulang kerumah untuk disucikan dan dimakamkan.
Beberapa minggu kepergian ayah tiba – tiba depcolekto yang tak punya adab pun kembali menagih hutang ayahku, depcolektor itu bilang jika kaliyan tak bisa melunasi hutang ayah kaliyan, rumah ini akan saya sita. Aku merasa sedih yang paling berat karena rumah ini satu – satunya peninggalan ayahku. Terpksa aku dan ibu setiap harinya menabung untuk melunasi hutang ayah ku.
Kini sudah dua tahun ayah ku pergi meninggalkan kita semua, kehidupan kami kembali bahagia seperti dulu meski tak bersama ayah, dan bersyukurnya lagi aku tahun ini diterima di universitas negri yang ada dikota ku dengan jalur beasiswa, aku sudah dua bulan ini menjalani kuliah sambil kerja untuk membiayai sekolah adikku, dan tak kalah bersyukur lagi ibu ku sekarang telah diangkat sebagai guru Pegawai Negri Sipil tak sia – sia ibu menunggu bigitu lamanya. Maka dari itu, jika kuta memiliki masalah yang begitu sulit, kita harus menghadapi masalah itu, dan jangan lah kamu mencoba untuk lari dari masalah itu, "sesungguhnya tuhan tak akan pernah memberikan ujian melampaui batasan umatnya"