[Keluarga]Ziarah
Author: pengagum.gelap
PROLOG
"Hai... Aku menyapa dunia dari keterbatasan".
***
Namaku Rain,sama seperti artinya hidupku tidak berjalan mulus. Sama seperti hujan,aku suka bersedih,menangis,sama seperti bulir hujan yang membasahi dunia. Aku tidak berharga,tidak menonjol diantara sekian banyaknya manusia.
Umurku 18 tahun,sekarang kelas tiga SMA. Namun aku tumbuh dengan baik.
Hari ini tepat sepuluh tahun yang lalu dimana semuanya berakhir tak sesuai harapan. Dimana kami harus menjalani takdir sesuai yang tertulis,dimana aku harus mengetahui jika semua tak semulus saat bermimpi.
Kata orang awal yang buruk belum tentu berakhir buruk. Tapi tidak untuk kisahku,semuanya terjadi begitu saja mengukuti arusnya.
Aku berjalan tertatih,sambil menikmati hamparan sawah pada jalan setapak. Sawah ini masuh terlihat hijau,mungkin baru ditanami beberapa minggu yang lalu.
Terlihat di depan sana empat orang,berjalan dengan hati-hati. Mereka semua keluargaku ayah, kakak,kakak ipar dan dua keponakan kembarku yang masih berusia 5 tahun. Mereka di bimbing oleh kedua orang tuanya.
Aku menghela nafas,yang entah mengapa terasa berat di dalam sana ada sebuah perasaan yang membuncah.
Rindu.
Gemercik air mulai terdengar di depan sana. Dua keponakan kembarku,Rara dan Radit menghampiriku,pipi chubby mereka terlihat menggemaskan.
"Aunty,sungainya besar" rengek Rara sambil memegang tanganku. Mereka putra putri dari kakakku Fadhil. Yang terlihat menyeberang sungai dengan membimbing ayah. Lelaki tegar itu,adalah pahlawan sekaligus pembimbing yang menggantikan matahari kami yang hilang. Punggung itulah yang dahulu selalu melindungi kami,tangan itulah yang ia gunakan menggendong kami. Ubannya sudah mulai terlihat,kulitnya pun tidak sekencang dahulu.
Kudengar Kak Rina istri kakakku mengajak Radit bersamanya,sedang Rara masih setia denganku.
Benar yang di katakan Rara sungai ini besar,walaupun dasar sungai tidak terlalu dalam,air sepertinya sedang surut.
Airnya jernih,membuat batu-batu tempat ikan-ikan kecil berenang secara berkelompok terlihat jelas.
Lagi,aku menghela nafas. Tangan mungil itu ku genggam erat. Takut sewaktu,waktu jika genggamannya terlepas ia akan jatuh.
Radit mulai menghitung batu yang ia lalui.
"Aunty kita mau kemana?" tanya Rara padaku,matanya mengerjap beberapa kali sambil mendongak padaku.
"Ke sebuah tempat dimana surga Aunty dan Daddy terletak". Gadis kecil itu hanya merengut tak mengerti.
Sampai di seberang sungai kami berhenti sejenak mengisi cerek yang kami bawa. Rumpun bambu yang hijau seakan menyanyikan lagu bersama sang angin. Bergoyang kesana kemari. " mommy lihat itu!" Rafa terpekik,pada hamparan pasir. Dimana tergambar dengan jelas seorang anak perempuan berkucir dua sedang menaiki sepeda.
Kakakku melirikku,sedang ayah wajah tuanya terlihat sendu. Semua ini terjadi karenaku. Ada rasa sesak yang menghampiri mengingat peristiwa itu lagi. Tangan kecil yang ku genggam terlepas,kucing berbulu tebal lewat di depan kami.
Mengapa masa itu harus lewat? Batinku berteriak protes.
Daun bambu yangberguguran,kami lalui memasuki jalanan yang sedikit menanjak. Tak ada yang bersuara semua terlarut dalam pikiran masing-masing.
Perjalanan panjang yang kami lalui ini untuk seseorang. Seseorang yang sangat berarti bagi kami.
Saat itu umurku delapan tahun.
***
1
"Bukan tentang angan tapi kehilangan,dimana semuanya berawal dari kata menyianyiakan"
***
Aku tak tahu mengapa ibu memberiku nama Rain,hanya satu kata itu. Aku tak tahu ternyata nama itu memiliki arti besar bagi ibu dan ayah. Yang kutahu hanya menuntut yang tiada.
Sama seperti dahulu,sebelum aku tahu takdir ternyata suka mempermainkanku. Sebelum kutahu waktu ternyata lebih cepat mengalir dari semestinya.
Dahulu aku benci namaku,karena hanya satu kata itu dan berbeda pula dengan nama teman-temanku.
Baru setelah ia menghilang aku mengerti ternyata hujan sangat berarti bagi sebagian oran, bermanfaat dalam kehidupan yang fana ini.
Pernah saat pertama kali menginjakkan kaki di SMA aku ditanyai oleh seorang teman yang gak akan kusebutkan namanya disini. Karena ini bisa menjadi hal yang tidak disukai olehnya.
Dengan songong dia menghampiriku yang baru masuk kelas," hei Rain ibu lo kenapa gak ikut pertemuan wali siswa kemarin".
Aku hanya menelan saliva gak tahu harus menjawab apa selain bertingkah layaknya orang bodoh di depannya.
Aku gak mau hal itu sampai terungkap di depan mereka apalagi menatapku kasihan.
Rain yang disini benci dikasihani jadi kumohon jangan sampai kalian kasihan. Apalagi mengejek keterbatasanku. Sekali lagi ini hanya tentang takdir.
.
Aku ataupun kalian tak tahu masa depan kan? Bisa jadi hari ini kita berkehendak,tapi pemegang skenario kehidupan tidak. Kita bisa apa?
Bisa jadi peristiwa yang sama akan menimpa kalian. Kalau tidak sekarang,mungkin besok,lusa,seminggu lagi,atau justru beberapa tahun kemudian. Aku hanya berpesan jangan membanggakan apa yang ada sekarang. Tapi syukurilah tanpa menyakiti.
Karena Hari itu sepuluh tahun yang lalu tepatnya tanggal 28 mei 2009.
***
Aku saat itu masih kecil,tinggal di rumah yang lebih mirip gubuk. Hidup terpisah jauh dari keluarga. Karena apa? Jawabannya harta. Mereka lebih berada dibanding kami. Mereka menjauhi kami layaknya pengemis kecil yang tak tahu diri.
Aku tak tahu dengan jelas alasannya,tapi menurutku itu gengsi. Tak mau mengakui memiliki keluarga semiskin kami.
Mereka siapa? tepatnya kakak perempuan dan adik laki-laki tiri ibuku.
Aku pernah membencinya,hanya karena sebungkus cemilan yang kuminta pada sepupuku yang kaya itu.
Aku berakhir menangis di depan kakekku yang tinggal di rumah terbesar di kampung kami. Apakah aku dendam? Dengan senang hati aku menjawab tidak,karena saat itu aku tak mengerti apapun selain mata bulatku yang akan membuat orang yang menatapku akan gemas sendiri. Pipi bakpao yang menggembung dan hidung serta bibir mungil berwarna merah muda.
.
.
Kalian pasti tak menyangka jika ternyata kakek (ayah ibuku) akan menyuruhku pergi dari rumah itu. Iya sama! Aku juga tak pernah menyangkanya. Tapi kenyataannya itulah yang dilakukan.
Aku hendak protes dengan menatapnya memelas,hingga mata bulatku tepat menatap netranya yang tegas. Tapi percuma,dia lebih memilih diam seakan sengaja menutup mata dari kenyataan. Lalu orang tua itu mengalihkan pandangannya menatap objek apapun selain tubuh mungilku yang perlahan menjauhi rumah,tempat ibuku di besarkan sebelum wanita itu datang.
Dan aku tahu sebenarnya dia sangat menyayangiku,begitu pula dengan ibu dari tatapan matanya.
Aku juga tahu kakekku sangat ingin memeluk dan menciumku seperti cucunya yang lain. Tapi,sayangnya dia tak berani. Tak berani melawan kenyataan bahwa aku tetap cucunya,dan hubungan kami sangat dekat dikarenakan ibu tiri dari ibuku yang membuat semuanya runyam.
Kakek membuat kami menjauh darinya,yang membuat kami merasa tak penting dalam kehidupannya. Tapi diam-diam dia sebenarnya menanggung rindu yang sangat dalam pelupuk hatinya.
Secara tak langsung dia melindungi keluarga putrinya walaupun dengan cara hati yang sama-sama tersakiti.
Aku tahu dalam setiap doa saat dia menengadahkan tangan menyembah Sang Khaliq ada sebuah doa yang terselip untuk kami. Doa sederhana agar kami bisa bahagia,meskipun tanpa kasih sayang darinya.Walaupun itu dia menahan semuanya sendirian, memandangi kami dari jauh.
Pura pura tersenyum dihadapan istrinya padahal menyesal. Iba melihatku yang tumbuh dalam keterbatasan ekonomi.
Kalau dilihat secara sekilas kakekku lebih memilih anaknya dengan wanita itu dibanding yang disayangi seluruh masyarakat.
Dan hal itu juga alasan mengapa dahulu ibu diusir dari rumah besar itu. Diusir tanpa belas kasih,karena iri hati yang mengalahkan. Tapi ibuku menerima semuanya dengan sabar,hingga ia bertemu ayah.
Kakek saat itu kuperkirakan tak bisa bertindak apapun untuk mempertahankan putri kesayangannya.
Dan kisah ini diam diam membuatku merindukan sosoknya,yang walaupun tak kutahu sebesar apa kasih sayangnya karena setiap kali bertemu kami bagaikan orang asing yang tak saling mengenal. Yang kumaksud disini adalah ibu dan kakek.
"Rainnnn....gila. Rain bodohhh. Rain jelek!" dan setiap hari aku harus menanggung kekesalan setiap kali bermain bersama teman-temanku,tanpa sadar mereka membuliku yang masih tak tahu apa apa.
"Rainnnnnnnnnn....kamu yang jadi pembantu ya! Miya jadi kakak,Ima jadi dokter,dan Nina jadi kurir" atur Icha teman mainku yang lebih tua tiga tahun dibanding kami semua.
Aku dalam hati meringis,sekaligus merutuk selalu saja seperti ini. Padahal aku ingin sesekali menikmati mengiris iris daun yang dibawa menggunakan silet itu.
Ingin menolak tapi takut di cubit seperti biasanya oleh anak yang menurutku lebih mirip mak lampir itu.
Padahal kami semua masih kecil main tanah bersama tapi sudah belajar menindas yang muda. Dan aku yang paling muda diantara mereka lebih sering menjadi korbannya.
Dan aku tak berani menceritakan hal ini kepada ibu ataupun ayah. Apalagi kakakku karena dipastikan kalau kak Fadhil mengetahuinya orang manapun akan dihajar olehnya sama rata.
Diam-diam tiap kali dia memanggilku main bersama kuharap ayah atau ibu melarangku keluar rumah tapi tak pernah kesampaian.
Aku meletakkan daun belimbing yang tadi diperintahkannya padaku tepat dihadapannya.
Dia melirikku sinis"segitu doang"
"I...iyya ....ka..k" jawabku takut takut.
"Dasssar .....kamu itu emang yang paling bodoh ya!"
Aku harap-harap cemas menunduk takut,"maaf" ucapku terbata.
"Bilang apa?" dia menekan pipiku yang membuatku lagi-lagi meringis.
Bahkan masih kecilpun dia sudah seperti psikopat.
Aku diam....
"Kamu budeg ya!" dia memekik membuatku refleks menfongak. Miya,Ima,dan Nina entah sudah sejak kapan menjadi penonton juga harap-harap cemas.
Aku diam merunduk semakin dalam dengan jari-jari yang tiba-tiba mengeluarkan keringat dingin.
"Bodoh" desisnya sambil mengambil sedikit kulitku diantara lenganku yang kurus lalu diputar perlahan hingga ia menyeringai.
Aku kesakitan,menahan isak tapi air mataku sudah tak bisa kutahan dia keluar begitu saja keluar.
Ima yang kebetulan anak dari sepupu ibuku yang merasa kasihan mendekat.
"Kak dia udah kesakitan jangan dilanjut dong!" Ima protes sebisa mungkin sambil meliriknya takut-takut.
"Sebelum itu kamu bilang apa?"
"Maaf kak!" jawab anak yang memang matanya hampir sama dengan milikku itu lancar.
"Bagus"Icha bertepuk tangan lalu kembali menatapku.
"Ikuti yang dikatakan Ima" perintahnya padaku.
Aku kemudian menatap Ima,Miya,dan Nina secara bergantian mereka mengangguk meyakinkanku.
"Maaf kak" suaraku sedikit parau.
"Ulangi!" dia menekankan satu kata itu yang membuatku berdebar.
"Maaf kak".
"Bagus" katanya yang membuatku bisa bernafas lega mataku memerah.
"Tapi kamu jangan ngadu!" cetusnya sekali lagi lalu mencubit kecil lenganku yang tadi. Kali ini aku merasakan kulitku perih. Dengan patuh aku mengangguk.
"Kamu gak usah ikutan main pembawa sial". Dia menyuruhku pergi.
Dan aku mematung,setelah itu dia mengajak Miya dan Nina pergi mencari apapun yang bisa di iris sedangkan Ima kembali sibuk dengan daun yang tadi kubawa.
Setelah mereka menjauh ima mengajakku bersamanya. Membuatku ikut merasakan apa yang ingin sekali kulakukan.
" kamu main saja denganku. Tapi jangan bilang ke Icha ya!" ujarnya sambil mengancungkan jari kelingking di hadapanku. Hal yang sudah menjadi kebiasaan di kalangan anak-anak pada waktu itu.
Aku mengangguk lalu menyeka air mataku dengan tangan.
"Tapi kalau dia kembali kamu pura-pura aja gak terjadi apa-apa!".
" baik" sahutku semangat
Kami bermain layaknya anak yang tak memiliki pertalian darah. Tapi ternyata,hubungan batin yang kuat walaupun seperti tali yang tak terlihat membuat semuanya mudah. Saat itu aku belum mengetahui kalau ternyata dia sepupu jauhku.
Mungkin dia juga merasa terikat padaku sama seperti aku suka padanya.
Hal hal kecil yang dia lakukan membuatku diam diam mengaguminya. Kami sama sama masih polos dengan selisih usia seminggu.
Atau mungkin hal kecil itu memang sudah ada yang mengaturnya? Agar aku bisa bersyukur dikemudian hari....
***
2
"Ini bukan kesialan. Tapi garis takdir. Daripada pura-pura buta tapi menyimpannya sendirian apa susahnya. Cerita satu atau dua kata".
***
Hal hal kecil yang dia lakukan membuatku diam diam mengaguminya. Kami sama sama masih polos dengan selisih usia seminggu.
Atau mungkin hal kecil itu memang sudah ada yang mengaturnya? Agar aku bisa bersyukur dikemudian hari....
Daun-daun kecil itu kuiris kecil,nasihat ibu yang melarangku main silet kuhiraukan. Ini tentang kesenangan hati diantara rasa sakit yang mungkin akan di lupakan. Tapi buktinya setelah 15 tahun pun aku belum melupakan semuanya. Mungkin ingatanku memang jangka panjang. Tapi Entah dia,karena suatu saat nanti orang ini akan pergi jauh dariku.
Walaupun belum kubahas di chapter ini. Mungkin kedepannya aku akan menceritakannya sedikit. Karena dia juga salah satu orang yang berjasa dalam perkembanganku.
Tak berapa lama kemudian muncul Icha dari jalan setapak pada sudut lorong. Aku,otomatis mundur Ima pura pura membentakku. Aku hanya terdiam memasang wajah sedih. Dan bahkan saat berumur empat tahun pun kami sudah pandai akting. Apalagi sekarang.
Icha kembali tertawa sinis meletakka bunga kamboja yang di bawanya pada pinggir tembok.
Berjalan perlahan mendekatiku....
Aku berdebar,wajah Ima pias. Kami sama-sama takut. Apakah ini juga salah satu rasa yang kental dalam hubungan kami yang tak terlihat itu?
Atau hanya rasa empatinya yang besar?
Dan aku tak tahu pasti hingga kini,karena setelah kepergiannya kontak kami terputus.
Icha mendorong pelan bahuku,walaupun sebenarnya tak membawa dampak apapun. Tapi aku terlanjur takut untuk sekadar menatap matanya yang agak sipit.
"Kamu kenapa tidak pulang sih ha! Mengganggu aja" desisnya.
Aku meneguk saliva,mundur perlahan takut sewaktu waktu tangan itu kembali mengambil sejumput kulitku.
Ima yang berada dibelakangnya resah tidak tahu melakukan apa untuk menyelamatkanku dari terkamannya.
.
"Pulang aja sana!!!" bentaknya lagi.
Aku pura-pura tak mendengarnya karena masih ingin ikut bermain. Kepalaku lagi-lagi menunduk dalam.
Mungkin itu salah satu alasan kenapa aku bersikap pesimis sekarang. Lebih condong pada orang yang tak memiliki semangat hidup.
Icha maju menarik rambutku hingga aku ikut mendongak. "Percuma ya! Bicara sama orang tuli"
Aku lagi-lagi gemetar ketakutan. Aku terlalu kecil untuk melawannya hingga aku berusaha menghindarinya sebisa mungkin tapi entah mengapa ia seakan tahu keberadaanku.
Dengan berani aku menginjak kakinya menggunakan kakiku yang masih sangat kecil. Euforia ingin mempertahankan diriku muncul,walau gak seberapa sakitnya di banding yang ia berikan padaku. Tapi aku berusaha melawan sebisa mungkin.
Sudah cukup ia memperlakukanku layaknya sampah. Karena pada akhirnya semut yang terpojok pun bisa melawan disaat tahu keselamatannya terancam. Belum puas sampai di situ tanganku yang bebas berusaha meraih apapun yang dekat tak peduli itu mata,hidung, perut atau hal hal lain yang tak kutahu namanya. Aku mencubitnya sangat keras tak kulepas sebelum ia melepaskan rambutku.
Dan cara ini berhasil,dia akhirnya melepaskannya. Sekarang aku menatapnya mata sipitnya menantang galak,menahan ringisan karena cubitanku tadi berasa olehnya. Mungkin kulitnya sedikit tergores oleh kukuku yang panjang. Tapi bodo amat aku tak peduli,aku balas menatapnya dengan sorot benci khas tatapan sinis milikku ketika sedang marah.
"Kamu berani ngelawan aku?" tanyanya.
Lagi-lagi walaupun takut aku berusaha terlihat tak gentar.
"Lain. .gak peduli wleeee" aku menjulurkan lidah dihadapannya sehingga Icha tambah murka. Ima dibelakang sana tak berani mendekat apalagi ini jelas jelas kesalahan Icha.
Kerena memang tak jarang ia juga sering mendapati perlakuan yang sama meskipun tak sesering diriku.
Aku memang seakan menjadi sasaran empuknya.
"Eeeetoooo" dia maju menangkap tanganku hingga aku tak bisa bergerak di bawah kendalinya dia lebih unggul dalam tinggi dan kekuatan sedangkan aku. Kembali pasrah dibawah kuasanya.
"Berani?" sarkasnya.
Aku menggeleng cepat Ima kembali was-was.
Dia tertawa sinis,seakan merasa sangat menang mengalahkan bocah empat tahun. Dan aku berusaha tak menangis agar tak terlihat cengeng.
Dia mencubit hidungku hingga aku meringis tertahan menahan pedih.
"Napa gak nangis hmmmm...." dia mengejekku.
Hidungku memerah karena ulahnya tapi entah mengapa aku masih terus berani menatapnya.
"Kenapa?" bentaknya sekali lagi sambil mendorongku sampai aku terhempas ke tanah kering. Tulang ekorku sangat sakit begitu bokongku terhempas. Aku melemah,bulir yang tadi kutahan keluar walaupun dengan mati-matian menahan isakan.
Karena aku tahu semakin aku menangis ia akan semakin merasa senang. Ima,Miya,dan Nina tak ada yang berani mendekat.
"Hhhhha bocah sok-sok mau ngelawan!" dia bilang seperti itu seakan usiamya sudah sangat tua tapi dia juga masih bocah.
