Awalnya dengan aku begini semua akan baik baik saja.Tapi ternyata dengan aku memaksa menjalin hubungan ini semakin rumit.
Bahkan setelah bertunanganpun kami masih harus menghadapi masalah keyakinan yang berbeda ini.
Saling cinta dan kasih tapi sayang kami tidak dapat memutuskan siapa yang harus mengalah.
"Lis,bisa kah kamu mengalah untuk aku.Sudah lama aku mengalah demi mu."Dia lagi lagi memintaku untuk meninggalkan keyakinan ku
"Don,aku nggak bisa.Ini hukumnya murtad bagiku."jawabku kekeh.
"Aku paham Lis,tapi kamu tau bahwa keluarga ku tidak akan mengijinkan aku menjadi mua'laf"jelasnya.
Aku terus diam dalam heningnya malam.Masih belum menemukan jawaban dari hubungan ini.
Masih harus terus berjalan dalam keadaan yang menyulitkan ini.
Ia ini hanya sekedar pilihan.Tapi bagaimana pun aku dengan nya adalah sepasang kekasih yang sudah menjalin hubungan begitu lama.
Bahkan kuliah juga bareng terlebih lagi sekarang dia seorang TNI.Sungguh butuh perjuangan untuk tetap bertahan di hubungan ini.
Kami yang terus menahan hawa nafsu ketika berduaan.Menahan emosi Ketika rindu sungguh LDR itu menyedihkan.
"Lis bagaimana kalau kamu coba biacara dengan orang tua mu"Doni kembali memohon.
"Ini bukan masalah orang tua ku yang tidak mengijinkan untuk pindah agama.Tapi aku tidak akan meninggalkan Keyakinan ku Don"jawabku dengan yakin.
"Aku sunggu tidak menyangka kamu tidak ingin memperjuangkan hubungan kita yang sudah terjalin lama"dia kembali memulai hal yang membuatku terpojokan.
"Aku ,kenapa harus aku Don yang selalu salah Dimata mu.Dulu ingat saat aku ingin pergi kerja ke Eropa kamu memohon aku untuk tetap tinggal padahal itu adalah impianku"aku kembali bicara dan jelas tidak ingin kalah lagi.
"Lis aku rela tidak menyentuh mu demi kesucian mu dan aku sudah menahan lama dengan nafsuku terhadap mu"dia malah kembali membahas hal yang menurut aku tidak ada kaitannya dengan ini.
Akupun menangis sejadinya sambil memalingkan wajahku dari pandangannya.
Yah kamu mencoba menahan semua itu karna kamu ingin sekali masuk TNI dan jelas kamu pun harus menjaga kesucian diri kamu juga.
"Don aku tau kamu sangat ingin tau tentang perasaan ku selama ini dan kamu terus meminta kesucianku untuk pembutian,tapi tidakkah kamu sadar aku juga sedang menjaga kehormatan kita berdua"
"Apa, kehormatan.Busitt dengan kehormatan bahkan kamu juga sudah tidur denganku selama periode ku kuliah kita"Dia malah mengungkit semua itu agar aku goyah dan mengalah
"Don coba kamu ingat ingat ,kita hanya tidur bersama tidak melakukan apapun"Tekan ku dengan nada yang menggertak.
"Ahhh sittt ,kenapa kamu tetap kekeh untuk tinggal dengan keyakinan mu Lis?"dia menjerit histeris sembari kedua tangannya memegang pundak ku kasar dan itu sangat sakit .
"Sakit Don lepaskan ini sangat sakit"pinta ku sambil mencoba melepaskan tangannya.
Dia malah semakin kuat dan beralih memelukku.
Dia terus menangis sambil memelukku erat.
Aku juga sama tidak ingin berpisah Don.Tapi aku tidak akan meninggalkan keyakinan ku.Tidak mau goyah karna semua yang kita jalani hanya sesaat di dunia ini.Jika pun kita harus berpisah aku akan memilih berpisah.
"Please Lisa Do not leave me"lirihnya yang semakin lemah.
"Aku tidak bisa janji Don"jawabku singkat.
Setelah pertikaian itu kami memutuskan untuk pulang ke kediaman kami masing masing.
Aku memang berasal dari Jawa dan merantau kuliah sambil magang kerja di Jakarta.
Dari kuliah semester pertama kita memang sudah satu mata kuliah dan sampai akhirnya kami sering bertemu dan memiliki perasaan sama.
Di saat itu dia mencoba cari cara dengan keluarga nya agar bisa tinggal denganku di kontrakan yang sudah aku sewa jauh jauh hari sebelum memutuskan kuliah di Jakarta.
Karna awalnya memang aku ingin lanjut kuliah di kampung saja.Tapi ternyata Bapk dan Ibu mendukung ku untuk kuliah di Jakarta sambil magang kerja di perusahaan milik tente ku.
