Aku menarik pelatuk dan mengarahkannya pada orang-orang berpakaian hitam. Mata ku mengerling waspada memperhatikan banyaknya orang-orang yang mencoba menyerang ku dengan senjata mereka. Hei ini hal yang teralu mudah bagiku. Melawan tikus-tikus kecil seperti ini bukan lah tandingan ku, tak peduli berapa banyakpun jumlahnya.
“arghh”aku merintih kala sebuah peluru telak mengenai lengan kanan ku membuat pistol yang tengah ku pegang jatuh ketanah, aku kurang fokus tadi.
Tangan kiri ku yang masih mulus tanpa luka menyerang seorang laki-laki berbadan tanbun dengan tangan kosong, menumbangkannya lantas menarik pistol yang ia pegang. Arghh pelurunya hanya tersisa sedikit karena ia terus menembaki ku walau tak kunjung mengenai tubuh ku.
Aku harus mencari cara, bergerak dengan lincah mengecoh para tikus itu hingga beberapa peluru mengenai kawan mereka, ini semakin mudah bukan?.
Kini tersisa seorang pria dengan tubuh kurus kering yang menodongkan pistol dengan gemetar kearah ku, aku menampilkan senyum licik ku.
“kau boleh pulang, asal tak menceritakan kejadian ini”Ujar ku padanya. Ia berbalik dan hendak berlalu, namun belum sempat menjauh aku menembak tubuhnya dari belakang. Hei kau pikir aku akan semudah itu percaya pada musuh ku sendiri?, No!.
Aku mengambil telpon yang berada disaku celana, memencet beberapa digit nomor lalu menelepon seseorang.
“Sudah ku bereskan semua”Ujar ku singkat lantas mematikan telpon itu, aku memperhatikan pohon-pohon tinggi yang berada dihutan ini. Ya sebentar lagi sang mentari akan terbit, dan aku harus buru-buru pergi dari sini. Mengumpulkan semua barang bukti yang mungkin akan ditemukan polisi ditempat ini lantas membawanya untuk nanti ku hanguskan disuatu tempat.
.
.
.
Sangat melelahkan, namun bagaimanapun juga aku harus melakukan semua ini. Merebahkan tubuh ku dikasur ternyaman yang ada dikamar itu lalu mulai memejamkan mata. Satu hari terlewat kembali, entah sampai kapan aku akan terus melakukannya.
Pikiran ku kacau, aku mulai menghempaskan laptop yang sedari tadi ku pelototi, akhirnya tugas itupun selesai. Belum sempat melakukan peregangan, dering telepon di samping sudah menghentikan ku. Buru-buru aku langsung menyambarnya, mengangkat telpon dari orang diseberang sana.
“apa tugas yang ku perintahkan sudah selesai Xander?”ujar laki-laki disebrang sana dengan nada dinginnya.
“sudah”Jawab ku tak kalah dinginnya, orang disebrang sana terlihat tampak puas.
“aku sudah mentrasfer uangnya, kau bisa mengeceknya lantas mengirim data itu. Terimakasih atas kerja samanya Xander”Ujar orang disebrang sana lantas mematikan sambungan itu secara sepihak.
Aku melihat sebuah pesan bahwa rekeningku baru saja terisi uang dengan jumlah nol yang amat banyak, setelah itu mengambil laptop ku. Menyalin semua datanya sebelum mengirimnya pada seseorang, ya beginilah kerja sambilan ku selain menjadi pembunuh.
Setelah semuanya selesai akupun mulai beranjak dari kasur, melakukan sedikit peregangan karena hampir 3 jam duduk memangku laptop dengan tangan yang lincah menari-nari di keyboard.
Tenggorokan ku terasa haus, lantas akupun beranjak pergi ke dapur untuk mengambil air. Sudah lama aku tinggal di apartemen ku sendirian. Menutup diri dari orang luar karena tahu kalau pekerjaan ku adalah yang paling berbahaya, terlacak sedikit saja tamat riwayatku.
Sesampainya didapur aku mengambil minum dan menegaknya, saat hendak kembali ke kamar tak sengaja kaki ku menendang sebuah kotak. Aku merutuki diriku yang ceroboh karena suka menaruh barang di sembarang tempat.
Aku memperhatikan kotak usang itu dan bertanya-tanya apa isinya. Tak ingin melanjutkan rasa penasaran ku, buru-buru aku membukanya. Itu beberapa barang lama ku. Seragam sekolah ternama di singapura, dan satu buku bersampul usang yang menarik perhatian ku.
