Di sebuah hutan yang berada di lereng gunung Nuryaka, hiduplah seorang gadis cantik bernama Nyai Ayu Sendari. Dia adalah seorang gadis cantik berpakaian serba putih dengan selendang emas mengikat di lehernya. Ia sedang mengasingkan diri mencari jalan kamukswan (naik ke surga). Dia hidup sendiri dengan ditemani seekor rusa putih di sebuah gubuk bambu sederhana. Rusa putih itu diberinya nama Caksa. Mereka hidup dengan damai selama berabad - abad. Hari - hari mereka habiskan untuk mengurus taman, berjalan - jalan di hutan, sambil menyucikan diri.
" Caksa... menurutmu sudah berapa banyak keturunan yang kumiliki jika aku tetap bersama dengan pembunuh itu ? Tidak kusangka jika suamiku sendiri membunuh semua kerabatku hanya untuk membalaskan dendam nya kepada ayahku, bahkan adiku yang tidak tahu apa - apa pun disiksanya sampai mati di alun - alun kerajaan. bahkan pelarianku mengorbankan hampir setengah pengikut ayahku saat itu. hah... inilah takdir ku Rama."
Suatu hari saat Nyai Ayu mengajak Caksa berjalan ke pinggiran sungai, ia menjumpai sebuah bambu. Ia heran saat melihat bambu itu karena warnanya yang hitam, kemudian dia berkata,
" Dikau selalu mencipta apa yang tiada menjadi ada dan meniadakan yang sudah ada, tapi belum pernah sekalipun abdi ini melihat ciptaan mu ini Rama.'
Dia menghiraukan bambu tersebut karena berpikir bahwa itu hanyalah bambu kotor yang terhanyut oleh air sungai. Saat ia terus berjalan entah mengapa perasaannya menjadi gelisah.
" Apa yang harus kuperbuat supaya perasaan ini tenang Caksa?"
Ia kemudian kembali lagi dan mengambil bambu itu, membawanya ke gubuk dan meletakkannya di bawah pohon beringin samping rumahnya.
" Entah apakah Rama ku yang meminta, ataukah hatiku yang berkehendak, tapi karna kamu sudah disini, maka hiduplah sesuai dengan apa yang sudah Ramaku tuliskan dalam garis takdirmu."
Keesokan harinya ia terkejut ketika mendapati bambu itu yang sudah tertanam tegak dengan daun putih tumbuh di batangnya. Ia tambah heran saat melihat si Caksa yang selalu menatapi bambu itu dengan serius seolah tak berkedip sekalipun.
" Hai Caksa, jangan kau ganggu garis takdirnya, mungkin memang kita lah yang menjadi perantara tangan bapa, tapi biarlah ia menentukan takdir mana yang akan ia emban."
Hari demi hari ia selalu merawat bambu itu. Sering kali ia bermain siter sambil menyanyikan lagu di dekatnya. Bambu yang awalnya hanya seukuran batang kecil itu lama kelamaan menjadi panjang dan lebih panjang.
Suatu hari Nyai Ayu bermain siter di sebelah bambu yang sudah 2 meter itu ditemani Caksa disampingnya. Ia dihampiri oleh seorang kakek tua yang berjalan dengan tongkat dan mengenakan pakaian lurik Jawa. Kakek itu menghampiri Nyai Ayu dan membuatnya menghentikan permainan siternya.
" Nak... Ku tahu tulus hatimu, namun malang nasibmu."
Nyai Ayu bingung mendengar kata kata kakek itu, dan menjawab,
" Kakek, apakah anda tahu siapa abdi ini?"
kakek itu langsung menyeringai sambil berkata,
" Jangan kau pikir hanya dirimu yang diberkahi umur panjang nak, bahkan umur tongkatku ini dapat disamakan dengan waktu hidupmu."
Nyai Ayu kaget, wajahnya pun mengerut,
" Siapakah sebenarnya kamu? apakah kamu adalah utusan suamiku?" jika begitu maka aku tidak akan kembali kepadanya bahkan jika sebuah kereta yang ditarik seribu kuda putih dengan iringan para dewa datang untuk menjemput ku supaya kembali kepadanya."
" Hahahaha tenanglah anak muda, tidak pantas rasanya jika kata - kata itu keluar dari seorang gadis cantik sepertimu."
" Lalu apa yang kau kehendaki kakek ?"
" Ketahuilah bahwa aku ini adalah utusan surga yang datang untuk memberimu ujian terakhir untuk kamukswan mu."
Nyai Ayu terkejut. Ia kemudian bersemangat dan beediri sambil berkata,
" Benarkah itu? kalau begitu apakah yang menjadi ujianku ?"
Kakek itu menunjuk ke Caksa dan bambu itu. Seketika Caksa berubah menjadi sebuah bunga dan bambu itu berubah menjadi sebuah tombak. Bunga itu berwarna merah, pesonanya indah ditemani semerbak wangi harumnya. Tombak itu juga terlihat kokoh dan kuat, karena muncul kilatan listrik dari ujung bilahnya. Keduanya melayang di depan kakek itu.
" Caksaaa !"
" Jangan kawatir nak, inilah bentuk asli mereka. Sekarang aku akan memberi 2 pilihan untuk kau pilih. Ambillah bunga itu maka jalan ke surga akan terbuka untukmu, namun itu berarti kamu tidak akan dapat kembali ke dunia fana lagi. Sedangkan tombak itu adalah tombak yang sangat kuat, dengannya kamu bahkan dapat membuat segala yang ada dibawah langit ini tunduk padamu dan itu akan menguntungkan bagi balas dendam mu terhadap suamimu. "
Nyai Ayu terdiam sejenak, lalu berkata,
" Apa baktiku kepada ayah ibuku, bahkah ketika mereka matipun aku tak bisa berbuat apa - apa selain pasrah dan melihat bagaimana mereka menyiksa kedua orang tuaku. Jika dengan ini aku dapat membalas dendam orang tuaku, bahkan jika jalan surga tidak terbuka lagi untukku, setidaknya akan kuwujudkan baktiku bahkan jika siksa Yama jadi balasannya!"
Nyai Ayu langsung mengambil tombak itu, lalu berlari turun gunung menuju ke kerajaan tempat suaminya berada. Saat sampai di sana, tanpa pandang bulu ia membunuh semua orang di kerajaan itu tanpa menyisakan satu orangpun.
"ahhhhhhh"
"Maafkan aku nona"
" ahhhhh iblisss!"
" pergi, pergi dari siniiii !!"
Teriakan terdengar dari seluruh penjuru, anak - anak, orang tua, baik pria maupun wanita tak lolos dari tombaknya. Langit yang biru menjadi gelap, hujan deras disertai petir. Genangan darah dimana - mana, terlihat seorang gadis berpakaian merah darah berjalan dengan tombak ditangan kanannya dan sebuah kepala bermahkota di tangan kirinya. satu kata terakhir yang keluar dari mulutnya,
" Maafkan aku."
Nyai sendari lalu menusuk dadanya sendiri dengan tombak itu, dan seketika itu tombak itu berubah lagi menjadi bambu hitam, dan tumbuh semakin panjang dengan menelan mayat mayat yang tergeletak disana.