Awalnya Bapak mau aku tinggal di rumah Tante tapi aku jelas menolaknya karna merasa tidak enak dan kurang bebas.Tapi ternyata kemandirian ku membuat kebebasan yang rumit ini.
Aku malah tinggal satu atap dengan pacarku di semester 2.Tapi selama ini memang Doni yang membantu semua kebutuhan ku dalam segi apapun materi atau pun fisik walau sebenarnya aku tidak butuh uangnya.
Kami hanya menjalani kehidupan kami dengan baik selama keluarga kami tidak tau yang sebenarnya.
Sampai pada akhir nya dia memutuskan untuk berhenti kuliah di semester 4 dan lanjut menjalani pendidikan sebagai anggota TNi .
Disitu aku sedih karna harus LDR dengan nya cuma bagaimanapun juga ini adalah salah satu mimpinya.Aku bisa apa selain mendukung semua cita citanya selama itu baik It's ok bukan.
Setibanya di kontrakan aku mendapat telpon dari Mamahnya Doni.Tak usah berpikir panjang aku langsung angkat dan memulai menyapanya.
"Hallo Mah"Iyah aku memang sudah memanggil nya mamah dari awal bertemu keluarga mereka.
"Ohk iya Lis,gimana kan kalian udah tunangan lama nih,kapan keluargamu menentukan tanggal pernikahan?"kenapa dia menanyakan itu setiap hari.Baru saja kemarin kita membahas nya bahwa aku masih harus memikirkan hal keyakinan terlebih dahulu.Hem tidak anak tidak Ibu membuat aku lelah saja.
"Mah nanti besok aku pulang ke Jawa dulu untuk ngobrol sama orang Tua ku"jawabku dengan lembut.
"Ok sayang jangan Nunda Nunda nanti kebnyakan problem jadi susah"pintanya dengan singkat.
Mau tidak mau aku akan ambil cuti dari kantor untuk pulang ke jawa. Sepertinya memang aku harus sedikit menenangkan pikiran dulu supaya tidak terlalu tertekan.
Pagi hari aku sudah kirim pesan buat Doni
" Don hari ini aku akan pulang ke Jawa,tidak usah ikut aku sendiri saja lagian kamu juga harus jaga aku tidak ingin mengganggu pekerjaan mu"jelas ku
Tapi sayang dia hanya membaca pesan ku tidak membalasnya.
Yah sudahlah aku pergi saja.
Aku pergi dengan menggunakan mobil pribadi milik Tante ku di Jakarta aku sengaja pinjam mobil milik Tante agar nanti pas pulang aku bisa membawa kedua orang tua ku ke Jakarta.
Setelah 6 jam di perjalanan aku sempat berhenti di rest area beberapakali untuk buang air kecil dan akhirnya aku sampai di siang hari pada jam 14.30 sungguh perjalanan yang cepat.
"Loh Lis pulang ko gak bilang bilang "sambut ibu yang langsung menuntun ku masuk ke dalam rumah.
"Iya Bu Lisa kangen jadi pulang dadakan yahh anggep saja ini sebagai kejutan"jawabku sambil mencium pipi kanan kiri miliknya.
"Hiss gak boleh gitu kalau tau kamu pulang ibu kan masakin makanan kesukaan mu toh nak"bisik nya sambil mengelus pipi mungilku.
"Lah ibu ngapain di luar cuaca hari ini panas sekali ibu kenapa gak di dalam saja?"tanyaku heran.
"Itu bapak kamu lagi ibu suruh beli pisang goreng tapi ko lama gak Dateng Dateng"jelas nya sambil celingak celinguk kesana kemari.
"Ibu kaya gak tau bapak aja,kalau di suruh beli apa yang di beli gak cuma satu apa lagi belinya di kampung sebelah"tuturku sambil terkekeh
Ibu hanya menjawab ku dengan senyum nya lalu kami duduk di ruang tengah untuk meminum teh yang sudah di buat oleh asisten rumah tangga kami.
Iya walaupun aku berasal dari kampung bukan berati aku orang yang kekurangan kami lumayan cukup ada di kampung ini karna dulu bapak ku pernah menjadi lurah tapi sekarang sudah pensiun karna usia nya juga sudah tua.
Jadi sebelum aku pergi kuliah ke kota aku sudah meminta seseorang asisten untuk bantu bapak ibu di rumah karna mereka hanya tinggal berdua.
"Bu ibu,itu ada mobil si Tika di depan"Panggil seseorang dari luar.
Yah benar dia Bapakku yang baru saja datang dari kampung sebelah menggunakan sepeda motor antik miliknya.
"Iya pak sini"panggil ibu sambil teriak.
bapak langsung masuk dan melihatku.
"Loh loh loh Lis ko udah pulang ini kan masih hari kerja sayang?"tanya bapak dengan heran sambil memelukku dan cium kening milik anak gadis satu satunya.
