Aku menunggu mu di ujung senja itu.....
Aku menunggu mu ketika usai lelah penat seharian berkutat dengan segala aktivitas...
Aku menunggu di paling ujung sudut ruangan itu...
Jangan ada lagi suara kegaduhan itu...
Jangan ada lagi suara sumbang ikut mencampuri urusan kita...
Aku menanti itu, ketika kita duduk di sudut yang membentuk siku...
Aku dan kamu akan mendapatkan zaman itu. .
*******
Semburat senja warna jingga ku nantikan di hari itu. Katamu aku harus sabar menunggumu setelah usai segala kewajiban mu mengais rejeki di hari itu. Katamu kamu sudah sangat merindukan aku. Katamu kamu sudah tidak sanggup menahan segala beban rindu yang tersimpan di kalbu. Kamu ingin meluapkan segala beban rindu itu yang menghimpit mu. Aku harus sabar menunggu datang mu bersama hadiah kecil yang kau bilang itu.
Kini aku pun sudah duduk di sudut itu sesuai apa yang sudah kau bilang kepadaku. Tempat dimana itu akan membuatmu lega, tenang dan damai jika nanti kita bertemu di sana. Khayalan itu sudah muncul di pikirku bersama mu. Mengarungi samudra indah bersama mu. Mengayuh kapal bersama membelah lautan yang terbentang luas. Aku dan kamu akan menikmati kebersamaan itu di paling ujung sudut ruangan. Di sudut waktu itu aku masih menunggumu.
Khayalan indah akan hadirmu sudah sangat jelas menari di pelupuk mata. Kamu hadir seperti pahlawan hatiku. Mengobati lara dan sedihku. Namun sudah di ujung waktu pun kau tidak juga menemui ku di sudut ruangan ini. Aku sudah mulai resah dalam penantian menunggu. Aku pun mulai berjalan mondar-mandir, menengok kanan dan kiri apakah sudah hadir kelebatan bayangan mu. Tubuh yang kekar dan bodyguard menawan. Aku akan hangat jika berada dalam dekapan pelukan mu kelak. Kelak dalam temu di sudut ini.
Namun cukup lama aku masih menunggu di sudut ini sambil menikmati segelas anggur ini. Aku sudah tidak sabar melihat mu dalam senyuman yang merekah.
Tiba-tiba seorang pria setengah baya datang dengan cepat mendatangi aku. Lalu pria tua itu memberikan kabar mengenai kamu. Kamu yang tiba-tiba menggagalkan segala janjimu kepadaku. Seketika tubuhku lunglai akan ini. Aku yang sudah letih menanti namun kamu dengan mudah menggagalkan temu ini.
" Ini bukan sekedar memenuhi janjiku kepadamu, gadisku! Namun ketika kaki dan tanganku tidak mampu lagi mengejar mu. Maka datang dan berlari lah dengan cepat kepadaku. Aku akan diam dan menanti di sudut itu." katamu yang kamu tulis di pesan singkat namun sedikit panjang itu dalam menjelaskan ketidak hadirmu disini.
" Ini, apa maksudnya? Aku tidak paham akan bahasa yang bertele-tele seperti ini." kataku lemah dan lunglai.
" Apakah nona hendak ingin menjumpai tuan mudaku?" tanya pria tua itu.
" Tentu saja! Aku akan ikut kamu menjumpai kekasihku." jawabku.
" Baiklah! Pergilah bersama ku, nona! Aku akan mempertemukan mu dengan tuan mudaku." ucap pria setengah baya itu.
Tanpa banyak bicara, aku mengikuti pria tua itu. Dan akhirnya setelah menempuh jalanan yang berkelok-kelok dan di kanan kiri tempat itu adalah bukit, barulah kami berhentilah di bangunan tua namun masih indah dan menawan. Kedatangan aku disambut banyak pelayan di sana. Lalu aku diantar ke suatu tempat dimana itu ada kamu di sana.
Di sudut ini kamu benar nyatanya menunggu ku yang awalnya aku pun sudah menunggu ditempat yang sudah kita sepakat di tempat itu. Kita pun sama- sama menunggu.
Di sudut itu kamu terbaring kaku dan siap akan dikubur bersama kenangan masa lalu. Kaki, tangan tubuhku lunglai akan itu. Namun kau masih dima membisu ketika banyak tanya di benakku. Kenapa secepat ini kau berlalu meninggalkan harapan indah kita? Kenapa selama ini kau menyimpan banyak rahasia akan sakit mu. Katamu kamu sudah bahagia bisa berjumpa dan mengenali aku. Katamu kamu sungguh-sungguh berterimakasih akan tulusnya cintaku. Tetapi apa ini artinya? Jika kamu sangat egois, meninggalkan aku sendiri di sudut ini.
" Kamu jahat! Kamu sangat jahat, meninggalkan aku menunggu sendiri di sudut itu dan kamu dengan sangat tega mengingkari janji itu ketika aku benar-benar mencintaimu." kataku dalam tangisan pilu.
(Jakarta, 29 Desember 2021)