Suara mesin pendeteksi dengan konstan berbunyi dalam ruangan sunyi ini. Memberi tahu dunia bahwa masih ada makhluk hidup yang bernapas di sini. Manusia dengan rambut panjang tergerai ini memang masih ada, tetapi hanya bisa terlelap sepanjang waktu. Banyak selang-selang medis yang menjuntai di sekitar tubuhnya.
Pintu ruangan dibuka, kemudian ditutup setelahnya. Bunyi langkah kaki seorang gadis mengudara, beriringan dengan suara mesin pendeteksi. Dia mengukir senyum dalam bibirnya, sedikit mencodongkan badan ke samping, seolah ingin memberikan sebuah kejutan kepada wanita yang terbaring di atas ranjang.
Langkah kaki terhenti, gadis itu berdiri di sisi kiri ranjang. Dia memberi sedikit jarak di antara ranjang dan dirinya. Ia tahu, sedikit gangguan mungkin akan mengacaukan kenyamanan sang ibunda.
"Apa kabar, Ma?"
Ya, wanita keriput berbalut kalut itu adalah ibu sang gadis. Sudah dua tahun ini dia menjadi tak berdaya dalam ruangan putih. Mengidap penyakit yang langka, membuatnya sangat sulit disembuhkan, meski dokter telah mencoba berbagai cara sekalipun.
Dan, gadis itu namanya Alana Xaviera Hikari. Nama yang tepat untuk menggambarkan perempuan ini. Cantik, baik, ramah, dan cerdas, semua sifat positif ada pada dirinya.
Meski begitu, sebenarnya Alana adalah gadis yang memiliki masa lalu kelam. Ayahnya bercerai dengan ibunya dan menikah lagi, lalu kakaknya dibunuh oleh pacarnya, dan sekarang, ibu Alana berada dalam fase kritis.
Semua pisau tajam ditutupi oleh lengkungan bibir.
Alana menarik kursi kecil di dekatnya kemudian mendaratkan tubuh bagian belakangnya di sana. Ia lalu menunjukkan hadiah yang telah dia sembunyikan di balik badan sejak tadi. "Ma, aku bawa bunga buat Mama. Bunga mawarnya bagus banget! Liat, deh!" ucap Alana yang masih memertahankan senyumannya.
Alana melirik bingkai foto yang ada di nakas tepat tidur. Ia menggeser sedikit benda yang berisi foto kenangan lama ia dan keluarganya tersebut, kemudian meletakkan bunga mawar tunggalnya.
Ia kembali fokus kepada tujuan utamanya ke sini. Duduk di kursi dan menatap ibundanya. Alana lantas menggerakkan tangan, meraih jari-jemari lembut wanita itu.
"Nggak kerasa, udah dua tahun, ya?" cetus Alana berupaya keluar dari perasaan sedih. Ia tertawa kecil di akhir, menandakan bahwa gadis itu tengah melawan perasaan aslinya. "Aku kangen banget sama Mama. Ya, walau aku udah ketemu Mama kemarin, tapi tetep aja. Aku rindu Mama yang dulu."
Tidak ada jawaban.
Setelah itu, Alana terdiam. Dia menatap wajah Mamanya yang terlihat tidak berubah sejak kondisinya dikabarkan menurun. "Ma, masa Mama mau tiduran begini terus? Nanti, siapa yang jadi bandar gosip di komplek B? Tau nggak, Ma? Ibu-ibu di rumah pada nyariin Mama karena bingung mau nyari informasi di mana lagi," ujar Alana berbisik pelan di telinganya.
"Kata Mama, Mama mau jadi ibu-ibu Indonesia pertama yang mendaki Gunung Everest, iya kan? Kata Mama, Mama mau selfie bareng Iwan Fals, kan? Kata Mama, Mama mau ngewujudin semua mimpi Mama, iya kan?" Suara Alana semakin pelan setiap detiknya. Energi cengkraman kuat di tangannya pun melemah, seperti seseorang yang telah putus asa.
Namun, dia langsung menengakkan kepala dalam waktu singkat. "Ma. Mama, aku tahu Mama dengerin semua ocehanku ini. Mama tahu kan aku ini cerewet. Jadi ...." Gadis itu menggenggam tangan rapuh ibunya kuat-kuat. Diiringi do'a serius dalam hati.
Ia menghela napas berat, mengakhiri sandiwara buatannya. Alana tahu bahwa ibunya masih terlelap, tapi dia berupaya keras untuk meyakinkan diri bahwa ibunya sudah bangun. "Hah ... ya udah deh kalo Mama nggak mau jawab pertanyaanku. Besok, aku bakal ke sini lagi. Tapi, Mama harus janji bakal jawab setiap pertanyaanku, oke?" Suara lirihnya mengalun, berharap agar bualan-bualannya itu bisa sampai ke dalam kalbu.
Setelah mengucap hal tersebut, Alana lalu beranjak dari kursinya. Merapikan selimut yang sedikit terbuka di bagian kaki, kemudian mencium kening wanita itu.
"Aku sayang banget sama Mama. Cepat sembuh, ya?" bisik Alana sekali lagi, masih menaruh harapan sedikit lagi.
Dia tersenyum tipis, berbalik arah dan berjalan pelan.
Alana menutup pintu ruangan, meninggalkan wanita berusia 54 tahun itu seorang diri.
~Tamat~