.
Aku memejamkan mata menahan sakit ketika ia memaksa ketiga temanku ikut tertawa. Kuyakin dia berniat menginjakku sebelum kurasakan ada seseorang yang merengkuh tubuhku. Lalu menggendongku dari belakang.
Jari-jarinya mengusap air mataku....
"Kakak terlambat ya dek! Maaf". Aku membuka mata,merasakan bahunya. Benar ini kak Fadhil,yang membuatku refleks ingin menangis keras di hadapannya.
Aku mengeratkan peganganku pada bahu itu. Kulihat kakakku ini menatap Icha tak suka. Aku puas melihatnya pias hendak berlari,apalagi Icha terlihat sangat kecil di hadapan kak Fadhil.
" Bahkan masih kecilpun kamu sudah bertindak seenaknya". Kakakku mulai menceramahi dengan tampang datarnya.
Dan mungkin itulah kharismanya hingga orang lain segan.
"Kamu tak tahu siapa yang kamu perlakukan tak layak seperti itu?" Icha mulai gemetaran menggeleng takut-takut sedangkan aku menatapnya lemah apalagi tubuh kerdil ini seakan remuk karena ulahnya.
"Dia adikku,orang yang pernah hampir membunuh kakakmu bocah sialan". Kata-kata itu penuh penekanan,tapi kalimat teralhir itu seakan menggema di telingaku walaupun saat itu aku belum mengerti artinya.
Teman-temanku di sana juga tak ada yang berani bergerak.
Kakakku meludah," pergi sana! Kalau mau balas dendam karena kakakmu itu jangan ke Rain. Karena di pastikan kamu atau abangmu itu akan menyesal". Usir Kak Fadhil pada Icha.
Sehingga Icha hanya mengangguk patuh,lalu lari terbirit birit. Lucu tapi itu tak semata mata membuatku tertawa,aku sangat kesakitan untuk sekadar melakukan hal itu.
Lalu tanpa kata kakakku kemudian meninggalkan tempat itu. ..
Dengan aku yang di gendongnya sambil berpegangan erat pada kemeja sekolahnya.
Saat itu kakakku masih SMA,sekolah dengan sejarah terburuk di kotaku di sana tempatnya.
Dimana para siswa yang di anggap badjingan oleh masyarakat berkumpul. Dimana mereka yang gagal dan belum berhasil menemukan identitas mengalihkan penat. Bersama sama menatap dunia yang sama kejamnya. Mereka sama-sama tumbuh dalam kekacauan. Hingga mencari pelarian,walaupun dianggap sampah.
Aku tak tahu dimana tepatnya tapi sekolah itu pernah ada.
Tapi bagiku kakakku adalah pahlawanku. Aku mendekap lehernya dengan mengalunkan tangan mungilku di sana.....
Hingga perlahan aku memejamkan mata....
Kakakku bukan badjingan apalagi pembunuh...
Ia hanya siswa biasa yang krisis identitas....
Lalu berjuang melawan keterbatasan....
***
3
"Yang dianggap benar justru yang disalahkan. Rumus keadilankah?"
***
Aku terbangun saat merasakan embusan angin menerpa wajahku. Mataku mengerjap beberapa kali untuk menyesuikan intensitas cahaya yang masuk.
Melihat diriku terbangun kak Fadhil mendekat menyodorkan air putih yang langsung ku tegak hingga tandas.
"Kak kita dimana?" tanyaku begitu melihat tempat ini sedikit lebih kecil dibanding rumah kami.
"Rumah pohon" jawabnya singkat.
Aku terpesona oleh kata katanya,sudah lama aku menginginkan sebuah rumah pohon tapi ayah tak pernah mau mengabulkan permintaanku. Dan rupanya kakakku diam diam membuat tempat ini.
Aku berdiri memilih mendekat ke jendela yang juga tak terlalu besar hingga bisa ku lihat pemandangan di bawah sana.
Indah....
Mataku penuh binar kagum hingga lupa keadaan.
"Mereka gak nyakitin kamu?" selidiknya yang kujawab dengan anggukan polos dan masih sibuk mengagumi tempat yang kuyakini karya kakakku ini.
Kakakku menghela nafas berkali kali. Tak percaya apa yang bocah empat tahun ini katakan karena jelas adik Fizar yang melakukan semuanya pada Rain alias aku.
Baru beberapa tahun kemudian ku ketahui kalau ternyata rumah pihon itu di buat kakakku untuk menenangkan fikiran di sana jika sedang tertimpa masalah. Di sana terdapat tulisan yang sengaja di tulis olehnya.
Yang baru bisa kubaca setelah kelas dua SD dan kakak kuliah di luar kota hingga jika aku merindukannya aku akan kesana.
Pada rumah pohon itu terdapat harapannya dan nama gadis yang berhasil merebut hatinya. Awalnya aku penasaran siapa itu Kak Rina. Tapi ternyata gadis cantik yang menjadi bunga desa di kampung sebelah.
Tatapan matanya memang akan membuat orang jatuh cinta pada saat yang sama.
Bersekolah di SMA favorit yang berada di dekat STM tempat kakakku menuntut ilmu.
Mereka beberapa kali bertemu tappi jarang saling menyapa,hanya masing-masing menyembunyikannya di dasar hati.
Berharap akan menghilang. Tapi bukannya menghilang malah semakin menjalar hingga menimbulkan getaran rindu.
Tapi itu kehidupan kakakku,dan itu menjadi privasinya. Dia tak mau aku menceritakan segala tentangnya.
Setelah aku puas menikmati pemandangan dan kakakku sudah berhenti bertanya kami kembali ke rumah kecil kami.
Di sana sudah ada ayah dan ibu yang menyambut. Kak Fadhil menurunkanku dari gendongannya hingga aku leluasa berjalan ke tempat ayah lalu duduk diatas pangkuannya.
Aku tak menceritakan apa yang baru saja kualami padanya. Apalagi setelah melihatnya lari terbirit birit. Aku puas,dan memilih bungkam begitu pula kakakku dia langsung ke kamarnya mengganti seragam.
Secara sederhana kakakku pintar,ayah bangga memiliki anak sepertinya. Yang selalu mendapat juara umum di sekolah. Tapi itu dulu waktu kakakku masih SMP.
Entah di STM,aku tak tahu karena ia terlalu tertutup setelah menginjak sekolah itu. Walaupun alasannya sederhana saja Fadhil terlalu menyayangi keluarga kecilnya hingga takut ayah ataupun ibu kecewa.
Kecewa oleh kenyataan yang baru. Karena kami diajarkan untuk mempertahankan apa yang dianngap benar.
Dan itulah yang selalu kami lakukan. Bukan hal lain yang benar benar merusak.
Ibu itu wanita tersabar yang ada di hidupku.
Seakan dia nyerahin hal yang menimpanya pada takdir. Dia tak pernah berburuk sangka pada masalah yang sering dia lalui.
Wanita itu adalah orang pertama yang mengajariku bermimpi dan cara mandang dunia yang luas ini dari tubuh yang sekecil debu.
Aku selalu saja di buat kagum oleh cerita cerita yang selalu di perdengarkan padaku.
Ibuku sangat cantik dengan bulu mata lentik,rambut bergelombang dengan lesung pipit di pipi kirinya. Matanya memancarkan ketenangan hatinya hingga banyak orang yang betah melihatnya berlama lama.
Tapi ibu tipe orang introvert,yang suka nanggung masalahnya sendiri. Sama kayak aku yang celaka ini.
Hal yang paling kuingat ketika bersama ibu yaitu,ketika malam kami akan memejamkan mata.
Lalu masing masing menceritakan apa yang kami lihat dalam selaman pikiran masing masing.
.
"Ibu melihat angsa putih yang berenang lepas di danau. Dengan rumput-rumput hijau yang goyang di terbangkan angin" katanya saat itu.
Aku kagum lalu ikut melakukan apa yang sebelumnya dilakukannya. Mataku kupejamkan,lalu sikuku kunaikkan diatas dahi. Aku berkonsentrasi penuh memusatkan pikiran pada satu tujuan.
Aku seakan menonton ke dalam sana. Menyelami lautan angan yang indah,mengagumi ciptaan tuhan,berbahagia pada keadaan yang hanya sementara.
Secara perlahan ku ceritakan apapun yang kulihat tanpa terkecuali. Mataku memejam tenang dengan bibir yang tersenyum tipis. Saat itu kami tak memiliki televisi atau sejenisnya. Yang ada di rumah hanya keperluan pokok dan beberapa benda lain.
Itulah sebabnya aku suka melakukannya kala kebosanan.
Ibu akan dengan senang hati berbaring di sebelahku. Lalu menuntun untuk melihat kebesaran dunia. Mengajakku berfikir untuk merenungi pencipta. Hingga aku tumbuh menjadi gadis yang selalu ingin tahu.
...
Bukan introvert seperti sekarang.
Hal yang paling ku sayangkan adalah,sekarang. Aku sudah tak bisa melihat hal hal indah yang ku sukai dulu dari dasar pikiranku.
Sering ku coba melakukan hal yang sama namun tak bisa. Yang ku lihat hanya kegelapan dan kehampaan. Apakah ini salah satu tanda tanda aku sudah tak memiliki harapan.
Mungkinkah ia pergi bersama masalalu yang indah itu. Hingga hanya menyisakan kekosongan di relung hatiku?
Tapi mengapa padaku....
Aku ingin menatap dunia seperti dulu ketika masih polos. Ketika masih kagum mengetahui hal kecil yang baru.
Mengapa waktu berlalu begitu cepat hingga menyisakan penyesalan.
Tentang hati yang imgin kembali merasakan angan.
Aku kembali menyelaminya walau hanya sebagian kecil.
Aku suka saat itu saat semuanya masih lengkap dan hangat. Lalu tertawa bersama.
***
4
Katanya hidup di dunia hanya sementara. Tapi mengapa mengajariku buat melawan tapi kamu sendiri menerima.
***
yang kami lihat masing-masing lalu tertawa bersama merasakan indahnya dunia.
Kalau bosan dengan itu aku akan berbaring di dekat ibuku sambil mendengar cerita cerita darinya.
Waktu ia kecil,SD,SMP,SMA,kerja,lalu akhirnya menikah. Walaupun tanpa disadari hal itu membuatnya tenggelam kembali ke masa yang pernah dilaluinya itu. Sama seperti yang kulakukan sekarang.
Katanya dia dahulu sekolah di tempat yang jauh. Berjalan kaki sejauh 2 km dari kampung kami. Apalagi saat itu jembatan masih rusak sehingga jika banjir terjadi dia tak akan ke sekolah. Aku suka caranya bercerita pada setiap kata.
Sesekali kadang aku menanggapi,tapi hal yang paling membekas dalam ingatanku ketika ia berjalan sendirian hendak ke sekolah.
Lalu sebuah mobil lewat di hadapannya hendak ke arah yang sama dengannya tapi berlalu begitu saja. Tanpa kata,jangankan berharap untuk ikut.
Terlebih lagi ia tahu betul jika itu mobil dari ayahnya garis miring kakekku.
Pernah juga ibu juara dua paralel seangkatan dan ayahnya diundang hadir tapi tak pernah sekalipun orang itu peduli. Seakan akan sengaja menutup mata. Padahal ibuku saat itu hanya remaja yang meminta ayahnya hadir dalam acara yang bersejarah baginya.
Jangankan datang ke rumahnya minta uang. Melihatnya saja pun si istri muda pasti akan marah besar.
Hal dimana aku tahu jika kakek sebenarnya menyayanginya. Yaitu saat ibu bercerita bahwa saat itu sepulang sekolah dia jalan kaki seperti biasanya. Sedang kakek pulang dari tempat kerja.
Si ibu tiri saat itu tak ada hanya kakek sendirian. Mobil sedan yang memang selalu dipakainya tepat berhenti di hadapan ibu. Walaupun awalnya bingung tapi pada akhirnya ia mengerti,ketika kakek tanpa kata tanpa apapun langsung memeluknya. Dengan air mata ia berguman maaf berkali kali. Mereka sempat cerita,menghilangkan rindu yang menggenang.
Dan hati yang saling mengakui. Ibuku bahkan dengan mudahnya luluh,dan menerima semuanya serta menghibur kakek dengan kata kata andalannya yaitu semua suratan takdir. Dan aku tahu,juga melalui ibu jika ternyata kakek sangat menyesal.
Dan kalian pasti bisa mengira bagaimana responnya. Dia masih remaja tapi telah menerima berbagai macam cobaan. Ketika matahari hampir tenggelam mereka berpisah,ibu kembali berjalan dan dia melajukan mobilnya. Masih ada pelukan perpisahan serta beberapa lembar uang yang katanya memang di sisihkannya untuk ibuku.
Apakah sebegitu susahnya memiliki ibu tiri?
Mereka sama sama jadi korban. Dan hati yang saling menyapa. Hubungan apapun menjadi sirna masih karena urusan duniawi. Beginikah mekanisme kerja dari yang dinamakan takdir yang selalu kau percayai wahai ibu.
***
Masih tentang ibuku,yang dahulu juga sering sekarat. Mereka para penghuni kubur pernah datang padanya mengajaknya ke tempat mereka. Aku lagi lagi menekankan kalian percaya atau tidak itu urusan kalian. Tapi aku percaya padanya. Orang yang pertama kali mengajarkanku bermimpi.
.
Hal ini sebenarnya akan kurang masuk akal secara logis. Apalagi ini mungkin tak terlihat oleh mata kita. Tapi ibuku pernah melihatnya,orang orang yang sudah meninggal itu.
Dia dahulu sakit sakitan,walaupun kalian tahu kakekku hanya sekali menjenguknya. Itupun ketika ibuku berada antara hidup atau mati. Mungkin kelas tiga SMA.
.
Buyutku yang sangat menyayanginya lah yang selalu mengobatinya jika ia kembali melihat mereka. Ayat Al-Qur'an selalu di bacakan jika nafas itu kembali terganggu dan tangannya sedingin es. Maka setelah ayat sampai dibacakan akan menghilang dengan sendirinya dan kesadarannya pun akan kembali.
Tapi jika tidak ibu tanpa kata akan bernafas terputus-putus dengan wajah sepucat mayat.
Mengapa takdir yabg kau percayai itu lebih suka mempermainkanmu? Di saat remaja seusiamu sibuk mengurus diri dan belajar membuka hati kau malah berjuang antara hidup dan mati.
Adilkah?
Namanya Diana tanpa nama ayah di belakangnya hanya kakek yang selalu menggantikan posisi ayahnya.
Tak heran jika ibuku menjadi cucu kesayangan buyutku. Karena saat cucunya yang lain sibuk dengan urusannya masing masing. Ibuku akan menyempatkan diri menjenguknya,dan melakukan apapun bersamanya.
Saat cucunya yang lain sibuk memperebutkan harta warisan hanya ibuku yang tak pernah peduli hal itu asal kakeknya bahagia.
Bukankah itu tipikal pemeran utama?
Dan aku berharap kisahnya akan happy ending seperti novel novel kebanyakan.
Sebenarnya masyarakat juga amat menyayanginya. Entah apa yang ia lakukan.
Tapi tak ada yang tahu bagaimana keadaannya yang sebenarnya dengan batin yang selalu di tekan. Aku baru tahu beberapa tahun kemudian bahwa ternyata ia menceritakan masalahnya melalui buku diary. Dia memang bisa tertawa di depan orang-orang seakan tak terjadi hal serius.
Tapi sesungguhnya ia juga menanggung duka yang di ceritakannya pada buku kecil itu. Dia bebas menulis apapun tanpa takut orang lain akan kecewa.
Tanpa takut ada yang mengetahui seberapa apiknya ia menutupi segalanya di dasar hati.
Aku tersenyum miris saat pertama kali kubuka buku kecil usang dengan sampul yang telah menghilang.
Dengan jelas kebaca tulisanya yang huruf kapital. Di lembar pertama.
Bertuliskan
"DIANA PUTRI DERITA"
Dan aku sudah bisa menebak seberapa besar luka yang ia tanggung sendiri.
Lagi aku kembali kesaat aku masih kecil yaitu usia taman kanak kanak mungkin sekitar lima tahun. Atau tepatnya tiga belas tahun yang lalu.
Ibu untuk pertama kalinya memukulku karena membolos sekolah lalu bersembunyi di garasi rumah kakek. Aku bolos,karena bosan dengan kehidupan yang itu-itu saja.
Tapi percaya! Awalnya aku tak berniat bolos. Aku hanya mengajak Fitri temanku saat itu untuk mengambil rambutan di rumah kakekku saat jam istirahat kerena dia sangat ingin makan buah itu.
Aku mencari serta memanggil manggil orang di rumah itu tapi tak ada yang menyahut. Tapi aku curiga mungkin mereka sengaja tak ada yang merespon.
Melihat pintu masih terbuka lebar yang menjadi tanda adanya penghuni di dalam sana.
Gara gara tak ada yang menyahut dengan Fitri yang menyemangati aku melempar buah rambutan itu dengan batu batu kecil.
Tapi percuma tak ada yang terjadi...
Karena batu batu yang kulemparkan selalu meleset. Apalagi tinggiku saat itu cuma sekitar 90 cm.
Aku dan Fitri duduk pada tembok dengan nafas yang sama sama terengah,karena capek melompat. Yang kita tidak sadari jika ternyata waktu istirahat sudah berlalu sejak tadi. Hingga terlihat murid SD dari kejauhan yang memanggil kami kembali ke sekolah.
Dengan langkah terseret aku dan Fitri kembali ke Sekolah. Kakak SD itu mengawasi di belakang takut sewaktu waktu kami akan kabur.
Jalan
Jalan
Jalan
Dan di depan sana sudah menunggu walikelas kami dengan penggaris panjang kayunya.
Aku tahu gimana akhirnya karena ia memukulkan penggaris itu pada betisku yang mungil sedang Fitri yang katanya lebih muda tidak di perlakukan sama.
Peristiwa itu masih jelas teringat olehku. Dimana aku untuk pertama kalinya mendapat hukuman dari guru dan ibu sekalipun.
Dimana aku kembali tertunduk dengan meremas buku jariku hingga memutih dengan bibir yang tergigit menahan lelah.
Tak ada kesempatan untuk menjelaskan yang sebenarnya terjadi. Mereka hanya melihat dari satu pihak. Tak mau mengerti dari sudut pandang kami.
Si mungil yang lagi lagi tak berdaya
Aku jelas tahu alasan ibu memarahiku dia hanya ingin aku menjadi anak yang baik dan penurut...
Tapi jujur...
.
Saat itu aku kecewa karena untuk pertama kalinya aku merasa tak di percayai.
***
5
Hanya sebuah kata percaya....
Tentang gambaran yang terjadi
***
Aku untuk pertama kalinya saat itu merasa tidak di percayai.
Saat ibu sedang asyiknya mengomel,dengan aku yang menangis menangis tergugu merasa tak adil.
Bukankah ini semua kulakukan karena kasihan pada temanku yang benar benar mau makan rambutan?.
Dan sudah kukatakan berkali kali padanya tapi dia tak mau mendengar alasan apapun.
Aku tak tahu bagaimana tepatnya perasaan ibu,sudah kujelaskan sejak awal kalau beliau sangat pintar menyembunyikan emosi di balik wajahnya yang menatapku datar. Seakan tak peduli padaku.
Tapi andainya hal yang menimpaku bukan peristiwa seperti ini. Kecelakaan atau berita buruk lain misalnya. Mungkin orang pertama yang akan hilang kesadaran adalah dirinya.
Karena hal ini pernah kudengar melalui ceritanya,yang selalu berbeda tiap malamnya. Seakan ada sejuta cerita di hidupnya yang biasa saja.
Saat kakekku menikah dengan wanita itu. Ibuku sangat syok. Apalagi tubuhnya memang lemah membuatnya pingsang. Dan itu hanya kabar,dia tak melihatnya secara langsung. Bisa bayangkan seberapa berat luka yang di tanggungnya sendirian.
Tiba-tiba saja kembali teringat olehku,entah alasan apa. Dibalik rumah batu kami yang pengap ini. Tanpa plafon,hanya seng seadanya.
