Bagiku kehadirannya bagaikan suara kembang api di tengah malam yang sunyi.
Aku masih ingat dengan jelas semua tingkahnya.
"Anna berkencanlah denganku, dan aku akan selalu membuatmu bahagia selamanya," teriak Shaka dari tengah lapangan bola basket, begitu ia memenangkan pertandingannya siang itu.
Jangan tanya bagaimana malunya diriku, ini sudah pernyataan cintanya yang kesekian kali, entah sudah berapa puluh kali dia mengajakku untuk berkencan.
Sebenarnya dia merupakan pria yang cukup tampan, dan cukup populer di sekolah kami mengingat dia adalah kapten tim basket sekolah kami.
Tapi dia selalu saja menggangguku, mengikutiku kemanapun, dan mengancam setiap pria yang berani mendekatiku, sekalipun itu hanya menyapa. Membuat ku tidak nyaman untuk berada di dekatnya.
Selepas pertandingan basket, dia kembali mengekor padaku, aku dan Tania temanku, saat ini sedang menikmati bakso di kantin sekolah. Shaka hanya duduk di hadapanku, menyaksikan aku makan. Bahkan teman-teman yang lain sudah terbiasa melihat Shaka yang selalu berada di sampingku ini.
"Minggu depan , pesta kembang api akan berlangsung. Apa kau akan pergi melihatnya Anna?" Tanya Tania padaku
"Entahlah," jawabku
"Anna, nanti temui aku di atap setelah jam pelajaran" ucapan Shaka mengejutkan ku, dan yang lebih membuat ku heran saat tiba-tiba saja Shaka sudah berdiri dari kursinya dan meninggalkan aku yang masih melongo karena sikapnya yang aneh.
"Tan? Apa dia baru saja meninggalkanku ?" ucapku tertegun. Ini pertama kalinya dalam tiga tahun ini, dia meninggalkanku begitu saja. Shaka biasanya akan datang ke rumah ku, di pagi hari untuk berangkat sekolah bersama-sama, sampai mengantarkan ku pulang di sore hari selepas sekolah, meskipun rumah kami yang berlawanan arah, tapi dia sama sekali tidak pernah mengeluh.
"Apa dia sudah menyerah " Tania pun heran.
Selepas jam pelajaran, aku menemui Shaka di atap sekolah, tiupan angin sore menerbangkan rambutnya. Entah kenapa aku sedikit gugup menghadapinya, dia tidak seperti Shaka yang biasanya.
"Shaka, kenapa kau ingin bertemu dengan ku disini?" ucap ku langsung
"Berkencanlah denganku!" ucapnya serius
Astaga ini lagi, aku pikir ada apa.
"Shaka..."
"Beri aku kesempatan ,satu Minggu saja, berkencanlah denganku, jika setelah satu Minggu , kau tidak ingin melanjutkannya, maka aku akan menyerah dan berhenti mengganggumu."
"Tapi..."
"Aku mohon" lagi-lagi Shaka memotong ucapan ku
Aku menghela nafas panjang, "Baiklah, mari kita coba" ujarku kemudian.
Sejak saat itu, kami mulai menjalani hari-hari sebagai sepasang kekasih, kami melakukan segala sesuatu yang biasanya dilakukan oleh pasangan.
Dari jalan, nonton, ke pantai, makan diluar, atau sekedar berjalan dengan tangan yang bergandengan. Banyak teman-teman di sekolah yang memberikan ucapan selamat pada kami. Dan melihat Shaka tersenyum dengan bahagia, menimbulkan gelitik aneh di dadaku. Dan diluar dugaan, aku bahagia dengan hal ini.
Bagaimana mungkin, selama ini aku tidak bisa melihat semua hal manis yang ia lakukan untukku, bagaimana bisa aku tidak menyadari kehadiran cinta yang begitu tulus ini, cinta yang selama ini ku abaikan.
Hari ini adalah hari terakhir kami berkencan, kami sudah membuat janji untuk menyaksikan pesta kembang api bersama yang diadakan di dekat pantai.
Shaka menjemputmu dengan senyuman sumringah. Kami menikmati berbagai macam jajanan dan permainan yang menyenangkan sebelum acara peluncuran kembang api di lakukan.
Semakin lama, aku semakin menyukainya, malam ini aku akan mengatakan bahwa aku juga menyukainya, aku tidak ingin kebahagiaan seperti ini, berakhir malam ini, aku ingin menjalani kehidupan ku kedepannya bersama dengan Shaka, aku sudah buta karena mengabaikannya selama ini.
Akhirnya sudah waktunya peluncuran kembang api , setelah kembang api itu dinyalakan, suara yang memekakkan telinga mulai memecah keheningan langit malam, semua orang bersorak gembira menyaksikan warna-warni indah kembang api.
