Hiruk pikuk suasana kantor memang selalu ramai, terlebih di jam makan siang. Para pekerja yang sudah duduk sejak pagi di depan komputer, merenggangkan otot mereka yang kaku sebelum melenggang pergi ke kantin guna mengisi perut yang keroncongan.
Aku sendiri memilih untuk bersandar sejenak, membuat otot punggungku sedikit terasa rileks. Mengabaikan colekan Diana yang mengajakku ke kantin, aku hanya memberi gestur sebentar lagi aku akan menyusulnya.
Tapi yang ada aku malah sibuk berkutat kembali dengan komputer di hadapanku. Sudah menjadi kebiasaan akhir-akhir ini aku mengabaikan makan siang dan malah menyelesaikan seluruh pekerjaanku lebih cepat.
Aku hanya mencoba menghindari seseorang. Sialnya, sosok yang ku hindari selama seminggu ini malah memergokiku di ruang kerja. Aku mendengus, meraih dompet dan ponsel di samping komputer dan berjalan melewatinya begitu saja.
Hatiku sedikit dongkol melihat ekspresi wajahnya, padahal dulu wajah itu yang selalu berjarak beberapa senti dari wajahku, mengecup lembut ranumku. Atau sekedar berbisik kalimat manis yang membuat jantungku bertaluh.
Sekarang tidak lagi. Kuputuskan untuk melupakan tiap jengkal rasa yang pernah aku bubuh saat kami masih menjadi sepasang kekasih.
Namanya Kento Nanami. Kepala Manager di perusahaan tempatku bekerja. Kami menjalin asmara selama kurang lebih tiga tahun sebelum putus dua minggu yang lalu. Itulah mengapa, aku selalu menghindar ke kantin saat jam makan siang dan memilih berdiam diri di ruang kerjaku. Namun, sepertinya dia sudah tahu kebiasaanku itu.
"Kalian tidak akur? Bukan hal yang aneh padahal jika kalian menjadi teman setelah putus," Diana menimpaliku setelah aku bercerita alasan mengapa aku kini duduk di hadapannya.
Ku seruput kasar jus manggaku, aku mendengus. Mengapa beberapa orang berpikir bahwa pasangan yang sudah berakhir bisa menjalin hubungan pertemanan? Heol! Mereka yang seperti itu bodoh! Jelas, mereka belum bisa melupakan sehingga masih ingin menjalin hubungan dan bertukar kabar dengan alasan 'kita temenan, kan?'
"Aku bukan tipe yang seperti itu. Putus ya putus, kenapa aku masih harus berteman dan bertukar pesan dengan mantanku?"
"Ya, tapi melihat dari gelagat Pak Nanami, dia sepertinya selalu mencarimu di mana pun ia berada. Aku yakin ada sesuatu yang ingin dia sampaikan."
Well, aku paham maksud Diana. Hanya saja, aku sudah tidak mau berurusan dengannya lagi. Malam dimana ia mencampakkan diriku tanpa alasan, meninggalkan ku di bawah hujan seperti drama korea, dan mengabaikanku yang menangis memanggil namanya. Membuatku mengambil keputusan, apapun tentang Kento Nanami, di luar hubungan rekan kerja. Aku sudah tidak peduli! Sampai aku menyadari satu hal dua hari kemudian.
Pagi itu mendung, aku harus mengantar laporan hasil meeting dengan klien ke ruang kerja Nanami. Pemuda dengan garis rahang yang keras itu menatapku dengan tajam, aku membungkuk hormat sebagai gestur sopan antara bawahan dan bos.
Ku letakkan dokumen yang kubawa di atas mejanya, "Hasil laporan meeting, Pak Takeo menyuruhku memberinya kepada anda untuk di periksa lebih baik." ucapku
Nanami masih menatapku lekat, ia melepas kacamata yang bertengger manis di hidung lancipnya. Helaan napas berat keluar dari celah bibirnya. Sepertinya, Manager kita yang satu ini sedang di rundung masalah berat. Aku tidak perlu tanya masalah apa itu.
"Yuiko-san, apa kau menghindariku?"
"Ya?"
Apa ini? Memanfaatkan tugasku untuk membahas masalah pribadi di antara kami? Oh, bisakah aku kabur sekarang? Aku hendak memutar tubuh namun interupsi dari Nanami berakhir membuatku duduk berhadapan dengannya di sofa.
