"Putus?" pekik Nadia saat Remi mengatakan kalau Jadid putus dengan pacarnya yang mirip Pevita Pearce itu.
"Ya ampun Nad, biasa aja, kalee!" sentak Remi sambil mengipas telinganya, seolah dia baru saja mendengar bom meledak.
"Yaa, secara ... mereka keliatan kompak banget, kan? Kok, bisa putus?" ungkap Nadia penasaran.
"Katanya, Sintya belum mau diajak menikah, sementara si Jadid ingin segera menikah," jelas Remi yang lantas menarik lengan Nadia agar mendekat untuk dia bisikin, "Si Jadid, ga mau pacaran lama-lama, takut dosa, katanya. Bulshit banget, kan?"
"Hust! Ga boleh gitu. Ya, siapa tahu dia memang takut dosa," balas Nadia memukul lengan Remi pelan. "Jadi ... yang mutusin Jadid?"
"Yups."
"Keren, ih!"
"Keren apanya?"
"Yaa, keren lah, pokoknya." Nadia tersenyum sendiri sambil menatap langit-langit ruang obat di bagian Farmasi ini.
Jadid, asisten Kepala Farmasi Rumah Sakit Ibu dan Anak Kasih Bunda yang terkenal ganteng, ramah, dan cekatan memang beberapa kali mengajak pacarnya datang di acara-acara gathering yang diadakan bagian Farmasi maupun Rumah Sakit.
Sintya adalah teman SMA Jadid yang bekerja sebagai akunting di sebuah Bank swasta. Wajar bila penampilannya sangat spektakuler. Dibanding dengan Jadid yang seringkali hanya memakai outfit yang sederhana, Sintya nampak berkilau.
Meski begitu, Jadid tidak pernah merasa malu atau malu-maluin ketika jalan dengan Sintya. Dia selalu bisa mengimbangi penampilan gadis itu.
"Lagi gosipin apa, sih?" Tiba-tiba Zhafirah, salah satu petugas farmasi yang bertugas di bagian farmasi lantai satu masuk ke ruangan membawa beberapa resep yang harus segera disiapkan, membuat Nadia dan Remi menoleh sejenak.
"Tuh, Mas Jadid, putus sama Sintya," jawab Remi pelan.
"Oh." Zhafirah hanya ber-oh saja. Gadis cantik berkerudung itu lantas menyerahkan resep-resep untuk pasien rawat inap yang ada di tangannya. Dua manusia di depannya pun tak lagi membicarakan Jadid karena mereka pun mulai sibuk dengan obat-obat yang harus disiapkan.
*****
"Mas, Mas," panggil Nadia setengah berteriak.
Jadid yang berniat meninggalkan ruangan kepala setelah menutup pintu ruangan itu urung melangkah dan menunggu Nadia yang berlari kecil ke arahnya.
"Pelan-pelan, ada apa, sih?" ucap Jadid setelah Nadia berdiri di depannya.
"Beneran? Mas Jadid putus ama Sintya?" tanya Nadia cepat.
"Ya ampun, kirain mo nanya apaan?" Jadid memutar badan dan melangkah pelan diikuti Nadia yang berjalan di sisinya.
"Yaa, gosipnya cepet banget nyebar. Kan, aku jadi penasaran. Beneran, ya?" desak Nadia tak sabar.
"Penting, ya?" tanya balik Jadid.
"Penting dong. Untuk kelangsungan harapan para jomblowati," ucap Nadia berapi-api. Jadid hanya tertawa menanggapinya.
"Mas, Mas. Kriteriamu itu yang kayak gimana, sih? Siapa tahu, ehem!" Nadia mengedip-ngedipkan sebelah matanya.
"Ck. Kamu itu, bisa aja. Kayak yang available tinggal aku doang. Masih banyak itu yang jomblo juga. Ada Remi, Handoko, Santo, Hasan."
"Tapi yang high quality jomblo cuma Mas Jadid seorang," kata Nadia dengan wajah mendamba dan suara yang dibuatnya mendesah. Jadid melebarkan tawa melihat ekspresi Nadia yang dia rasa sangat berlebihan.