"Lisa kangen pak,jadi Lisa pulang ambil cuti 3 hari.Terus nanti Lisa juga mau ajak bapak ibu main ke Jakarta Tante Tika yang suruh.Jadi aku sengaja bawa mobil sendiri ke sini"jelasku
"Doni kemana Lis?"tanya ibu yang mungkin baru ngeh.
"Oh Doni kan kerja tugas dia gak bisa di tinggalin kaya kerjaan ku Bu"jawabku.
"Yah sudah kamu pasti cape nyetir mobil sendiri mendingan kamu istirahat nanti sore ibu panggil buat makan"
Aku pun menurut saja dan berlalu pergi menuju kamarku yang sudah di bersihkan setiap hari oleh asisten kami.
Hem nyaman sekali jika aku tinggal di sini lebih lama.Seandainya aku tidak pergi kekota mungkin aku tidak akan menemukan masalah yang rumit ini.
malam pun tiba aku masih bingung mau mengawali pembicaraan ku dari mana dulu .
"Lis coba cerita ibu sama bapak tau kenapa kamu pulang, Tante kamu sudah kasih tau ibu lewat telpon".ibu mencoba mengajakku bicara dengan pelan.
"Sepertinya Lisa mau sudahan saja pak,Lisa GK mau lanjut nikah"jawab ku dengan tegas dan yakin.
"Kamu sudah yakin sayang"bapak mencoba meyakinkan ku kembali.
"Pah aku yakin aku pasti bisa melewati semua ini tanpa dia,dia pun akan baik baik saja tanpa aku.Hanya perlu proses saja"jawabku dengan meyakinkan mereka kembali.
Ibu dan bapak saling tatap.Bagaimana juga ini adalah hubungan kami mereka tidak ada berhak untuk melarang keputusan ku .
"Keyakinan lebih kuat dari pada perasaan bapak bangga sama kamu tidak lupa dengan Allah yang sudah baik kepadamu selama ini"jelas Bapk sambil memelukku.
"Lisa yakin Allah tidak akan menyulitkan ku lagi pak"lirihku dengan mata yang merah.
Tiga hari kemudian aku dan keluargaku berencana untuk ke Jakarta bertemu keluarga Doni tapi sebelum kami berangkat malah di kejutkan oleh keluarga Doni yang datang lebih dulu ke kampung.
"Aduh pak Bu repot repot jauh kesini yah"sambut bapak dengan ramah.
"Gak papa ko pak namanya juga mau ke rumah calon menantu"jawab papahnya Doni.
Ada Doni di belakang mereka sedang menatap ku sendu.Terlihat jelas dia pasti tidak bisa tidur di malam hari.Kelihatn dari kelopak matanya nya yang menghitam pekat.
"Ayo pak masuk"ajak bapak.
mereka mengikut dari belakang bapakku untuk memasuki rumah kami yang sederhana ini tapi lumayan memang cukup besar .
"Gini pak ,Kan kemarin saya tanya Lisa mau tanggal berapa nikahnya
?" mamah nya Doni mulai mengawali pembicaraan kami.
"Tapi Lisa minta ijin pulang kampung dulu untuk bertanya sama kalian"sambung papahnya Doni.
Aku diam dan aku menatap bapak ibu untuk tidak menjawab satu kalimat pun.Karna aku ingin sendiri yang menjawab nya.
"Mah ,pah Lisa seneng punya calon mertua seperti kalian .Kalian baik dan sayang Lisa begitu juga Doni menjaga Lisa dengan baik selama beberapa tahun ini.Tapi"aku berhenti di ujung penjelasan ku dan kembali melihat wajah Doni dengan tegas.
"Lisa mau menyudahi hubungan ini Don"Tegasku dengan gemetar.
Semua orang terdiam melihatku tajam.Termasuk Doni yang kaget bahkan langsung menangis di depan kami semua.Tidak hanya dia aku pun menyusulnya menjatuhkan airmata ku dengan deras
ibu dan bapak memeluk ku begitupun mamahpapah memeluk Doni dengan lembut.
Mereka juga paham karna kami sangat sangat memiliki keyakinan kuat
"Lisa satu kalimat yang bisa aku ucapkan untuk hubungan kita. Terimakasih"Doni coba bicara dengan tegar berusaha tidak terlihat lemah di mataku.
Doni memberi isyarat pada kedua orang tuanya untuk segera pergi dari kediamanku.
Ibu bapak sudah coba memberikan pengertian yang dalam pada mereka.
Begitu juga mereka saling meminta pengertian
Aku melihat mereka menaiki mobil dan pergi jauh menjauh dan sangat jauh lagi dari pandangan ku.
Aku terkulai lemah tak berdaya melihat orang yang sangat aku cintai pergi untuk menerima keputusan ku.
Bapak ibu terus memapah ku masuk kekamar.
"Ini memang sakit tapi semua akan baik baik saja"
Tapi hati ku terus berkata kenapa harus seperti ini
bahkan aku tidak bisa mengucapkan terimakasih kasih kembali padanya.