Aurel yang tadinya tidak niat untuk ikut akhirnya mau juga. Karna ia tidak enak pada sahabatnya Sisi karna sudah berjanji akan berangkat bersama dengannya. Dengan memakai blouse warna putih ,celana coklat serta tas selempang kecil.
Teman temannya yang kebanyakan orang berada kebanyakan mengenakan boho dress seperti mau ke acara pesta padahal malam ini hanya acara yang bertemakan ramah tamah sesama pelajar.
Selama perjalanan menuju tempat yang dituju ia tetap diam memandang ke arah jendela yang langitnya indah. Lama kelamaan suasana itu menjadi bosan. Ia membuka ponsel miliknya dan mulai mencari blog milik seseorang yang ia nanti nanti.
Aurel tersenyum sendiri memandangi satu postingan terakhir di blog Rendi yang desainnya minimalis. Lengkap dengan foto dan kata kata yang indah. Sebelum Aurel tersadar bahwa mamanya memperhatikan dirinya.
"Apaansi senyam senyum?" Tanya Sisi sambil mendekatkan wajahnya ke ponsel Aurel ,sehingga Aurel langsung menutup ponselnya dengan cepat.
"Gapapa."
"Bilang aja lagi liatin blog Rendi." Ucap Sisi berbisik ke telinga Aurel dengan nada meledek.
"Gak kok." Jawabnya cepat.
"Kalian nanti pulang jam berapa?"
"Sekitar jam sembilanan ma"
"Anu Tante nanti Sisi di jemput Abang."
"Iya." Jawab mama sambil melirik dengan sekilas ke arah Aurel dan Sisi.
"Acara di kafenya gratis kan?"
Aurel hanya mengangguk dan melanjutkan bermain hp.
Arborea Cafe | Jl Gatot Subroto , Jakarta | 19.25 WIB
Aurel dan Sisi sudah mengambil meja paling belakang yang menghadap ke jalan raya ,dekat dengan jendela supaya bisa melihat kendaraan lalu lalang. Jarak kedua rumah mereka memang dekat. Selain itu mereka juga sering pergi berdua ,hingga banyak yang mengatakan bahwa mereka adalah saudara.
Matanya sibuk mengawasi hilir mudik orang orang yang kesana kemari. Demi mencari seseorang yang tak kunjung datang. Ia yang mengira Rendi tidak datang namun rupanya datang ,dengan menggunakan kemeja denim serta celana coklat. Tak lupa ia membawa teman baiknya Arwin yang nggak kalah style dengan Rendi.
Sadar dan terkejut akan kehadiran Rendi dan Arwin yang tiba tiba duduk di depan mereka ,Aurel merasakan pipinya mulai memerah bak kepiting rebus. Ia segera memalingkan wajahnya ke arah musik yang dimainkan oleh salah satu temannya yang membawakan lagu "pupus dewa 19" dengan nada yang mellow banget.
"Elah lagu gini aja bikin galau." Kata Aurel pada dirinya sendiri. Ia melamun menatap ke arah langit dengan tatapan kosong. Tanpa sadar matanya mulai berkaca kaca. Padahal ia tidak tau apa yang dipikirkan namun tiba tiba air mata menetes dengan sendirinya. Aurel langsung mengusap poni dan menyentuh telapak tangannya hingga kelopak mata.
"Kamu ngga nangis karena Tama kan?" Tanya Rendi yang duduk di depan Aurel. Tama yang Rendi maksut adalah teman semasa SMP ,saat mereka duduk di kelas 8. Aurel dan Tama memang sering bersama tapi mereka menegaskan hanya sebatas teman. Hanya gosip sekolah saja yang sudah terlanjur menyebar hingga ke seluruh kelas. Sayangnya Tama tidak melanjutkan sampai ke kelas 9 karna ia lebih memilih sekolah di luar kota.
Aurel terkejut bercampur nervous sebab Rendi meletakkan tangannya di atas bahu Aurel dengan tatapan empati.
"Aku ngga nyangka kamu serapuh itu."
"Ngga kok ,aku ngga sedih karna itu ,lagunya melow banget sih aku jadi kebawa suasana”
Randi mengangguk sambil membuang muka ke arah udara kosong.
“Aku juga belum punya pacar kok nyantai aja kali, nggak usah diambil ati”
“Yeh siapa juga yang nanya masalah kamu mau kamu punya pacar kek, udah putus kek, enggak pernah pacaran kek itu bukan urusan ak-”
“Biar menghibur kamu aja gitu Rel. Jadi lebih optimis dalam menghadapi hidup.Cie bijak bener ya gue” dengan gayanya yang kepedean sanggup membuat Aurel hanya bisa menggeleng gelengkan kepala ,ia terheran heran dengan bocah yang punya senyum manis serta lesung pipi yang sangat jelas.
