***
BLAM!
Pintu itu di tutupnya asal, Celline melangkah menghampiri meja kemudian duduk terhenyak di atas kursi kebesarannya dengan posisi kepala menengadah menatap langit-langit.
"Hari yang melelahkan," gumamnya pelan. Meeting seharian benar-benar menguras energinya. Celline mengalihkan pandangannya sekilas pada jam yang kini tergantung di dinding, jam itu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, dan ia masih berada dikantornya.
Ia baru saja melakukan meeting yang di gelar secara daring dengan kliennya dari London, Inggris.
CEKLEK!
Pintu yang semula di tutupnya terbuka perlahan, menampakkan seorang pria dengan rahang tegas dan pakaian yang masih tampak rapi membalut tubuh proporsionalnya. Ia melangkah menghampiri Celline yang terduduk di sana.
Celline menoleh ke arahnya. "Apakah aku masih memiliki jadwal lain yang mungkin aku lupakan?" Tanyanya dengan raut wajah masam.
"Huh? Tidak. Sudah semuanya, saya kemari hanya ingin memberitahu kalau sudah tidak ada jadwal pertemuan lagi yang harus anda hadiri."
"Begitukah?"
Pria itu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Celline mengulum senyum mendengarnya.
"Baiklah, kalau begitu kau boleh pulang."
"Eh?" Pria itu menaikkan sebelah alisnya bingung.
"Kau tidak perlu mengantarkan aku pulang, aku masih ingin di sini."
"Oh… Baiklah kalau begitu, saya permisi. Anda jangan pulang terlalu malam, terlalu berbahaya pulang larut malam apalagi saat anda mengemudi sendiri."
"Iya. Terima kasih untuk kerja kerasmu hari ini."
"Sama-sama." Pria itu berbalik meninggalkan Celline seorang diri di dalam ruangannya.
Selanjutnya hening, tidak ada sedikit pun suara yang dapat di dengar olehnya.
*
Celline melangkah keluar dari dalam mobil begitu ia selesai memarkirkan benda itu di tempat yang seharusnya.
Ia melangkah memasuki gedung apartemen miliknya, dengan menggunakan lift akhirnya ia bisa tiba di lantai tempatnya tinggal. Tiba di depan pintu kediamannya, langkahnya terhenti saat matanya secara tidak sengaja menangkap sebuah kotak box yang cukup besar yang tergeletak di samping pintu masuknya.
Celline menghampiri kotak itu, di atas sana ia mendapati namanya tertera di atas permukaan kotak tersebut. Celline mencari nama pengirimnya dan ia mendapati nama Rose sahabatnya tertera di sana.
"Ini dari Rose? Apa isinya ya?"
Celline meraih kotak tersebut dan membawanya masuk ke dalam, kotaknya cukup berat membuatnya sedikit kesulitan membawanya. Tiba di dalam Celline menaruh benda itu di atas meja ruang tamunya, karena penasaran, ia pun membuka secara perlahan kotak kiriman dari temannya itu.
Begitu kotak itu di bukanya, ia mendapati barang-barang miliknya dengan secarik kertas kecil yang tertempel di paling atas barang-barangnya.
‘Aku harus pindah besok, jadi aku berkemas dan tidak sengaja menemukan beberapa barang-barangmu yang tertinggal di rumah ku. Aku sudah berusaha menghubungimu, tapi kau terlalu sibuk sampai-sampai tidak sempat membaca pesan yang aku kirimkan. Jadi aku putuskan untuk mengirimkan semua ini langsung padamu. Salam hangat dari sahabat terbaikmu di dunia, Rose’
Begitulah yang tertulis di secarik kertas yang di temukan olehnya di atas tumpukan barang-barangnya tersebut.
"Ternyata aku meninggalkan beberapa barang dirumahnya, ya," gumam Celline seraya tersenyum simpul membaca surat yang di dapatnya dari Rose.