Dengan kamar sebanyak tiga ruangan. Tapi rumah ini pun sudah cukup di tinggali empat orang seperti kami.
Ayahku bekerja di sebuah pabrik jagung,hingga kami bisa makan cukup untuk setiap harinya. Walaupun lauknya itu itu saja. Tapi aku maupun kakakku tak terlalu peduli. Karena rasa makanan buatan ibu sangat kami sukai.
Ada ada saja yang di lakukannya. Sesekali membeli telur jika aku tak mau makan ikan asin. Atau tumis kangkung.
Rumah kami yang terkecil dan terletak pula di gang sempit,dengan tanah milik tetangga sebelah karena iba melihat ibu.rumah
Kakakku tahu semuanya,hingga ia berusaha semaksimal mungkin untuk tidak mengecewakan keluarga.
Dan itulah yang dilakukannya sekarang....
Mungkin aku sedikit iri padanya karena kakak sangat pintar dan tak pernah sekalipun ia membuat marah ibu atau ayah.
Aku tak salah kan mengharap hal yang lebih dari tubuh kerdilku?
Kuusap lembut kelopak mata beloku.
.
Suara langkah kaki terdengar jelas dari luar....
Aku bisa mendengar samar seseorang menggedor pintu sambil memanggil nama kak Fadhil.
Wajah ibu entah mengapa berubah,antara ingin tahu dan tegang.
Aku berada di ruang tengah bisa melihat jelas dia menarik nafas sekali sebelum membuka daun pintu dengan kusen yang berkarat itu.
Tanpa kata apapun dengan tergesa-gesa untuk melihat keadaan yang terjadi. Secara perlahan tangisku berhenti.
Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan,cukup lama hingga ibu kembali lagi dengan wajah kusut.
Aku ingin bertanya tapi masih takut,dan aku memilih diam. Takut membayangkan reaksinya.
Orang diluar sana entah ada berapa,sudah menjauh.
Tak lama kemudian masuk kak Fadhil,dengan wajah lebam. Terlihat sangat kacau,kakinya sedikit pincang.
Langkahnya terseret mengikuti ibu,yang menghindar menatapnya. Pada pelipisnya tak berhenti mengeluarkan cairan warna merah.
Aku meringis menahan nafas beberapa saat,sebelum menghembuskannya kembali. Kemeja sekolah satu satunya yang dimilikinya robek di bagian bawah,beberapa kancingnya terlepas.
Bercak bercak darah juga ada di sana membentuk semacam pulau.
Baru kali ini kulihat kakak pulang tanpa senyum yang di tunjukkan padaku.
Jujur aku takut....
Kakakku tiba tiba berbeda dari biasanya,wajahnya dingin. Tapi matanya menyiratkan rasa bersalah.
Ibu di dalam sana kudengar beberapa kali terbatuk,mungkinkah ibu menahan tangisnya. Tidak berbicara,dan melakukan apapun. Hanya menatap tanpa ekspresi saat kakakku memeluknya dengan air mata yang terus bercucuran.
Itu kulihat dengan jelas karena aku mengkuti kakak. Semenjak ia masuk tadi.
Tangan mungilku berpegangan pada tembok kasar yang menjadi pembatas antara ruang tengah dengan belakang.
Dengan dada berdenyut aku menatap mereka dalam diam dengan mata ingin tahu.
Tembok dingin nan kasar ini terus kugunakan untuk menyandarkan tubuh kecilku.
Ibu hanya terus menatap kosong saat diajak berbicara oleh kakak. Sambil menggumam kata maaf.
Apakah hatinya yang kokoh itu sudah tak sanggup menahan beban hingga ia bereaksi seperti itu.
Apakah kami telah membuatnya kecewa bahkan terluka di waktu beramaan hingga ia sudah tak mampu memaafkan?
Ohh ibu....
Kumohon marahlah sepuasmu,tapi jangan kau siksa kami seperti ini.
Sedangkan kakak dia terlihat sangat lemah di hadapan ibu. Dia hanya manusia lemah tak berdaya. Mungkin sangat takut melukai hati pemilik surganya.
Aku lagi-lagi meringis ketika kulihat kakak mencoba menggenggam tangan rapuh ibu. Sambil menciumnya berkali kali. Hanya kata itu yang kudengar dari mulutnya yang lebam. Dengan sudut bibir yang teriris.
Dalam sekali hentakan lepaslah genggaman tangan itu,kakak terjungkang kebelakang. Air mata itu entah mengapa tak mau berhenti. Aku juga hampir terjatuh karenanya.
Kasihan...
tapi juga takut mendekat...
Apakah yang harus kulakukan dengan tubuh sekecil ini.
Aku takut hanya menjadi saksi bisu yang ketakutan. Tanganku mengeluarkan keringat dingin.
Walaupun hanya sesaat sempat kulihat sedikit perubahan garis wajah ibu.
Kakak kembali mendekat kini,dia memeluk kaki rapuh itu. Sambil sujud mencium telapak kakinya. Memejamkan mata beberapa saat lalu merendahkan suara.
"Maafkan aku ibu". Katanya parau. Suaranya serak karena tangis.
Kembali kupegangi dinding ini. Dan hal itulah yang juga membuatku iri pada kakak. Ia akan melakukan apapun demi ibunya. Sedangkan aku,apa yang telah kulakukan selain membuatnya marah,dan.dengan entengnya tak mengucapkan kata maaf sekalipun.
Ibuku menggeleng,benteng yang ia bangun luruh sudah. Lagi lagi baru kali ini kulihat ibu serapuh itu. Dia menatap rambut kakak yang acak acakan tidak terurus seakan baru saja di jambak.
Air mata itu jatuh tepat diatas kemeja kakakku yang penuh bercak darah.
Kulihat ia ingin mengusapnya namun hanya berhenti di udara. Dia mengurungkan niatnya,apalagi ketika kakakku bangun sambil menatap matanya.
Dadaku entah mengapa ikut sesak. Langit tiba-tiba saja mendung,dasar hatiku ikut bersedih. Nyeri kurasakan....
Oh Tuhan...
Apakah yang sebenarnya terjadi?
Mengapa rumah kecil kami yang jadi sasarannya?
Bukankah banyak yang di luar sana yang lebih beruntung?
Apakah Kau begitu menyanyangi ibuku hingga ia sering mendapat ujian seperti ini?
Hembusan angin pelan menerpa wajahku,aku masih terlalu kecil untuk protes. Aku tak tahu apapun disini....
Aku mengehembuskan nafas sekali..
.
Aku hanya menjadi saksi bisu kejadian ini....
Rumah gelap dan kecil ini pun juga....
Dada ibu naik turun bersamaan dengan sesaknya perasaan.
Hatinya tak kuat lagi menahan sesak itu. Kakak terus menatap mata itu.
"Anakku bukan pembunuh". Katanya bersamaan dengan suara derit pintu yang terbuka.
Aku menahan nafas syok mendengarnya. Dan aku berharap agar segera dibangunkan dari mimpi buruk ini.....
***
6
Reaksi setiap orang berbeda untuk menghadapi kekecewaan. Kak aku sangat sayang padamu. Mengapa memilih mengabaikan?
***
Aku berharap segera di bangunkan dari mimpi buruk ini.
Tapi tidak ketika,kurasakan tangan hangat menyentuh pundakku yang tegang.
Dan dengan berdebar aku berbalik.
Ayah.....
Entah mengapa hari ini terjadi begitu cepat,entah ini kebetulan atau bukan. Atau memang bagian dari skenario yang telah direncanakan.
Matanya menyiratkan kemarahan,tak terlihat wajah lelahnya. Kulihat ia beberapa kali memalingkan wajah. Dia menengok ke ruang tengah menahan emosi. Nafasnya memburu. Tangannya secara perlahan mengepal.
Aku semakin tak karuan,pias antara takut dan ingin menghentikan.
Apalagi ketika tatapannya jatuh pada kakak yang tak berdaya dengan bercak darah di seragamnya. Dan ibu yang masih terus menangis pada tempat yang sama duduk di sebuah kursi reot dimakan usia.
Aku tahu pria ini mendengar semuanya,walaupun aku juga tahu dia jarang marah. Tapi begitu meledak maka akan kacau semuanya. Dia tak akan memandang bulu. Dia akan marah jika ada masalah yang benar-benar serius. Sehingga sulit baginya menahan gejolak.
Kutahan tangannya ketika ia hendak melangkah. Barharap cara ini mempan. Sehingga ia berhenti, menatapku sejenak. Lalu kembali mengalihkan pandangan. Dan dengan wajah memelas ku isyaratkan ia agar mengurungkan niat yang bisa merusak hubungan batin antara keduanya,hal itu membuatku takut .
Tapi sayang,tangan kecilku perlahan di lepaskannya. Di abaikan seakan debu kecil tak kasat mata.
Dan aku tak suka caranya,ada sebuah rasa terbesit yang melukai.
Aku menelan saliva kasar,tak berani membayangkan nasib apa yang menunggunya. Kami sama sama khilaf,kecewa.
Nasib baik atau burukkah yang menanti?
Hai waktu!
Mengapa kembali menguji?
Dan Aku tak percaya kakakku akan membunuh.
Aku tak akan pernah percaya,kutekankan itu!
Tak mungkin pahlawan,pelipur lara yang selalu ada untukku melakukan semuanya. Tak mungkin hati dan rasa selembut itu bisa merenggut nyawa seseorang.
Lihatlah betapa tak berdayanya raga satu itu!
Apakah ini salah satu fitnah untuk mendapatkan fitrah?
Diluar sana hujan semakin deras. Seakan sengaja menjadi backsound penunggu nasib malang.
Aku hanya berharap keajaiban itu datang. Datang sebelum semuanya benar benar terenggut. Aku maju beberapa langkah, berani melewati pembatas ruangan ini.
Dengan jantung yang menanti keputusan.
Dengan tangan yang saling mengulum,lambat lambat kulihat semuanya. Seakan sengaja di slow motion oleh pemilik takdir.
Dalam sekali hentakan ayah menendang kakakku yang masih berjongkok di hadapan ibu hingga ia jatuh terjerembab ke lantai sambil meringis tertahan.
Aku meringis,air mataku tiba tiba menggenang di pelupuk mata. Bukan aku yang merasakannya,tapi ku tahu itu sangat sakit. Terbukti dari deritan yang timbul antara lantai dan tulangnya.
Aku sulit untuk bernafas,hanya karena sesak yang tiba tiba ini.
Ibu mengangkat wajah baru menyadari jika ayah sudah di sana dengan kemarahan yang memuncak hingga ke ubun-ubun.
Aku terpekik,tak menyangka. Aku lagi lagi ketakutan,hingga tubuh mungilku ini merapat ke pojok dinding sambil menutup telinga.
Nafas ayah kian memburu,sangat marah sehingga seakan melupakan jika kakak adalah kebanggaannya.
Saat kak Fadhil hendak bangun,kembali sebuah tonjokan yang mengenai pelipisnya. Ibu maju hendak melerai,tapi ayah lagi lagi tak bisa di redakan. Seakan itu sebuah api,ia memuntahkan lahar panasnya.
Aku tak tahan melihatnya......
Kakak lagi lagi meringis mungkin menahan perih. Tapi ia tak melawan hanya pasrah menerima. Sambil memeluk kepalanya. Berharap tiupan nafasnya akan meredakan emosi dari ayah.
"Ayah...menyekolahkanmu bukan untuk menjadi pembunuh. Anak laknat". Ayah yang pendiam dan jarang bicara itu kudengar mengumpat,aku semakin merapatkan tubuh ke tembok dingin ini.
Aku ikut merasakan sakit melihat kakakku yang terus mendapatkan tonjokan. Ibu,juga terus memohon agar ayah menghentikannya takut jika terjadi sesuatu yang serius pada kakakku. Dia melupakan fakta yang baru saja terjadi melihat putra kesayangannya sudah bagaikan kucing malang yang baru saja terluka.
Hujan deras ini membuatku menyimpulkan tak mungkin tetangga bisa mendengar keributan ini.
Jari jari yang bergetar,hati yang sama sama terluka. Hubungan yang terlupakan,serta sebuah nafsu yang tak mau mendengarkan penjelasan.
Seakan mata di butakan oleh sebuah kabut tebal. Bersamaan rintik yang terus saja terjatuh seakan ingin memporak porandakan bagian bumi yang celaka ini.
Aku hanya bisa menangis manahan nyeri ulu hatiku melihat kakak yang terus terusan mendapat luapan amarah dari ayah. Dia benar benar tak berdaya seakan tahu batasan.
Tahu asal muasalnya. Kakak tak menangis,hanya sesekali meringis.
Kumohon hentikan semua ini......
" Dia bisa saja kau bunuh pak. Dia Fadhil anak kita". Ibuku berkata pelan berusaha memeluk ayah memberikan ketenangan.
"Bukankah kau bilang tak memiliki putra pembunuh?". Ayahku sarkas,menatap ibu prihatin.
Ibu menarik ayah,menjauh hingga melewatiku yang meringkuk di pojok ruangan. Dengan air mata yang bercucuran walaupun tanpa suara.
Ayah turut,dadanya kembang kempis matanya masih berkabut.
"Istigfar. Pak" itulah yang di katakan ibu sehingga ayah menurut. Mereka duduk di sofa saling berdekatan. Ibu terus-terusan menggenggam tangan ayah bermaksud menyalurkan ketenangan.
Kulihat kakak masih tergeletak. Hatiku perih,luka lukanya bertambah. Mungkin tulangnya ada yang retak.
Aku merangkak mencoba mendekat, memegang jemarinya yang ia gunakan menutup wajah.
Aku memanggil namanya beberapa kali hingga kulihat pergerakan kecilnya.
Kucoba hingga beberapa kali.
"Kak ayah jahat ya!" ucapku parau,dan bulir bening itu kembali lolos.
Kakakku membuka mata,hingga jelas terlihat darah yang mengalir dari pelipisnya.
Dia tersenyum....hingga aku ingin memeluknya.
"Ayah jahat sama kakak", aku menangis meraung pada tangannya yang juga lemah ini.
Hanya kata itu yang sanggup keluar dari mulutku.
Kakak berusaha bangun.
Susah....
Itu jelas,apalagi dia berusaha menenangkanku dengan mencoba tersenyum walaupun berakhir buruk.
Kak Fadhil memelukku. Kurasakan jantungnya ini berdebar teratur sedikit merasa tenang. Aku memeluknya lebih erat mengingat ganasnya balasan yang ia dapatkan tadi.
Tanpa berusaha menjelaskan,hanya menerima tak berdaya.
Kakakku sangat baik. Hingga aku tak boleh iri padanya.
Lagi aku tak boleh dan tak mau menerima jika kakakku membunuh.
Aku tak mau melepaskan pelukannya. Dia juga,sangat lama ia mencium puncak kepalaku. Seakan ini yang terakhir,aku tak melawan, tak protes walaupun dari tubuhnya menguar bau amis darah.
Aku berhenti menangis seiring hujan yang reda.
Kakakku mengusap lembut kepalaku.
Aku terpejam menikmatinya.
"Rain kalau kakak gak ada jangan cari ya!". Hiburnya.
Mataku mengerjap beberapa kali.
" kakak mau pergi?" tanyaku
Dia menggeleng," gak lama kok".
"Jangan" aku memegang pipinya yang sudah warna merah keunguan. Hingga ia meringis tertahan.
Kakakku menhembuskan nafas,mendongak menatap langit langit seakan ada hal menarik diatas sana.
Aku ikut mendongak,mataku menatap ingin tahu. Tapi tak ada yang kulihat selain atap yang sudah usang.
"Kakak salah Rain. Jangan kyk kakak ya! Kamu gadis baik,kalau mereka kembali mengganggumu tinggal panggil kakak"
Aku mengerjap beberapa kali tak mengerti,
"siapa?"
"Icha dan kakaknya"
Aku menatapnya,mata belonya menatap sayu.
Ternyata kakak masih mengingat hal itu. Ingatannya mungkin sama sepertiku.
"Hmmm...iya kak"jawabku membuatnya lega.
" kakak mau obat"
Dia menggeleng,"aku bantu ke kamar".
Dia pasrah di tuntun oleh diriku yang kecil,aku tahu diriku tak berefek apa apa. Terbukti dia berjalan sempoyangan. Masuk ke kamar,melewati ruang tengah rumah kami. Dimana sebuah lampu philips besar menggantung mengurangi kegelapan kala malam.
Kakak menabrak meja,hingga membuat ibu berbalik menatapnya walau sekilas. Kakak pilu,ketika ibu memutuskan kontak itu.
Kami kembali berjalan ke kamar kak Fadhil. Aku membuka pintu,hingga terlihat kasur tanpa ranjang yang menghampar. Dengan sprei warna abu-abu tapi sudah pudar. Aku menarik lembut tangannya hingga berbaring.
Sebuah meja belajar kecil yang reot berdiri di pojok kamar. Aku tahu kakak setiap malam belajar di sana hendak melawan takdir dengan mengubah keadaan keluarga kami.
"Kamu tak apa apa kan?" tanyanya perhatian.
Aku menggeleng kecil,seharusnya aku yang bertanya demikian padanya.
Aku mengeluarkan bajunya,dari rak kecil. Begitu menyadari dia masih memakai seragamnya.
"Makasih"
Aku meletakkannya di dekatnya.
" Rain mau kakak cepat sembuh"
"Kakak janji"
"Kamu keluar dulu ya! Istirahat juga" pintanya memelas,hingga aku menurutinya.
Berjalan sempoyangan ke kamar sebelah.
Merebahkan tubuh di kasur yang sama kecilnya dengan milik kakakku. Lapar tak di hiraukan.
Hari ini sungguh panjang....
Kami hanya menunggu goresan kehendak dari yang berkuasa.
Saat malam semakin larut,tak ada pembicaraan hangat seperti biasanya.
Hati mereka entah mengapa seakan membeku,aku tak tahu tepatnya.
Samar kudengar deritan pintu dari kamar sebelah. Langkah pendek hati hati sedikit demi sedikit. Dan kusimpulkan itu masih milik ibu.
Ku tahu ia tak akan tega pada anaknya,kasih sayangnya tak akan pernah mengalahkan kekecewaan di hatinya.
Ku tahu ia lagi lagi pasti menangis menyesal akan apa yang akan terjadi.
Dan aku entah mengapa merindukan ceritanya saat ini.
Tentang cerita masa lalu yang memilukan itu,aku tahu ceritanya akan terus bertambah.
Hanya sebuah harapan yang menanti agar cerita ini berakhir bahagia. Sama seperti impiannya. Tak ada penyakit atau kebencian. Tak ada duka atau kekecewaan.
***
7
Yang membenci menjadi puas begitu melihat kami kembali melarat dalam duka.
***
Berita buruk cepat sekali menyebar,merambah dari mulut ke mulut, Rumah ke rumah hingga ke kampung sebelah.
Aku tak tahu seberapa besar rasa malu yang harus di tanggung keluargaku. Malu akibat keadaan yang memaksa,hingga mencekik nafas yang sesekali berhembus.
Aku saat itu kelas satu SD dan kakak kelas tiga SMA tahun terakhirnya mengenyam pendidikan menengah.
Matahari kian terik seakan hendak membakar ubun-ubun menghanguskan kulit-kulit tipis manusia.
Binatang-binatang lululantang mencari air di sana sini. Seakan itu sumber kehidupan terbesar.
Sama seperti hubungan ayah dan kakak yang tak kunjung membaik. Mereka serumah,tapi tak saling menyapa. Mungkinkah hati mereka sama sama membeku di dunia yang semakin panas ini?
Aku menghembuskan nafas lelah,memikirkan cara untuk meringankan beban sandiwara ini.
Aku pulang sekolah berjalan kaki,menatap langkah kakiku yang pendek pendek. Burung burung diatas sana terbang mencari pelepasan.
Ada beberapa teman sekelasku yang tak suka padaku dan itu membuatku risih.
Aku mengalihkan wajah pada mobil mobil yang berlalu lalang. Berbaris dengan sangat apik.
Sesekali ada yang menyalip kendaraan lain.
Tapi kakiku terhenti begitu melihat objek beberapa langkah di depan sana.
Kakak,dengan seseorang yang tak kutahu siapa. Gadis kira kira seumuran dengannya,rambutnya bergelombang tapi pendek sebahu.
