Cerpen : Hari Hujan
“Naufal!”
Teriak Ira, wanita berusia sekitar 27 tahun tersebut. Suara yang biasa terdengar lemah lembut berubah menggelegar mengalahkan derasnya deru hujan, berdiri di ambang pintu seraya berkacak pinggang dengan mata melotot ganas pada dua manusia berbeda usia di halaman belakang.
Yang barusan diteriaki lantas buru-buru mengangkat seorang balita ke dalam gendongan, menghiraukan jerit tak terima dari empunya begitu sang ayah dengan tergopoh-gopoh membawa dirinya masuk ke dalam rumah.
Susah payah Ira menekan amarahnya yang sudah naik ke ubun-ubun, melihat tubuh keduanya basah kuyup lengkap dengan noda lumpur di mana-mana. Mulutnya hampir kelepasan mengucapkan sumpah serapah mendapati tubuh separuh telanjang suaminya yang hanya ditutupi dengan sehelai handuk.
Tak perlu lagi dipertanyakan, di sini sudah jelas jika Naufal lah yang gila.
“Kau sinting,” rutuk Ira, membiarkan suaminya yang serba salah mengatur ekspresi wajah saat mengikutinya ke kamar mandi. Tangis Sophia juga tak lagi terdengar, raut wajah balita itu sama-sama tak enak dilihat karena sadar sudah berbuat salah, sepat, sama ketakutannya dengan sang ayah yang notabenenya si biang keladi.
“Bukannya mengawasi anakmu saat aku tak ada, kau malah ikut-ikutan bermain hujan mengikuti tingkahnya,” lanjut Ira sebal, masih tak habis pikir.
Awalnya ia sempat heran saat mendapati rumah sepi yang biasanya diisi oleh celoteh tidak penting Sophia, tiap kali putrinya merasa bosan sementara Naufal merupakan sosok ayah yang tingkat irit bicaranya masuk pada tahap yang mengerikan.
Naufal tidak akan bicara jika tidak ada yang mengajaknya bicara, begitu yang Ira tahu saat masa-masa awal perkenalan mereka dulu, dan hal itu masih belum berubah hingga saat ini. Bahkan sampai mereka memutuskan untuk mengadopsi seorang anak setelah keduanya memutuskan untuk menikah empat tahun yang lalu.
Namun, Ira tetap tidak akan terbiasa dengan hal-hal tak terprediksi yang kerap terjadi seperti ini. Naufal boleh saja memiliki tubuh tinggi tegap, kontur wajah yang keras dan kaku, sorot mata yang selalu terkesan dingin, dan sifat pendiamnya membuat orang-orang di luar sana menganggap pria itu sebagai sosok tak tersentuh. Sementara Ira selalu dihadapkan dengan tingkah suaminya yang sering kali kedapatan sama kekanakannya dengan putri mereka.
Naufal menatap punggung sang istri yang membelakanginya, mendengarkan kekasihnya menggerutu–dua puluh empat jam bila perlu, lebih baik daripada Ira mendiaminya. Lebih parah lagi apabila wanita itu sudah memutuskan untuk tak menemaninya tidur dan memilih untuk menetap di kamar Sophia selama seminggu berturut-turut.
“Bagaimana bisa kau membiarkan Sophia bermain hujan, aku tak peduli seandainya kau menggila seorang diri, tapi aku tidak ingin jika anakku kenapa-napa. Sudah jelas kau yang harus bertanggung jawab jika terjadi sesuatu pada Sophia.”
Kejam. Naufal sudah terbiasa mendengar Ira yang marah-marah seperti ini, dan ia cukup sadar diri untuk tidak menyahut sekadar untuk membela diri, jika tak ingin membuatnya semakin murka lagi.
Si kecil dalam gendongan diam saja, jemari saling bertaut, meski tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi lirikan matanya jelas menunjukkan binar sendu mendapati ayahnya terlihat menyedihkan saat diadili.
“Awas saja kalau putriku sampai terserang demam, aku akan mengungsi tidur ke kamar Sophia selama sebulan.”
Bunyi keran air yang mengalir mengisi bathtub seketika menyentak kesadaran Naufal. Oh tidak, lebih tepatnya ia baru saja mendengar satu kalimat paling horor yang–demi Tuhan, Naufal tak pernah ingin mendengarnya.
Ira boleh menggerutu atau mengomel sebanyak apa pun yang membuatnya puas, boleh juga memukulnya jika wanita itu sudah tak lagi mampu untuk membendung semua amarah. Tapi, apa tadi? Tidur di kamar Sophia selama sebulan?!
