“Aku harus pergi meninggalkan kota ini,” ucap Rara memulai pembicaraan.
“Tekadmu sudah bulat untuk melanjutkan sekolah di sana?” tanya kekasihnya.
Rara hanya mengangguk perlahan. Matanya menerawang jauh ke arah matahari yang mulai terbenam. Suasana sore hari itu membuat hatinya yang kacau sedikit tenang. Rara sudah diterima di universitas yang telah lama dia impikan. Namun masalah yang harus dihadapinya adalah dia akan terpisahkan oleh jarak dan waktu dengan Galang, kekasihnya.
Jogja bukanlah kota yang mampu ditempuh hanya dengan 1 atau 2 jam perjalanan dari Surabaya.
“Jadi keputusanmu bagaimana? Kamu akan mengakhiri hubungan kita begitu saja?” lanjut Galang.
“Jika kamu mau bertahan dengan jarak dan waktu yang memisahan kita, aku pun tidak masalah,” jawab Rara.
“Kamu mau kita menjalani LDR?”
“Iya. Tapi apa kamu bisa?” tanya Rara balik.
“Aku akan berusaha dan tetap menjaga hatiku sampai kamu kembali,” ucap Galang sambil tersenyum melihat kekasihnya itu.
“Kamu janji?”
“Tentu saja,” ujar Galang menggengam erat jemari Rara. Dia seperti tidak ingin terpisahkan dengan Rara yang sangat dia cintai.
(6 bulan kemudian)
“Hai, Rara! Lagi apa?” tanya seseorang dari belakang Rara
.
“Cari referensi tentang tugasku,” jawab gadis itu singkat.
“Sini aku bantu. Sepertinya kamu kesulitan mencarinya ditumpukkan buku sebanyak ini,” tawar Rian.
“Nggak usah, kamu bisa bantu aku dengan cara pergi dan berhenti menggangguku.” ketus Rara pada Rian.
“Marah ya? maafin aku. Aku pergi dulu. Bye,” jawab Rian seraya pergi meninggalkan Rara dengan tumpukan buku yang cukup banyak.
Rara lega akhirnya Rian pergi meninggalkannya sendiri. Dia mengganggap Rian sebagai pengganggu karena laki-laki itu selalu mengikutinya.
“Kamu terlalu kasar ngusir Rian kayak gitu, Ra,” tiba-tiba Salma menegur Rara yang masih sibuk dengan bukunya. Salma merupakan sahabat Rara dari SMA dan juga satu kampus dengannya.
Rara hanya menghela napas mendengar ucapan temannya.
“Okelah kalau kamu nggak suka sama dia tapi nggak baik kasar kayak gitu. Hmm... kayaknya Rian suka sama kamu,” goda Salma.
.
“Udah ah, stop ngomongin dia Panas telinga ku,” Rara segera mengambil ponselnya. Dia tiba-tiba teringat pada Galang dan berniat untuk mengirim pesan pada laki-laki itu.
.
“Kamu mau chat si Galang?” tanya Salma. Rara mengangguk dan terus sibuk mengetik pesan yang akan dia kirim ke Galang.
“Kamu tahu nggak kemarin waktu aku pulang ke Surabaya aku nggak sengaja lihat Galang lagi jalan sama mantannya,” tutur Salma.
.
“Mantan? Maksudmu Tika?” ujar Rara kaget.
“Iya, apa si Galang nggak cerita ke kamu?”
Rara menggeleng. Sekarang dia merasa cemas kalau Galang sudah melupakan janji mereka untuk saling menjaga perasaan. Namun Rara mencoba untuk berpikir positif. Mungkin Galang hanya ingin bertemu dengan mantannya tanpa ada maksud lebih di antara mereka.
Galang : Sal, kamu ada dimana?
Sent : 28-Dec-2021 08:37:22
Salma : Di kost. Kenapa?
Sent : 28-Dec-2021 08:40:01
Galang : Aku ke sana ya? Ada yang ingin aku tanyakan.
Sent : 28-Dec-2021 08:42:46
Salma : Loh? Emangnya kamu ada di Jogja? Sejak kapan?
