"Meskipun kamu orang yang berbeda, aku tetap menyukaimu. Aku ingin mengucapkan terima kasih, karena kamu telah berhasil membuatku move on dari dia yang dulu. Terima kasih. Kamu memang berselisih jauh dariku, jarak antar kita pun sangatlah jauh, dan juga mungkin orang tuaku tidak akan merestuinya jika aku ingin berteman denganmu. Meskipun begitu, aku tetap menyukaimu."
Itulah beberapa kalimat yang telah aku tulis di buku harianku. Aku ini, orangnya pemalu, tidak, sangat pemalu. Bahkan saat saudaraku berkunjung, aku jarang menemuinya. Apalah aku ini.
Karena rasa malu ini, aku single selama bertahun-tahun. Aku sama sekali belum pernah mempunyai yang namanya seorang kekasih. Aku selalu sendiri. Imajinasi adalah sahabat terbaikku. Aku selalu berimajinasi, berharap husbu anime ku itu bisa berkomunikasi denganku. Tapi, tetap saja, aku malu jikalau hal itu benar-benar bisa terjadi.
Aku sudah seperti orang bisu. Jika tidak ditanya, aku tak akan bicara. Pernah suatu hari aku menghitung kata yang aku ucapkan. Hari itu, aku hanya berbicara tiga puluh dua kata. Iya kata, bukan kalimat. Sedangkan paragraf yang kubuat di awal cerpen ini ada lima puluh lima kata. Haah..
Kenapa aku menjadi seperti ini? Entahlah. Aku juga tak terlalu mengerti bagaimana aku jadi pendiam dalam beberapa tahun terakhir ini. Padahal waktu aku masih kecil dulu, aku orang yang ceria. Mudah tersenyum dan tertawa, cerewet juga siih.
Setelah aku SMP, kehidupan normalku berubah. Semenjak aku mulai menyukai seseorang, saat itu aku pernah memberitahu beberapa temanku kalau aku menyukai si kakak kelas.
Dan apa kata mereka? Aku tak pantas untuknya, mereka bilang aku terlalu baik untuk dia. Aku seorang ketua kelas, sifatku ramah dan baik. Sedangkan dia, seorang bad boy yang suka buat ulah. Beberapa kali dia pernah kena skors.
Teman-temanku bilang kalau aku telah dibutakan oleh perasaan. Aku seperti tak bisa membedakan apakah dia baik atau tidak.
Keadaan diperparah setelah aku mulai kecanduan main game online serta menggunakan medsos. Kedua hal itu membuatku malas bergerak, lalai, jadi lupa belajar, dan membuat mataku bengkak akibat terlalu lama bermain gadget. Bukan hanya itu, nilaiku juga menurun.
Orang tuaku memutuskan untuk menyita ponselku selama beberapa waktu. Jika nilaiku sudah kembali bagus, maka mereka akan mengembalikan.
Di saat masa-masa itulah, aku mulai merubah diriku. Waktu yang biasanya kugunakan untuk bermain game, jadi aku gunakan untuk belajar guna mendongkrak nilaiku. Waktu untuk rebahan, aku ganti untuk berolahraga.
Di masa-masa itu juga, aku mulai mengenalnya. Awalnya aku hanya melihatnya sekilas di televisi. Tapi aku terkejut setelah dia ikut menghadiri festival di kota ini. Benar, aku bertemu dengannya secara langsung.
Dia orang yang baik, ramah pada setiap orang yang menyapanya. Meskipun dia orang terkenal, dia masih bersikap baik pada semua orang. Dia murah senyum, dan aku menyukai suaranya, terutama saat dia tertawa.
Ada suatu hal yang tak akan aku lupakan. Saat tersenyum dan bilang "hai" padaku. Wajahku merona, ya ampun.. Ada apa dengan diriku ini?
Sejak saat itu, entah mengapa aku mulai jadi pemalu. Aku jarang bicara, tapi aku masih bisa tersenyum.