Tidak. Istrinya tidak bisa memperlakukannya seperti ini.
Kali ini ia tak bisa tinggal diam, di sini jatahnya dipertaruhkan. “Sayang—”
Si mungil dalam gendongan hampir terlipat ke belakang saat ayahnya tiba-tiba saja melangkah lebar mendekati sang ibu yang sedang mengatur temperatur air menjadi hangat.
“sepertinya kau harus dengar aku kali ini,” katanya, berdiri di belakang punggung Ira yang tak mau repot-repot menoleh untuk melihat wajah suaminya yang terlihat serupa bocah ketika ingin mengadu pada ibunya.
“Aku mungkin diam saja saat kau menuduhku seperti tadi,” lanjut Naufal. Tak gentar meski Ira kini berbalik seraya mendelik geram ke arahnya.
Baik, apa pun yang ia ucapkan sekarang pasti akan terdengar salah di telinga istrinya. Tapi, tetap ia harus menjelaskan sesuatu agar si pemilik sepasang iris serupa madu itu berhenti mengasumsikan sesuatu dengan keliru.
Ditariknya nafas dalam-dalam, lalu menghela perlahan sebelum ia mulai berucap, “Itu tidak seperti yang kau lihat, Ra. Benar, ini memang salahku. Aku sedang menerima telepon saat Sophia menyelinap ke luar rumah untuk bermain hujan, dan yang kau lihat sebentar tadi, aku sedang berusaha mengejarnya. Kau tahu aku tidak bisa memarahinya, jadi aku terus mengejarnya yang berkali-kali berkelit saat akan kutangkap.”
Ira masih menatap suaminya penuh sangsi, memindai sekali lagi penampilan Naufal dari atas ke bawah–dari bawah ke atas, terus begitu beberapa kali. Seperti menelanjangi Naufal yang sepenuhnya memang hampir telanjang, andai handuk itu melorot maka sudah dapat dipastikan jika lelaki itu akan sepenuhnya telanjang.
“Lalu apa maksudmu dengan keluar rumah dengan menggunakan handuk? Kau berharap seorang gadis manis atau ibu-ibu lain di luar sana dapat melihat tubuh besarmu? Kau ‘kan cukup tahu diri kalau kau itu tampan, kebetulan aku sedang tidak di rumah, lantas kau pikir tidak ada salahnya untuk mencoba menggoda? Hmm? Begitu? Benar, ‘kan? Aku tahu pasti itu yang kau pikirkan,” tuduh Ira menggebu-gebu, mata menyipit mengintimidasi, ingin digaruknya wajah Naufal yang minim ekspresi tersebut andai tak ada Sophia di antara mereka.
Naufal lagi-lagi menghela napas gusar selagi Sophia berkedip-kedip bingung. Sontak saja gadis kecil itu tersenyum sampai memperlihatkan gigi-giginya yang mungil, jarang sekali ia melihat dua orang dewasa di hadapannya ini berdebat dengan akrab, dan rasanya menyenangkan.
“Di luar hujan, Ra. Tidak ada siapa pun di luar sana yang akan berdiri menatapku sekalipun aku telanjang.”
Ira bersumpah akan mendidihkan air di dalam bathtub jika Naufal membohonginya, tapi ia tak perlu melakukannya karena ia tahu suaminya tak pernah berbohong. Meski begitu tetap saja Ira kesal, maka ia tidak akan berhenti sekarang untuk terus melampiaskan kekesalannya. “Kau bahkan tak menyangkal kalau baru saja kedapatan bermain hujan di luar sana, jadi benar kalau sebenarnya kau ini gila?”
“Apa yang sebenarnya ingin kau dengar?” tanya Naufal, lelaki meringis melihat raut wajah Ira yang seperti ingin menelannya hidup-hidup. “Aku ingin ke kamar mandi saat itu, tidak sempat berganti baju begitu kulihat Sophia sedang meloncat-loncat di luar sana.”
“Kau tidak mungkin menyalahkan Sophia, Opal.”
Ya Tuhan, ia tak mungkin menjelaskannya satu persatu, dari ia akan masuk ke kamar mandi hendak membersihkan diri, karena Ira sudah berpesan padanya untuk segera mandi karena mereka akan pergi piknik berhubung hari ini akhir pekan. Sementara istrinya itu pamit sebentar ke supermarket di alun-alun kota untuk membeli beberapa bahan masakan yang sempat terlupa, karena tidak ada pembantu atau pun baby sister yang akan membantunya di akhir pekan.