“Ekhem ekhem”
Aurel yang sadar bahwa sedari tadi percakapan mereka berdua ternyata didengar oleh Arwin dan Sisi langsung mesem mesem
“Paansih? batuk?” Tanya Rendi judes dengan membelalakkan matanya ke arah mereka berdua dan kemudian segera membuang muka.
“Eh, kalian kok lucu banget sih, kaya cocok aja gitu diliatnya”
“Are you kidding me Arwin?”
“Cih, emang aku demen sama kamu Rel, kepedean banget. Udah kubilang aku gak suka cewek yang hobi bela diri”
“Hahaha… aku juga nggak demen kok sama cowok yang main golf. Olahraga apaan tuh, kebanyakan gaya, atributnya mahal. Padahal cuma mukul mukul bola ke lubang gak jelas”
“Itu butuh skill!”
“Udah berantemnya!, makan dulu aja!” Aurel yang gemas akan sikap mereka yang sekarang ini menjadi pusat tontonan orang orang di kafe.
Arwin yang sedari tadi hanya diam akhirnya memutuskan untuk memanggil pramusaji untuk memesan makanan. Dari awal ia sudah berniat memesan makanan ala ala italia.Penne Pasta yang dimasak dengan Vodka Marinara dan potongan daging Salmon yang lezat abis.Sementara Aurel memesan meat stuffs, Sisi memesan Red Velvet yang super lembut dan Rendi yang memilih memesan spaghetti bolognese dengan sausnya yang super melimpah.Lalu pramusaji itu undur diri ke dapur sementara seorang pramusaji lain yang cowok, datang ke meja mereka dengan Pesanan masing masing.
Diliriknya diam diam wajah Rendi yang sedari tadi tengah sibuk memainkan ponselnya.Lelaki yang memiliki rambut cepak 3 cm dengan kacamata yang keren banget memang terasa sempurna bagi Aurel. Tetapi matanya tidak sanggup untuk tidak melirik mata bening dibalik bingkai kacamata hitam disampingnya itu. Bola matanya sedang menatap ke bawah.
Setelah melewati serangkaian acara yang cukup melelahkan dan memakan hidangan yang jarang untuk mereka nikmati akhirnya mereka memutuskan untuk bergegas pulang.
Rupanya Sisi tidak ikut pulang bersamanya sedangkan Arwin ada urusan sebentar bersama teman basketnya. Mau tak mau mereka berdua harus keluar kafe bersama dan menunggu jemputan masing masing.
“Rel, kita ke sana yuk”
Aurel hanya mengangguk sekilas lalu menyusul langkah Rendi yang lebih dulu berjalan.
Aurel seperti salah tingkah. ia tidak ingin mendahului langkah Rendi.
Mereka sampai di sebuah bangku yang tidak jauh dengan kafe tersebut.Dilihatnya kondisi kafe yang agak sepi ,membuat nya agak bingung sebab mamanya yang belum kunjung menjemputnya. Ia tidak suka akan situasi yang tak biasa seperti ini. Keduanya sama sama diam tidak ada yang membuka percakapan sampai akhirnya Aurel membuka pembicaraan.
“Rendii..” panggil Aurel dengan tangan bergetar ,angin semilir yang masuk dari celah belakang bangku itu membuat tubuhnya juga ikut bergetar.
“Ya?” Sapa Rendi bingung. Ditatapnya lekat lekat gadis dihadapannya berusaha mencari cari kebohongan yang ada di bola matanya.
“Aku mau ngomong…”
Belum sampai ia selesai bicara tiba-tiba mobil Livina warna hitam yang tak lain adalah mobil milik papa Rendi sudah membunyikan klakson ke arah mereka.
“Ngomongnya entar aja ya.., udah dijemput sama papa eh itu mobil mamamu Rel!”
Ucapnya sambil setengah berteriak lalu segera masuk ke dalam mobil dan melambaikan tangan ke arahnya lalu pergi meninggalkannya.
“Aurel."
“Eh mah?”
“Ayo pulang ngapain bengong disitu”
Ia sadar bahwa mamanya sudah tiba dan Rendi juga sudah pulang. Padahal baru saja ia akan menyatakan perasaan padanya tetapi harus mengurungkan niatnya detik ini juga. Sudah terbayangkan olehnya jika dirinya berhasil menyatakan terlebih dahulu. Pasti itu akan sangat berbeda, walau ia tidak tau pasti bagaimana jawaban Rendi saat dia memberi tahunya.
Ia segera masuk mobil sebelum mamanya membunyikan klaksonnya lagi yang akan membuat pusat tontonan saja. “Gimana acaranya lancar?” Tanya mama sambil memperhatikan wajah putri kesayangannya.“Lancar Ma” Mama hanya mengangguk sekilas kemudian kembali konsen mengemudi.
Aurel kembali memandang langit dan membuka layar ponselnya lalu seketika inspirasi muncul dari dalam kepalanya. Ia tersenyum sendu seperti ingin menitikkan air mata.
“Terkadang memendam adalah pilihan satu-satunya agar semua terlihat baik-baik saja.”
Selesai