[Foto lama]
Kisah kita yang berawal dengan mudahnya bagaikan takdir yang sudah di tentukan...
Donat berisi coklat lumer di dalamnya, dengan taburan gula halus di atasnya. Donat buatanmu yang terinspirasi diriku. Itu sungguh konyol dan tidak masuk akal. Bahkan, kau menyukai gadis konyol seperti ku, padahal kau adalah pria yang sempurna.
Saat kita beriringan kita bagaikan angka 10. Kau tinggi, ideal dan tampan, bak pangeran. Sedangkan aku, aku pendek dan gemuk bagaikan, hahah...kau benar aku seperti donat yang kau buat. Tapi donat itu terlalu indah jika kau samakan aku dengannya. Kau terus berkata, "Angka 10 itu sempurna". Tapi angka 10 hanya sempurna untuk orang yang tepat.
Berhenti memberikan aku donat, berhenti mencuri pandang dariku, berhenti menyukaiku, karena aku tidak menyukainya.
Berhenti mengejar ku, berhenti memotretku secara diam-diam, berhenti berharap padaku, berhenti kumohon...aku lelah. Aku lelah untuk menolak mu, aku lelah menghindari mu, aku lelah berbohong padamu. Saking lelahnya tanpa sadar aku juga mulai menyukai mu.
Aku tidak menyadarinya sampai sekarang aku tidak tau, mungkin perasaan ku padamu lebih besar dari pada perasaan mu padaku. Tolong beri tau aku, bagaimana kau menyadari perasaanmu saat kau jatuh cinta? Bagaimana kau bisa yakin dengan perasaan itu? Bagaimana? Katakan, padaku...beri tau aku. Bagaimana kau bisa yakin dan mengejarku lalu membuatku tak bisa lepas darimu. Beri tau aku...
Kau memberikan sebuah foto lama, padaku tepat di hari kita berjanji untuk bersama. Foto yang mungkin sangat lama hingga aku telah melupakannya.
Foto cinta pertama mu. Seorang anak kecil berusia 6 tahun, telah jatuh cinta pada seorang gadis yang seusianya. Foto lama itu terlihat masih baru, meski foto itu sudah berusia 12 tahun, kau merawatnya dengan sangat baik. Bagaimana?
***
Malam yang panjang dan gelap terus mengikutiku. Aku berjalan di tengah kota yang ramai dan penuh dengan kelap-kelip cahaya lampu, bahkan hal itu tetap membuatku merasa sendiri. Aku tidak menyadari waktu terus berjalan meski aku masih tetap berada dalam bayang mu. Kini 3 tahun sudah berlalu, setelah perpisahan kita.
Aku membuka kembali laci mejaku setelah sekian lama, dan aku menemukan sebuah buku diary lama yang telah ku asingkan. Aku mencoba untuk menghapus memori ingatan tentang mu yang terdapat di buku itu, tapi aku tidak sanggup untuk membuangnya.
Aku buka kembali buku itu, aku baca setiap lebar buku itu. Terdapat berbagai tulisan tentang suka dan duka ku, mengandung emosi yang yang bisa mengaduk-aduk perasaan ku dalam setiap baitnya. Tapi yang membuat emosiku dan ingatan itu kembali berputar adalah sebuah foto lama yang telah aku simpan.
Tangisku pecah saat aku melihat foto itu, aku menuliskan tanggal jadian kita di sana, dan menuliskan janji yang telah kita buat untuk tetap bersama di balik foto itu. Kini aku bahkan menjadi egois ingin menambahkan tulisan di sana. Sebuah tulisan harapan di foto lama itu.
Dengan egois aku menuliskan
"Aku berharap kita akan bersama, meski aku harus melewati beberapa kehidupan dan harus mati lalu hidup kembali selama berkali-kali, aku ingin bersama mu."
Kalimat naif dan mustahil itu menjadi harapan ku, sungguh lucu.
Kita pernah saling mencintai meski tragis, aku bahkan memiliki cinta abadi yang aku berikan untuk mu. Ya, cinta begitu menyakitkan, perpisahan bahkan lebih menyakitkan. Bukankah kita Sama-sama tau?
Aku memotretmu secara diam-diam (seperti yang telah kau lakukan padaku dulu) tepat sebelum kita berpisah. Aku mencetaknya (sama seperti kau dulu) tepat setelah kita berpisah dan sudah bertahun-tahun aku menyimpan foto ini, ya...kau juga menyimanpan foto ku selama 12 tahun, bukan. Aku ingin melupakan mu, tapi aku tidak sanggup untuk membuang foto yang sudah usang ini. Aku bahkan tidak bisa merawat foto kita meski kita baru berpisah selama 3 tahun. Bagaimana bisa kau menyimanpan foto selama 12 tahun, dengan masih bagus.
Ketika aku mengatakan perpisahan, dan kau berpikir itu adalah sebuah lelucon yang ku buat, karena tidak ada yang abadi di dunia ini, ya aku menjadi tersadar. Kita memang tidak abadi.
Kau terjatuh dan menangis ketika aku mengatakan kita benar-benar harus berpisah. Malam itu seperti akhir bagi kita. Aku berusaha untuk menahan air mataku meski aku merasakan sesak di dadaku dan perih di mataku, agar kau bisa berhenti menagis. Selamat tinggal ku seperti awal dan akhir bagi ku, tapi aku harus melepaskan mu.
Jangan katakan, "Tak bisakah kau melihat diriku di matamu lagi?"
Jangan bertanya, "Kenapa?"
Jangan memohon, "Kembalilah kepelukanku"
Aku tidak bisa maju, karena ada dirimu di sini. Semuanya menjadi berhenti seperti lampu merah.
Alasan perpisahan kita sangat sederhana, saking sederhananya hal itu membuat perpisahan kita menjadi sangat menyakitkan. Aku telah menyakitimu dan membuatku menagis. Aku juga telah menyakiti diriku dan membuat diriku menagis.
Aku melepaskan mu dari penderitaan, karena ku. Sekarang kau bisa berhenti membelaku, dari orang-orang yang telah menghina ku, karena yang mereka katakan adalah fakta. Berhenti mengepalkan tangan mu dan memukul mereka, yang telah memperlakukan aku dengan semena-mena, agar mereka meminta maaf padaku. Berhenti marah, pada mereka yang berbicara buruk tentang ku. Karena kita memang mustahil untuk bersama.
Setiap kebohongan yang telah ku katakan berakhir dengan airmata. Tentu..aku tidak baik-baik saja. Segala hal yang salah terjadi lagi padaku. Maaf, aku telah berbohong agar kau menjauh.
Kini, setiap aku tertidur aku merasakan sakitnya perpisahan, bahkan aku lebih membencinya daripada sebuah kematian. Tangismu di hari itu, terus membayangiku. Aku terus terjatuh dan tak bisa bangkit kembali. Kegelapan dan kesepian kini menjadi bagian dari hidupku.
Waktu terus mengikutiku dengan bayangmu yang memutar. Kini kau begitu jauh, bahkan sangat jauh hingga aku tidak bisa meraih mu. Kau tidak tau keberadaan ku dan aku tidak tau keberadaan mu. Aku akan hidup tanpamu bahkan jika aku mati. Aku merasakan kematian yang begitu menyakitkan dalam setiap hembusan nafasku.
Seandainya kau bisa meneriakan pada hati ku, akan ada hembusan dingin yang akan terasa di sana. Jika, aku berharap kau datang dan menarik ku keluar dari labirin tanpa akhir ini, itu hanyalah sebuah harapan. Kita bahkan tidak tau keadaan satu sama lain.
***