Aku mengambilnya lantas menutup kotak itu, berlalu kearah sofa yang berada diruang tengah dan mulai membaca deretan kata yang ada di buku itu. Buku diriku waktu sekolah menengah dulu, aku jadi ingat beberapa kenangan indah saat masih sekolah diindonesia, dan merindukan seseorang yang sudah lama tak pernah ku hubungi.
Lembar pertama adalah kisah pertama aku masuk sekolah menengah pertama dinegara asalku. Aku yang dulu sangat mudah menampilkan sebuah senyum, pertama kali menyapa orang yang kini sangat berhagarga bagi ku selain orang tuaku. Zavera, sahabatku.
....
"hai aku Zeira”sapa ku pada gadis yang duduk disamping ku, dengan sebuah senyum percaya diri aku mulai menyapanya. Ia mengalihkan pandangannya pada ku, namun wajah datar itu membuat senyum ku luntur.
Aku tertawa saat mengingat Zavera yang sangat dingin saat pertama kali aku mengenalnya. Lembar itupun berlanjut lebih dalam ke arah kehidupan sekolah menengah atasku.
“apa cita-cita mu?”Tanya Zavera di suatu hari, aku menoleh ke arahnya lantas tersenyum.
“kau yakin ingin mengetahuinya?, tak takut menyesal?”Tanya ku balik untuk memastikan.
"Penyesalan adalah teman baik ku, cepat katakan”Aku tersenyum dengan gurauannya lantas menarik nafas panjang.
"Aku ingin jadi orang jahat”ujar ku singkat, Zavera memperhatikan ku lekat.
"Seperti apa?”tanyanya lagi, ‘serius ia tak melarangku?’gumam ku dalam hati.
Seperti pembunuh”ujar ku asal. Ia hanya mengangguk-ngangguk paham. “Apa dia tak akan menghentikan ku?”tanya ku dalam hati.
“kalau begitu aku akan menemani mu”ujarnya dengan nada datar khas seorang zavera.
“Apa?!”Aku memekik kaget dengan pernyataannya tadi.
"Kau tidak mendengarnya?, KU BILANG AKU AKAN MENGIKUTI MU, KEMANA PUN ITU. DAN APAPUN ITU”Ujarnya sambil berteriak, kami sedang berada ditaman belakang sekolah, membuat aku panik. Takut-takut ada yang mendengar teriakan zavera, zeira bodoh. Tentu saja banyak orang yang mendengarnya karena ini masih area sekolah.
.
.
.
Tanpa sadar aku menyuingkan seulas senyum, mengingat kembali kenangan dimana zavera berteriak di belakang sekolah seperti orang tidak waras. Itu lah janji seorang zavera, yang terpaksa digagalkan olehnya, karena setelah zavera berteriak seperti itu, iapun langsung membuat alasan. Alasan yang membuat zavera hilang dari sisinya.
“tidak vera!, itu hal bodoh”Ujar ku menentangnya keras-keras. Zavera mendelik tak suka pada ku, matanya menyorotkan sebuah tatapan dingin, lebih dingin dari pada yang biasa ia tampilkan, sorot itu seperti bertanya ‘kenapa’.
Lagi-lagi aku menarik nafasku. Memberi alasan yang mungkin akan diterima zavera. Meski gadis itu sangat keras kepala.
“aku tidak bisa, aku tidak mungkin menyeret orang yang aku sayangi ke dalam masalah. Aku tidak mau melihat orang yang ku sayangi terluka karena aku. Aku tidak ingin menyeret seseorang yang paling berharga dalam hidupku untuk masuk ke lubang yang sama bersama ku”Ujarku panjang lebar, menahan air mata yang hendak membanjiri pipi ku sebisa mungkin.
“kenapa?! Bukannya kau sendiri yang bilang kalau kita akan bersama-sama terus selamanya?. Kenapa kau tiba-tiba melupakan kata-kata mu dulu?. Aku tidak peduli seberapa sakit aku akan terluka, seberapa lama aku akan berada dilubang itu. Asal bersama mu aku akan melakukannya”Ujar zavera, aku sudah tidak bisa lagi menahan air mata itu.
"Maaf, tapi kau hanya kelemahan ku, aku tidak ingin karena kehadiran mu membuat aku gagal menjadi apa yang aku mau”Setelah sederet kata menusuk itu ku lontarkan akupun langsung bergegas pergi meninggalkannya, menumpahkan semua air mata yang sejak tadi ku tahan-tahan. Mulai saat itulah hubungan kami berakhir.