.
Di perhatikan dari belakang mungkin gadis itu sangat cantik. Hingga sangat kontras berjalan beriringan dengan kakakku yang seakan tak terurus.
Lebam di wajahnya masih terlihat,hingga matanya yang memang sipit kesulitan mengerjap.
Tapi ia tak peduli,terlihat dari senyumnya ketika memandangi gadis itu dari samping.
Aku mempercepat langkah,mengikuti mereka kemana hendak pergi. Melewati jembatan besar penghubung sungai besar tempat enceng gondok tumbuh subur.
Aku semakin mendekati mereka,hingga aku berfikir lama lama aku merasa seperti penguntit.
Mereka berhenti tepat di depan rumah yang terlihat asri. Bunga bunga bermekaran pada halamannya yang terawat. Catnya pun warna hijau muda. Seakan rumah ini melambangkan kesuburan.
Walaupun tak terlalu besar aku sampai melongo beberapa saat karena takjub.
Dalam hati lagi lagi aku berdecak kagum.
Kekagumanku terhenti ketika mendengar bisik bisik yang tak jauh dari tempatku berdiri.
Ibu-ibu yang sedang mengelilingi tukang sayur. Sedang asyiknya gibah.
Samar kudengar nama kak Fadhil di sebut,hingga aku mencoba menajamkan indra pendengaranku.
"Bukankah dia yang sudah membunuh putra dari pak Wijaya?. Fariz wijaya". Mulai bu Mirna tetangga kakekku.
"Ah...mungkin salah orang kali. Kayaknya dia anak baik baik". Tafsir bu Wati yang memang berada di kawasan ini sehingga tak tahu jelas orang yang dimaksud gosip itu.
Bu Mirna melotot menambah provokasinya yang belum berhasil hingga aku diam diam mengutuk jika ini ulah dari ibu tiri ibuku.
Entah mengapa aku selalu curiga pada wanita tua itu.
"Emang dia,nih klw gak percaya". Ujarnya sambil menyerahkan smartphone sehingga kedua ibu ibu di sertai tukang sayur itu menggeleng tak percaya.
" harus di ingatin nih bu Evi agar putrinya di jaga jangan sampai di bunuh oleh psikopat berwajah manis sepertinya". Lanjut bu Dira tetangga gadis yang bersama kak Fadhil.
Aku menghela nafas pelan begitu melihat kak Fadhil tiba tiba saja menyadari keberadaanku.
Matanya meminta penjelasan. Hingga aku hanya bisa tertawa hambar ketika ia perlahan mendekat.
Aku ciut,begitu menyadari perubahan raut wajahnya.
"Ngapain ke sini?" tanyanya tanpa basa basi.
"Ikutin kak Fadhil" jawabku jujur.
Dia menghela nafas beberapa kali,terlihat sedikit tak suka.
"Kamu kayaknya udah mulai nakal ya! Kenapa nggak mesti pulang aja"
"Aku penasaran sama orang yang tadi bareng kakak", ekspresiku sengaja ku buat memelas.
" yaudah kita langsung pulang aja"ajaknya menarik pelan lenganku. Hingga aku ikut terseret. Mau tak mau menurut saja.
Banyak yang ingin kutanyakan padanya.Tapi melihat gurat wajah kak Fadhil yang terlihat ceria akhirnya aku memutuskan tak bertanya. Hanya berjalan dengan bersenandung kecil,kembali memandangi jalanan siang.
Aku terkejut,ketika tiba tiba merasakan sebuah kerikil mengenai pelipisku. Lalu beberapa saat kemudian suara suara berdatangan memenuhi indra pendengaranku. Kami berada dalam perjalanan pulang.
" Pembunuhhh!!!"
"A****g lo b*****t"
"Mati aja sana! Kembalikan Teman kmi "
Aku tak sempat mendengar semuanya karena kak Fadhil langsung saja memelukku erat-erat. Mungkin takut aku terluka hingga lemparan-demi lemparan itu hanya mengenai dirinya. Aku merunduk,lagi lagi ketakutan.
Kak Fadhil mengeratkan pelukannya. Tak melawan,bukan karena pengecut. Tapi hanya demi melindungi adik cerewet dan ceroboh yang dimilikinya ini.
Keras....
Beberapa kembali kurasakan mengenaiku....
..
Dia berlutut di hadapanku,tepat diatas jembatan besar ini. Di pinggiran besi besi berkarat yang sudah tua di makan zaman.
Lemparan itu datang bertubi tubi di sertai umpatan.
Nafas nafas,terengah di sertai umpatan kasar yang tak boleh kudengar semuanya bersatu.
Kami terpojok,saling berpelukan menetralisir rasa sakit yang tiba tiba. Kulit lebam,tak ada yang peduli.
Mobil tak ada yang berani lewat,sebegini rusaknya kah moral pemuda bangsa ini? Tak menyimpan belas kasih pada sesamanya. Pada suatu keadaan yang belum pasti.
Tanganku gemetar,mataku ku pejamkan beberapa kali. Suara suara itu tak ada yang berhenti. Siang ini sangat panjang,aku tak tahu dimana letak kesalahannya.
"Kembalikan Fariz!"
"Hukum...kau pantas mati bangsa*".
"Mau kau bunuh juga anak itu?"
Aku tak tahan,mendengarnya. Kurasakan cairan menetes di pundakku. Bau Amis,kucium. Sangat kental,mungkinkah ini darah?
Saat itu samar kulihat sebuah mobil sedan berhenti di tengah kerumunan yang semakin menggila dan menghambat lalu lintas. Mengapa kakakku lagi yang jadi sasaran?
Ini bukan cerita heroik,atau apapun. Ini lagi lagi tentang hati. Kerasakan keringat kakak menetes diatas kepalaku. Kutahu ia lagi lagi menahan ringisan.
Wajahnya yang tadi ceria hanya karena gadis itu berubah tegang.
Kakak mulai lemah juga,segala macam perlakuan telah di terimanya.
Kau bisa membayangkan,mereka sangat banyak mungkin sekitar tiga puluh orang.
Mengapa lagi lagi ini yang di dapatkannya?
Tapi dalam sekejap tiba tiba semuanya berhenti.
Mereka mundur teratur,seakan tak pernah terjadi apapun. Lalu lintas sedikit demi sedikit membaik tidak semacet tadi. Ku rasakan terpaan nafas kakakku melemah.
Dan tatapanku yang tiba tiba memburam
Antara sadar atau tidak kurasakan pelipisku yang tadi sempat terkena kerikil mengeluarkan darah.
Lalu beberapa meter di sana kulihat wanita itu tertawa puas! Menikmati penghinaan dan luka yang kami dapatkan.
Mengapa selalu dia?
Atau mungkin ini hanya ilusi yang dibuat oleh pikiranku karena terlalu lelah sehingga selalu berburuk sangka.
Kami perlahan ambruk di tengah aspal diatas jembatan, saksi beberapa generasi ini....
Saksi dari kejadian yang membuat kami benar benar lelah.
Dalam keadaan kak Fadhil memelukku seakan takut kehilanganku.
Dan kutahu mungkin gadis itu akan sangat beruntung jika sampai berhasil memilikinya..
Lagi kakakku tak mungkin membunuh seperti yang kalian katakan.
Ku mohon jika ada setitik saja di dalam hati kalian untuk percaya maka aku akan sangat bersyukur.....
***
Api
Angin
Air
Hanya bisa saling bekerja sama menjadi elemen terpenting kehidupan.
.
***
Aku up hari ini guys!!!
Khusus hari ayah!
Ada yang ingat😂
Ya sebagai bentuk kecintaanku pada sesosok ayah yang selama ini membesarkanku.
***
8
Ibu lagi lagi anakmu yang menjadi sasaran
***
Aku bermimpi melihat semua orang berbaju putih. Kakak,ibu,dan seorang perempuan yang sedikit lebih besar dari diriku.
Mereka berpegangan tangan hingga membuatku protes ingin ikut mereka. Tapi tak ada yang peduli mereka berjalan sangat cepat melewati lorong lorong kecil di kampung kami. Aku ingin berteriak tapi tak bisa. Hanya dada yang kembali di buat sesak.
Lalu setelah itu tiba tiba kulihat ibu datang menciumku. Memelukku erat hingga aku benar benar merasakan ada sesuatu yang salah. Ada di dalam sana yang tak terima.
Ibu mengecup semua wajahku melupakan orang yang tadi bersamanya.
Hingga secara perlahan ibu melepaskan pelukannya. Dan aku berasakan tubuhku basah oleh air mata ibu.
"Ibu kapan kita pergi?" ucap anak perempuan yang lebih besar dariku itu.
Apa? Ibu....
Aku jelas tak terima. Dia ibuku dan kak Fadhil,dan dia siapa seenaknya mengaku ibu pada orang yang melahirkanku.
"Ibu akan bicara dulu pada adikmu " aku dibuat semakin bingung seakan ini hanya lelucon.
"Ibu! Dia masih memiliki ayah sedang aku? Tak ada siapa siapa" protesnya dengan bibir mengerucut. Dan jujur itu membuatku takjub,dia sangat cantik. Apakah dia keturunan bidadari. Atau memang salah satu dari makhluk itu?
Tapi mengapa ada di sini? Dan mengajak ibuku bersamanya.
Kak Fadhil dari tadi tak berbicara hanya menatap kosong. Banyak pertanyaan yang muncul di benakku.tapi,tanpa aba aba mereka beriga tiba tiba menghilang.
Tapi latar tempat seakan berubah bagiku. Aku masih berpijak di lantai yang sama. Tapi seperti panggung sandiwara ini berubah sangat apik.
Aku menatap sekitar. Ada beberapa pegunungan yang mengelilingi tempat ini. Hingga aku merasa tak enak antara kehilangan juga kebingungan.
Sungai sungai jernih mengalir perlahan hingga aku mendekat.
Di dekat salah satu gunung kulihat semuanya seseorang sedang menggali tanah menggunakan linggis. Aku merasa tak asing,tapi tak boleh kusimpulkan dengan cepat karena tak melihat wajahnya yang dibalut topi.
1 2 3 aku semakin mendekat, hingga ia mungkin merasakan keberadaanku. Aku was was,jantungku berdebar akan segala kemungkinan terburuk. Orang itu tak berpakaian putih selain topinya yang besar menjulang seperti kerucut.
Aku menginjak ranting pohon hingga ia mendongak. Tapi begitu kulihat wajahnya,antara lega dan semakin ketakutan karena yang kulihat adalah ayah yang sedang melubangi tanah.
"Ayah kemana ibu?" tanyaku hati hati.
"Dia pergi ke sebuah tempat nan indah!"
Aku tak mengerti hingga ayah menghentikan kegiatannya. Lalu naik tepat ke sebelahku. Sama seperti yang tadi di lakukan ibu. Dia juga memelukku lama.
Aku menikmatinya,masih dalam fikiran yang berkecamuk.
Ayah berhenti setelah itu kembali ke aktifitasnya.
'Rain'
'Rain'
'Rain'
Kudengar suara ibu memanggilku hingga aku mengerjap. Memerhatikan sekitarku,lalu gunung,ayah,sungai semuanya menghilang dalam pusaran awan hitam.
Aku merasa melayang,ingin berpegangan tapi aku hanya merasakan kegelapan dan kehampaan.
Suara suara itu semakin terdengar jelas kala ku dengar bacaan ayat suci al-qur'an melantun.
Hingga aku membuka mata.....
" ibu!"
"Ibu"
Aku memanggilnya beberapa kali hingga ia mengeratkan genggamannya.
"Rain kamu sadar nak!" ibu terlihat sangat bersyukur.
"Bukannya ibu pergi dengan kakak cantik itu?" tanyaku polos.
"Tidak nak! Ibu janji gak akan pergi dari Rain".
" kak Fadhil mana?" tanyaku begitu menyadari sesuatu.
Ibu memaksakan senyumnya. Aku tahu itu....
"Dia tak apa apa!" jawabnya santai.
Tapi di ikuti helaan nafas berat.
Aku berusaha untuk bangun,tetapi kepalaku masih pusing.
"Istirahatlah" kata ibu kembali membentangkan selimut
***
Dua hari ini aku tak ke sekolah,beberapa kali kudengar orang 'itu' datang tapi aku tak pernah peduli. Termasuk kakek dan saudara ibuku.
Dalam keadaan seperti ini mungkin mereka hanya tak mau mendengar cercaan dari tetangga makanya datang.
Walaupun sebenarnya kedatangan mereka tidak meringankan beban kami.
Malahan mereka menambah tekanan batin ibu. Beberapa kali kudengar,mereka mencelanya karena kak Fadhil yang membunuh orang.
Kak Fadhil...
Aku rindu padanya,dua hari ini tak pernah kulihat dia menjengukku. Beberapa kali kutanyakan pada ibu. Tapi ibu selalu mengatakan hal yang sama.
Luka di pelipisku sudah mengering membentuk bekas yang mungkin akan menghilang beberapa bulan kemudian.
Kejadian hari itu tak pernah kutanyakan,takut membuat ibu sedih.
Mimpi itu belum juga kuceritakan padanya.
Semuanya terjadi begitu cepat,beberapa bagian tubuhku masih kurasakan sakit. Aku menghembuskan nafas,memandangi langit langit kamar sambil melukis sesuatu.
Ibuku setiap malam tidur di sampingku.
Aku suka itu,tapi lagi lagi aku mencari kak Fadhil. Walaupun jawabannya tetap sama.
Tapi mengapa sampai sekarang tak pernah datang lalu memelukku seperti hari itu. Aku juga mulai menghubung hubungkannya dengan mimpiku.
Tatapan kosongnya yang tanpa semangat,tanpa bicara dan senyuman itu menggangguku.
Hmm....
Aku menghela nafas sekali. Tapi,begitu melihat wajah ceria menghampiriku aku langsung berbinar.
Dia adalah Ima anak dari sepupu ibuku.
Tahi lalat kecil di dekat keningnya,terlihat menambah kecantikan wajahnya. Hari ini dia mengenakan gaun warna merah muda selutut. Dengan bando yang berwarna senada.
Dia,ketika melihatku meringis. Iba,atau hal lain yang tak bisa ku tebak apa isi pikirannya.
Saat ia tersenyum muncul lesung pipinya. Membuatnya terlihat sangat manis walaupun usianya masih delapan tahun.
Aku nyengir sedikit melupakan kegundahan hatiku. Hmm...diantara banyaknya keluarga yang tak menyukai ibu,Ayah Ima tidak termasuk. Mungkin semua saudaranya sangat menyukainya.
Untuk itulah,Ima selalu datang begitu mengetahui hubungan kami ternyata sedekat ini.
Aku bersyukur,masih ada yang mau menjengukku dengan tulus.
"Hei Rain!"
"Hmmm" jawabku singkat. Andainya aku tak kesulitan bangun,sudah sejak tadi kurebut bando warna merah di kepalanya itu lalu berlari.
"Aku mau pergi".
Aku terdiam,cukup lama. Berusaha mencerna apa yang baru saja di katakan orang di hadapanku itu.
" yaudah pergi aja kok kamu tiba tiba pamit sama aku". Aku bingung,palingan besok udah kembali kan. Lalu kita bisa kembali bermain.
Dia menghela nafas,agak merengut. Dia duduk di atas kasur kecilku.
"Tapi lama Rain". Suaranya kudengar parau.
Aku tersentak lalu menatap mata kelam yang warnanya sama seperti mataku itu. Tak ada kebohongan.
Lagi lagi aku terdiam. Ada rasa sesak di sana. Jika orang ini benar benar pergi maka aku tak tahu siapa yang akan mengajariku hal hal baru. Yang ia dapatkan. Tak ada mulut cerewet yang selalu menghiburku jika aku merasa sedih.
Dia saudaraku,berasal dari darah yang sama. Kuanggap kakak walaupun selisih usia kami hanya seminggu. Suka sekali mengajariku hal baru. Walaupun pengetahuannya juga terbatas.
Lagi hari ini aku harus mengikhlaskan.
" tapi kenapa?" tanyaku sedikit tercekat. Tak menyangka apa yang barusan dikatakannya.
Gantian,dia yang terdiam memandangi seisi kamarku. Berfikir,apakah menjadikan tempat ini saksi atau bukan. Dan pada akhirnya dengan berat ia cerita.
Kulihat tatapannya berubah sendu. Matanya berkaca kaca. Apakah ia juga menanggung beban sama sepertiku. Di usianya yang masih begitu muda?
Dia menarik nafas sekali"papa sama mama pisah". Ima mengucapkannya putus putus.
Bagaikan ditimpa palu godam,ucapannya barusan menggema meninggalkan bekas yang menyakitkan di dasar hati.
Dia masih kecil tapi harus menanggung sakit yang terjadi akibat orang tuanya.
"Dan aku harus ikut sama ibu".cicitnya dengan bahu bergetar,kali ini tak mampu menahan semuanya. Dia memperlihatkan sisi lemahnya sebagai anak yang tak rela kehilangan salah satu orang tuanya.
Hilang dalam artian berpisah dari salah satunya.
" Aku gak mau pisah sama papa". Dia menumpahkan semua yang dirasakannya padaku. Pada anak yang juga tak tahu apa apa aku hanya bisa menenangkan semua akan baik baik saja.
Tapi tak lama pintu kamar terbuka,ibu masuk dengan mata sembab langsung memeluknya. Menenangkan jiwa kecil yang terluka,ibu sangat tahu rasanya harus berpisah dengan salah satu orang tua.
Aku memandangi mereka,mungkinkah aku lebih beruntung dari Ima. Kami masih terlalu rapuh.
"Sabar nak!" ibu mengusap pelan bahunya memberi ketenangan.
.
"Allah pasti punya rencana yang lebih baik untukmu".Dan itulah ibuku orang yang akan selalu percaya. Hanya kata itu,sangat sederhana.
" tapi mereka tak sayang sama aku" Ima,membalas pelukan ibuku. Tangisnya mereda.
"Mereka sayang kamu,percaya sama ibu". Itu yang dikatakannya hingga Ima berhenti menangis ketika mendengar suara mamanya dari luar.
Sekali lagi gadis kecil itu memelukku,aku menikmatinya. Merasakan pelukan yang mungkin suatu saat nanti akan kurindukan.
Ibuku memberikan kata semangat padanya,hingga ia tersenyum kembali memperlihatkan lesumg pipit itu.
Dan hari itu terakhir kali aku melihatnya,dia pamit padaku ....
Hanya pada ibu dan diriku....
Bahkan ayahnya.....tak tahu kalau mereka telah pergi.
Meninggalkan bekas luka padanya,dan hari itu untuk pertama kalinya ibu melihat sepupunya menangis kehilangan putri satu satunya.
Manakah yang lebih kejam memisahkan atau merenggut?
Dan jawabannya ada pada setiap hati yang di tinggalkan
Tbc
Next
***
9
"Percaya hanya untuk orang orang yang bersedih. Menunggu hal baik yang menghampirinya. Tapi bagaimana kalau hal itu gak pernah datang? Apakah kepercayaan itu menjadi kalimat tanpa makna?hanya sebagai penghibur hati yang lara!
Tentang sebuah kata percaya"
***
Seminggu semenjak kepergian Ima dan ayahnya masih sering murung seakan tak memiliki semangat hidup. Beberapa keluarga terdekatnya memberikan dorongan moral.
Termasuk ibuku.....
Aku sedikit bahagia.....
Tapi tidak ketika lagi lagi kudengar kekacauan di rumah kecil kami ini.
Suara piring yang pecah menggema memekakkan telinga. Aku terkejut hendak bangun tapi tak bisa.
Samar kudengar suara ayah yang berat berkata"ayah menyekolahkanmu,kerja banting tulang bukan ingin membuatmu jadi pembunuh".
Sudah bisa kutebak dia berbicara dengan siapa.
"Ayah memang senang kan kalau seandainya aku yang mati! Ayah gak perlu banting tulang" suara itu ku dengar munusuk tapi terkandung kegetiran.
Aku tak bisa menebak bagaimana keadaannya tapi kutahu kondisi kali ini serius.
Ayam berkokok,para pegawai serta siswa mulai meninggalkan rumah masing masing menuju tempat yang di jadikan tujuan.