"Udah ah, becandanya. Oh, ya. InsyaAllah, bulan depan aku mau berangkat umrah. Kalau ada titipan doa, bolehlaj dicatat. Nanti aku baca di tanah suci. Semoga Allah kabulkan hajat kalian semua."
"Waah. Mantap Mas. Aku mau titip doa untuk bisa merebut hatimu, Mas." Nadia berbinar menyambut berita yang dibawa Jadid siang itu.
"Sebelum itu. Kamu beresin dulu tugasmu, nanti aku jelaskan dan bagi-bagi lagi tugas kalian sebelum aku cuti."
"Siap. Aku balik kanan, ya, Mas." Nadia mengangkat tangan kanannya ke pelipis memberi hormat. Jadid tersenyum singkat sebelum meninggalkan Nadia yang berbalik arah.
*****
"Sudah siap semua, Did?" tanya Pak Didik, ayah Jadid yang juga ikut berangkat umroh bersamanya dan juga ibunya.
"Sudah, Yah."
"Bagus. Peralatan mandi taruh di koper besar aja. Di tas kecil bawa yang penting-penting saja."
"Iya, Yah. Ayah sudah selesai packing?"
"Sudah. Ibu juga sudah. InsyaAllah besok semua dilancarkan."
"Aamiin."
Jadid melangkah meninggalkan koper besarnya di ruang tamu, berjejer dengan koper ayah dan ibunya.
Tiba-tiba matanya menangkap beberapa amplop yang tergeletak di atas meja ruang tengah.
"Astaghfirullah," gumamnya pelan, meski begitu, Pak Didik masih dapat mendengar istighfar putra pertamanya itu.
"Kenapa, Did?" tanya beliau.
"Hampir lupa, Yah. Amplop titipan doa dari rekan-rekan kerjaku."
"Wah, bahaya kalau sampai ketinggalan. Itu kan, amanah. Harus dilaksanakan."
"Iya, Yah. Tadi rencana mau aku taruh di tas kecil aja. Tapi kayaknya mau aku taruh di koper saja, deh. Daripada nanti kececeran."
"Betul. Ayah juga menerima amplop yang sama. Beberapa ada yang diselipi uang, tapi lebih banyak yang isinya hanya berlembar-lembar kertas berisi doa," ucap Pak Didik sambil tersenyum, "Kita terima saja. Kita doakan dengan ihlash, siapa tahu Allah ijabah doa mereka lewat lisan kita."
Jadid tersenyum mendengar kata-kata bijak ayahnya. Dia sendiri hanya menerima dua amplop yang diselipi uang dari dua puluhan amplop doa yang dia terima.
"Iya, Yah. Bismillah."
Jadid pun kembali ke ruang tamu, membuka kembali kopernya dan memasukkan amplop-amplop itu ke dalamnya.
*****
"Jam berapa kita ke Raudhah, Yah?" tanya Jadid seusai melaksanakan shalat Subuh berjamaah di Masjid Nabawi. Saat ini mereka tengah berjalan menuju hotel untuk sarapan.
"Kata Ustaznya tadi, sekitar jam 8.00," jawab Pak Didik. Jadid mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.
"Kita lihat dulu situasi di Raudhah, biasanya sangat ramai dan agak susah untuk berlama-lama di sana. Jadi sepertinya susah juga untuk membaca amplop-amplop titipan doa itu." Jadid yang baru pertama kali ber-umroh kembali mengangguk-anggukkan kepala.
"Nanti kita bisa leluasa baca doa-doa titipan itu saat di Mekkah, di depan Ka'bah," jelas Pak Didik kembali.
"Eh, itu Ibu sudah menunggu. Ayo, kesana." Mereka menghampiri seorang perempuan yang tengah berdiri di depan lapak baju anak-anak yang memang banyak bertebaran di luar masjid.
"Assalamualaikum. Lagi cari apa, Bu?"