"Jawablah,"
"Apa?"
"Pertanyaanku. Apa kau menghindariku?"
Aku mengernyit, dia tidak pernah berubah. Bukan tipikal manusia yang membuang waktu dengan berbasa-basi, bahkan saat ia memutuskan hubungan denganku secara sepihak. Ia dengan jelas mengatakan bahwa ia ingin berpisah.
"Iya."
"Lalu, apa itu ada hubungannya dengan melewatkan makan siang dan bekerja dengan perut kosong? Aku tidak keberatan jika kau sanggup menahannya, tapi kau sedikit punya masalah dengan lambungmu. Jadi, aku harap kau bisa bersikap profesional, Yuiko-san." ucap Nanami dengan suara tegas
Aku tidak berniat membuka suara, pandanganku justru jatuh pada bingkai kecil di samping komputer miliknya. Ah, dia masih memajang foto itu rupanya. Mungkin tidak punya waktu untuk membuang kenangan lama kami saat liburan di luar negeri untuk pertama kalinya.
Aku ingat gambar itu diambil saat kami merayakan hari jadian yang pertama. Di London, dengan salju yang menjadi latar dan lengan kekarnya yang memeluk pinggangku posesif.
"Yuiko-san, apa kau mendengarku?"
Aku tersentak, "Ya?!" ku dapati matanya menghunus sinis, tampak menatapku kesal.
"Aku sedang membahas beberapa kalimat yang harus kau revisi dalam laporan ini, kenapa perhatianmu ke arah lain?"
Mata Nanami melirik bingkai foto yang tadi sempat mengalihkan perhatianku, ah, dia masih peka ternyata. Sekarang aku bertanya kenapa aku bisa jatuh cinta pada sosok manusia seperti dirinya ini?
Aku kemudian meminta maaf dan mendengar penjelasannya perihal apa yang harus aku revisi dari laporan tadi, seperti biasa, penjelasannya mudah di mengerti dan tak butuh waktu lama untukku memahaminya.
"Kalau begitu, mohon bantuannya."
"Iya, saya akan membawa hasil revisinya begitu selesai. Permisi, Pak."
Aku melangkah menuju pintu, namun hal yang sedari tadi mendesak hatiku berhasil menaklukan pikiranku. Aku bergeming, memilih berbalik dan menatap Nanami yang baru saja hendak duduk di kursinya.
Sebelah alisnya terangkat sebelah, menatapku heran.
"Anu, bisakah aku mengajukan satu pertanyaan?"
"Oh? Apa itu?"
"Mengenai bingkai foto di atas nakas anda, bukankah itu harus di singkirkan?"
Nanami menatap bingkai foto tersebut, senyum miring kemudian terlukis di wajahnya. Sembari menatap ke arahku ia berkata, "Kenapa? Ini hanya foto lama antara aku dan mantan kekasihku. Apa salah memajang fotonya disini?"
Responku yang menggerling malas dan mendengus sepertinya membuat Nanami kesal akan hal itu. Kentara dengan kedua alisnya yang menyatu.
"Tidak salah. Hanya saja, aku merasa kasihan. Ternyata Pak Manager sangat sulit melupakan mantan kekasih yang anda campakkan. Kau tidak perlu memajang foto itu untuk menatap wajah gadis di sana jika rindu, bukan?"
Aku melukis senyum miring yang sama, manik kelereng jernih milik Nanami berkilat semangat menatap senyumanku.
"Jika rindu, kau bisa mengetuk ruang divisi satu, ya, kan?"
Setelahnya, aku berlalu pergi. Meninggalkan ruangan Nanami dengan senyum puas yang mengembang. Foto lama yang ia pajang dengan setia dan jelas menjadi kode keras untukku, membuktikan bahwa perasaan Nanami tidak berubah bahkan sejak ia memilih mencampakkan diriku.
Kau salah jika berpikir putus denganku adalah pilihan yang terbaik. Karena sejak awal, aku sudah memasang perangkap, kau akan terus menjadi pihak yang mengejarku. Sekarang, rasakan karma dan permainan balas dendam karena sudah mencampakkan ku, Kento Nanami.