Tapi di rumah kecil ini lagi lagi ada sebuah kekacauan. Kudengar juga isakan kecil yang kuyakini milik ibu.
"Mati saja kau sana" dan gebukan ku dengar lagi. Jantungku berdetak cepat,kembali sakit itu kurasakan seakan ada sebuah benang tak kasat mata yang menghubungkan jiwa kami.
"Berhenti". Suara ibu lemah sarat permohonan. Aku bangun,bersandar di dekat pintu kamar yang ternyata terkunci dari luar. Seakan mereka memang sengaja mengurungku agar tak menyaksikan keadaan itu lagi.
Kak Fadhil juga samar kudengar terisak,hingga dadaku kembali sesak. Baru kudengar ia menangis meraung seperti itu. Seakan menanggung sebuah beban yang berat dan butuh di mengerti.
"Kau kenapa menangis?"
Tak ada jawaban,hingga "bapak memang tak pernah menyukaiku kan! Dari dulu,aku mungkin bukan anak kandung" ucapnya pilu seraya masih menangis.
Ibu tak kuasa,berusaha menghentikannya namun tak bisa.
"Percuma! Aku memang bukan bagian dari keluarga ini". Suaranya penuh beban,hingga air mataku kembali meluncur.
Ayah terdiam terengah menahan gejolak emosi melihat luapan perasaan anak sulungnya. Sangat kesakitan,hingga anak kelas tiga sma itu menahan dadanya.
" makanya aku gak boleh sekolah di SMA Favorit kan?"kak Fadhil lagi lagi menuntut. Membuat ayah maupun ibu sama sama terdiam.
Ibu menggeleng berusaha menjelaskan,tapi kak Fadhil terlanjur tak mendengar. Seakan kak Fadhil hari ini bukan yang biasanya.
"Pak bu aku pergi"
.
Kalimat terakhir itu membuatku tertegun,berusaha menarik pintu agar terbuka namun sia sia.
Aku tak ingin di keluarga ini ada yang pergi. Apalagi hancur. Ku kerahkan seluruh tenagaku namun lagi lagi sia sia.
Ibu menangis ingin menghentikannya namun,tak bisa. Tak ada yang bisa ia cegah melalui tubuh rapuhnya. Semua terlanjur runyam. Hingga kebahagiaannya yang hampir mendekat kembali menjauh.
Aku juga berteriak dari dalam kamar namun tak ada yang peduli pada bocah sepertiku.
Langkahnya perlahan,menggema di ruang tengah. Tanpa menoleh ke belakang agar niatnya tak di cegah.
Rumah yang menjadi tempatnya tumbuh berani ia tinggalkan.
Aku melihat jendela yang cukup besar di kamarku hingga aku mendekat ke sana.
Tapi sayangnya aku tak bisa keluar. Hanya bisa ku lihat kakak yang menjinjing tas lusuhnya berjaln tertatih meninggalkan rumah kecil kami. Dengan ibu yang menangis mengiringi kepergiannya.
Kak Fadhil tak sekalipun menoleh termasuk padaku yang berteriak memanggil namaku. Punggung tegapnya melemah,menahan beban di usianya yang masih muda.
Kaos abu abu yang di kenakannya basah,mungkin oleh air mata.
Kak Fadhil
Dadaku sesak begitu tahu kau memutuskan meninggalkan kenangan yang ada.
Sebegitu sulitkah berada di posisimu hingga tak mampu lagi bertahan di badai yang selalu datang ini.
Dia menjauh tapi aku masih berada di dekat jendela dengan perasaan berkecamuk. Kehilangan,kecewa,dan hal lain.
Lukanya yang ia dapat saat itu mungkin sudah mengering tapi tidak dengan luka hati yang bukannya terobati malah di tambah oleh goresan yang besar. Hingga sebuah perasaan untuk memghilang muncul.
Apalagi ia sedang berada pada masa krisis identitas,yang keberadaannya ingin di akui tetapi tak ada yang peduli.
Hmm....
Kak Fadhil.....
Ini dari Rain,yang akan selalu sesak mengingat peristiwa celaka itu.
Deru mobil,kicau burung,semua kembali terbayang dalam memoriku. Mengapa?
Kami bukan malaikat yang akan selalu bertingkah benar. Tapi kami manusia hina yang berharap memiliki secuil kebahagiaan.
Tapi mengapa kebahagiaan itu memang sengaja di Jauhkan dari keluarga kami?
Apakah salah jika aku menuntut?
Seorang ibu yang menderita yang harus menanggung akibat terbesarnya.
...
Hmmm
Kita tak boleh protes,manusia kecil hanya bisa berharap bukan menentukan. Jalan terbaik akan datang.
Ibu!!!
Aku bertanya apakah kau masih percaya padahal mereka telah merenggutnya satu satu agar kau berhenti percaya?
Ibu.....
Terbuat dari apakah hatimu hingga sekuat itu?
Dari emas,intan,dan hal.indah lainnya kah?
Aku menghembuskan nafas lelah. Ini hari kesekian dari nasib sial yang memdatangi rumah kami.
Teruntuk kakak kumohon kembali....
Ini bukan tentang tak ada yang menyayangimu. Tapi tentang waktu dan permainan takdir.
Buktinya kami semua merasa kehilangan,sekaligus kesepian saat kau memutuskan meninggalkan rumah kecil reot ini.
Bukan tentang siapa tapi hati yang di uji kesabarannya.
Kak Fadhil setiap malam semenjak kau meninggalkan rumah ini. Tiap malam ibu menangis menyalahkan diri sendiri dan tiap siang atau pagi mendengar cibiran tetangga.
Apakah ini sebuah hukuman
Karena kami sibuk menuntut bukan bersyukur?
Aku memandangi foto kecil dari keluarga kami yang masih lengkap.
Sekarang umurku 9 tahun. Sudah setahun semenjak kak Fadhil pergi. Menghilang tanpa jejak dari kami.
Seakan sengaja menghindar,ayah aku tak tahu dengannya tak pernah ku dengar ia menyebut namanya.
Aku pura pura tertawa padahal diam diam rindu sosoknya.
"Kalau mereka ganggu kamu panggil kakak ya! Kakak pasti akan datang!" janji itu selalu terulang terngiang bagaikan memori yang tak akan hilang hanya karena pupus dimakan waktu.
Ibu kehilangan sebagian semangatnya,walaupun kutahu ia sering tersenyum yang jelas itu semua palsu. Itu caranya memainkan sandiwara agar aku maupun ayah tak khawatir padanya.
Tapi itu percuma karena pemikiran kami sama sama rindu padanya.....
Kak kau di mana? Kalau bukan untukku maupun ayah setidaknya datang untuk ibu.
Kau orang terpelajar,tak mungkin tak tahu bagaimana perasaan ibu.
Kau pasti tahu ibu pura pura kuat untuk kita. Kumohon demi wanita yang memegang surgamu kembalilah.
Karena kita adalah bagian dari dirinya kak. Hatinya sangat lembut hingga tak boleh di kasari karena sewaktu waktu ia bisa pecah.
Aku tahu walaupun lisanmu mengingkari tapi hatimu mengakui.
Please!😫
Tbc
***
10
"Duka itu hadir untuk setiap manusia,tak peduli bagaimana caranya".
***
Kami kembali ke kehidupan kami,terlepas dari masalah yang menghampiri sebelumnya. Aku, ibu,maupun ayah. Tapi jujur ada yang menghilang.
Kau tahu bagaimana rasanya kehilangan kan? Sakit,kurang lebih seperti itu. Tapi bedanya menghilang bukan berarti ia berada di dunia yang lain. Dia masih berada di bumi yang sama,hanya saja aku tak tahu dimana persisnya.
Aku ingin tahu bagaimana keadaannya,tapi aku juga takut. Sewaktu waktu kami tak bisa lagi bertemu untuk waktu yang lama.
Yang terakhir kali kulihat ia kala itu,membuatku benar benar memyesal tak bisa bertindak dalam keterbatasanku.
Ibu,aku tak tahu persis bagaimana perasaannya. Tapi sering kali kulihat ia menghindar lalu menunduk kala melihat tatapan sinis dari tetangga. Kakek,kadang mengunjunginya seminggu sekali. Aku bersyukur tapi tak sepenuhnya bisa kulalui dengan ikhlas.
Memang benar kata orang cobaan akan datang pada setiap hamba. Dan kali ini pun masih tetap sama.
Tentang gosip gosip tetangga yang setiap hari terdengar kadang membuatku bising. Apalagi mereka bahkan memberikan bumbu yang tak sesuai dengan kenyataan.
Memang tak ada habisnya dalam hal itu. Tapi ini ibuku bukan orang lain. Tak ada kata yang dapat menggambarkan betapa sabar dan lapangnya dadanya.
Tapi lain dengan apa yang kurasakan. Ibuku terlihat biasa saja, wajahnya tetap cerah. Kadang tersenyum pada mereka. Kadang pula menunduk agar tak ada yang memyadari keadaannya.
Tapi lebih seringnya kulihat ia menghidar,apalagi jika bertemu dengan keluarga Fariz. Aku tak pernah tahu apa yang sebenarnya di rasakannya.
Dan mungkin tak akan pernah karena sekali lagi ku ucapkan dia sangat piawai bermain peran.
Hembusan nafasnya sangat lembut,tatapan matanya sangat menenangkan hingga aku tak tega melihatnya berada dalam keadaan itu.
Pernah suatu kali ia bercerita sangat panjang,aku memdengarkan tapi keluar dari telinga kiri. Aku langsung lupa apa yang ia ucapkan. Ini juga sama seperti cerita sebelumnya. Masih tentang kehidupan,yang tak pernah kumengerti.
Bagaimana tidak kebahagiaan itu hampir ada tapi dengan cepat dirampas kembali.
Ibuku bercerita menumpahkan segala resah,segala rasa yang ia sembunyikan melalui kata yang sukar kumengerti. Lebih tepatnya dia mengumpakan apa yang ia rasakan. Dia tidak menceritakannya secara gamblang seperti aku yang bercerita karena meminta sepeda baru ketika melihat temanku naik sepeda.
Satu yang kusukai darinya,dia tak pernah sekalipun kudengar mengeluh ataupun memyalahkan sesuatu seperti yang sering kulakukan.
Ibuku tak pernah kenal lelah,dia sangat menikmati pekerjaannya seberat apapun itu. Kadang kulihat dia mencuci pakaian tetangga yang sibuk bekerja.
Kadang pula hanya diam ketika ayah pulang dari tempat kerja dan tak ada sesuatu pun yang bisa dimakan. Sedang aku,apa yang bisa kulakukan selain menangis dengan keras meminta makanan.
Aku tak tahu bahwa ternyata yang kulakukan adalah salah satu hal yang membuat tetangga sering berbisik bisik kala melihat ibu.
Aku menangis hingga puas jika memang keinginanku tak terpenuhi.
Dan itu mungkin membuat ibu tak pernah membayangkan memiliki anak nakal sepertiku. Tapi jujur,ini semua kulakukan agar mereka membawa kak Fadhil kembali ke kehidupan kami seperti sedia kala.
Kata kata kak Fadhil saat itu terus terngiang hingga aku akan melakukan segala cara agar dia mau menengokku.
Uhhh...
Tapi segala yang kulakukan tak pernah menghasilkan jawaban. Kak Fadhil entah kemana,kabarnya menghilang seiring raganya yang tak terlihat oleh mata.
Tapi kasus itu masih saja terus dibicarakan,seakan tak akan pudar dimakan usia.
Ayah kadang kulihat menunduk,dengan mata menatap lurus entah apa yang ia pikirkan. Tapi aku tak pernah berani bertanya,takut mungkin.
Kembali ke ibu,yang sering kali gelisah melihat tetangga yang berkerumun. Kadang pula kuliahat sengaja menempelkan telinga ke dinding untuk mendengarkan apa yang dibicarakan tetangga sebelah.
Kadang aku bertanya tapi lama lama kubiarkan hingga menjadi kebiasaan. Dan saat itu aku tak mengerti,bagaimana rasanya menjadi dirinya. Mumgkin tak akan bisa,karena ia memamg di takdirkan berbeda dari saudara saudaranya yang lain.
"Rain! Kau harus belajar jangan kaya ibu ya nak!" ucapnya suatu hari padaku.
Aku memggeleng,"aku mau seperti ibu yang cantik". Dan ia tersenyum.
"Ibu cantik dari mananya?" lagi dia berkata sambil mencolek sedikit hidungku.
Aku menatap mata bening yang teduh miliknya lalu kembali larut dalam pikiran,yang kemudian memggeleng pelan tak tahu.
"Ibu ingin kau menjadi orang yang sukses agar tak di pandang rendah orang lain".
Aku kembali menggeleng tak mengerti.
Ibu mencium kepalaku kembali memberikan pelukan hangat.
Aku menikmatinya,karena memang dia adalah matahari bagiku.
Sekolahku berjalan dengan baik,memang benar yang diyakini ibuku tak selamanya yang buruk akan selalu menimpa manusia.
Dan itu terbukti di sekolahku di SD,guru guru banyak yang menyukaiku karena cepat menangkap pelajaran. Lebih lebih berhitung,aku sangat suka. Di saat teman temanku pusing tak tahu caranya bagaimana aku justru telah bersemangat dengan jari jari menari di atas buku.
Lalu dengan cepat selesailah tugas yang di berikan. Aku termasuk siswa yang pintar kata guru. Dan mungkin memang ini adalah salah satu kelebihan keluarga kami. Karena kak Fadhil juga pintar. Bahkan sangat pintar,hingga beberapa gurunya menyayangkan ketika kakak lebih memilih STM dibandingkan SMA.
Padahal bukan tanpa alasan kakakku akhirnya memilihnya,melainkan jalan terakhir yang dimiliknya jika masih ingin mengecap bangku sekolah.
Ibu berkali kali tersenyum kala pulang sekolah kutunjukkan nilaiku yang selalu A+.
Aku saat itu SD kelas satu. Dan selalu saja namaku di sebut guru sebagai contoh untuk teman temanku yang lain. Yang belum pandai membaca.
Aku bangga karena kadang di beri hadiah ketika mengajari temanku yang belum bisa membaca atau pun berhitung.
Ibu sangat senang,bahkan memujiku berkali kali. Tapi tak berapa lama senyumnya pudar sedikit demi sedikit. Dan kutebak mungkin ini karena kakak.
Kurasa ia teringat mungkin hal yang sama pernah terjadi di masa kakakku masih berumur sama sepertiku.
Senyum itu pudar sedikit demi sedikit di gantikan wajah dengan tatapan kosong.
Ibu,kutahu kau kehilangan permatamu. Ketika ia memutuskan meninggalkan rumah kita.
Tapi wajah itu kembali normal kala memyadari aku selalu menatapnya ingin tahu.
Dia hanya akan menggeleng lalu kembali mengajariku apapun. Ya! Ibuku adalah guru pertama bagiku,dia mengajariku menulis,membaca bahkan menghitung. Dan itulah alasannya,aku langsung bisa tanpa perlu banyak penjelasan dari guru.
Karena di rumah pun aku memiliki seorang guru yang lebih berarti.
Seorang guru yang akan dengan sabar mengajariku hingga aku bisa. Dan untuk itulah,aku tak akan sejenius kak Fadhil. Anak pertama di rumah ini.
Untuk itulah kami merindukan sosoknya.....
Aku selalu percaya kata katanya saat itu. Tapi begitu melihat ibu yang sudah mulai sakit,aku perlahan lahan merasakan bahwa percaya yang di berikan kakakku itu percuma.
Karena rasa sakit itu pula memupuskan percaya yang susah payah kubangun....
***
11
"Bukan perkara mudah melewati sesuatu yang benar benar sulit,karena kata kata tanpa maknapun suatu saat pasti akan terasa menyesakkan bila menjadi kenangan".
***
Tak terasa ulangan semester satupun telah berlalu. Aku menyelesaikannya dengan lancar. Kau tahu nilaiku pun mendekati sempurna.
Kadang ada teman teman yang mengejekku,mungkin karena iri. Hal itu kembali membuatku risih. Tapi hal itu terbayarkan ketika melihat senyum ibu kala aku berlari pulang membawa raporku.
Raport pertama yang kumiliki selama bersekolah di SD. Aku berlari,saking semangatnya tak peduli pada jalan yang licin dan becek.
Teman temanku kutinggalkan dibelakang. Rok pendek merahku berkibar kibar mengiringi langkah kaki kecilku yang cepat. Rambutku yang panjang dikucir dua terombang ambing mengikuti langkahku.
Percikan air sisa air hujan terciprak kemana mana kala kulewati jalan yang baru.
Aku senang,sungguh. Hingga melupakan bahwa hujan baru saja reda. Biasan air ada di mana mana menggenang pada jalanan yang rusak.
Beberapa langkah kemudian kulewati jalan rusak itu dengan melangkah cepat.
Tapi,sepatuku tak mampu menahan jalan licin. Hingga aku terpeleset,kemudian terjatuh. Raport baru yang kupegang. Melayang ke atas hingga kemudian terjatuh ke genangan air.
Aku sendiri merasakan sakit di daerah betis hingga ke paha.
Aku terduduk menahan ringisan. Karena kulitku rasanya perih. Kasar aspal juga berbaur.
Teman temanku yang tadi kulewati sekarang menghampiri. Tapi tak ada yang peduli. Hanya lewat dengan tatapan sinis. Walaupun tak semuanya. Padahal di sini rasanya aku ingin menangis.
Kulihat raporku yang tergeletak tak jauh. Saat Sinta hampir berada di depanku.
Kertas putih bersihnya dimasuki oleh air yang berwarna coklat karena telah berbaur dengan tanah. Merembes masuk melalui plastik bening yang menjadi sampulnya.
Menyerap pada kertas halus itu. Aku berusaha berdiri hendak meraihnya. Tapi Sinta lebih dahulu mengambilnya. Lalu membukanya,menatap isinya sekilas lalu kembali melemparnya ketempat semula.
Aku merasa marah,sekaligus perih. Karena kurasakan luka itu menusuk memberikan sensasi lain. Lukanya serta merta ikut terasa sampai ke bagian terdalam.
Nafasku menderu hendak menangis tapi malu.
"Tidakkah kamu mau membantuku teman?" tanyaku berusaha tersenyum.
Langkahnya berhenti,menatapku sekilas.
"Sejak kapan kita berteman?" dia balik bertanya yang membuatku menelan ludah.
"Oh...ayolah. Kalau kamu tidak menganggapku teman terserah. Bantu aku hanya untuk berdiri setelah itu,kamu boleh pergi".
Sinta mencibir,ketika melihatku yang mengiba.
"Baiklah,tapi hanya berdiri setelah itu aku pergi".
Aku mengangguk.
Dan setelah itu dia menarik lenganku agak kasar,aku berusaha berdiri menguatkan otot kaki dengan bertumpu padanya.
Dengan susah payah aku berdiri. " makasih"
Dia menyeka pelipisnya yang di penuhi keringat.
Tanpa kata dia benar benar pergi meninggalkan aku.
Tapi aku bersyukur,walaupun Sinta tidak menyukaiku dia masih mau membantuku. Dan kutahu itu bukan kebencian. Hanya saja masih belum terbiasa.
Aku kembali melihat raporku yang tergeletak tak jauh dariku,dengan langkah terseok seok aku mendekatinya memungut lalu melihatnya.
Dan kalian bisa menebak bagaimana kotornya sekarang,hingga rasanya aku ingin menangis. Bukan karena kakiku yang sangat perih dan melepuh. Tapi itu adalah perjuanganku selama satu semester ini.
Bajuku yang berwarna merah putih juga kecoklatan di penuhi noda. Tapi aku tak peduli,hanya deretan angka angka berjumlah itu yang membuatku benar benar merasa sia sia.
.
Kerasakan sebuah usapan lembut di punggungku hingga aku menoleh.
Kulihat guru muda,dengan badan agak besar menggunakan kaus biru kesukaannya.
"Kau kenapa?" tanya Bu Yus,guru tk ku dahulu.
Aku menggeleng,sambil memeluk raporku yang berwarna merah maroon.
Dia menatapku tak percaya dari atas hingga bawah,lalu guru itu berdecak bukan karena kagum tapi tak percaya.