"Eh, Ayah. Ini, kok, lucu-lucu, ya? Jadi pengen cepet-cepet punya cucu." Wita berkata sambil terkekeh pelan. Pak Didik dan Jadid pun ikut terkekeh.
Tak lama, mereka pun kembali menapaki jalan menuju hotel, mereka tidak jadi membeli karena memang belum mempunyai cucu. Keponakan pun sudah banyak yang besar.
*****
Tiga hari kemudian, rombongan itu bertolak ke Makkah untuk melaksanakan ibadah umroh. Berbagai rangkaian ibadah mereka jalani dengan khusyuk. Dimulai dengan mengambil miqat di Bir Ali, berniat umroh, lalu menempuh perjalanan lebih dari 6 jam dengan bus ke kota Makkah.
Hari kedua di kota Makkah, seusai shalat Subuh di Masjidil Haram, Jadid berniat untuk berlama-lama di depan Ka'bah untuk membaca doa-doa yang dititipkan oleh rekan-rekannya. Ayah dan ibunya sudah lebih dulu kembali ke hotel yang memang letaknya masih ada di dalam kompleks Masjidil Haram.
Dengan khusyuk dia mulai membuka satu persatu kertas-kertas berisi rangkaian doa dari rekan-rekannya. Hingga dia terpaku pada satu lembar kertas doa dengan nama Zhafirah di atasnya.
Terbelalak matanya membaca rangkaian kata yang ditulis Zhafirah. [Zhafirah titip doa buat Mas Jadid. Ya Allah, jadikanlah orang yang membaca doa ini sebagai suamiku. Aamiin.]
Jadid tercekat saat membaca sekilas tulisan itu, dia lipat kembali kertas itu, dan meneruskan membaca kertas lainnya. Hingga lembar terakhir, doa Zhafirah belum dia baca. Hatinya meragu.
Seusai membaca doa teman-temannya, Jadid pun berdiri dan berjalan menuju hotelnya. Dalam langkah kakinya, dia terus memikirkan tulisan tangan Zhafirah.
"Mas Jadid?" sapa Ustazd Aulia, pemimpin rombongan umrohnya, membuat Jadid sedikit kaget.
"Oh, Ustazd. Mau kembali ke hotel juga?" tanya Jadid sopan.
"Iya Mas. Kok jalan sambil ngelamun gitu, kenapa?" tanya Ustazd saat melihat kegelisahan di mata lelaki muda itu. Jadid terkekeh sejenak.
"Begini Ustazd. Ada rekan saya yang menitip doa. Tapi saya ragu membacanya."
"Ragu kenapa? Apakah doanya menyalahi ketentuan Allah?"
"Bukan begitu. Saya ... takut doanya dikabulkan Allah."
"Loh? Bukannya memang begitu yang selalu diinginkan dari setiap doa yang kita panjatkan. Bahwa Allah akan mengabulkan semua minta kita."
"Iya Ustazd. Justru itu. Karena doanya juga menyangkut ... saya."
"Hah? Maksudnya gimana, Mas?" tanya Ustazd Aulia sambil menautkan dua alisnya.
Jadid mengambil napas panjang sebelum berkata lebih lanjut.
"Dia menulis di lembar doanya, agar menjadikan yang membaca doanya itu sebagai suaminya."
"Subhanallah. Masya Allah." Tasbih dan takbir diucapkan Ustazd Aulia dengan berbinar, "Jadi perempuan itu melamar antum pada Allah."
"Hah? Bagaimana Ustazd?" tanya Jadid dengan wajah bingung.
"Iya. Jadi dia meminta Mas Jadid pada Allah langsung, sebagai pemilik aslinya. Apa Mas Jadid mengenalnya dengan baik?"
"Hanya tahu saja Ustazd, dia salah satu rekan saya di Rumah Sakit. Tapi, dia ada di Farmasi lantai 1 sedangkan saya di lantai 3. Kami berkomunikasi hanya masalah pekerjaan saja, selebihnya tidak pernah. Bagaimana mungkin dia ...." Jadid menggantung kata-katanya.