Celline beralih pandang, mengeluarkan satu persatu barang-barang miliknya yang berada di dalam sana kemudian menaruhnya di sisi lain meja. Perhatiannya tersita saat ia mendapati sebuah foto lama yang di bingkainya dengan sebuah figura sederhana yang terbuat dari kayu. Dalam foto itu terdapat gambar dirinya dengan Jacob saat mereka masih bersama, mereka tersenyum tampak bahagia walaupun tak ada yang tahu bahwa semuanya palsu. Dari gambar itu, ekspresinya tampak begitu natural benar-benar seperti sepasang suami-istri yang bahagia.
Celline terdiam memandangi foto ditangannya. Jemarinya mengusap secara perlahan kaca yang membingkai fotonya.
"Rasanya seperti baru saja kemarin kita bersama," gumamnya pelan seraya tersenyum. Kedua irish matanya menatap lekat gambar sosok pria tampan yang tersenyum di sana, senyum menawan yang tidak akan pernah bisa ia lupakan.
Sudah dua tahun lamanya semenjak kontraknya berakhir, dan sejak dua tahun pula ia tidak pernah bertemu lagi dengan Jacob atau bahkan mendengar beritanya saja tidak pernah lagi. Karena semenjak perceraiannya, ia memutuskan untuk pindah ke kota lain yang jaraknya jauh dari tempatnya berasal. Memulai kehidupan barunya dan mulai menjalankan perusahaan yang berhasil ia dapatkan kembali.
Setelah melihat foto lama yang ditemukannya, ia baru sadar kalau ternyata selama dua tahun ini perasaannya pada Jacob tidak pernah berubah. Ia masih mencintainya, dan ia masih berharap bahwa ia bisa kembali bertemu walau hanya sebentar saja.
"Aku merindukanmu," lirihnya.
"Bagaimana kabarmu sekarang? Apakah kau masih ingat padaku? Ternyata sudah sangat lama semenjak pertemuan terakhir kita. Bagaimana kehidupanmu sekarang? Apakah kau masih menjadi aktor yang karirnya tak pernah padam?"
"Sudah sangat lama, aku tidak mendengar kabar tentangmu bahkan aku tidak pernah membaca satupun berita mu."
"Apakah kita akan bisa bertemu lagi? Dan apakah kita akan bisa bersama lagi seperti dulu?"
"Entah kenapa sejak perceraian kita, aku tidak bisa melupakanmu. Semenjak semuanya berakhir, aku bahkan tidak pernah menjalin hubungan dengan pria lain dan malah terus menyibukkan diriku dengan berbagai urusan kantor yang mungkin saja aku gunakan sebagai pelarian agar aku tidak terus teringat akan perasaan yang aku rasakan untukmu."
"Andaikan saja kau tahu, bahwa perasaan yang aku rasakan sebenarnya berbeda semenjak tahun kedua pernikahan kita. Andai saja dulu aku lebih berani untuk mengakui perasaan ku padamu, mungkin aku tidak akan mengalami masa-masa sulit yang membuatku terus terperangkap dengan pesona dan ingatanmu di masa lalu."
Tanpa sadar Celline meneteskan air matanya, entah kenapa ia begitu sensitif saat harus kembali di hadapkan dengan ingatan masa lalunya dengan Jacob. Perasaannya selalu meluap begitu saja ketika mengingat sosoknya. Sosok pria tampan yang pernah menjadi suaminya, sosok pria yang memiliki sifat romantis dan penuh kejutan. Mungkin karena hubungannya dengan Jacob terlalu berkesan bahkan walau hanya untuk sekedar status pernikahan kontrak tapi banyak sekali kenangan indah yang di alaminya, bahkan saat mereka masih menjalin kontrak, Celline merasa bahwa itu bukan pernikahan yang di dasari dengan hitam di atas putih. Ia bahkan nyaris lupa bahwa statusnya hanyalah terikat perjanjian yang mereka buat.
"Ah, kenapa aku menangis." Celline mengusap air mata yang membasahi kedua pipinya.
"Aku tidak boleh terus mengingat-ingat tentang dia, sekarang kita sudah memiliki kehidupan masing-masing dan semuanya sudah berbeda dari yang dulu."
Celline menaruh foto lama yang di temukan nya itu ke atas mejanya dan memutuskan untuk kembali fokus pada barang-barang lain yang ada di dalam sana.
***