Luka di betis belakangku pun tak luput dari tatapannya.
"Jatuh? Kamu pasti lari lagi ya!" tebaknya yang kemudian membuatku mendelik.
"Hmmm....kamu ini dari masih tk sukanya lari lari. Terakhir,kamu terima raporkan juga jatuh,tapi tidak separah ini!". Guru muda itu berkicau,membuatku benar benar tak enak hati.
Dan jelas yang ia ucapkan tak aku lupakan. Kronolgisnya hampir sama seperti sekarang.
Dia meraih rapor yang kupeluk,lalu mengeluarkan tissue dari tas kecilnya. Dan dengan telaten membersihkan rapor itu. Bagian luar,lalu beberapa kertasnya. Tapi sayangnya,yang berada pada kertas tak bisa terbuka karena telah menyerap.
Tapi tak mengapa setidaknya ini lebih baik.
Dia menyerahkannya kembali padaku. Setelah itu dia juga membersihkan kakiku yang kotor. Bu Yus ini guru yang sangat baik untukku. Karena tahun lalu juga dia yang melakukan hal seperti ini.
Terakhir dia mengusap pelan kepalaku.
"Kamu bisa pulang?"
Aku mengangguk,"kalau begitu hati hati!!!"
"Iya bu. Maksih!" dan guru itupun tersenyum sangat tulus,hingga aku benar benar merasa sayang padanya.
Tapi sampai di rumah aku langsung berteriak memanggil ibu.
Lupa pada rasa sakitku tadi.
Ibuku tergopoh gopoh keluar. Agak terkejut melihatku yang kotor. Tapi kujelaskan aku tak apa apa lalu memperlihatkan raporku. Dia membacanya,pada tempat itu juga. Berdiri,tanpa berniat duduk.
.
Aku menanti dengan sabar tapi perasaanku meluap luap. Menunggu reaksinya.
Sebuah senyuman terbit dari bibirnya. Tatapannya yang bening terlihat bercahaya. Hatiku menghangat,tak pernah kulihat seperti ini dia sebelumnya.
Rambutnya yang agak keriting di usapnya kebelakang.
"Kamu juara satu?"Binar bahagia itu benar benar tak bisa ia sembunyikan.
Aku mengangguk membenarkan. Dan kemudian,tangannya ia gunakan mengangkatku,lalu menggendong tubuhku. Yang sebenarnya tak bisa lagi dikatakan kecil.
Ibuku tak peduli rasa bahagianya mengalahkan semuanya. Aku tak tahu kapan ia terakhir kali menggendongku seperti ini. Dari luar,masuk ke dalam begitu seterusnya. Dan ibu terus saja tertawa.
Langit yang tadi mendung berubah cerah begitu ibuku seperti ini. Seakan kebahagiaannya adalah sesuatu yang menular dengan cepat. Aku memeluknya,mencium aromanya dalam dalam dan tanpa merasa malu akan ku katakan itulah hadiah terindah yang pernah aku dapatkan selama mendapat juara di kelas.
Bukan sepeda seperti yang di hadiahkan kepada Qalby temanku yang peringkat dua. Walaupun sebenarnya dia juga menjanjikannya padaku. Apabila kelak aku tamat mengaji.
Aku bahagia entah bagaimana aku mendeskripsikannya. Aku memeluknya sangat lama. Karena memang aku merindukannya.
"Kamu pintar" dan kata itu sudah menggema beberapa kali di telingaku mengingat ibuku mengatakannya dengan penuh kasih.
Hari itu aku tertawa,sangat panjang hingga tetangga mendengar. Ibupun demikian,walaupun sebenarnya merasa bersalah karena aku terjatuh. Tapi bisa kutenangkan,mulutnya berkali kali mengucap syukur sambil memberikan kecupan padaku.
Hari itu benar benar terasa indah bagiku. Hingga aku lupa kapan terakhir kali merasa sedih.
Benar-benar menyenangkan untukku.
Tapi tak berapa lama ibu menurunkanku dari gendongannya.
.
Aku hanya menatapnya penuh sayang.
Tapi tak berapa lama kemudian dia terbatuk sangat lama hingga aku menatap khawatir.
Dia kemudian berhenti,lalu mengusap mulutnya. Dan yang membuatku tercegang itu adalah,cairan kental yang berwarna merah. Sama seperti darah.
Wajah ibu mendadak pucat,tangannya mendingin sama seperti salju.
***
Tbc
12
"Untuk hati yang membeku"
***
Kebahagiaan sesaat itu sirna sudah. Aku menatapnya khawatir tapi dengan cepat wanita itu berlari kebelakang. Membersihkan cairan kental yang kutahu sebagai darah itu.
Dengan cepat ia menenangkanku, mengatakan ia tak apa apa. Hanya terlalu senang.
Ibu hari itu menggunakan, bajunya yang berwarna abu abu tapi terasa dingin jika melekat di kulit. Hingga cocok untuk musim kemarau. Walaupun sekarang musim penghujan tapi dia sangat suka menggunakannya.
Bahkan aku kadang kesal karena diantara bajunya yang lumayan banyak baju lusuh dan tua itu yang di pilihnya. Apa ada sejarah dari,baju itu hingga ia bahkan rasanya tak mau melepaskannya.
.
Tak lama ayah datang,dan ibu memang sebelumnya sudah melarangku mengatakan apa yang kulihat. Dan aku hanya bisa menurutinya tanpa banyak protes. Dan memang batuk itu hanya berhenti sampai di sana karena keesokan harinya ibu kembali normal seperti kehidupannya yang biasa.
Bahkan berminggu-minggu hingga beberapa bulan kemudian tak ada lagi tanda tanda ibu akan mengalaminya. Dia kembali sehat wal'afiyat.
Hingga aku tak pernah buka mulut,hanya kembali pada kehidupan normal.
***
Suatu kali di pertengahan bulan april,kulihat seseorang yang sangat mirip kak Fadhil. Secara kebetulan,dia bersama beberapa temannya lewat di SD tempatku bersekolah. Entah mereka mau,kemana.
Tapi aku yakin,dia adalah Kak Fadhil melalui caranya berjalan,penampilannya yang acak-acakan.
Hingga aku benar benar merasa kesenangan karena tak pernah kulihat lagi dirinya.
Aku berlari mengejarnya,karena mereka menggunakan motor butut saling berboncengan. Tapi lajunya lambat,karena motor itu sudah sangat tua seakan mesinnya terbatuk batuk. Aku yang berada di jalan pulang mengejarnya dengan kakiku yang kecil.
Walaupun sebenarnya kak Fadhil tak melihatku. Langkahku kupercepat,"Kak Fadhil!!!". Aku berteriak sebisanya.
Karena rasa rindu itu mengalahkan semuanya,memang mungkin saja aku melupakannya karena waktu yang terlalu lama. Tapi itu tak pernah terjadi,karena ia tetap saja bagian dari kami.
Aku berlari,berteriak lebih kencang karena ia tak mendengarku. Deru motornya sangat bising,hingga mungkin pendengarannya terganggu.
"Kak Fadhil,ini Rain kak!" aku masih terus berusaha walaupun tak ada tanda tanda dia mendengarku. Aku lelah kakiku sudah tak mampu mengejar, hingga air mataku rasanya ingin menetes karena merasa semuanya sia sia.
Aku berlutut,dijalanan. "Kak Fadhil! Aku rindu kakak!".
Dan saat itu secara tak sengaja saat aku benar benar tak mampu lagi mengejar. Kepalanya berbalik,mungkin melihatku duduk lelah sambil menangis dijlanan. Hingga ia menyuruh temannya membalikkan arah motor.
Dan dua motor itu pun memutar arah,kembali ke hadapanku. Dan saat itupun aku mendongak,dari kenyamanan yang ditimbulkan karena memeluk lututku.
Dan saat itu setelah sekian lama mata kami bertemu,saling mengunci melewatkan rasa yang terkekang.
Aku memerhatikan ketiga temannya. Semuanya tampan,tapi penampilan mereka hampir sama. Yaitu acak acakan.
" Lo kenal?"tanya teman kak Fadhil yang berkulit putih tapi tertinggi diantara keempatnya. Rambutnya mirip oppa oppa korea.
"Iya bro", saat itu tanpa aba aba langsung saja aku menerobos ke pelukannya. Menangis sepuasnya di sana. Bertanya,protes hingga semuanya meleleh.
"Siapa?" cetus salah satunya,yang menggunakan kaos biru muda. Hanya dia yang tidak menggunakan seragam.
Karena mereka bertiga hanya bisa mematung mencerna situasi yang tiba tiba ini.
"Adik gue!!" Dan pernyataan kak Fadhil,sukses membuat ketiganya melongo.
"Lo jangan ngedrama siang siang gini deh!" teman kak Fadhil yang paling manis itu paling merasa tak percaya.
"Siapa yang ngedrama sih?" kak Fadhil mulai jengah.
"Kakak kenapa gak pulang?" aku gak peduli perdebatan mereka,yang aku butuhkan hanya penjelasan.
Hingga ketiga teman kak Fadhil saling mendorong,menyalahkan satu sama lain.
Kak Fadhil mengalihkan pandangannya,kami sekarang duduk di warung lesehan pinggir jalan menikmati secangkir besar es kelapa.
"Hmm...." kakakku hanya menjawab singkat. Mungkin tak mau menceritakan alasannya. Langit tampak cerah,cahaya matahari berpendar pada sela sela pepohonan.
Aku sekarang tahu nama ketiga teman kak Fadhil,mereka semua asyik dan lucu. Mereka Adalah kak Andra,kak Rio,sama kak Reyhan.Apalagi kak Andra yang santai,dan pembawaannya yang bikin orang selalu pengen ketawa.
Kak Andra menanyakan cita citaku. Dan aku dengan singkat menjawab dokter.
Lalu ia kemudian berkata santai. "Kalau kakak waktu seumuran kamu pengen jadi ultraman!". Sedangkan temannya yang lain hanya memaklumi.
"Kenapa kak?" keningku mengeriyit bingung. Tak pernah sebelumnya berfikir ada cita cita seperti itu.
Kak Andra tersenyum. "Untuk,menegakkan keadilan sekaligus melindungi teman kakak yang paling cantik. Dari godaan cowok cowok ganjen".
"Uh....lo kali yang ganjen" sahut kak Rio mata sipitnya membulat.
Tapi kak Andra tidak mengindahkannya. Sekarang ia menatapku serius.
"Kamu mau kan jadi pacar kakak". Tatapan matanya serius,hingga aku agak bersemu. Karena walaupun masih kecil aku tahu arti kata itu. Dan memang diantara keempatnya yang paling tampan memang kak Andra.
Itu menurutku.
Tapi belum sempat aku menjawab kak Fadhil langsung menabok kepalanya. Sangat keras hingga aku meringis,padahal bukan aku yang kena. Tapi entah mengapa aku merasa bersimpati.
" Awas lo! Kalau sampai adek gue. Lo embat! Siap siap gak ngelihat dunia lagi!". Ancam kak Fadhil yang membuat kak Andra nyengir,hingga lesung pipitnya yang sangat kecil itu muncul. Hingga aku benar benar kagum.
"Dan kamu Rain. Jangan sampai termakan rayuan cowok kayak dia. Kamu masih kecil,dan cantik jangan sampai jatuh ketangan buaya tengil". Kak Fadhil berkata sangat serius hingga ketiga temannya ditambah aku tak berkedip.
"Waduh! Gue kira lo tipe orang yang gak pedulian. Ternyata,adek lo yang cantik ini berhasil mengubah persepsi gue!" ceplos kak Reyhan.
Kak Fadhil melotot ke Kak Reyhan. Aku sendiri hanya bisa menatap mereka satu persatu. Ternyata kak Fadhil memiliki teman yang asik.
"Jangan galak galak calon kakak ipar" ujar kak Andra yang lagi lagi sukses membuat kak Fadhil keki.
Baru kali ini kulihat kak Fadhil benar benar kesal sekaligus gemas.
Dan teman temannya hanya senang tertawa,dan semakin gencar meledeknya.
Dan kulihat kak Fadhil kali ini benar benar menjadi dirinya sendiri. Tertawa,kesal,bahkan marah. Tapi tidak melampaui batas.
Bukan kak Fadhil yang menampilkan wajah kuat,seakan tak terjadi apa apa. Bukan kak Fadhil yang memiliki hati yang membeku. Tapi kak Fadhil yang sama seperti yang kuinginkan.
***
Hanya saja sesuatu yang tak kuketahui terjadi di sebuah tempat yang tak terlalu jauh. Di dalam gubuk kecil kami. Itu semua terjadi begitu saja hingga sebuah hati kembali di lukai. Yah! Kalian benar pembenci itu benar benar tidak menyerah. Hingga orang yang paling kusayangi itu menyerah. Menyerah pada ketiadaan. Menyerah pada kami. Menyerah pada penderitaan,aku tak berfikir ia akan mempertahankannya demi kami. Berjuang dalam kebebasan,demi kami orang orang yang benar benar dicintainya.
Tbc
13
Semua terjadi begitu saja tanpa ada pemikiran yang jelas....
***
Now
Aku benar benar kacau ketika seseorang yang kuanggap dari salah satu temanku melakukannya. Aku tak tahu harus menyalahkan siapa tapi ini sungguh menyakitiku. Mungkin juga ibu. Aku benar benar tak menyangka ia setega itu padaku.
Aku ingin berhenti berpura pura tapi takut untuk menyakiti mereka yang melukaiku. Aku bukan kebal pada penghinaan,tapi itu sudah biasa semenjak aku naik ke SMA. Tapi kau tahu betapa ia benar benar menghancurkan kepingan kepingan harapan yang telah kususun sekian tahun itu? Tidak kan.
Aku,sangat lemah hingga jika kalian menyinggungnya sedikit saja akan membuatku terluka. Kau hanya tak tahu betapa berharganya dia untukku. Kata kata itu,mungkin tak akan kulupakan. Rasa sakitnya mampu membuatku menghindarimu.
Aku bukan robot yang tak punya batasan perasaan. Aku manusia,sangat lemah hingga tak seharusnya kau sepelekan. Aku Rain,hujan. Yang sama seperti hidupku di penuhi tetesan air mata. Tapi kata itu benar benar membuatku hampir lupa semuanya. Aku bahkan merasakan seluruh tubuhku kaku dengan tangan gemetaran. Kau tahu itu sangat sulit untukku. Tapi kau tak akan mengerti.
Karena kau bahkan gak pernah bagaimana rasanya ada di posisiku. Aku masih terlalu muda kala itu. Aku hanya puing kecil yang seharusnya musnah dibawah telapak kakimu kan? Begitu pikiranmu. Tapi aku tak seperti itu,aku mengotori kaki yang kau anggap elok itu,hingga kau menginjakku hingga tak bersisa. Hingga aku bahkan merasa ingin musnah.
Kutahu kau memang punya segalanya,tapi kau tak perlu menyakiti orang lain untuk membuktikannya. Kau boleh saja menyakitiku sepuas yang kau mau. Tapi tidak untuknya,karena dia benar benar berarti bagiku. Dan kau tak akan pernah peduli,gimana sakitnya harus kehilangan. Kau tak akan mengerti.
***
Dan Hari itu entah apa yang terjadi dengan ibuku. Sepulang sekolah,aku menemui tak ada orang di rumah. Setelah bertemu dengan Kak Fadhil tadi perasaanku mendadak lega. Dan ingin segera kuceritakan kepada ibu.
Tapi,kucari ibu di rumah dia tak ada,aku masuk ke dalam memeriksanya namun tak ada tanda tanda keberadaannya.
Bukankah tak biasanya ibuku meninggalkan rumah. Aku merasa aneh,tak tahu mengapa usiaku memang masih muda tapi pikiranku lebih cepat dewasa.
Aku memutuskan duduk di bangku panjang yang terletak di balkon.
Aku duduk sambil menatap langit yang agak mendung di sana. Mungkin akan hujan,senangnya. Sudah lama aku tidak bermain dibawah guyuran hujan karena ibuku tentu akan marah. Dan aku tak akan membiarkan hal itu terulang. Cukup saja semasa aku tk.
Aku menggoyangkan kaki mulai bosan menunggu. Mataku yang bulat melirik kesana kemari. Memerhatikan apa saja yang bisa jadi petunjuk.
Namun nihil,semuanya sia sia. Dan aku berharap ibu atau ayah agar segera kembali,lalu memberiku kepastian.
Tapi aku sabar menunggu,aku melakukan apapun agar tak bosan. Bermain air hujan,di waktu gerimis memang mengasikkan. Merasakan kristal air yang jatuh sedikit demi sedikit hingga memgenai pipi rasanya sangat menyejukkan tapi menyenangkan. Apalagi ketika memyaksikan kristal air itu pecah ketika menyentuh tanah.
Aku merasa bahagia,kurasa hari ini kebahagiaan berpihak padaku,apalagi melihat Kak Fadhil.
Tanganku kurentakan dengan pelan hingga air merembes masuk dan kurasakan kesejukannya,hingga aku memejamkan mata perlahan.
Kulihat diriku yang masih sangat kecil. Berlari keluar disaat hujan. Bermain di samping rumah,hingga seluruh pakaianku basah. Aku melompat lompat hingga membuat air hujan yang sudah membasahi tanah terciprak kemana mana.
Tapi kaki mungilku terus saja melompat,dan mulutku mengeluarkan senandung sambil bernyanyi dibawah hujan.
.
Ikat rambutku kulepaskan,lalu kubuang hingga rambut panjangku terurai. Hari ini aku bebas.
Bebas,karena setelah beberapa bulan menunggu hujan pertama akhirnya turun. Dan hari itu pula aku mengetahui arti namaku. Rain 'hujan'.
Dan itu membuatku berfikir bahwa itulah alasanku menyukai sesuatu yang bernama hujan ini. Apalagi setelah reda,biasanya akan ada pelangi yang muncul,memberikan warna pada air yang mengalami,pembiasan cahaya. Hingga warna itu terlihat melengkung dan indah.
Biasanya saat saat seperti itu aku selalu antusias memdengar cerita dari ibu. Kadang pula aku berebut dengan Kak Fadhil untuk duduk di pangkuan ibu.
Ibu akan memceritakan tentang tujuh gadis bidadari yang katanya datang mandi ke sungai,melalui tujuh warna pelangi itu.
Aku akan mendengarkan cerita ibu sambil memainkan rambutnya yang agak ikal.
Ibu akan menceritakan tentang surga,tentang dunia yang diketahuinya. Ibu mengajarkan kami,memandang sesuatu secara objektif maupun melalui makna dari adanya kehidupan itu sendiri.
Tapi itu dulu,mungkin empat tahun yang lalu disaat aku masih sangat kecil.
Ingatan itu memghilang kala kubuka mataku,aku tersenyum. Sedikit merasa tenang. Tapi perutku memgeluarkan, bunyi yang menjadi tanda untuk segera di isi.
Aku kemudian berhenti main hujan hujanan lalu kembali masuk ke dalam rumah. Memeriksa dapur,mencari makanan tak,peduli badan maupjn bajuku basah kuyup,karena urusan perut yang mendesak ini.
Kubuka tempat ibu biasanya menyimpan makanan,di lemari ataupun kulkas. Tapi tak ada makanan,kulihat di pemanas. Nasi pun tak ada,aku lelah. Artinya memang tak ada makanan. Aku memutuskan berganti pakaian berfikir positif bahwa ibu akan segera kembali.
Tapi ketika selesai dirinya masih tak terlihat.
Perutku benar benar keroncongan.
Sebenarnya kemana ibu? Mengapa hari ini tak ada di rumah ini? Tak ada pula makanan.
Aku ingin menangis karena memdadak pikiran buruk menimpaku bagaimana jika ibu di datangi lagi oleh mereka.
Hingga tanpa sadar air mataku,meleleh. Mulutku berteriak memanggil namanya. Aku menangis histeris seperti jika aku biasa ketika sedang ngambek. Karena biasanya jika itu terjadi ibu akan datang dan menenangkanku lalu berkata semua akan baik baik saja.
Tapi kali ini kenapa dia tak datang. Kenapa dia meninggalkanku,aku benar benar merasa di tinggalkan.