"Mungkim dia sudah memperhatikan Mas Jadid sejak lama. Tidak ada keberanian bicara langsung pada Mas, tapi langsung meminta pada Allah. Saya pribadi salut dengan gadis semacam ini." Ustazd Aulia tersenyum melihat kebingungan Jadid.
"Apakah gadis itu tidak cantik?" tanya Ustazd kembali.
"Cantik, Ustazd."
"Apa dia tidak shalihah?"
"Shalihah. Sangat shalihah. Dia sangat menjaga pergaulannya."
"Apa dia tidak pernah menarik hatimu?"
"Saya tidak tahu Ustazd. Saya baru saja putus dengan pacar saya."
"Oh, begitu? Pantes." Ustazd Aulia terkekeh pelan.
"Begini saja. Coba diskusikan dengan orang tua Mas. Lalu shalat istikharah, minta petunjuk sama Allah. Mumpung di tanah suci ini Mas. Segala kemungkinan yang tidak mungkin bisa terjadi." Jadid mengangguk-anggukkan kepala setuju dengan usulan Ustazd Aulia.
Mereka pun telah sampai di ruang makan untuk sarapan bersama. Pembicaraan terputus, karena Jadid harus bergabung dengan ayah dan ibunya yang telah lebih dulu duduk di meja makan.
*****
"Bagaimana, Yah?" Jadid menatap ayahnya yang masih terpaku mendengar kata-kata anaknya. Ibunya pun hanya tersenyum memandang anaknya.
"Tanya pada Allah. Apapun jawabannya, insyaAllah kami akan menerimanya dengan lapang dada." Pak Didik menjawab dengan bijaksana. Sang ibu pun turut mengangguk sambil menggenggam erat tangan Jadid. Seolah memberi kekuatan pada lelaki itu.
"Alhamdulillah. Baiklah. Aku akan shalat istikharah dan menyerahkan semua ini pada Allah."
"Ayah dan ibu juga akan mendoakanmu, Nak. Semoga Allah memberikan jawaban yang terbaik buatmu."
"Aamiin."
Sejak hari itu, Jadid tidak memikirkan lagi doa Zhafirah, dia sudah menyerahkan semua keputusan pada Allah. Dia ihlash apapun yang akan Allah putuskan untuknya.
*****
"Bapak dan Ibu, saya datang kemari bersama ayah dan ibu saya, untuk melamar Zhafirah Khairun Nisa untuk menjadi istri saya. Apakah bapak dan ibu serta Zhafirah berkenan menerima lamaran saya?" ucap Jadid lancar.
"Saya serahkan pada Fira saja. Bagaimana Fir? Apa kamu menerima lamaran Nak Jadid?" tanya Pak Hamid pada Zhafirah, putri bungsunya.
Zhafirah menatap Jadid sesaat. Ada debar di dada yang sulit dia kendalikan, dia tersenyum singkat sebelum menggigit bibirnya.
Setelah semenit berlalu, "Bismillah, saya terima lamarannya."
"Alhamdulillah. Barokallahu lakuma wabaroka alaikuma." Ucapan hamdalah bergaung di seluruh ruang tamu keluarga Zhafirah. Sementara kelegaan nampak di wajah Jadid yang memang agak gugup dan menegang sebelum Fira menerima lamarannya.
Pihak keluarga pun akhirnya melanjutkan dengan pembicaraan pernikahan yang memang rencananya dilangsungkan secepatnya.
"Fira, terima kasih, ya." Jadid mendekati Zhafirah yang tengah berdiri di samping meja makan.
"Untuk?" tanya Zhafirah mengernyitkan keningnya.
"Sudah melamarku pada Allah." Muka Zhafirah memerah. Malu saat mengingat kenekatannya menulis doa yang dia titipkan pada pria yang telah membuatnya jatuh cinta sejak pertama kali bertemu itu.
Mereka tak lagi saling bicara, hanya saling menatap dengan cinta.
Finish.