***
Terkadang ada beberapa hal di dunia ini yang sangat amat berat untuk dikatakan, walau padahal hanya sebuah kata sederhana yang sebenarnya begitu mudah terucap saat kita tidak menggunakan perasaan dalam mengatakannya.
Tapi begitu kata itu terlibat dengan hati, maka akan terikat dengan perasaan. Itulah yang memberatkannya. Membuat kata itu amat sulit terucap dari mulut kita.
Kira-kira begitulah yang sekarang sedang dialami Celline, seorang wanita yang sebentar lagi akan melepaskan statusnya yang awalnya merupakan istri sah dari seorang Jacob sang aktor tampan yang karirnya tak pernah padam, menjadi seorang janda muda yang cantik.
Hanya tiga tahun lamanya mereka menjalin hubungan sebagai sepasang suami istri. Namun tidak ada seorang pun yang tahu bahwa pernikahan mereka berlangsung berdasarkan hitam di atas putih. Tidak pernah ada cinta yang menghiasi kehidupan pernikahan mereka, hanya status saja yang membedakan dan selebihnya tetap sama, mereka memiliki kehidupan masing-masing yang keduanya telah sepakat untuk tidak terlibat dalam urusan satu sama lain.
Dan inilah akhirnya. Kerja sama simbiosis mutualisme mereka berakhir, kontrak mereka habis dan sesuai perjanjian ketika kontrak mereka habis, mereka akan mengakhiri status mereka juga. Bercerai dan menjalankan kehidupan masing-masing seperti sebelum mereka dipertemukan.
GLUP!
Celline menelan salivanya susah payah, ia gugup sampai-sampai keringat mengucur deras menghiasi wajah cantiknya.
Ketukan palu dari sang hakim didengarnya menginterupsi seisi ruang sidang yang memang sengaja digelar secara tertutup. Celline meremat erat rok yang dikenakan olehnya begitu kalimat "kalian resmi bercerai," itu terucap dari bibir sang hakim, dan begitu ketukan berikutnyalah statusnya berubah yang awalnya adalah istri dari pria yang kini duduk disampingnya menjadi ‘mantan’ istri darinya.
"Padahal seharusnya aku senang karena sekarang aku tidak perlu berpura-pura dan menjaga imageku di depan umum lagi. Tapi kenapa? Kenapa rasanya begitu menyesakkan saat kalimat itu terucap? Mengapa begitu menyesakkan saat mengingat sekarang statusku sudah berubah?" Celline membatin, matanya tanpa sadar berkaca-kaca. Ia hampir menangis tapi sebisa mungkin ia berusaha untuk menahan air matanya agar tidak jatuh. Celline mengucek kedua matanya dengan tangan, membuat alibi seolah-olah kedua matanya gatal.
Satu persatu orang didalam sana beranjak dari tempat duduk mereka saat sang hakim memberitahukan kalau sidangnya telah selesai.
Sementara yang lain mulai berhamburan keluar, beda halnya dengan Celline yang kini masih terduduk bersama dengan Jacob dan manajernya yang kini tengah sibuk menelpon dengan asistennya di luar.
"Bagaimana keadaan di luar? Apakah para reporter itu masih berkumpul di sana?" Tanya wanita yang merupakan manajer Jacob itu pada seseorang di telpon. Ia melangkah sedikit menjauh dari Jacob dan Celline yang kini masih terdiam ditempatnya.
Celline menundukkan kepalanya, dadanya sesak tanpa sebab. Hatinya sakit, rasanya seperti di tusuk oleh beribu-ribu belati tepat di ulu hatinya.
Jacob beranjak dari tempat duduknya, ia lalu menghampiri Celline yang kini masih terduduk dikursinya.
"Ya… sepertinya inilah akhirnya," ucap Jacob membuat Celline mendongak menatapnya dengan kedua mata yang masih berkaca-kaca. "Kontrak kita sudah berakhir dan ini adalah terakhir kalinya kita bertemu, ini terakhir kalinya kita berhubungan, dan ini juga terakhir kainya kita saling tegur. Karena selanjutnya kita tidak akan pernah bertemu lagi, kita tidak akan pernah berhubungan lagi, dan kita akan menjalani hidup seakan-akan kita tidak pernah saling mengenal."
