Perempuan itu menghempas amplop cokelat besar di meja. Aku menatapnya tak mengerti.
Beberapa saat sebelumnya, aku sedang menyusun buku di perpustakaan tempat aku bekerja. Setiap buku diberi kode sesuai Klasifikasi Desimal Dewey, yaitu sistem penomoran buku berdasarkan sepuluh klasifikasi utama. Dari sepuluh klasifikasi itu, bisa dibagi lagi.
Aku baru saja menaruh buku di rak 300 atau rak sosial, ketika mendadak ia sudah berdiri di belakangku. Tentu saja aku terkejut. Dengan gaun terusan seharga mobil, ia tampak mencuat dibanding pengunjung lain.
"Rayma?" tanyanya dari balik kacamata hitam berlogo G emas. " Rayma Darani?"
Aku mengangguk.
"Aku Ara," katanya lagi. "Waraduhita."
Sebagai pegawai perpustakaan, aku tak hanya baca buku filsafat. Aku juga gemar melahap majalah dan tabloid, e-book dan laman gosip. Nama perempuan itu merajai laman gosip sebagai aktris berpenghasilan tertinggi selama empat tahun berturut-turut. Apa yang ia inginkan dariku?
"Aku ingin bicara denganmu."
Kulirik tumpukan buku di meja.
"Keberatan aku selesaikan dulu?" tanyaku.
Ia berpaling. "Di lobby," katanya dingin sambil berlalu.
Di sinilah kami, lobby dengan empat sofa dan satu meja petugas keamanan. Aku menarik amplop itu lebih dekat dan membaliknya. Tak ada tulisan apa pun.
"Buka!"
Masih dengan keheranan aku merogohnya. Bisa kurasakan ujung jemariku menyentuh kertas yang agak tebal di dalamnya. Jemariku menjepit dan menariknya keluar. Foto.
Mendadak kurasakan udara sekelilingku menipis. Otakku membeku. Itu foto lama. Kira-kira tujuh tahun lalu, saat aku baru saja menikmati bangku kuliah di Seoul.
Kecintaanku pada buku membawaku pada sebuah panti asuhan di Sangdong-dong. Aku menjadi reading volunteer bagi anak-anak di sana.
Sosok di sebelahku di foto itu, yang membuat waktu serasa berhenti berputar. Jantung terasa berhenti berdetak.
"Ap ... Apa maksudnya ini?" tanyaku.
"Tidak ada," sahut perempuan itu. "Hanya membuktikan, sesuatu yang ditutup rapat akan terbuka pada waktunya."
"Aku tak mengerti."
"Tak perlu mengelak. Jawab saja, sudah berapa lama kau dan Senshine pacaran?"
Aku terperangah. "Ap ... Apa? Tunggu. Kami tidak ...."
"Jangan berlagak bodoh! Kau pikir aku akan diam? Kurang dari empat bulan lagi film kami dirilis. Ini adalah kerja sama besar antara Indonesia dengan Korea Selatan. Kabar hubunganku dengan Senshine akan berlanjut di luar layar sudah beredar. Hanya gara-gara foto ini, semua akan hancur."
Aku memejam mata dan menarik napas. Kenangan menderas seiring lagu Something Wrong yang diputar operator untuk menemani jam istirahat pengunjung dan pegawai.
Lelaki itu Oh Se Hoon. Pertemuan kami kasual saja. Aku sedang bertugas membacakan dongeng pada anak-anak dengan rentang usia 5-10 tahun.
Dia datang dengan dus-dus makanan. Aku tidak mengenal sosoknya. Namun kilatan kamera dan para penjaga yang mengikuti menjelaskan semua.
Ia meminta maaf menyela dongengku. Acaranya memang kejutan. Aku membantu membagikan dus-dus itu dan memastikan semua anak mendapatkan bagian.
Acara itu berlangsung setiap bulan dan menjadi bukan kejutan lagi. Percakapan kami sebatas 'apa kabar', 'terima kasih', dan 'sampai jumpa'.
Bagiku, Sehun orang yang ramah tapi berjarak. Setiap memandangnya seolah ada jurang di antara kami. Sikapnya sangat formal. Karena itu ia sangat sulit berinteraksi secara natural dengan anak-anak. Kalau ada anak yang bertanya, ia menjawab singkat. Seolah ia melakukan semua itu hanya untuk menuntaskan kewajiban.