"Ini indah" ucap kami secara bersamaan, saling beradu tatap, netranya terkunci dengan nertaku, membuat suasana menjadi canggung diantara kami.
Sesaat sebelum aku memalingkan pandanganku, Shaka menahan tengkukku dan mulai memberikan ciuman lembut di bibirku, dengan penuh kelembutan dia menyesapi bibir ini, dan perlahan aku mulai terbuai dan merespon ciuman dari Shaka. Ciuman pertamaku terasa begitu manis.
Setelahnya, suasana diantara kami terasa sedikit canggung. Shaka mengantarkan ku pulang seperti biasa, tapi kami sama-sama terdiam, tidak ada yang mau memulai percakapan,atau sekedar mengucapkan selamat malam, seperti rutinitas yang biasanya kami lakukan. Karena kami berdua tahu bahwa hari ini adalah ,hari terakhir kami sebagai sepasang kekasih.
"Shaka, maaf..." Aku berusaha mengutarakan isi hatiku bahwa aku juga menyukainya.
"Jangan katakan!" dia memotong ucapan ku
"Shaka, dengarkan dulu..." aku masih mencoba, mungkin karena terlalu sering aku abaikan dia jadi takut untuk mendengar jawaban ku
Tiba-tiba saja Shaka memelukku dengan erat, " Jangan katakan padaku! Jangan bilang apa-apa! Aku tidak akan menepati janjiku untuk berhenti mengganggumu, aku tidak bisa, sekalipun kau membenciku, aku tidak bisa berhenti menyukaimu, jadi jangan katakan apapun"
Dia berlalu pergi setelah memberikan satu kecupan di keningku, menghilang dari pandanganku yang masih terpaku, seiring suara deru motornya yang menjauh, aku mulai melangkah memasuki rumah, dengan senyuman yang mengembang.
Tidak apa-apa, aku akan mengatakannya besok pagi, saat kami disekolah saja, pikirku.
Aku bangun begitu pagi untuk menyiapkan bekal untuk ku dan Shaka, aku yakin dia akan senang dengan ini.
Aku menunggu Shaka didepan rumah dengan sedikit kesal, tidak biasanya dia terlambat ,biasanya, dia sudah datang menjemput ku, bahkan sebelum aku selesai berdandan.
Pada akhirnya aku memutuskan berangkat ke sekolah dengan bus, karena sudah tidak ada waktu lagi, bisa-bisa aku terlambat.
Sesampainya di gerbang sekolah, nampak sudah banyak siswa yang datang, aku mulai menyadari ada yang aneh dengan mereka, aku bisa melihat mereka berbisik saat melihatku, ada sebagian yang berjalan menjauhiku.
Sudahlah, biarkan saja. Aku tetap berjalan dengan senyuman menenteng kotak makan siang dengan semangat.
Didepan papan pengumuman nampak ramai para siswa mengerubunginya, aku melihat Tania berlari ke arahku, dengan tergesa, sepertinya dia menangis.
"Anna, apa kau sudah mendengarnya?" Tanpa menunggu jawabanku, dia menarik lenganku menuju Mading sekolah. beberapa siswa memberi jalan agar aku bisa lewat.
Ada apa sebenarnya??
Brakkk.... kotak makan ku jatuh, seluruh isinya tumpah dan hancur, seperti hatiku saat ini.
RIP : Shaka Alvaro, semoga tenang di alam sana. Kau teman yang hebat.
Tulisan itu dan masih banyak lagi kata-kata belasungkawa,yang tersemat di samping foto Shaka yang tertempel di Mading.
Entah bagaimana aku menggambarkan perasaanku kala itu, hanya ada rasa sakit dan penyesalan.
Penyesalan akan kata-kata yang tak akan pernah bisa lagi kukatakan.
Shaka mengalami kecelakaan setelah mengantarkan ku pulang tadi malam, kecelakaan yang merenggut nyawanya.
Semenjak saat itu setiap tahunnya aku masih menyaksikan festival kembang api , mengenang saat-saat berhargaku bersama dengan Shaka yang tidak akan pernah bisa kutemui lagi.
Setiap suara kembang api yang bersahutan mengingatkanku akan ciuman pertamaku yang begitu manis. Juga rasa penyesalan yang sampai saat ini masih begitu menyesakkan dada.
"Aku menyukaimu Shaka" teriakku mengabaikan orang-orang yang memandang ku dengan tatapan heran, aku meneriakkannya sekeras yang kubisa, biarkan angin laut menyampaikan rasa suka ku ini kepadanya di surga.
Hargailah setiap orang, setiap cinta yang kau dapatkan hari ini, karena kita tidak pernah tahu kapan hal itu akan diambil dari kita. Karena waktu tidak pernah menunggu siapapun.
the end ❤️