Waktu semakin berlalu, ujian sekolah telah selesai dan aku berhasil mengembalikan nilaiku yang sebelumnya menurun. Peringkat kelasku telah naik kembali, dan juga jabatan ketua kelas sudah diganti.
Karena itu, ponselku telah kembali berada dalam genggamanku. Aku memutuskan untuk menghapus game online yang dulu biasa kumainkan. Aku juga menghapus sebagian besar akun medsos milikku. Biarlah mereka bilang aku kurang update, aku kurang pergaulan. Aku tak peduli pada omong kosong mereka. Toh mereka masih membutuhkan aku, terutama jika mereka bertanya tentang PR.
Aku menggunakan ponselku dengan baik, memanfaatkannya untuk mencari informasi tentang sekolah SMA favorit di kota ini, jurusan yang paling diminati, dan masih banyak lagi.
Aku juga mencari tau tentangnya. Betapa terkejutnya diriku setelah tau kalau dia itu sangat berbeda denganku. Kukira dia masih delapan belas tahun, tapi apa, usianya sudah lebih sepuluh tahun dari yang aku perkirakan. Haah, aku tertipu oleh wajahnya yang awet muda. Postur tubuhnya juga sedang, sesuai dengan kriteria-ku, hehehe..
Sudahlah, intinya sekarang aku berhasil move on dari si bad boy gara-gara aku bertemu dengannya. Pertemuan yang membuatku kepincut dengan laki-laki dewasa itu.
Aku sering membayangkannya, memikirkannya. Hingga aku kepergok oleh ibuku kalau aku menyukainya lewat logonya yang sedang kugambar di buku pada saat itu.
"Kamu suka sama dia kak?" tanya ibuku padaku yang membuatku langsung menutup buku.
"D-dia siapa Bu?" tanyaku pura-pura tidak tau.
"Tadi, logo siapa yang kamu gambar? Udah, ibu udah tau kalau kamu suka sama dia."
Aku terdiam mendengar ucapan ibuku. Wajahku kembali merona.
"Tapi, dia itu beda negara sama kita. Dia juga udah dewasa, toh kamu masih empat belas tahun. Jauh banget jaraknya. Kalo kamu beneran suka, jangan nyerah ya."
Itulah yang ibuku ucapkan sebelum ke luar dan menutup kembali pintu kamarku. Aku terdiam, tatapanku kosong. Benar yang dikatakan ibuku. Lagi-lagi aku tak pantas. Jika sebelumnya aku terlalu baik, maka kali ini aku masih kurang. Aku masih jauh dari kata 'cukup' untuknya.
Kemudian, aku ingin mengirimkan DM lewat web Instagram padanya, tapi lagi-lagi aku malu. Setelah selesai mengetikkan kalimat, aku langsung menghapusnya lagi.
Aku memutuskan untuk menuliskannya dalam surat, menulis lima puluh lima kata di awal tadi di atas secarik kertas. Tidak-tidak, aku kembali mengurungkan niatku.
Aku menuliskannya dengan spidol di atas papan kayu. Setelah selesai, aku melapisinya dengan plastik.
Diam-diam aku pergi ke sungai untuk menghanyutkan papan berisi pesan itu. Sungai yang akan bermuara di laut dan semoga nanti bisa sampai ke negaranya.
Aku berjalan di pinggiran sungai. Dan iya, aku baru ingat kalau dia suka bermain di pantai. Aku menghentikan langkahku setelah papan kayu tadi masih hanyut dan terapung di permukaan. Semoga tidak tersangkut. Aku berbalik dan memutuskan untuk pulang saja.
Semoga saja dia bisa mendapatkan pesan dariku. Semoga dia bisa mengerti isi hatiku setelah mendapatkan pesan ini. Sisanya hanya bisa aku serahkan kepada Tuhan.
-Tamat-
=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•
Terima kasih buat teman-teman yang sudah baca sampai selesai^^
Jangan lupa like-nya ya!