Aku menangis hingga akhirnya suaraku serak di tambah karena kelaparan tapi ibu tetap tak muncul. Ayah biasany juga jam segini sudah pulang tapi mengapa hari ini,ayah terlambat pulang.
.
Huhhhhh!!! Aku,benar benar di tinggalkan sendirian.
Hingga sebuah langkah kaki terdengar dari luar,ketika hujan mulai berhenti. Hatiku kembali membaik,pelan kuhapus air mataku.
Pintu terbuka sangat pelan,senyumku kupaksakan lalu kubuat wajah ceria,bekas air mata segera kuhapus,ingin rasanya aku segera memeluknya tapi aku dalam mode marah. Jadi kuurungkan.
Ditambah aku kelelahan,langkah itu semakin membuat jantungku berdebar,dan memberikan efek tenang.
Aku mendongak pelan begitu kurasakan ia di belakangku sambil menyentuh kepalaku.
Dengan sebuah senyuman aku berbalik......
"Ibu..........".
Mataku melebar......
Semangatku down.....
Dia tersenyum padaku,tapi kecut.
Ada apa?
Tbc
Huhhh kayaknya tinggal 2 chapter lagi. Bdw makasih udah yang mau mampir ke ceritaku ini,aku gak tahu harus ngapain wkwkw😂
Ok! Minggu lalu aku gak sempat up ya! Waktu tahun baru. Soalnya aku di rumah keluarga dan lagi sibuk sibuknya.
8 januari 2020
***
14
Untuk beberapa alasan aku kembali mengutuk. Diriku terlalu lemah hanya untuk protes.
***
Dia tersenyum padaku,tapi kecut.
Ada apa?
Mataku yang tadi membulat perlahan meredup.
Dia bukan ibu melainkan tetangga yang sering memberi ibu cucian. Tante Tia.
Langkahnya sangat pelan,sepelan waktu yang tiba tiba kurasa membeku. Hujan di luar sana masih menetes perlahan,memberika suasana pilu. Ranting bergesekan,lalu terjatuh perlahan seiring kabar mengejutkan yang baru tersampaikan.
Melihat tatapan itu entah berasal dari mana sinyal yang tiba tiba menghantuiku.
Aku takut sungguh....
Bukan karena keterkejutan. Tapi rasa ini seakan menyiratkan luka entah berasal dari mana. Luka yang menganga lalu perlahan mengeluarkan darah yang kian lama kian deras.
Tante Tia mendekat,mengusap pelan bahuku. Lalu tanpa bisa ditahan,air bening itu menguncur perlahan dari pelupuk matanya. Kutahu ia iba melihat keadaan keluarga kami.
Bukan tentang kesengsaraannya. Tapi,ujian yang kian lama kian berat. Yang memberikan rasa tersayat di tiap luka itu di tiup.
Hujan di luar sana kembali menetes,melalui sela sela daun lalu tiba di atap genteng rumah kami hingga akhirnya kembali membasahi tanah yang belum kering. Petir diatas sana bersahut sahutan seakan terjadi perang di dimensi lain kehidupan ini.
Dan perlahan rasa dingin itu merayapi dadaku,menyerap hingga memberikan getaran yang memilukan. Membuat bulu kuduk merinding.
Nafasku tak teratur,antara ingin protes dan meratap.
Rasa sakit itu datang tiba tiba. Dan ratapan pilu akhirnya tak dapat kutahan.
"Mana ibu?"
Tante Tia terdiam,kulihat dengan samar ia sedikit tertegun. Lalu tangannya sedikit gemetar. Kemudian memelukku hangat.
Sesak ini membuatku susah mengirup nafas. Aku benar benar telah memerankan lakon dengan sempurna. Baru saja aku menikmati kebersamaan dengan kak Fadhil. Telah menanti kabar yang membuat puing puing harapan itu kembali sirna.
Aku masih terlalu kecil,tapi aku telah menyadari pentingnya peran ibu dalam hidupku. Walaupun aku kadang nakal,tapi jujur rasa sayangku padanya sangat besar.
Langit kian lama kian gelap. Sayup sayup terdengar gema masjid melagukan ayat ayat Al-Qur an. Dadaku berdesir pelan.
Biasanya,ibu yang sudah bergulat dengan alat dapur akan segera menghentikan pekerjaannya lalu mengambil air wudhu.
Meneriakiku agar segera berhenti bermain,menyuruhku mandi lalu ikut shalat berjamaah dengan di imami Bapak.
Dan sekarang semua itu kosong,hening,dan melelahkan. Jujur aku benar benar kesusahan.
Tante Tia memelukku kian erat kala tangisanku kian keras. Kau tahu belek pun bercampur dengan air mata tapi aku tak peduli.
Rasa ini benar benar menyesakkan.
"Sabar nak!". Tante Tia berusaha menghiburku dengan mengusap pelan bahuku. Tapi bukannya berhenti aku kembali berteriak ingin protes.
Aku tergugu memanggil ibu. Nafasku menderu,lalu melepaskan diri dari dekapan tante Tia.
Aku berlari keluar ingin menantang dunia yang seakan ingin porak poranda karena tiupan angin. Saat sampai di halaman yang lembab,aku berhenti tapi tangisanku tidak. Air mata ini bercampur dengan dinginnya air hujan. Tapi rasa dingin yang membekukan di dalam sana tak sebanding dengan yang kualami sekarang.
Tante Tia sudah berdiri di balkon menyuruhku masuk namun kutolak dengan gelengan kecil.
"IBUUUUUUUI!!!!" teriakku protes melawan air hujan. Aku menengadah,menatap langit yang kian lama meneteskan air kian banyak.
Seluruh suara dan tenagaku ku kerahkan. Berteriak,hingga lututku melemas.
"IBUUUUUUUUU!!!" Lenguhan protesku kian panjang,namun tenggelam oleh gemuruh yang diciptakan langit. Terbawa oleh angin entah kemana.
Semakin aku berteriak,semakin sakit dadaku. Semakin nyeri rasa di dalam sana.
Bahkan aku belum mendengar apa yang dikatakan oleh tante Tya tentang sakit yang dirasakan ibu tapi nyaliku sudah ciut. Sudah protes sana sini.
Saat itu satu yang aku tahu aku ingin bertemu ibu,dan apapun akan kulakukan agar aku bisa bersamanya. Dan kurasa dengan hujan hujanan maka aku akan cepat bertemu dengannya. Dengan aku sakit aku akan menemaninya di sana. Bukan menjadi anak nakal yang selama ini sering kulakukan.
Aku terus berteriak,kala riak pohon kian serius mnggoyang dahannya,mematahkan ranting ranting tua lalu akhirnya jatuh tergeletak ke tanah.
Rumah mungil kami yang berwarna hijau tua ini menjadi saksi akan rasa yang semakin memyesakkan. Menjadi saksi dari kejam dan sayangnya sang waktu pada keluarga kecil kami.
Menjadi saksi dari senang maupun gundah ujian yang kami lalui. Tapi aku tak peduli,aku berteriak kian keras. Tapi suaraku kian lemah. Tenggorokanku tak kering karena air hujan ikut masuk kesana.
Tapi sakit,seakan membengkak,mataku kian berat,begitu pula suhu tubuhku yang kian turun,kurasa sekarang bibirku telah pucat. Aku benar benar menggigil,semuanya benar benar kaku.
Aku masih mau berteriak,tak mau memgalah pada hujan.
Pandanganku kian gelap,suara yang kukeluarkan pun kian parau. Bahkan mungkin tak terdengar,"ibu!!!!"
"Ibu....kumohon ja...n..g...an..pe..r..g.......i". Lalu kurasakan tubuhku ambruk mengenai licinnya tanah. Dimana rambut,kulit,dan bajuku akan berwarna coklat.
" Rain!!!!!" kudengar samar suara tante Tia yang berlari memdekat dengan beberapa tetangga yang masih memiliki rasa peduli.
***
Sementara beberapa meter dari rumah mungil hijau itu,pada sebuah rumah yang cukup besar untuk ukuran orang kampung. Disana ada sebuah keluarga yang berpesta,atas sebuah keberhasilan yang katanya berhasil mereka raih. Seorang anak yang seusia dengan Rain,laki laki sibuk berlarian memgejar kucing kecilnya. Kepala anak itu plontos,karena beberapa hari yang lalu mencukur sendiri rambutnya. Sementara di sofa depan televisi,dua anak remaja yang asik nonton sambil menguyah kue yang baru saja dibeli ibunya. Sekilas keduanya terlihat mirip. Tapi mereka tak kembar,beda dua tahun. Yang kakak agak tinggi dengan kulit kecoklatan,sedangkan saudaranya memiliki tahi lalat kecil diatas bibir kanan. Hanya itu yang membedakannya.
"Ma memangnya ada acara apasih,tumben beli daging banyak banget" Yang tua bertanya pelan pada ibunya yang sibuk memasak,sambil bernyanyi dan tersenyum simpul.
Ibunya mendekat,pada mereka. Sangat pelan,hingga terlihat pula tahi lalat di atas bibirnya yang sebelah kanan. Ya letaknya sama dengan milik anak kedua.
"Husssh!!! Akan ada sesuatu yang membahagiakan sayang! Setelah melalui masa masa susah kita!".
" Yakan pa!"lanjutnya menoleh pada suaminya yang membaca koran sambil mengangkat salah satu kakinya.
Si suami menghentikan aktifitas bacanya. "Benar sekali ma!".
Mereka tersenyum penuh arti yang membuat si Kakak yang berusia 18 tahun memberengut tak mengerti.
Dia berfikir hal ini akan menyenangkan makanya ia tak peduli.
" Ma! Bagaimana kalau kita panggil Rain!"si kecil berteriak kegirangan.
"Sama kak Fadhil!" si tengah yang berusia 16 tahun ikut menambahkan.
Mendengar itu mamanya sempat tertegun sesaat. Namun kemudian segera menghilang digantikan senyum anggunnya.
"Tentu saja nak!" ujar papanya.
"Kita disini akan selalu mengingat tante Dian kalian!".
"Walaupun mereka kadang menyebalkan karena tidak mau diatur tapi tak apa. Setidaknya suatu saat nanti mereka akan baik. Lalu melihat hasilnya".
Si Tua merasa ada yang aneh,ada firasat di dalam hatinya bahwa sebuah peristiwa besar akan terjadi tapi entah apa. Sejak tadi dia merasa gelisah. Tante Dian,mama Rain. Adalah orang yang paling ia sayang setelah mamanya.
Bagaimana pun ia akan selalu mengingat senyumnya kala dahulu tantenya itu datang. Dengan beragam hadiah. Tapi itu dulu waktu ia masih sangat kecil sebelum akhirnya Fadhil lahir.
Setelah itu,tante Dian jarang kerumahnya. Walaupun kadang ia akn menjengknya tapi sekali kali.
Aneh!!!
Dia merasa Gelisah!!!
Entah mengapa kenangan masa kecilnya tiba tiba menyeruak di memori yang telah lama ia bungkus.
Beberapa menit kemuadian,hpnya yang ia simpan diatas meja bergerak.
Dari nomor tak dikenal,suasana di ruang keluarga itu mendadak hening.
Aktifitas yang tadi berhenti,semuanya duduk menanti si Kakak mengangkat panggilan itu.
Si Kakak dengan cepat menggeser tombol hijau.
"Halo"
" Ya! Dia ibu saya!"
Mamanya diam,wajahnya sedikit memucat mendengar namanya di sebut. Suaminya disebelahnya memggenggam tangannya memberikan semangat.
"Ada apa ya?"
"....."
"Apa?"
Hp yang berada di genggamanya terjatuh. Mengeluarkan bunyi terbentur di ruang keluarga yang hening.
Detik detik berikutnya sebuah bulir kecil berhasil lolos.
Apakah yang baru saja didengarnya benar.
Dan perlahan dia menunduk,tangannya bergetar hebat. Yang membuat suasana di rumah itu berubah.
Ada apa sebenarnya?
***
Tbc
Menurutmu apa yang terjadi di rumah itu.
Rain...kenapa?
Dan apa yang akan terjadi dengannya?
Ibunya juga.
Dan part ini kak Fadhil nggak muncul. Bagaimana nasibnya kedepan?
Dan menurutmu. Cerita ini sad atau happy ending.
Haiiii!!!
Lama banget aku baru update part baru....
Dan yeaaayyyy!!!
Part depan udah ending....
Sad or happy?
Pokoknya apapun endingnya nanti bakal ada kelanjutannya di cerita selanjutnya.
Dan bagi yang masih bersedia baca cerita ini aku bilang makasih banget.
Padahal rencana awalnya aku mau selesaiin bulan dua belas. Tapi lewat dua bulan karena kesibukan yang terjadi di hariukuh!!!
Tapi aku senang akhirnya punya waktu buat lanjut lagi yang ini.
Entah di lapak sebelah kapan kelar nya heehe. Padahal hampir setahun. Tapi gak ada perkembangan.
Tapi gak papalah. Aku akan berusaha nulis selama aku punya waktu.
Jadi ya gimana walaupun gak punya pembaca. Aku akan terus nulis,karena aku suka.
Hussshh rasanya curhatanku udah panjang.
Sampai ketemu di part selanjutnya
15
"
***
Dia perlahan medekat tangannya bergetar hebat,suasana di rumah itu mendadak berubah.
Ada apa sebenarnya?
***
"mama..............!"ujar,Ashar nama si Kakak pada mamanya yang duduk disandaran kursi dekat suaminya.
Mamanya mendekat,"kau kenapa Ashar?"
Begitu pula dengan Ajun(si tengah),dan Adi sibungsu.
Benar benar syok,Ashar hanya bisa menangis dengan tangisan yang mengiris hati. Tergugu benar benar merasa sakit. Pelan ia membuka mulut,
"tante Dian Ma!" suaranya terputus putus teredam air mata.
"Dia kenapa sayang"mamanya mengusap pelan bahu dari putranya itu,memang Ashar yang paling dekat dengan Dian,dibanding kedua adiknya.
"kakak kenapa?huaaaaaaaaaaa" Adi pun ikut menangis,karena melihat kakaknya yang biasanya kuat terlihat bersedih.
"kakak gak kenapa napa kok Di,tadi di gigit semut!"Ajun berusaha menenangkan adiknya dengan berguarau bahwa Ashar di gigit semut.
"tapi kalau digigit semut kenapa kayak gitu nangisnya,Adi biasanya digigit semut gak nangis"bibir kecilnya itu berusah protes.
"itu beda Adi!"
"bedanya dimana? Semua semut terlihat sama" Adi masih kukuh dengan pendiriannya,tak mau kalah.
"hmmm.....tante Dian....." Ashar berbicara putus putus dengan berusaha menormalkan nafasnya yang putus putus. Kali ini dia menggeleng,dan dengan cepat semua orang di ruanngan itu mengerti kecuali Adi.
"dan Rain,sakit dia pingsan karena hujan hujanan tadi teriak protes!" kemball Ashar berujar lemah.
Wajah ibunya sumringah,"HusssH....kamu nggak usah nangis kayak gitu. Ikhlasin,semua udah ada jalannya masing masing sayang". Mamanya berusaha menenangkan.
Sedangkan papanya,masih meminum kopinya dengan santai seakan tak terjadi hal serius.
Ajun pun terlihat syok mendengar kalimat barusan. "Kakak bercanda pasti?"cetusnya tak percaya. Mereka yang tadi sibuk menonton tv sekarang tak peduli pada benda kotak itu yang terus menyala menampilkan acara malam.
"itu tadi dari tante Tia Ajun,gak mungkin dia bohong!" Ashar,benar benar kacau.
"oke gak ada yang perlu kalian sesalkan! Ini udah takdir nak!" Ayahnya akhirnya angkat bicara,dia terlihat tak terlalu peduli dengan kondisi ini.
Rasanya Ashar sangat shock,dia gak tahu bagaimana mengungkapkannya.
***
Aku terbangun di sebuah kamar yang asing. Catnya warna putih,tapi suasana hening saat ini. Hanya aku sendiri.
Aku berusaha mengingat apa yang terjadi tapi naas. Kepalaku hanya semakin terasa menyakitkan.
Seseorang membuka pintu lalu masuk. Itu Bapak,matanya sembab seperti habis memangis. Apa yang terjadi,mengapa semuanya menghilang begitu saja.
Bapak memelukku pelan,sangat lembut hingga dapat kurasakan sedikit bagaimana perasaannya.
Kutahu ada sesuatu yang mengganjal baginya tapi tak mau memberitahuku.
"Apa yang terjadi?" tanyaku pelan saat ia melepaskan pelukannya.
Bapak menangkup pipiku,sangat lembut hingga aku semakin merasakan keanehan ini.
Ayahku yang kuat dan tak pernah terlihat menangis mengapa tiba tiba seperti ini. Oh apa yang terjadi selama aku berbaring di tempat ini.
Seseorang dengan jas putih menghampiri. Memeriksaku dengan stetoskop miliknya. Serta bagian bagian penting lainnya. Dan baru kusadari sekarang aku berada di rumah sakit.
"Bagaimana keadaannya dok?Apakah dia sudah bisa pulang". Ayahku memberi pertanyaan bertubi tubi pada dokter.
"Sebenarnya dia masih perlu beristirahat tapi jika anda mau membawanya pulang. Maka dia sudah bisa. Asalkan tidak melakukan hal hal yang membuatnya lelah seperti kemarin". Jelas dokter itu.
Bapak kulihat menghembuskan nafas legah,manik matanya yang tegas menatapku prihatin.
"Makasih dok!setidaknya dia bisa melihatnya untuk yang terakhir kalinya". Aku tak memgerti apa yang dikatakan oleh Ayahku. Hanya saja aku agak senang akhirnya sudah bisa pulang. Walaupun saat itu aku sangat ingin ke tempat ini.
" Semoga pak!"dokter kemudian menyalami Bapak lalu kembali keluar ruangan. Mungkin untuk memeriksa pasien yang lain.
Bapak kembali menghampiriku,lalu mengemas barang barang ketika suster masuk lalu melepas infus yang melekat di tanganku.
Memang peralatan itu tadi membuatku terganggu.
Setelah selesai,Bapak menghampiriku membantuku bangun lalu dengan lembut menurunkanku dari Brankar.
Tak ada kata yang keluar dari bibirnya hingga aku merasa sangat penasaran.
Apakah yang terjadi selama aku tidur? Mengapa Bapak seakan tak mau bicara,hanya menuntunku pelan?batinku.
Bapak naik ke motor bututnya lalu kuikuti. Kupeluk pinggangnya erat ketika motor mulai melaju pelan.
Semilir angin kurasakan membelai wajahku. Langit agak memdung hingga tak tampak matahari di atas sana.
Aku menghembuskan nafas pelan.
Bapak memelankan laju motornya saat melihat di pinggir jalan ada beberapa siswa berseragam SMA di sana. Matanya menyelidik,saat menemukan objek yang dicarinya bapak menghentikan motor bututnya di dekat tongkrongan itu.
Aku juga ikut turun,memegang erat tangan bapak seakan takut akan terjadi sesuatu.
Beberapa anak SMA menoleh bingung saat melihatku dan bapak. Hingga orang yang sejak tadi diawasi oleh bapak yang membelakangi kami menoleh terkejut.
Tak ada yang bicara hingga beberapa saat. Hening,dia adalah kak Fadhil.
Aku kembali menatap wajah bapak yang selalu sulit kutebak bagaimana perasaan yang ia pikirkan di dalam sana.
Kak Fadhil demi melihat bapak tiba tiba rahangnya mengeras,dan kulihat pula tangannya sempurna mengepal.
Oh!!! Mereka belum memgakhiri perang dingin yang terjadi beberapa bulan yang lalu.
Kulihat teman teman kak Fadhil yang sepertinya tak asing. Dan benar saja disana Kak Andra,Kak Leo,serta Kak Gio berhenti melakukan kesibukannya tadi demi melihat kami.
Mereka ikut tegang walau tak tahu apa masalahnya.Kutahu mereka mencoba menebak nebak siapa orang di hadapan mereka dan apa hubungannya dengan Kak Fadhil.
Aku gusar, kueratkan peganganku pada Bapak karena tak kunjung bicara.
Bapak menghela pelan,hingga tak ada yang sadar kecuali aku bahwa raut wajahnya berubah. Dia menatap sendu Kak Fadhil.