Celline diam terpaku, lidahnya terasa kelu bahkan hanya untuk mengatakan sepatah kata pun. Jacob menarik kedua sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman yang begitu menawan.
"Senang bekerja sama denganmu," tuturnya sembari menyodorkan tangan.
"Sakit… mengapa begitu sakit saat menyadari bahwa senyuman di wajah tampannya itu adalah senyuman yang akan aku lihat terakhir kalinya? Seharusnya tidak begini, seharusnya bukan ini yang aku rasakan, seharusnya aku senang. Semua perasaan ini salah…" Inner-nya. Walaupun hatinya terasa sakit, tapi ia tetap berusaha menampakkan senyuman di wajah cantiknya.
"Senang bekerja sama denganmu juga," sahutnya, menjabat tangan Jacob.
"Aku harap kita tidak pernah bertemu lagi."
"Ng." Celline menganggukkan kepalanya, setuju dengan ucapannya.
"Sekarang kau bisa menjalani kehidupanmu sendiri. Terima kasih atas semuanya, kau adalah wanita yang baik. Siapapun yang nanti akan menjadi suamimu yang sebenarnya pasti akan sangat beruntung bisa menjadi pendamping hidupmu. Kau pandai memasak, pengertian, rajin, pekerja keras dan tidak pernah pantang menyerah. Tidak mudah untuk menemukan wanita sepertimu."
"Terima kasih karena kau juga sudah memperlakukanku dengan baik. Siapapun yang akan menjadi istrimu nanti pasti akan sangat beruntung memiliki suami sepertimu yang sangat romantis dan penuh kejutan." Celline menatap lekat kedua irish mata Jacob, menyelam lebih dalam pada manik mata biru keabu-abuan miliknya yang tampak begitu indah.
"Ada banyak sekali reporter di luar, tapi aku sudah meminta Gale untuk mengurusnya. Jadi aku rasa kita bisa keluar sekarang," tutur wanita itu pada Jacob begitu ia selesai berbicara di telepon.
"Baiklah, kalau begitu… ayo keluar," kata Jacob.
Detik berikutnya mereka bertiga melangkah keluar bersama-sama dari dalam ruangan tersebut.
Sementara itu di luar, Gale sang asisten berusaha mengalihkan perhatian pada reporter dan membantu mereka keluar hingga tiba di tempat yang cukup sepi yang telah mereka persiapkan. Tempat yang jauh dari jangkauan para reporter yang berusaha mengerok lebih dalam mengenai kehidupan mereka.
"Kita berpisah di sini," ujar Jacob begitu tiba di tempat parkir yang kini sepi. Di sana mereka berdiri di dekat mobil yang telah Jacob persiapkan sebagai jalan lain agar mereka bisa pergi tanpa gangguan para reporter.
"Ng." Celline menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu selamat tinggal."
"Selamat tinggal."
Celline berbalik melangkah kearah yang berbeda dengan Jacob yang kini melangkah semakin jauh. Semakin lama, langkahnya semakin terasa berat. Bersamaan dengan itu, air matanya semakin sulit untuk ia bendung.
Celline menghentikan langkah kakinya begitu sudah merasa cukup jauh dengan Jacob berada. Ia berbalik, menatap untuk terakhir kalinya sosok pria tampan yang kini telah berstatus sebagai mantan suaminya itu.
"Kenapa terasa begitu menyakitkan? Apalagi sekarang aku hanya bisa melihatmu dari kejauhan, apakah mungkin karena aku sadar bahwa perasaanku padamu bukan lagi hanya sebatas rekan?"
"Mungkinkah… semua ini karena perasaan cintaku yang perlahan muncul untukmu?"
"Setelah tiga tahun lamanya kita tinggal dibawah satu atap yang sama… dan selama dua tahun lamanya aku menyembunyikan semua perasaan ini…"
"Pada akhirnya aku tetap tidak bisa…"
"…Mengatakan semuanya." Celline mengusap air mata yang membasahi kedua pipi mulusnya. Ia memutuskan untuk pergi begitu sosok Jacob tak lagi terlihat dari pandangannya.
***