Aku mengelap air mata yang dengan lancangnya membasahi pipiku. Sejak saat itu aku tak pernah bertemu dengannya lagi. Aku benar-benar menggapai keinginan ku, terpaksa membunuh hatiku untuk melakukan semuanya, karna hanya itu yang bisa ku lakukan untuk menggapai cita-cita itu.
Ku tutup buku penuh kenangan itu, memegangnya dengan sangat erat. Takut-takut buku itu akan hilang jika tak ku pegangi erat-erat. Mengambil ponsel yang terletak di kasur lalu menghubungi orang kepercayaanku.
“Batalkan semua kontrak yang sudah ku sepakati, bilang pada mereka kalau aku ingin istirahat dari dunia ini sementara. Dan pesankan pesawat menuju Indonesia”Ujarku beruntun saat orang itu telah menjawab telpon ku. Ia mengiyakan sebelum akhirnya ku tutup sambungan itu.
Aku menapakan diri ketanah kelahiran ku setelah sekian lama, udara segar dibandara itu menyapu wajahku. Orang-orang berlalu lalang disekitarku menghampiri seseorang yang sudah menunggu mereka. Aku mengedikkan bahuku, tak ada yang menyambutku. Tak ada seorangpun yang aku kenal disini. Keluarga ku?, mungkin saja mereka sudah melupakan ku saat pertama kali aku mengutarakan niatku untuk menjadi orang jahat. Sudah ku bilang tak akan ada yang bisa menentang keinginan ku, termasuk keluargaku sendiri. Oleh karena itu lah aku kabur, dan yeah mungkin mereka menganggap ku sudah mati saat aku pergi dari rumah itu.
Aku menyeret koper ku yang hanya berisi beberapa baju dan senjata, jangan tanya kenapa aku bisa terbebas dari pengecekan barang dibandara. Hei koper ku ini sangat mahal, ia bisa menyembunyikan barang seperti narkoba ataupun senjata api tanpa terdeteksi alat bodoh itu. Aku berjalan santai saat melihat sekawanan tentara berjalan berlawanan arah dengan ku, mungkin saja mereka baru kembali dari pertempuran?, entahlah. Aku berjalanan sebiasa mungkin sambil menyeret koper ku sampai tanpa sengaja ekor mataku melihat seorang wanita tinggi mirip zavera, apakah itu dia?.
Aku mengikuti mereka secara diam-diam memastikan gadis itu bukan zavera. Aku tahu ia sangat berbeda. Tapi firasat ku bilang bahwa itulah orang yang ku cari.
Aku bersembunyi dibalik tiang bandara saat zavera mulai berpisah dari kawanannya dan tampak berbicara dengan atasannya. Dari sini aku tidak bisa mendengar jelas apa yang sedang mereka katakan, saat aku berbalik untuk mengintip, sosok yang kuyakini zavera telah menghilang, aku membalikan badan ku dan memekik kaget.
“Aaaa!”Pekik ku kaget saat sosok zavera kini berada dihadapan ku. Ia nampak lebih tinggi dari ku dengan postur tubuh tegapnya serta balutan baju tentara yang membuatnya makin terlihat gagah.
“ketahuan mengintip nona?”godanya dengan nada datar sama seperti dulu. Aku masih belum terlepas dari rasa kaget dan hanya menggeleng.
.
.
.
“Kemana saja kau?”Tanya zavera, dingin dan menusuk, membuat aku gemetar karena terus ditatap oleh sorot mata tajam itu.
“A-aku”Jujur aku bingung menjawab apa.
“Kau sudah menggapai cita-cita konyol itu?”nampak sekali ada nada sindiran dibalik kata-kata itu.
“Cita-cita ku tidak lah konyol”Aku menentangnya.
“Tidak konyol kau bilang?, karena cita-cita itu aku harus kehilangan mu. Tak tahu kah kau seberapa terpuruknya aku?”sekali lagi nada itu sangat dingin dan menusuk.
“Ma-maaf”Ujar ku, dia langsung memeluk ku membuat aku kaget, namun aku membalasnya. Pelukan yang hangat dan kurindukan, menumpahkan semua air mata yang sudah ku tahan membuat baju zavera basah karena tangisan ku.
“Menangis lah sesukamu, pasti sakit”Ujarnya mengusap punggung ku lembut. Samar-samar aku tersenyum dalam tangisan itu.
end