Hingga suatu hari, seorang anak memintaku memeragakan sebuah dongeng. Ia juga meminta Sehun menjadi salah satu tokoh. Tak dinyana aktor itu hafal dialognya. Bahkan berani berimprovisasi dengan sangat cerdas. Anak-anak tertawa atas banyolannya.
Sejak itu, sikapnya perlahan mencair. Saat makan bersama, ia menarik sebuah kursi untukku. Kemudian mendekatkan kotak makanan ke arahku. Juga membantuku menangani anak-anak. Ketika pamit pulang, ia juga membahas kejadian lucu yang kami saksikan sebelumnya.
Foto itu, adalah ketika aku memilih buku dongeng. Dia bertanya tentang sebuah judul. Aku menjelaskan alur hingga karakterisasi tokoh. Yang kutahu saat itu ia menyimak dengan sungguh-sungguh, tetapi mengapa di foto tatapannya tampak hangat? Aku ingat peristiwa itu tak lebih dari semenit. Di foto, berlangsung selamanya.
Bulan berikutnya aku tak lagi bertugas. Kakak sulungku meninggal dunia dan aku harus pulang ke Indonesia. Sehun agaknya mencari nomor teleponku lewat pengurus yayasan. Ia menghubungiku dan menyampaikan bela sungkawa. Kuanggap itu perhatian seorang kawan.
Setelah itu, aku kesulitan kembali ke Seoul. Mendiang kakakku adalah sponsor utamaku, atau donatur. Usai kepergiannya, aku ikut membantu sang istri mengurus harta peninggalan. Hampir separuhnya habis untuk membayar utang. Sisanya untuk mencukupi kakak ipar dan tiga keponakan berusia sekolah. Aku sadar diri dan memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliahku di Seoul.
Aku pindah ke Jakarta, dan memuaskan hobi bacaku dengan bekerja paruh waktu di kafe yang merangkap perpustakaan. Selesai kuliah, aku tidak sanggup mencari pekerjaan lain. Kebetulan pegawai tetap kafe perpustakaan itu pindah. Aku dengan senang hati menggantikan posisinya.
Sehun menghubungiku sesekali, atau berkomentar di media sosialku. Dia sendiri kerap memosting coretan tangannya di secarik kertas. Sebuah puisi manis tentang rasa terpendam dan langsung dibanjiri ikon love dari penggemarnya.
Aku tak ingin tahu, atau pun mencari tahu. Bagiku, dia sesama relawan yang pernah menjalani masa menyenangkan. Sebagai lelaki, dia lebih dari kenyataan sehingga aku tak berani membayangkan.
Jadi kini, aku menggeleng di hadapan ratu sinetron itu.
"It's nothing," kataku mantap. "Kau tak perlu khawatir."
"Bagaimana tidak khawatir? Aku mendapatkan foto itu kemarin. Dikirim via kurir, tak ada nama pengirim, dan tak ada kontak yang mengklaim kiriman itu. Artinya," kata Ara. "Seseorang tahu tentang kalian. Foto ini bisa saja beredar, dan aku akan tampak bodoh."
Aku terdiam.
"Mengapa?" tanyaku akhirnya. "Mengapa kau begitu panik? Kau punya segalanya, aku bukan apa-apa. Ketakutanmu tak beralasan."
Ara mendesah. "Aku hanya ingin semua berjalan sempurna. Aku tak ingin skandal, diputuskan hanya karena masa lalu. Itu terdengar konyol."
"Aku bukan masa lalu," kataku. " Kau ingin kesempurnaan? Kaulah kesempurnaan itu. Yang harus kau lakukan hanyalah yakin. Ingat, batu karang tidak pernah goyah dihantam ombak."
Seiring aku berkata, jauh di lubuk hati, batu karang yang kubangun sendiri mulai berlubang. Ia memang tak rubuh dihantam ombak, tapi digerus perlahan hingga hancur.
Sepeninggal Ara, aku membuka ponsel. Ada foto secarik kertas yang kusimpan di galeri. Kiriman lelaki itu lewat akun pribadi.
I am sick
I am over heels. You're turning your wheels
This is not right, but you never wrong
These captive me tight, and those will go on
You never know what between the show
Just a cheap trick, I can not break
I am tired. Hide my fire
OSH
***