"Mas ayo kita pisah saja" ucap ku datar.
Mas Alvian menatapku sekilas, kemudian tanpa memberikan jawaban ia berlalu pergi meninggalkan aku yang masih terduduk di tepi ranjang. Dia membanting pintu dengan keras saat meninggalkan kamar kami.
Aku hanya bisa menangis terisak.
Sudah lebih dari sepuluh tahun,kami mengarungi bahtera rumah tangga bersama, banyak hal yang telah kami lewati untuk sampai di titik ini.
Namun aku bisa apa , setelah sekian lama bersama kami masih belum juga dikaruniai keturunan oleh sang maha pencipta.
Rumah tanpa kehadiran buah hati hanya seperti bangunan kosong, tidak ada tawa dari anak-anak membuat rumah kami seperti cangkang kosong.
Kami sudah melakukan berbagai cara akan tetapi semuanya belum juga membuahkan hasil, membuat hubungan kami semakin lama semakin dingin dan renggang.
Aku mulai berjalan mengambil koper, dan mengisi beberapa lembar pakaian juga barang-barang milikku, aku berniat kembali ke rumah kedua orang tuaku saja di luar kota. Ku rasa sudah tidak ada yang bisa dipertahankan dari hubungan kami.
Aku membuka laci meja rias saat aku menemukan foto pernikahan kami, foto itu memang tak lagi ku pasang. rasanya memuakkan melihatnya. Namun kini aku memegang bingkai foto yang berisikan fotoku dan mas Alvian dengan senyum bahagia itu, membuat kenangan indah yang telah kami lalui bersama kembali terlintas dipikiran ku.
Aku masih ingat semuanya, kami dulunya merupakan pasangan yang saling mencintai, dan menyayangi satu sama lain.
Kemudian aku mulai berjalan ke arah lemari pakaian yang berada di sudut ruangan, aku menarik kursi untuk mengambil kardus yang ada di atas lemari tersebut. Disana aku menemukan banyak benda-benda penuh kenangan antara kami, foto-foto lama kami semasa pacaran, dan pernak pernik yang dulunya merupakan benda berharga semasa kami berpacaran. Surat-surat yang kini kertasnya mulai terlihat kusam, aku membuka beberapa lembar kertas itu. Air mataku mulai menetes, membaca tulisan penuh dengan cinta dan janji-janji manis dahulu.
Pikiran ku melayang, mengenang masa-masa itu, dan menemukan bahwa perasaan ku pada mas Alvian sama sekali tidak berubah, selama ini aku selalu mencintainya, hanya saja aku merasa bersalah karena tidak bisa memberikannya keturunan, membuatku melampiaskan rasa bersalahku dengan cara mengabaikannya, yang justru membuat hubungan diantara kami semakin renggang.
Lama aku hanya terduduk memandangi foto lama kami, sampai terdengar suara seseorang membuka pintu depan, kurasa itu mas Alvian yang telah kembali, entah dari mana.
Lantas sekarang apa yang harus ku katakan, aku takut jika kami akan benar-benar berpisah.
Mas Alvian membuka pintu kamar kami dengan perlahan, sementara aku masih enggan menatap padanya, aku hanya tertunduk diam.
"Aira tolong jatuh cintalah padaku sekali lagi, aku tidak ingin berpisah, aku ingin tetap mencintaimu dan hanya dirimu di sisa hidupku" ucap mas Alvian dengan membawa satu buket bunga mawar merah ditangannya,bunga yang sama seperti saat ia pertama kali menyatakan perasaannya padaku dahulu.
Aku kehilangan kata-kata,hanya air mata bahagia yang mengalir keluar menuruni pipiku.
" Tidak peduli bila seumur hidup, kita tidak diberi momongan, aku hanya ingin hidup bersama dengan mu, aku akan memberikan seluruh cintaku hanya untukmu, memilikimu saja sudah lebih dari cukup untukku. Jadi jangan tinggalkan aku" Mas Alvian berlutut dihadapan ku.
Aku menghambur ke dalam pelukannya, meluapkan rasa cintaku
Aku bersyukur memiliki suami seperti mas Alvian di sisiku.
Rumah tangga yang bahagia bukanlah rumah tangga yang tidak pernah memiliki masalah, akan tetapi, sebuah rumah tangga yang meskipun memiliki sejuta masalah tetapi selalu memiliki satu alasan untuk tetap saling mencintai.
the end❤️