Tapi langit tiba-tiba berubah kelabu, dalam sekejap hujan turun dengan lebat, satu telepon masuk dari sekretarisnya dan membicarakan tentang undangan yang harus dihadirinya malam nanti, Sophia yang sempat berlarian di sekelilingnya luput dari perhatian. Anak itu menghilang dan kedapatan sedang bermain hujan di taman belakang. Ceritanya panjang sekali, Naufal tidak yakin untuk mengatakan hal itu dalam satu tarikan nafas.
“Sophia tertawa, Ra. Wajah senangnya membuatku urung membawanya masuk ke dalam rumah. Aku membiarkannya bermain, ingin melihat Sophia tertawa sebentar lagi, lalu kau pulang dan melihat kami,” beritahu Naufal, suaranya rendah kali ini.
Lelaki itu bisa melihat kilau mata istrinya yang perlahan melunak, raut wajah yang tertegun juga sesekali mengerjap. Keduanya sadar, baik dirinya maupun Ira adalah sepasang suami-istri pekerja keras, kedudukan mereka yang sama-sama bergelut di bidang perkantoran, pemilik masing-masing perusahaan yang bergerak di bidang industri manufaktur dan garmen membuat keduanya menjadi orang tua yang buruk dan sibuk.
Kenyataan bahwa keduanya tak memiliki cukup waktu untuk menemani Sophia, mereka bahkan tidak sempat menyewa dua orang bodyguard serta seorang baby sister untuk menjaga Sophia selagi keduanya tak ada di rumah, sehingga melihat Sophia yang tertawa seolah hal itu merupakan sesuatu yang langka, cukup menampar keduanya dengan kesadaran betapa mereka tidak becus untuk menjadi orang tua yang baik bagi si kecil yang tak berdosa.
“Ira,” panggil Naufal, ia tertegun begitu didapatinya sekembar obsidian kekasihnya mulai berkilat oleh selapis air mata.
Ira mengambil alih Sophia dari gendongan suaminya, di peluknya anak itu sayang, dahi dan pipi gembilnya tak luput dari kecupan.
“Mama sayang Sophia,” ujarnya, seraya mengusap surai basah putrinya yang kecokelatan. “Mama sayang Sophia, sayaaang sekali.”
Si kecil yang tak mengerti apa-apa hanya balas terkikik senang, lengan mungilnya mengalung di leher sang ibu, ikut memeluk mamanya seraya berkata dengan nada polos, “S-Sophia juga sayang Mama,” matanya mengering pada Naufal saat ia kembali melanjutkan, “ S-Sophia sayang Papa juga.”
Keduanya berpelukan, tak keberatan meski bajunya ikut basah karena menggendong putrinya. Sejenak ia merasakan ketenangan, disela rasa bersalah karena tak bisa menghabiskan banyak waktu dengannya. Bahkan, hari ini pun sama. Rencana piknik mereka terpaksa ditunda karena hujan yang tiba-tiba.
Sebelum kehangatan lain melingkupi tubuh keduanya. “Papa juga sayang Sophia,” gumam Naufal yang memeluk mereka, beserta satu kecupan yang ia bubuhkan di kening Sophia, dan satu kecupan yang mendarat di pelipis istrinya.
Pelukan itu terlepas ketika Ira sadar air dalam bathtub sudah limpah sebagian, diletakkan Sophia ke dalam bathtub usai memeriksa suhu airnya agar tak terlampau panas. Ira akan membiarkan Naufal memandikan Sophia selagi laki-laki itu membersihkan dirinya sendiri.
Namun, sepasang lengan kekar sudah lebih dulu merengkuhnya dari belakang. Tubuh Ira tampak tenggelam dalam dekap suaminya, Naufal memeluknya erat, menahannya di ambang pintu, melarangnya keluar.
Begitu suaminya berbisik di sisi telinga, “Aku akan memandikan Sophia, setelah itu kita akan mandi bersama.”
Ira spontan menggeplak lengan lelaki itu seraya mendelik pura-pura tidak suka, lantas balas berbisik, “Lakukan sesukamu. Tetap aku akan tidur di kamar Sophia malam ini.”
Baiklah, keputusan Ira tampaknya sudah berubah. Dari sebulan, menjadi semalam. Naufal menyeringai, dikecupnya sekilas pipi kiri istrinya, pun pasrah saat Sophia mulai bertingkah jahil dengan memukul-mukul air hingga terciprat ke mana-mana.
Selesai.