Sent : 28-Dec-2021 08:45:24
Galang : Nanti aja ceritanya. Tapi kamu jangan bilang ke Rara kalau aku di Jogja.
Sent : 28-Dec-2021 08:47:33
Salma : Ok.
Sent : 28-Dec-2021 08:50:23
Galang segera meluncur ke tempat kost Salma. Setibanya disana, dia disambut hangat oleh sahabat kekasihnya itu. Galang kemudian bercerita pada Salma bahwa dirinya ingin memberi kejutan ke Rara. Sekaligus dia ingin melihat aktivitas yang dilakukan Rara di kota tersebut. Tak lama kemudian Rian datang ke tempat kost Salma dan memberikan sesuatu pada gadis itu.
“Sal, aku minta tolong ya. Sampaiin surat ini ke Rara!” pinta Rian.
“Surat apa ini?” tanya Salma sembil mengambil surat beramplop biru dari tangan Rian
.
“Aku nggak mau Rara selalu jutek ke aku setiap aku ngedeketin dia. Makanya aku pengen Rara tau perasaanku ke dia,” tutur Rian.
Galang yang saat itu ada disana terkejut mendengar ucapan Rian. Dia tidak menyangka ada yang begitu ingin mendekati kekasihnya. Hatinya seketika memanas, dadanya bergemuruh. Tapi Galang menahan diri dan berusaha bersikap biasa saja meskipun hatinya benar-benar cemburu.
“Dia temanmu?” tanya Rian yang melihat Galang di samping Salma.
“Iya, dia adalah Galang, kekasih…”
“Aku teman Salma, perkenalkan,” ucap Galang. memotong perkataan Salma seraya berjabat tangan dengan Rian. Galang tidak ingin Rian mengetahui bahwa dia adalah kekasih Rara yang kelak pasti akan menimbulkan masalah yang tidak dia inginkan.
Usai berkenalan dan berbincang, Rian berpamitan dan mengingatkan Salma untuk tidak lupa memberikan suratnya pada Rara.
“Kenapa kamu nggak ngomong aja kamu itu pacarnya Rara?”
“Nggak usah. Mana suratnya? Biar aku aja yang ngasih ke Rara,” pinta Galang
.
Salma lalu menyerahkan surat tadi ke Galang. Galang kemudian pamit untuk segera menemui Rara dengan hati yang bergejolak tak menentu.
Ponsel Rara berdering pertanda ada telepon masuk. Dia tersenyum senang saat dilihatnya di ponselnya tertera nama kekasihnya. Dia segera mengangkat telepon dari orang yang sangat dia rindukan.
“Hallo" sapa Rara girang
“Kamu sedang apa?” tanya Galang
.
“Lagi santai aja di kamar. Kamu sendiri lagi ngapain?” tanya Rara balik.
“Aku lagi di jalan ke kostmu. Ada yang ingin aku bicarakan,” jawabnya.
“Kanu ada di jogja? Seriusan! Ini kejutan buatku ya? Aku siap-siap dulu” ucap Rara bahagia.
"ya udah siap-siap dulu. udahan ya,” sahut Galang lalu mematikan ponselnya
Di perjalanan, Galang masih teringat saat pertama kali bertemu dengan Rara, gadis itu begitu menarik perhatiannya sehingga membuatnya ingin memilikinya. Namun, ketika mereka sudah disatukan oleh cinta, mereka harus terpisah oleh jarak dan waktu, kesetiaan mereka telah diuji oleh situasi. Kini keputusan ada di tangannya. Dia ingin mempertahankan Rara namun dia merasa hubuungannya bergitu rentan untuk berakhir dikarenakan pihak-pihak yang mencoba mengusik kesetiaan mereka.
Beberapa menit kemudian, Galang sampai di tempat kost Rara. Tampak kekasihnya sudah menunggu di depan kost.
“Kita mau pergi kemana?” tanya Rara penuh semangat.
“Gimana kalau ke Parang Tritis, sunset di sana pasti bagus,” usulnya saat masuk ke dalam mobil Galang.