"Pulang!" sebuah kata yang keluar dari mulutnya membuat kak Fadhil merengganggankan tangannya.
Kulihat raut wajahnya yang tadi mengeras kini berubah digantikan penasaran.
"Kenapa?" tanya balik Kak Fadhil yang tak kalah singkatnya.
"Pulang" nada suara Bapak kini lebih tegas yang membuat teman teman Kak Fadhil kicep.
Kak Andra mendekat merangkul bahu Kak Fadhil. Jelas ia tak tahu masalahnya,tapi dia bisa menyimpulkan ada hal penting yang membuat laki laki paruhbaya di hadapannya menjemput Kak Fadhil.
Kak Andra kurasa tak ingin terlalu terlibat dengan urusan temannya. Tapi melihat keseriusan Bapak dia agak penasaran.
Kak Fadhil melunak,"Lo gak tahu masalahnya Ndra! jangan ikut campur"desisnya.
"Gue emang gak tahu masalah apa yang lo hadapi. Tapi gue mohon,mereka datang buat lo. Dan gue rasa lo bakal menyesal jika gak menuruti keinginan mereka", Andra berusaha menjelaskan.
"Sejak kapan lo berbakat jadi cenayang?" ketus Kak Fadhil,yang membuat Kak Andra menghembuskan nafas lelah. Serta Kak Leo,dan Kak Gio ikut mendekat karena mencium aroma ketegangan yang mulai menguar.
Bahu Bapak turun,mungkin lelah. Tapi ia tak mengucapkan kata maaf.
"Sudahlah nak!sebaiknya saya pulang maaf mengganggu kalian!" Ujar Bapak lemah lalu menarikku pergi.
Ku tahu Kak Andra berniat mencegah. Tapi tak kuasa,dan kutahu ada rasa tak puas di dalam mata kak Fadhil.
Tapi aku terus mengikuti langkah Bapak kembali ke motor Butut kami.
"Dia Bapak lo?" tanya Kak Fadhil dengan suara meninggi,dan masih bisa kudengar karena Bapak masih berusaha menyalakan motornya.
Kediaman Kak Fadhil membuat Kak Andra menyimpulkan semuanya.
"Pulang Fad!atau lo akan menyesal! Cukup gue aja yang ngerasain itu". Suara kak Andra mulai bergetar,seakan ia pernah menyesali sesuatu.
"Gue masih mau mendengar kata katanyatapi udah gak bisa!" Kak Andra benar benar lemah,yang membuat Kak Fadhil tertegun.
Aku naik ke motor. Lalu masih sempat melihat ke arah mereka.
Menit ke berikutnya kulihat Kak Fadhil menaiki motor seseorang lalu menyusul. Bahkan melampaui motor bapak yang lambat.
Ya hari itu Kak Fadhil pulang....
***
16
"Sebuah kejutan,datang pada hari yang tidak tepat hingga meninggalkan sebuah luka".
***
Ya hari itu Kak Fadhil pulang....
***
Deru motor butut ayah seakan berlomba dengan kendaraan lain di jalan raya yang ramai ini.
Langit terlihat mendung entah sejak kapan bermula seakan ada sebuah rahasia yang tersembunyi.
Aku sangat merindukan ibu...
Dan jujur hari ini aku sedikit bahagia karena ada kak Fadhil diantara kami. Walaupun kuyakin para tetangga tak akan membiarkannya tenang dengan gosip itu lagi.
Kami melalui jembatan tua itu lagi sebelum akhirnya memasuki perbatasan ke desa kami. Jembatan,yang menghubungkan sungai dengan banyak eceng gondok hidup di sana.
Tes
Setetes air kurasakan membasahi wajahku. Tepat di pipi,tapi aku tak peduli. Aku hanya ingin menatap ibu lalu masuk ke pelukannya.
Ayah memarkirkan motor bututnya di halaman ketika aku lebih dahulu turun tepat di depan rumah.
Tapi aku tercegang,begitu menyadari ada sesuatu yang berbeda di rumah kami.
Aku berdiri,ada banyak orang orang di rumah ini. Sibuk dengan kegiatan masing-masing. Beberapa pula wajahnya terlihat bersedih. Aku berharap ini hanya mimpi di tidur panjangku.
Aku melangkahkan kaki perlahan,rambut panjangku bergerak di terbangkan angin. Hingga aku pun merasa kedinginan.
Kalau tadi mendung,maka sekarang hujan kembali gerimis. Membasahi baju yang kupakai. Ayah dan Kak Fadhil aku tak melihat mereka lagi.
Dan anehnya,semua orang berpakaian serba hitam.
Aku mendongak,pohon-pohon menggugurkan daunnya yang kering seiring hujan gerimis yang mulai menderas. Dan angin yang terus terusan mengikuti.
Kulihat sebuah tiang,dan diatasnya menggantung sebuah bendera warna putih. Aku semakin bingung akan hal aneh ini.
Apa yang terjadi?Aku bertanya tapi hanya dalam hati.
Aku berdiri di sini menatap bingung orang yang berlalu lalang di hadapan rumahku. Semakin bingung ketika melihat wajah-wajah mereka yang menatapku prihatin.
Aku menelan ludah,Ada apa sebenarnya?
Aku berjalan pelan ketika menyadari bahwa tak mungkin aku mendapatkan jawaban jika terus di sini.
Saat kumulai melangkahkan kaki,saat itu pulalah angin mulai berhembus menerbangkan rambut lalu membelai wajahku. Aku lelah,tak mampu memikirkan apapun.
Dan semakin aku mendekat ke beranda rumah,semakin banyak pula orang-orang.
Bisik bisik samar ku dengar tapi tak kuhiraukan. Keadaan di dalam sana lebih penting untukku. Sungguh,aku penasaran akan apa yang terjadi di dalam sana.
Saat aku berjalan beberapa langkah,seorang wanita paruhbaya menghampiriku dengan wajah penuh bekas tangis.
Menggandeng tanganku tanpa banyak bicara. Ayah dan Kak Fadhil entah dimana sekarang. Rasa penasaranku lebih besar.
Samar ku dengar lirih suaranya"sabar ya nak!".
Aku menghela nafas,bahkan akupun tak mengerti. Tak bisakah kau langsung memberitahuku apa yang terjadi. Jangan membuatku menebak-nebak hingga jantung ini bersebar menanti.
Saat tiba di beranda,samar-samar kudengar suara kak Fadhil meraung,terisak,penuh kepiluan.
Aku melangkahkan kaki melewati pintu. Dan aku langsung melihat pemandangan di dalam sana,tepatnya ruang tengah rumah kami.
Langsung saja pegangan orang itu kulepas,lalu aku berlari ke sana tepatnya dimana ayah dan kakakku berada.
Aku tahu diatara mereka masih ada luka. Tapi entah mengapa duka di wajah keduanya lebih memdominasi di banding luka itu sendiri.
Kak Fadhil yang terlihat sangat terpukul,sementara ayah menatap lurus ke arah tubuh yang terbaring di hadapannya.
Aku sekarang sudah berdiri tepat di samping ayah. Hingga laki-laki paruhbaya itu mendongak menatap ke arahku.
Dengan jelas kulihat bekas air mata di sana,menatapku sendu. Kak Fadhil saking kacaunya,sekarang sudah di tarik menjauh oleh tetangga mungkin untuk di hibur atau justru hanya menenangkannya.
Aku mulai menerka-nerka apa yang terjadi,saat kulihat semua keanehan ini semakin menjadi.
Aku berlutut ketika mataku terpaku pada tubuh yang terbaring kaku tepat di hadapanku. Aku sekarang entah mengapa berdebar,tapi penuh ketakutan. Sarat akan luka.
Tanganku terangkat,jelas terlihat bergetar. Apalagi ketika akan ku raih kain itu. Ayah memilih mengalihkan pandangannya asal bukan ke arahku.
Kubuka secara perlahan kain yang menutupi wajahnya. Jantungku,seakan berhenti berdetak begitu kulihat wajah pucat yang terbaring di hadapanku. Orang-orang riuh,iba.
Orang-orang yang melihatku mungkin menahan nafas,bersamaan dengan terlihatnya wajah pucat itu.
Aku membeku,bingung,dan tak tahu harus bereaksi bagaimana melihat orang yang terbaring itu ternyata.......
"Ibu......." suaraku lirih,ketika kutangkup wajah pucat itu. Seakan darah telah berhenti mengalir di sekujur tubuhnya.
Saat tanganku menyentuh wajah lembut itu hanya dingin yang terasa. Aku merasa hampa,lupa cara bernafas. Pelan aku mengecup wajah pasi itu mengingatkan akan kenangan yang berlalu.
"Ibu......" dan bulir bening itu tak bisa kutahan. Akan perubahan suasana yang tiba-tiba.
Aku terisak memanggil namanya,lama kelamaan meraung berteriak. Tapi tak ada balasan.
Orang-orang yang melihatku,entah mengapa juga ikut menangis kala kupeluk tubuh itu.
Pelukanku sangat erat takut kehilangan. Walau kenyataanya itu yang terjadi.
"Ibu....." aku terisak,benar-benar tak bisa menahannya mengetahui tak ada balasan seperti biasanya.
Ibuku ada tepat di hadapanku. Tapi rasanya aku hampa,ingin mengikutinya. Tapi tak ada sahutan.
"Ibu aku mohon...bangun untukku",beberapa tetangga datang mendekat tapi kucegah.
"Tidak!!!!jangan pisahkan aku dengannya" aku terisak pilu. Menyayat hati yang mendengarnya.
Seseorang menghampiriku,menepuk pelan pundakku menenangkan.
"Sabar nak...Tuhan lebih sayang pada ibumu" Orang itu,adalah orang yang sama dengan yang tadi menjemputku di luar.
Aku histeris,pilu menyuruh ibuku bangun namun tak ada yang bergerak.
Aku sangat terluka mengingat setiap kejadian yang kulalui dengannya.
Keluarga,sahabat,bahkan tetangga hanya menatap prihatin.
Aku masih sangat kecil,tapi kenapa ia secepat ini direnggut dariku. Bahkan belum tahu arti kehilangan.
Apakah salah jika aku mengutuk sang waktu?
Yang merenggut ibu dariku disaat aku masih sekecil ini,disaat aku masih belum tahu arti kehilangan di saat semuanya belum terlihat jelas?
Dear time
Mengapa harus aku?
Diantara banyaknya makhluk di luar sana mengapa aku yang terpilih?
Aku memutuskan berbaring,meringkuk tepat di sebelahnya menangis pilu untuk kesekian kalinya.
Orang yang tadi di dekatku ikut memelukku memberikan semangat. Aku tak bisa,baru kali ini aku kehilangan dan rasanya sungguh sakit.
Kembali kudengar isakan pelan dari mereka. Ayahku,samar kulihat memejamkan mata tak sanggup melihatku.
Aku masih memeluknya,untuk yang terakhir kalinya. Sebelum ia kembali ditutup,aku tak bisa tenang.
Tapi wanita paruhbaya dibelakangku ini terus mengusap lembut kepalaku. Hingga rasa ngantuk itu mendera,juga lelah karena tangisan.
Aku memejamkan mata tepat tubuh ibu diangkat entah kemana.
Dan hari itu aku kehilangannya....
End
***
Epilog
"Mengikhlaskan adalah cara terbaik melepaskan kepergian walau itu terasa sakit".
***
Kutatap makam ibuku dengan sangat dalam,berharap apa yang terjadi saat itu hanya mimpi.
Keinginanku untuk memeluknya sekarang lebih besar dibanding takut berada di tempat ini.
Kupegang nisan yang berukirkan namanya,serat-seratnya terasa oleh tanganku lalu kupejamkan mataku.
Ini sudah sepuluh tahun yang lalu tapi rasanya seperti baru kemarin. Dan sampai sekarang melepasnya masih begitu sulit. Tapi walaupun begitu ku kuatkan hati untuk mengikhlaskannya.
Kerudung hitam yang menyampir dikepalaku di terbangkan angin seakan membelai wajahku. Sungguh aku merindukannya.
Kenangan singkat bersamanya tergores singkat,diatas kertas yang tak akan pudar.
Kak Rina mengusap pelan pundakku menenangkan. Ayah sudah duduk di hadapanku hendak memimpin doa. Sementara kak Fadhil sudah duduk di dekat Kak Rina sambil memegang tangan kedua anak menggemaskan itu. Rara dan Radit.
Mata kak Fadhil sembab,sangat terlihat dia baru saja menangis. Kak Fadhil memang banyak berubah sejak kepergian ibu.
Ayah mulai memimpin doa hingga aku dan kakakku memejamkan mata. Serta berdoa di dalam hati masing-masing. Meminta kepada Sang Pencipta agar ibu selalu berada di sisi-Nya. Dan agar kelak kita kembali bertemu.
Aku rasanya ingin kembali menangis,tapi sungguh itu akan terlihat aneh. Hingga aku hanya bisa berdoa dalam hati.
"Ibu Rain tahu jika melepasmu adalah hal yang paling menyakitkan. Tapi Rain akan mencobanya,semoga ibu bahagia di sana" batinku.
Aku menatap mereka satu persatu lalu sedikit tersenyum. Memang melepaskan adalah hal tersulit,tapi itulah kehidupan. Ada saatnya orang-orang datang lalu kembali pergi.
Aku seharusnya bersyukur masih memiliki mereka yang mendukungku dalam banyak hal. Dan hingga saat ini mereka masih berada di sisiku.
Aku seharusnya bukan menyesali kepergian bukan?
Aku berusaha tersenyum saat mataku tak sengaja bertemu dengan ayah. Mata tua itu masih seperti dulu, dingin. Tapi kutahu rasa sayangnya pada kami sangat besar.
Kak Rina berdiri memegang tangan kedua anak-anaknya agar ikut berdiri. Aku mendongak ke atas matahari hampir terbenam. Dan sudah saatnya kita pergi.
Di susul oleh Kak Fadhil yang membantu ayah. Aku kembali menatap nisan itu.
"Ibu maafkan Rain selama ini" lirihku yang kuyakin tak bisa di dengar oleh keluargaku yang berdiri dibawah pohon nangka menungguku.
"Ibu akan selalu ada di hati Rain" ucapku kemudian beranjak berdiri.
Angin kembali membelai wajahku,kembali membuatku merasa tenang. Kuhapus sudut mataku yang berair lalu tersenyum ke arah keluargaku. Mereka berjalan beriringan saat aku sampai.
Kak Fadhil menatap makam ibu untuk yang terakhir kalinya lalu melangkah.
Aku juga ikut melakukan hal yang sama.
"Ibu,semoga ibu tenang di sana. Rain akan kembali". Ucapku dalam hati sebelum akhirnya ikut melangkah.
Suasana sore hari itu sangat menenangkan. Dan aku belajar ikhlas,ibuku sangat mencintaiku tak seharusnya aku egois kan. Menyesali,lalu mengutuk waktu yang memisahkanku dengannya?
Aku harus sadar bahwa ini adalah takdir yang tak dapat dielakkan dari Sang Pencipta.
Aku tersenyum.
Dan dibelakang sana sebuah cahaya tepat menyoroti makam ibu. Sebuah bunga kamboja terjatuh di atasnya,lalu burung-burung terbang meninggalkan dahan.
***
Aku bersyukur karena ibuku adalah dia,wanita kuat yang tak pernah mengeluh akan hidup. Aku seharusnya belajar darinya, bukan terlarut dalam kesedihan yang membuatnya ikut sedih.
Ibuku adalah wanita hebat yang melahirkanku di tengah kesulitan. Tapi beliau bertahan,walaupun akhirnya takdir merenggutnya dengan begitu cepat.
Cerita yang kualami karena kehilangannya bahkan mungkin tak ada apa-apanya dibanding yang selama ini dialaminya. Hatinya sangat tangguh di tengah kelembutannya. Orang-orang menyanginya,tapi tak sedikit pula yang tak suka.
Aku seharusnya belajar darimu, bukan menyalahkan takdir. Tapi bukankah itu semua proses dari metamorfosa perjalanan menuju dewasa.
Dan maaf karena selama ini aku hampir menyia-nyiakan waktu bersamamu. Tapi kenangan itu kuharap tak hilang.
Aku tahu kelak juga akan ke sana. Ke tempat awal kita berasal,rasa-rasanya sebuah pelajaran darimu membuatku yang kecil ini masih begitu bodoh.
Dan aku ingat kau pernah mengatakan bahwa kau tak pergi. Karena kita di satukan oleh hati. Kata itulah yang kupercayai hingga sekarang. Juga kau punya permintaan terakhir sebelum pergi,tapi aku bahkan tak menjalankannya.
Bukankah aku anak yang buruk?
Masih kuingat dengan jelas bagaimana pucat wajahmu. Memegang tanganku dengan lemah,dan bibirmu yang menghitam. Lidahmu yang rusak,tapi masih bisa bicara padaku,pesan terakhirmu untukku. Bukankah harusnya kupenuhi permintaan terakhir itu? Tapi sungguh,aku terlalu berleha-leha oleh waktu hingga hampir lupa apa yang kau minta.
Orang-orang berkerumun di sekitar kita saat itu. Kau ingin menyentuhku,tapi aku takut dan jijik. Bukankah aku anak yang buruk? Tangan dingin itu masih terasa hingga sekarang,tapi saat itu ku tepis.
Bukankah saat itu aku melukai hatimu,dengan orang-orang yang menyangimu berada di sana sambil menangis kecuali saudaramu yang tak pernah terlihat.
Aku menyesal seandainya kutahu bahwa kehilanganmu akan sesakit ini. Maka akan kupeluk kau saat itu,tak melepasmu. Andainya kutahu bahwa kau pergi untuk selamanya,dan tak kembali aku pasti akan memanfaatkan dengan baik waktu singkat itu. Bukan menyia-nyiakannya.
Andainya kutahu bahwa setelah itu hidup kami berubah,maka aku tak akan pernah melepasmu barang sedetikpun. Dan andainya ada pilihan,harusnya aku saja yang pergi bukan kau.
Aku anak durhaka yang merasa senang saat kau pergi,karena saat itu aku berfikir bahwa telah terbebas darimu. Masih bisa kuingat dengan jelas kain putih penutup tubuhmu saat subuh hari dimana kau meninggal.
Aku dipaksa oleh ayah baru mau memelukmu. Aku mencium wajahmu dan masih kurasa hingga sekarang,wangi tubuhmu untuk terakhir kalinya. Tapi aku tak menangis,hanya keheranan melihat mereka semua menangis.
Bukankah aku terlalu egois,baru menuntut setelah sadar setelah hari itu kau benar-benar tak pernah kembali.
Aku tak akan pernah melupakan hari itu,hari yang bahkan tak pernah terduga akan terjadi. Hari dimana nenek yang lumpuh keluar dari kamarnya dengan kacau lalu menangis tergugu karena kehilanganmu. Hari yang mungkin ada air mata buaya yang juga ikut keluar diantara banyaknya orang.
Aku juga baru menyadari hari itu bagaimana besarnya kasih sayang seorang ibu padamu. Aku melangkah diatasmu,karena orang-orang menyuruh. Katanya agar kami bisa tenang tanpamu. Tapi bukankah jika keluarga kita lengkap baru seharusnya kami tenang.
Ibu,ibuku wanita terhebat yang pernah ada. Bukan pahlawan wanita nasional yang kuingat karena sudah ada kau ibu. Karena bagiku kau adalah pahlawan.
Walaupun sebagian hanya kudengar dari orang-orang tapi kuyakin itulah kau. Ibuku,yang akan selalu mengisi relung hati.
Yang meminta janji padaku tapi aku malah mengingkarinya. Di SMA aku tak seperti dirimu dahulu,aku terlalu santai dan jarang belajar. Aku hanya tidur,seakan aku yang paling bersedih. Dan aku lupa bahwa setiap orang punya cerita masing-masing. Dan mereka adalah tokoh utama dalam cerita mereka.
Berbeda denganku.
Aku selalu mengagumimu,orang yang menyebut dirinya sendiri Si Anak Sial.
"Terima kasih ibu"
Kau akan selalu berpengaruh dalam hidupku. Aku mencintaimu ibu. Dari pengagum gelapmu.
Putri orang yang menganggap dirinya Si Anak Sial.
_THE END_