“Baiklah,” Galang segera mengemudikan mobilnya menuju ke tempat yang diinginkan kekasihnya.
Selang beberapa menit, mereka akhirnya tiba di tempat tujuan. Rara segera turun dan berlari menikmati udara di sana. Dia sudah lama ingin pergi ke tempat ini namun masih belum ada yang mengajaknya.
Di kejauhan, ombak bergulung-gulung begitu besar. Makin lama, gelombang laut itu mengecil saat mencapai daratan. Anak-anak begitu senang bermain di sekitar ombak. Para pengunjung lain lebih senang duduk di pasir sembari memandang keindahan Parang Tritis.
“Kamu senang?” Galang membuka pembicaraan.
“Iya. Tadi kamu bilang ingin mengatakan sesuatu. Tentang apa?”
Galang kemudian merogoh kantong bajunya dan menyerahkan surat dari Rian pada Rara.
“Bukalah!”
Rara membuka surat itu dan membaca isinya. Di dalamnya berisi curahan hati Rian mengenai perasaannya pada Rara. Rara tidak menyangka bahwa maksud Rian selalu mengikutinya karena laki-laki itu memiliki perasaan padanya.
“Aku nggak tau sejak kapan kamu dekat sama dia. Gimana jawabanmu?” tanya Galang.
“Aku nggak ada hubungan apa-apa sama Rian. Aku masih menjaga kesetiaan padamu,” ucap Rara.
"Kamu sendiri gimana sama Tika?” Rara mencoba mengalihkan pembicaraan.
Galang kaget mendengar ucapan Rara, dia tidak percaya bahwa Rara mengetahui kedekatannya kembali dengan Tika, mantannya.
“Kamu nggak perlu kaget gitu,” tutur Rara seakan mengetahui pikiran Galang
.
“Aku memang saat ini dekat sama Tika. Tapi aku hanya menganggapnya teman. Aku simpati padanya karena dia sudah berubah menjadi baik, tak seperti sifatnya dulu. Kamu pasti mengetahui hal ini dari Salma kan?”
Rara mengangguk. Dia hanya menatap keindahan laut yang terhampar di depan matanya. Dia seakan tidak ingin mendengar ucapan Galang yang perlahan menyayat hatinya.
“Jadi apa keputusanmu?” tanya Galang
Rara terdiam sejenak. Dia kemudian menghela napas sebentar dan mulai berkata,
“Maaf, sepertinya kita nggak bisa lanjutin hubungan ini lagi,” tutur Rara pelan.
“Jadi kamu memilih Rian?”
“Nggak, aku mau lebih fokus kuliah. Kamu tau kan perjuangan bapakku agar aku bisa kuliah disini . Mungkin ujian kesetiaan kita cukup berakhir di sini aja, Gal. Aku nggak mau nyakitin kamu. Aku juga nggak mau terluka jika kamu masih dekat sama mantanmu di sana,” jawab Rara lirih.
“Aku belum tentu balikan lagi sama Tika, Ra,” ucap Galang.
Pembicaraan mereka pun terhenti. Pikiran mereka berkecamuk sendiri di dalam benak masing-masing. Suasana sunset meredakan kebimbangan diantara mereka. Dengan perasaan tak menentu, Galang melangkahkan kaki meninggalkan pantai yang menjadi saksi atas berpisahnya cintanya dengan wanita yang dicintai selama 2 tahun ini. Demikian juga Rara.
Saat kembali ke dalam mobil, Rara sedikit menyesali keputusannya. Dia mungkin tidak dapat bertemu lagi dengan sosok laki-laki seperti Galang. Namun, inilah keputusan yang telah dia ambil demi kebaikan mereka berdua.
Jika memang kau tak tercipta untuk ku miliki
Cobalah mengerti yang terjadi
Bila mungkin memang tak bisa
Jangan pernah coba memaksa
tuk tetap bertahan di tengah kepedihan
Jadikan ini perpisahan yang termanis
Yang indah dalam hidupmu sepanjang waktu
Lagu "Perpisahan Termanis" mengalun dari dalam mobil menjadi lagu terakhir yang mereka dengarkan bersama-sama.
Tamat